Denganmu aku sempurna,
denganmu ku ingin habiskan sisa umurku..
Tuhan, jadikanlah dia jodohku..
hanya dia yang membuat aku terpukau…
Masih
terasa keceriaan semalam di tengah keramaian kota Yogyakarta. Suaranya,
teriakannya, tawanya, senyumnya, sorot matanya, dan tingkah lakunya. Aku masih
terpukau menatap bunga mawar di atas meja sambil mengingat kejadian semalam.
Ketika dia memberi bunga itu untukku. Dalam candaan semalam untuk bunga itu,
tapi dia benar-benar memberikannya untukku. Tanpa sengaja aku pun melihat sorot
matanya yang aku rasa berbeda. Pandangannya tiba-tiba terlihat tajam. Terlihat
lebih lama memandang. Ada perasaan yang tak menentu ketika melihatnya. Tidak
seperti biasanya. Aku masih menatap bunga itu dan terbayang akan
kejadian-kejadian semalam.
“Eh, itu bajunya Anes sama Tio samaan
yaa.” Terngiang suara Olla semalam memecah keramaian. Aku hanya melihat ke arah
Tio lalu tertawa. Seakan aku janjian dengan Tio. Tidak. Aku tidak pernah
janjian untuk memakai baju yang sama dengan Tio seperti malam itu. Mungkin itu
hanya kebetulan saja, pikirku.
Dan
seketika aku menjadi teringat saat pertama kali aku berkenalan dengan Tio. Olla
yang mengenalkan aku dengan Tio. Siang itu, Olla mengenalakan aku dengannya.
“TIo, kenalin nih Anes adik-adikan
gue. Dia yang bakalan bantuin acara kita.”
“Hai, Tio.” Sambutnya sambil
tersenyum.
“Anes.” Ujarku sambil membalas
senyumnya. Dia ramah. Dia cool. Seketika Olla memecah keheningan.
“Hei, kalian kok mirip sih?
Jangan-jangan jodoh hahaha.”
Aku
hanya terdiam sambil tersenyum. Aku baru mengenalnya. Aku melihat wajahnya.
Pikirku apanya yang mirip? Seiring berjalannya waktu, sejak perkenalan itu aku
mulai sering bertemu dengannya. Semakin hari semakin sering berbicara dengannya,
bekerja sama dengannya, bercanda dengannya. Dan entah apa yang terjadi,
tiba-tiba banyak sekali orang yang bilang aku dan dia berwajah mirip. Selalu
saja ada orang yang bilang begitu. Aku masih tidak mempercayainya. Akhirnya aku
memperhatikan wajahnya perlahan. Aku melihat bentuk wajahnya sedikit demi
sedikit. Dan rupanya kita benar-benar nyaris mirip. Aku selalu memberi canda
padanya, mungkin kita adalah kembaran yang terpisah. Tapi lambat laun aku mulai
menaruh harapan agar jangan kami tidak benar-benar saudara kembar yang
terpisah. Aku tidak mengerti mengapa aku tidak menginginkan hal itu. Walaupun
sesungguhnya aku memang pernah menginginkan mempunyai saudara kembar laki-laki.
Tapi aku berharap bukan dia saudara kembarku. Jangan dia.
Hari-hari
aku jalani hampir selalu bersamanya. Setelah saling mengenal, hingga akhirnya
pada malam itu saat dia memberikan bunga mawar di tengah keramaian kota
Yogyakarta. Sesungguhnya masih ada perasaan yang tak menentu bila melihat sorot
matanya yang aku rasa berbeda. Terutama saat dia memberikan bunga itu. Entah,
mungkin memang hanya perasaanku saja atau dia memang benar-benar menatapku
berbeda. Dan kami pun menjalani hari-hari bersama. Pagi, siang, bahkan sampai
malam. Tio sangat baik padaku. Dengan atau tanpa aku meminta dia selalu
memberi. Dan aku merasa nyaman selalu berada di dekatnya.
Mengenalnya
itu luar biasa. Iya. Bersamanya aku mampu jadi diri sendiri. Tidak ada kata
jaim. Semua aku lakukan apa adanya. Ketika suatu hari aku benar-benar seharian
bersamanya. Dalam satu hari, tidak sama sekali berpisah walau hanya satu menit.
Kami bersama seharian. Canda, tawa, kita lalui bersama. Kami saling bercerita,
banyak hal yang kami ceritakan. Semua mampu aku ceritakan. Apapun itu. Dia pun
bercerita banyak padaku. Tentang dirinya, tentang keluarganya. Aku tercengang
ketika dia bercerita tentang hidupnya. iya, sungguh. Bukankah kadang seseorang
tidak dan belum tentu berani bercerita tentang kisah hidupnya ke sembarang
orang? Tapi Tio.. dia menceritakannya padaku. Aku yang belum terlalu lama kenal
dengannya. Aku semakin tercengang. Aku terpukau melihat Tio, mendengar kisahnya.
Dia lelaki kuat. Kuat seperti aku. Atau aku yang tak bisa sekuat Tio? Entahlah.
Lambat laun aku mengerti tentangnya. Tentang hidup. Dia mengenalkan aku tentang
kehidupan. Dan sehari bersamanya itu sangat berkesan. Menyenangkan. Nyaman.
Menenangkan. Membuatku mengerti kehidupan. Bersamanya, seakan aku merasakan
sebuah kesempurnaan. Walau pun aku sesungguhnya tidak tau apa yang ku rasa. Aku
terpukau.
Hari
demi hari kita lalui, aku merasa semakin hari ada yang berbeda. Aku tidak mengerti
apa yang ku rasa. Setiap kali bertemu Tio rasanya menjadi tenang, semangat,
ceria. Melihatnya sama seperti melihat dataran hijau yang sangat luas dengan
langit yang cerah. Seakan aku akan terbang di udara, di atas dataran itu.
Terbang bebas, tanpa beban. Setiap kali melihatnya, jarang aku mengedipkan mata
mungil ini. Sebaliknya, dia pun begitu. Aku tidak benar-benar mengerti mengapa
kami begini. Tidak ada yang memberi petunjuk akan semua ini. Hanya Tuhan yang
tau. Dan hanya pada Tuhan aku akan meminta petunjuk dan jawaban atas semua
pertanyaanku.
Sejak
mengenalnya aku mulai lupa akan yang namanya kesedihan. Aku tidak mengenal lagi
dengan air maata. Sejak aku menjalani hari bersamanya, aku mulai mengenal
semangat kembali. Dulu, sebelum aku bertemu Tio hidup aku gelap. Setelah aku
mengenal Tio, aku menemukan kembali secercah cahaya, secercah harapanku untuk
hidup. Aku tidak takut lagi sendiri, karena dia selalu bersamaku. Aku tidak
takut lagi jadi pemimpi. Aku tidak takut lagi menjalani hidupku. Hidupku
mungkin terlalu keras untuk gadis seumuranku. Namun semenjak ada dia aku mampu
menikmati hidup ini menjadi kehidupan yang lembut. Aku mulai mulai bisa
mengenal warna kembali ketika bersamanya. Sayangnya aku semakin tidak mengerti
apa yang kurasakan. Perasaan ini semakin bercampur menjadi satu. Walaupun aku
memang belum mengerti seperti apa perasaan Tio sebenarnya. Aku hanya bisa
melihat dari sorot matanya. Sorot mata yang berbeda yang aku tidak tau artinya.
Tapi menenangkan. Membuatku nyaman bersamanya.
Namun
suatu hari ketika aku mulai jarang bertemu dengannya, entah mengapa ada yang
hilang. Aku sibuk dengan kuliahku. Dia pun begitu. Aku merasa kehilangan. Mulai
merasa sepi. Kemana kah cahaya itu? Akankah nanti cahaya itu kembali padaku?
Akankah kesempurnaan bagiku itu akan kembali lagi? Kesempurnaan itu terasa
karena aku dan dia, seperti merasa lengkap. Segalanya terasa ada.
Dalam
diam, aku selalu berdo’a pada Tuhan agar dia kembali dalam hidupku. Mungkin
sangat besar harapanku. Mungkin aku terus bermimpi untuk selalu bersamamu. Tapi
aku yakin akan kebaikan Tuhan. Aku percaya akan kebesaran Tuhan. Tuhan maha
pengasih lagi penyayang. Dan aku selalu meminta pada Tuhan, karena bersamanya
aku merasa sempurna dan hanya bersamanya aku ingin menghabiskan sisa umurku. Aku
ingin selalu mendampinginya seperti saat-saat kami menjalani hari-hari bersama.
Sesederhana itu yang aku minta.
“Hai
kamu, yang mengenalkan aku tentang hidup. Kamu yang telah membuatku terpukau. Kamu
yang mengajakku mengelilingi kota istimewa ini. Yogyakarta. Iya, Yogyakarta. Dulu
aku ingin sekali bisa mengelilingi kota ini bersama seseorang yang berkesan di
hati, namun tidak pernah ada orang itu. Tidak pernah ada kisah seperti itu.
Mungkin hanya harapanku ssemata. Aku tidak percaya dengan kisah itu lagi. Hingga
akhirnya aku bertemu denganmu. Kamu datang dengan ketenangan dan keistimewaan. Dan
tanpa aku meminta, kamu telah membawaku pergi mengelilingi kota istimewa ini.
Ya. Yogyakarta. Seperti kisah dalam impianku. Kamu sama seperti Yogyakarta.
Istimewa. Terimakasih Yogyakartaku. Kamu.”
Sejak kamu mengenalkan aku tentang kehidupan,
Aku merasa mimpiku semakin dekat…
Sejak kamu memberi bunga itu untukku,
seolah ada yang berbeda…
Ada perasaan yang tak menentu dihati,
bila ingat sorot matamu yang kurasa berbeda…
Hari ini aku juga bermimpi,
Aku bermimpi bisa berbagi dunia ku bersama kamu…
Karna bersama kamu, aku tidak takut lagi jadi
pemimpi…
Karna hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat…
Segala sesuatunya ada…

