Untuk Raja yang aku sayangi dan aku hormati, dan untuk Pangeran yang aku cintai
Masa masa
indah itu
Masa kanak-kanak
itu
Aku masih
merasakannya
Semua
terasa penuh warna
Permen,
cokelat, es krim, pelangi, mainan, balon, badut
Tidak
mengenal apapun,
Yang dikenal
hanya canda tawa, tangis karna jatuh dari sepeda
Menangis
karna balon yang pecah,
Menangis
karna es krim yang jatuh,
Menangis
karenan mainan yang rusak,
Namun
setelahnya, tawa adalah obatnya
Sayangnya,
semua terjadi begitu cepat
Semua
sirna…
Di balik
semua canda tawa itu, goncangan dahsyat terjadi
Kobaran
api membara begitu lama
Tidak
juga padam
Dan kini,
percikan-percikan
api luka itu masih ada
Masa lalu,
meninggalkan luka lama
Luka tertancap
begitu dalam, berdarah dan terus berdarah
Tidak
ada yang bias menghentikan pancuran darah itu
Mereka
pergi karna cinta
Dimana
sosok Papa?
Detik
waktu terus berjalan, hingga akhirnya aku bertemu denganmu
Setiap
waktu, setiap detik bersamamu
Bahagia
tiada tara..
Namun
siapa sangka, jika luka masa lalu itu masih ada
Terlihat
sangat jelas di dalam hati
Rasa takut
untuk mencintaimu karna luka lama yang begitu dalam,
Dimana
sosok penyayangmu, Sayang?
Wahai
lelaki, mengapa kalian begitu menakutkan?
Harus
juga aku pergi karna cinta?
Semakin
cinta, semakin takut
Mengapa
harus aku? Kenapa aku harus merasakan rasa takut ini?
Aku benci
dengan ketakutan ini,
Selalu
tertawa hanya tuk tenangkan jiwa..
Hampir
saja nyawa ini yang jadi korbannya, akan rasa takut ini…
Begitu
dahsyatnya rasa takut ini..
Mati rasa
bagiku,
Hingga
pada akhirnya rasa takut ini semakin membunuh…
Sayang,
luka ini tak terhapus oleh waktu…
Ketika
sesungguhnya aku membutuhkan sosok lelaki dalam hidupku..
