Kini
maafkanlah aku bila ku menjadi bisu kepada dirimu,
Bukan
santunku terbungkam, hanya hatiku berbatas tuk mengerti kamu.
Maafkanlah
aku…
Aromanya begitu lekat. Aku sangat mengenal bau harum
ini. Ya, aku sangat mengenal dengan baunya. Begitu dekat, begitu hangat. Aroma parfum
yang sangat memekakan hidungku. Aku sangat mengenal bau parfum ini. Belagio warna
biru. Baunya mengingatkan aku pada seseorang. Kali ini baunya sangat dekat. Kembali
lagi pada memori. Kamu.
Tatapan matanya masih sama, aroma tubuhnya yang
sangat hangat. Baunya sungguh laki-laki banget. Senyumnya yang selalu membuatku
blushing, menenangkan hati. Jahilnya selalu
sama. Orang yang keras kepala tapi sedikit manja, tapi sangat mandiri. Tidak mau
merepotkan orang lain. Kamu menyebalkan, ya, terkadang. Tapi kamu, aku selalu
sayang kamu. Iya, kamu. Kamu, istimewa. Sama seperti kotamu, Yogyakarta. Banyak
cerita tentang aku, kamu, dan kotamu. Kamu, mandiri dan sederhana. Aku suka. Aku
suka kesederhanaanmu. Sederhana, tapi istimewa. Seperti kotamu.
Kamu mengenal perjuangan, aku tidak sepaham itu. Kamu
mengenal susah, aku tidak, aku bodoh. Kamu sederhana, aku tidak. Aku, hanya
suka dengan caraku, duniaku. Berbeda denganmu. Tapi, kamu mengenalkan semua itu
padaku. Aku suka. Aku berubah. Aku bahagia mengenalmu. Bahagia dengan caramu. Kita,
bahagia. Iya, aku dan kamu. Kita. Sesederhana itu aku mencintaimu. Kita,
bahagia. Sesederhana itu. sesederhana kamu membawaku berkeliling seluruh kota
Yogyakarta. Aku suka.
Kamu menyukai buah durian, aku pula. Bagai manusia
bertahun-tahun yang belum makan jika melihat durian. Lucu. Tidak kenal malu. Aku
suka. Lucu cara kita bersama. Aku suka.
Namun, kali ini aku harus pergi dari kota ini. Dari negeri
tercinta ini. Aku pergi, pada titik terendahmu. Bahkan pada titik kehidupan terendahku
pula. Pergi tanpa kamu. Meninggalkan kamu, sendiri, mungkin. Kamu kan kuat. Tanpa
aku. Ya, aku pergi. Pesawat sudah menanti di lapangan landasan udara
Adisucipto. Aku pergi. Aku kejam? Tidak, aku tidak kejam sayang. Aku hanya
menuruti permintaanmu jika itu adalah benar permintaan mu padaku. Bau harum
aromamu masih membekas di hidungku. Bahkan semua yang pernah kita lakukan akan
selalu aku ingat. Tidak, aku tidak mau bicara sayang. Bukan karna aku kejam. Bukan
pula aku bisu. Kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk bicara untuk
hubungan terakhir kemarin. Tidak, aku tidak kejam. Aku hanya mematuhi
perintahmu, sayang.
Ku coba mengerti, ku coba member semua yang kau mau.
Aku tidak ingin menunggu lagi dengan hati penuh duka, sayang. Tanpa jawabanmu
untuk terakhir lalu, kau buatku luka. Walaupun berakhir, aku tau kau masih
disini. Berat memang. Tapi mungkin benar kau memintaku untuk pergi bukan? Yang aku
cintai mengapa kau pergi? Atau mengapa kau usir aku?
Kali ini, hanya ada do’a yang aku ucapkan. Atas nama
cinta dibawah rembulan.
Yogyakarta