Kota sedang hujan rintik-rintik. Aku melihatmu dari
kejauhan. Dari sebuah café di pinggir jalan, aku melihatmu dari seberang. Kau
sedang duduk di café seberang, duduk termenung di teras café. Aku melihatmu
dari jendela café yang kau tidak bisa melihatku. Aku dengan secangkir kopi panas
untuk menghangatkan tubuhku dan menenangkan aku. Ku pandangi wajahmu dengan
cermat dari kejauhan. Pandanganku menerjang gerimis dari kaca jendela café. Aku
memperhatikan seluruh wajahmu. Mata mu yang bulat, bibir yang menarik, dan
tatapanmu yang tajam. Ya, masih sama. Kamu hanya diam merenung di teras café
sambil meminum secangkir entah kopi atau cokelat panas. Entah apa yang sedang
kau pikirkan. Sepertinya memang begitu berat masalah yang sedang kau rasakan.
Ingin sekali rasanya saat ini berada disampingmu, mantan kekasihku, Senja. Oh
ya, by the way namaku Ellie. Senja,
itu bukan namanya itu hanya panggilan ku untuknya. Dia bernama Josh. Aku
menyukai hujan, hot coffee dan senja.
Ya, seperti dia yang seperti senja. Selalu dinantikan kedatangannya yang hanya
sekejap dan membuat orang menunggu lagi. Seperti hujan yang selalu mendinginkan
aku ditengah teriknya panas. Seperti kopi yang selalu memberiku pahit dan
nikmat. Itulah, hingga akhirnya aku sayang kamu, Senja. Mantan kekasihku.
Ku
teguk secangkir kopi panasku. Hujan belum juga reda. Kamu masih juga berada di
café seberang. Kau rupanya memang sudah tak peduli padaku Josh. Ah tidak, aku
masih menunggumu di café ini. Menunggumu menghampiriku. Oh ya, by the way ini adalah café kesukaan kami
berdua, dulu saat kita masih berpacaran. Ah sudahlah, jangan terlalu berharap
banyak. Josh sudah berubah. Sepertinya memang sudah tidak peduli lagi. Entah
bagaimana caranya aku ingin menemuimu Josh. Sebelum perpisahan nanti. Sebelum
pada akhirnya aku mengetahui kau mungkin benar-benar memintaku untuk pergi. Ah
aku ingat! Malam itu kau menyatakan cintamu dengan sungguh dan berkata bahwa
kau tidak akan pergi lagi dariku di café ini. Ya, kau pernah pergi dan kini untuk
yang ke dua kalinya kau pergi lagi dariku. Josh, sungguh aku ingin bertemu
denganmu dengan sebuah kepastian sebelum aku pergi atau kau memang benar-benar
menyuruhku untuk pergi.
Entah apa yang harus aku lakukan untuk menemuimu.
Aku melihat kau sedang membuka laptop dari café seberang. Ah, I think that’s good idea! Pikirku. Aku pun mengeluarkan
laptopku. Aku mulai membuka internet dan membuka email. Lalu mulai ku ketik
sebuah surat email untukmu, Senja.
Hai, Senja. Apa kabar? Sedang apa kau
duduk di café seberang? Maafkan aku, aku tidak sengaja melihatmu dari sini.
Ingin sekali aku bertemu denganmu. Tapi tidak, aku tidak akan menghampirimu
disana. Aku tidak ingin mengganggumu. Aku hanya ingin bicara sebentar saja
denganmu. Aku sedari tadi duduk disini, di café kesukaanmu. Dengan secangkir
kopi panas yang sekarang sudah mulai dingin. Sejujurnya, aku hanya ingin perlu
tau apa yang ada dipikiranmu saat ini? Sekiranya pula aku ingin tau hatimu,
perasaanmu padaku saat ini? Apakah kau benar-benar membenciku? Apakah kesalahanku
begitu besar di matamu? Tidak, bagiku itu adalah hal yang bisa di ubah. Tidak
kah kau ingat dulu, kita bahagia tertawa bersama? Tidak kah kau ingat apa saja
yang sudah kita lakukan bersama? Tidak ingatkah kau kala itu? maafkan aku. Ya,
aku hanya rindu kecupan kening untukku lalu kau berkata “aku sayang kamu”.
Tidak seperti ini yang ku ingin, kita seperti manusia yang seolah tidak saling
kenal.
Oh ya, besok aku akan terbang menuju
Adelaide Sky. Aku akan terbang ke Australia besok pagi. Mungkin kali ini kedua
kalinya aku harus pergi jauh, jauh dari kamu. Tanpa kamu hanya dengan hal yang
sama. Aku hanya ingin membiarkan kamu tau semua apa yang ada dipikiranku saat
ini. Josh, jika kamu masih sayang padaku, jika kau benar-benar sayang padaku
maka temui aku. Aku tunggu kedatanganmu mulai sekarang hingga besok pagi di
Bandara sebelum aku terbang. Besok pesawat berangkat pukul 7 pagi.
Aku harap kau bisa terlihat baik
kepadaku. Beri aku kesempatan untuk bicara sebelum aku berangkat. Atau jika kau
memang benar-benar menyuruhku pergi, pergi jauh darimu. Baiklah, aku akan
pergi. Pergi dari kamu. Tapi aku harap kamu bisa cukup baik untuk mengingatku.
With love,
Ellie
Ku kirimkan email pada Josh, lalu sebentar aku
melihatnya lagi dari café seberan. Dia seperti sedang membaca sesuatu dari
laptopnya. Beberapa menit kemudia aku beranjak dari tempat dudukku. Aku
berjalan menuju keluar café. Langkah kaki ku terdengar seolah berat sekali. Aku
berjalan menuju mobilku. Aku masih memperhatikan Josh. Seketika Josh berdiri,
lalu melihatku. Aku berusaha untuk terus berjalan tanpa melihatnya. Akankah kau
mengejarku, Josh? Aku mempercepat gerak kakiku menuju mobil. Hujan masih
rintik-rintik. Akupun memasuki mobil lalu berjalan pulang. Tidak, Josh tidak
mengejarku rupanya. Baiklah, mungkin ini memang saatnya aku benar-benar pergi.
Pergi dari kamu, Josh. Pergi dari kota ini. Kotamu. Kota tercinta ini.
Walau aku kau sia-siakan. Meskipun peduliku tak kau
hiraukan. Meskipun perjuanganku seperti tak kau inginkan. Tak apa, tapi
ingatlah semua yang sudah kau katakana, Josh. Kau tidak akan pergi lagi dariku.
Bukan begitu? Tapi kau pergi. Tapi aku selalu sayang padamu, dan aku akan coba
untuk tetap terjaga dan melawan kehadiranmu di kepala dan pikiranku.


