About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Rabu, 09 September 2015

Seonggok Goresan Anak Gadis untuk Ayahnya



Yang kau jerat, adalah riwayat tidak punah jadi sejarah
Yang bicara, adalah cahaya.
Dikonstruksi, dikomposisi
Padam semua lampu, semua lampu.
Membekukan yang cair, mencairkan yang beku.
Jangan kabur berjamur, jangan kabur berjamur,
Segala negative menuju positif,
Kekal.
[ERK – Kamar Gelap]


Tidak ada gading yang tak retak,
Tidak ada baik jika tidak ada buruk.
Tidak akan ada aku jika tidak ada kau,
Ayah.
Tidak ada yang lebih berharga dari seorang anak kandung daripada bensin.
Tidak ada yang lebih berharga dari seorang anak kandung daripada barang branded.
Tidak ada pula yang lebih berharga dari anak kandung daripada sebuah gelar, uang, harta, benda, semua duniawi.



Luka.
Kau kenalkan aku dengan sebuah goresan panjang, tak berunjung,
Sangat panjang dan membekas, tancapan yang mampu mengeluarkan tetesan darah,
Dia bernama, luka.
Hidup.
Aku hidup untuk belajar mencintai luka,
Kau bekukan sebuah luka dalam hidup, kau jerat dengan goresan yang tak bisa terungkap,
Kau ajari aku tentang luka,
Dalam hidup, kau kenalkan aku dengan luka,
Luka yang akan selalu membekas, bahkan hampir saja aku tidak ingin berjumpa dengan orang lain,
Karena aku takut, aku takut dengan luka lagi diluar sana,
Tapi sesosok malaikat tanpa sayap memberitahuku tentang dunia diluar sana tak semuram istanamu yang besar itu.
Riwayat.
Dalam hidup, kau buatkan aku sebuah riwayat,
yang akan menjadi sejarah, sejarah dalam hidupku,
aku yang penuh dengan luka,
kau jerat tanpa aku bisa bicara, mulutku terkunci,
hati berkata-kata,
hati berteriak kencang,
aku hanya bisa diam, mulutku terkunci diam seribu bahasa,
saat aku sedang diam tanpa suara, saat itulah hati sedang berbicara, berteriak,
tapi tak ada yang mendengarnya,
ribuan kata tak mampu keluar, tak dapat terungkap,
sebuah luka tak mampu menunjukkan betapa perih,
yang bicara adalah cahaya.
Tidak, tidak, bukan uang yang ingin,
Bukah barang-barang mahal yang ku mau,
Tapi satu hal yang ku mau,
Yang aku amat sangat rindu,
Dekap hangatmu, kasih sayangmu.
aku tak pernah bicara, aku tidak bisu,
aku diam, aku tak punya cukup keberanian untuk bicara,
aku tidak cukup berani ungkapkan kata rindu,
aku hanya rindu akan momen, ketika bersamamu,
Ayah.
Karena akan datang hari, dimana aku dimiliki seorang pria yang akan menyayangiku seumur hidupnya setelah kau,
Akan datang hari dimana aku akan dijemput oleh sosok pria yang akan selalu menjadi tempat aku berlabuh,
Akan datang hari dimana kau harus melepaskan aku untuk itu,
Ayah.
Maka, sebelum semua itu terjadi,
Aku hanya ingin bisa menikmati momen bersamamu,
Aku ingin bisa mengenalmu lebih dekat,
Aku ingin bisa melabuhkan lelahku kepadamu
Ayah,
Sebelum aku benar-benar pergi dan berlabuh dengan pria yang ku cintai nantinya,
Karena aku selalu merindukan kau,
Ayah.
Karena aku tau,

Tidak ada hal duniawi apapun yang lebih berharga dari AKU RINDU DAN SAYANG AYAH.







Malaikat Kecilmu