About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Sabtu, 16 Mei 2015

A Coffee Cup from Josh



Pagi tadi aku melihat sebuah mobil berhenti di depan apartemenku. Tak tahu siapa, mungkin salah seorang tamu dari pemilik salah satu flat di apartemen ini atau orang baru yang akan menempati salah satu flat di apartemen ini. Mobilnya tidak tampak bening karena tertutup salju. Hari ini hari pertama musim salju atau sebut saja winterzeit. Salju pertama musim dingin di Jerman, kali ini aku sendiri saja di apartemen. Ya, sesekali aku keluar untuk melihat suasana diluar dengan menggunakan pakaian tebal berbahan wol, jaket tebal yang tahan air dan juga syal, tidak lupa juga menggunakan tutup kepala, sarung tangan, kaus kaki tebal dan juga sepatu boot agar tidak menggigil diluar sana. Membosankan memang ketika musim salju seperti ini aku hanya sendiri di apartemen dan nothing to do, ya karena juga kuliah dan kantor sedang libur di hari pertama turun salju seperti ini. Orang-orang menghabiskan hari pertama msuim dingin bersama keluarganya. Menghangatkan diri bersama orang-orang tersayang. Dan aku hanya sendiri saja di dalam apartemen ku. Oh ya, by the way namaku Ruth. Ruth Allena Dawson. Aku adalah student di Freie Universität Berlin. Apartemenku tidak jauh pula dari kampus. Jadi tidak perlu menggunakan waktu yang lama untuk sampai kampus.
Malam itu diluar sangat dingin sekali, aku sangat bosan berada di apartemen saja. Kuputuskan untuk memberanikan diri keluar apartemen untuk mencari kopi panas di sebuah kedai kopi di dekat seputaran apartemen. Tidak jauh dari apartemenku memang ada sebuah kedai kopi. Aku suka sekali berada di kedai itu. Aku suka sekali dengan kopi, sama seperti Daddy.. Kedai itu sama seperti kedai milik Daddy dan Paman Jack Apsel, dulu ketika aku masih tinggal di Frankfrut bersama Mom dan Daddy juga bertetangga dengan Paman Jack. Paman Jack adalah sahabat Daddy sedari kecil. Dulu ketika Daddy dan Paman Jack sedang membuat kopi dengan mesin-mesin yang aku bilang unik, aku dan Josh sering mengganggu mereka ketika membuat kopi. Aku dan Josh berlari-larian di dalam kedai hingga Daddy dan Paman Jack memarahi kami. Lucu sekali saat itu rasanya kalau teringat masa itu. Betapa aku sungguh merindukan masa itu. Aku merindukan Daddy, Josh, dan Paman Jack. Masa kecil yang menyenangkan sekali saat itu.

***





“Daddy! Lihatlah ini kopi buatan ku dengan Josh untukmu dan untuk Paman Jack. Kau mau mencobanya?” ucapku sambil berlari memeluk Daddy dan menunjuk kearah Josh dan dua cangkir kopi yang berada di salah satu meja di pojokan tempat aku dan Josh selalu bermain.
“Ah, tentu saja saying. Nanti kalau Daddy dan Paman Jack sudah selesai bekerja kami akan mencoba meminum kopi buatan kalian.” Jawab Daddy sambil tersenyum lalu melepaskan pelukanku karena harus kembali bekerja. Aku kembali berlari menuju meja tempat dimana Josh duduk bersama dua cangkir kopi yang sepertinya memang tidak panas, tapi itu adalah kopi buatan kami. Aku dan Josh.
Aku dan Josh bersahabat dari kecil. Dia selalu memberiku permen ketika aku menangis. Layaknya anak kecil yang selalu diam jika diberi sesuatu ketika menangis. Begitu pula sebaliknya. Ketika Josh bersedih akupun selalu mengajaknya bermain dan bercanda agar dia tidak sedih kembali.
            “Allena!! Lihat Allena, aku membuatkan secangkir kopi panas untukmu. Kau mau mencoba meminumnya? Kopi panas ini spesial dariku untukmu.” Sambil menyodorkan secangkir kopi, Josh tersenyum penuh kebanggaan karena dapat membuat kopi untukku.
“Josh, kau sudah bisa membuat kopi?” jawabku sedikit tercengang, bagaimana tidak jika anak kecil seumuranku dan Josh mampu membuat kopi panas sendiri. Yah, walaupun umur Josh dua tahun lebih tua dari pada aku. “baiklah sini aku akan meminum kopi buatanmu, Josh.”
Akupun mulai mengambil cangkir itu dari tangan Josh. Perlahan aku mencoba meminumnya sedikit demi sedikit, dan.. “Jossssshhh!!!!” Josh kaget dan tercengang ketika aku berteriak. “Josh, ini pahit sekali! Special dari mananya Josh, kau ingin membunuhku?” jawabku kesal.
“Tidak Allena, aku tidak bermaksud untuk membunuhmu. Aku hanya ingin mencoba membuatkanmu secangkir kopi panas seperti Daddy membuatkan secangkir kopi panas untuk Mommy.” Jawabnya terlihat sedih. Dan aku hanya menangis, aku tidak suka pahit saat aku masih kecil. Josh terlihat panik dan dia segera mengeluarkan permen dari kantong celananya dan memberikannya untukku lalu Josh mengusap air mataku. Aku hanya diam dan kesal. Ya, aku masih kesal dengan Josh. Akhirnya mengambil permen yang Josh berikan padaku. Josh pun mengajakku berjalan-jalan di sekitar komplek kedai yang terlihat sangat ramai.
            Siang itu hari pertama turun salju, Josh mengajaku berjalan-jalan setelah aku menangis karena kopi yang sudah dibuatkan Josh untukku. Josh berkata agar aku tidak sedih lagi sebagai tanda permintaan maaf dia akan membawaku berjalan-jalan ditengah salju. Aku dan Josh pun bermain diluar. Membuat bola salju dan bermain salju sepuas-puasnya. Kami pun tertawa bahagia. Bagaimana tidak, begitu beruntungnya aku mempunyai sahabat seperti Josh. Kami tidak merasakan dinginnya salju. Josh selalu bilang padaku ketika aku kedinginan, Josh selalu menyuruhku meletakkan tangan didepan mulut lalu aku meniup tanganku sendiri maka itu akan sedikit menghangatkan. Kami bermain dengan salju seharian, akhirnya kami tiduran di atas salju karena lelah. Menyenangkan sekali rasanya, Josh memang selalu bisa membuatku tertawa. Aku tidak ingin kehilangan sahabat sepertimu Josh! Ucapku dalam hati.
“Ah menyenangkan sekali! Terima kasih, Josh.” aku tersenyum bahagia sambil menatap langit sambil merebahkan badanku di atas salju.
“Ya. Kembali kasih, Allena. Kau sudah bahagia?” ucap Josh dengan nada yang datar dan dia pun ikut merebahkan tubuhnya di atas salju bersamaku. Tapi tatapannya lurus menghadap langit. Aneh, baru saja tadi tertawa tiba-tiba saja nadanya menjadi datar. Tapi aku masih menatap langit.
“Tentu saja, Josh.” Jawabku dengan bahagia.
“Syukurlah kalau kau sudah bahagia. Allena?”
“ya, Josh?” jawabku lalu memalingkan kepala melihat Josh yang masih tidur disampingku sambil menatap langit.
“Maukah kau berjanji kepadaku, Allena? Berjanjilah untuk selalu bahagia, berjanjilah kepadaku kau akan tetap bahagia, dan terus bahagia. Apapun yang terjadi kau harus selalu tersenyum dan tertawa seperti saat ini.” Aku tercengang. Aku bangun dari tidurku. Aku terduduk disamping Josh. Dia pun ikut bangun dan duduk di sampingku.
“Oh Josh, kau kenapa? Tentu saja aku akan selalu bahagia, dan akan terus bahagia. Aku janji, Josh. Bagaimana aku tidak bahagia kalau aku mempunya sahabat sepertimu. Aku akan selalu bahagia jika selalu bersamamu, Josh. Kau sahabat terbaik yang paling baik sebaik-baiknya yang aku punya, Josh.” Jawabku sambil tersenyum kepada Josh. Josh menatapku lalu tersenyum.
“Terima kasih Allena. Tetapi kau harus tetap bahagia ya jika tanpa aku..” ucapan Josh terhenti sejenak dan membuatku tercengang. “..kau harus tetap bahagia walau tanpaku, aku akan selalu menjadi sahabat terbaikmu. Kamu juga akan selalu menjadi sahabat terbaikku, Allena. Aku akan tetap menjadi sahabatmu walaupun aku tidak berada bersamamu.” Ucapnya berat sambil menepuk pundakku.
“Josh.. mengapa kau berbicara seperti itu? Kau ingin meninggalkan aku?” ucapku sedikit dengan nada tinggi. Aku sedih. Aku menangis lagi. Dan lagi Josh mengusap air mataku.
“Tidak Allena, aku tidak ingin meninggalkanmu. Sebenarnya aku tidak ingin, tapi aku harus pamit. Besok pagi aku, Mommy dan Daddy harus pergi ke Prancis. Kau harus berjanji padaku, dengan ada atau tanpa aku kau harus selalu bahagia. Kau akan selalu menjadi sahabat terbaikku, Allena.” aku masih terus menangis. Bagaimana aku tidak sedih ketika satu-satunya sahabat terbaikku harus pergi dan meninggalkan aku.

 



“Josh, kau jahat sekali. Kamu sangat jahat, kamu mau meninggalkan aku di Jerman sendirian?!”
“Tidak Allena, aku tidak ingin. Kau tenang saja, nanti kalau kau sudah memasuk sekolah kau pasti akan menemukan teman baru. Kau tidak sendiri, Allena. Nanti kalau ada kesempatan aku akan kembali ke Frankfrut, aku janji..” “oh ya, ini aku punya sesuatu untukmu. Aku membuatnya sendiri untukmu, tenang saja ini bukan kopi jadi kau tidak perlu khawatir.” Ucapnya sedikit tertawa. Dia mengeluarkan sebuah kalung dengan bandul cangkir kopi yang unik dan di bandul cangkir kopi tersebut ada huruf bertuliskan A&J. Josh mengenakannya kepadaku. Aku hanya diam karena masih merasa sedih. “nah kalau kau merindukan aku kau bisa melihat kalung ini, Allena. Disimpan baik-baik kalung ini ya, agar kau selalu mengingatku. Mengingat kita pernah bersahabat sedekat nadi. Kalung ini ada dua, satu untukku dan satu untukmu. Agar kita sama-sama saling mengingat kalau kita jauh nanti.” Ucap Josh untuk yang terakhir saat itu. Aku lalu memeluk Josh dengan erat.
            Malamnya aku masih sedih dan memperhatikan kalung yang diberikan Josh padaku. Rumahku terasa sepi sekali, Daddy belum juga pulang. Mommy sudah tertidur dikamarnya. Aneh sekali, pikirku. Daddy belum pulang malam ini. Ku putuskan untuk pergi ke kedai milik Daddy dan Paman Jack malam itu. Mengenakan jaket tebal, syal dan sarung tangan tidak lupa dengan sepat boot pemberian Daddy  ketika aku ulang tahun yang ke 5 dulu. Aku menyusuri ruang tamu secara perlahan agar Mommy tidak terbangun. Aku mengendap-endap keluar rumah seperti pencuri. Akhirnya aku mendapatkan keluar dari rumah tanpa Mommy harus terbangun.
            Aku menghampiri kedai milik Daddy dan Paman Jack. Terlihat sepi, tetapi Daddy belum juga pulang ke rumah. Aneh sekali, pikirku. Ku hampiri perlahan, ku buka pintu kedai yang ternyata tidak terkunci. Kedai masih tertata rapi seperti biasanya. Hanya saja seperti kosong penuh dengan kardus-kardus yang seperti baru saja akan dibereskan. Tidak ada Daddy, tidak Paman Jack. Lau, kemana mereka?
Aku perlahan memasuki ruang istirahat barista, tempat dimana Daddy dan Paman Jack beristirahat jika kedai sedang sepi.
KREEEEK! Tiba-tiba terdengar seperti suara pintu terbuka. Aku pun segera bersembunyi dibawah meja barista.
            “Jadi kau benar-benar ingin pergi Jack?” terdengar suara Daddy begitu berat.
            “Ya, Dawson. Demi anakku, aku tidak ingin kehilangan anakku, Josh. Aku harus menyelamatkan anakku. Sekalipun harus meninggalkan Jerman. Aku tidak ingin melihat Josh seperti ini. Aku minta maaf jika arus berhenti dari pekerjaan ini. Aku sangat senang bisa bekerja denganmu, Tuan Dawson.”
            “Baiklah Jack, aku mengerti. Aku paham. Aku pun berharap Josh lekas sembuh. Josh juga sudah seperti anakku sendiri. Kalau memang ini yang terbaik, jaga anakmu baik-baik, Jack. Aku berharap kau dan keluargamu kembali ke Jerman. Aku berharap kita bisa berjumpa lagi. Kelak kalau anak-anak kita sudah besar nanti. Kasian Allena dan Josh, mereka pasti sama-sama merasa kehilangan teman dekatnya.”
            “Mau bagaimana lagi, Dawson. Nanti kalau anakku sudah benar-benar bisa sembuh, kami akan kembali lagi ke Jerman. Menemui kalian lagi, dan Allena juga pastinya.”
            “Daddy, Paman Dawson..” tiba-tiba Josh terlihat keluar dari dalam pintu yang terbuka tadi. Dia terlihat seperti bangun tidur.
            “Hei, Josh kau belum tidur nak?” Tanya Daddy.
            “Sudah Paman Dawson, aku hanya terbangun. Maafkan aku paman, aku mendengar percakapan kalian. Paman, jaga Allena baik-baik ya. Jangan sampai Allena bersedih.”
            “Ya, Josh paman akan jaga Allena baik-baik. Kau juga jaga diri baik-baik ya, lekas sembuh. Lalu nanti bermain bersama lagi bersama Allena. Paman akan selalu merindukan kamu, Josh. Salam untuk menara Eiffle ya..” ucap Daddy dengan sedih, sambil mengusap kepala Josh.
            Aku sungguh tidak paham dengan percakapan mereka saat itu. Saat itu aku masih sangat kecil. Dibalik meja aku hanya bisa menangis mengetahui jika memang benar Josh harus pergi dari Jerman. Terlebih lagi aku sangat tidak paham apa maksutnya Josh lekas sembuh. Apa dia sakit? Lalu sakit apa? Kalau memang sakit, kenapa selama ini aku tidak tahu? Kenapa?
            Esok harinya aku mengetahui Josh telah pergi. Kedai kopi milik Daddy dan Paman Jack pun sudah tutup. Daddy sudah tidak bekerja lagi sebagai pemilik kedai. Dia menjual kedainya dan beralih pekerjaan. Aku memberanikan diri bertanya kepada Daddy soal mengapa Josh harus pergi jauh hingga Prancis. Daddy begitu berat sepertinya ketika akan menjelaskan. Daddy hanya bilang bahwa Josh sakit dan harus dirawat di Prancis sampai dia sembuh. Berkali-kali aku sering bertanya apa penyakit Josh, sampai suatu hari Daddy bercerita bahwa Josh mengalami sakit jantung yang selama ini kita tidak mengetahui. Aku sangat terkejut. Aku sempat marah kepada Daddy karena tak memberitahuku. Bahkan sampai aku beranjak remaja pun aku tidak pernah lagi mengetahui kabar Josh. Daddy pun seperti selalu merahasiakan semua tentang Josh. Aku hanya takut, aku takut aku kehilangan Josh. Sahabat kecil, sahabat terbaikku sepanjang masa.

***

Aku berjalan keluar dari pintu apartemen. Masih dengan lamunan masa lalu dan sambil berjalan menuju kedai. Sambil membenahi sarung tangan yang aku pakai agar tidak menggigil kedinginan diluar. Lamunanku masih tertuju pada masa lalu yang aku rindukan itu. Memperhatikan bandul kalung dari Josh yang sampai sekarang masih aku pakai di lingkar leherku. Lalu ku masukkan kembali kalung itu di dalam syal yang menutupi leherku. Talinya memang sudah terlihat lusuh. Tapi masih tetap cukup jika aku pakai karena talinya yang panjang. Josh, ah aku merindukannya. Dimana dia sekarang? Bagaimana keadaaanya? Tidak terasa aku berjalan dan hampir saja sampai di kedai, tapi… CIIIIIIITTTT!!!!!
Kaget setengah mati, ampir saja aku tertabrak oleh mobil. Aku terjatuh, tetapi aku masih baik-baik saja karena mobil dapat menge-rem mobilnya dengan pandai. Dan.. hei, lihat mobil yang akan menabrakku barusan! Itu adalah mobil yang tadi pagi aku lihat berada didepan apartemenku. Aku memperhatikan mobil itu, dan sekejap seorang pria turun dari mobil itu. Dia mengenakan sepatu boot, jaket tebal, sarung tangan, syal tebal dan juga penutup kepala. Tidak hanya itu, tetapi dia juga mengenakan kacamata hitam sehingga aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Dia berjalan menghampiriku yang masih posisi terjatuh di depan mobilnya. Suara hentak kakinya sedikit terdengar. Aku menatapnya dengan penasaran, dia menghampiriku lalu membuka kacamatanya sehingga kali ini aku dapat melihat wajahnya yang terlihat cool dan sepertinya dia masih muda dan sepertinya umurnya tidak jauh dariku.
“Hei Nona, apa kau baik-baik saja? Aku minta maaf tadi sedang tidak focus mengendarai mobilku. Mari Nona, aku bantu berdiri.” Ucap lelaki itu meminta maaf padaku sambil mengulurkan tangannya.
“Ah, jangan khawatir, Tuan. Aku tidak apa-apa, hanya sekedar shock saja. Aku yang meminta maaf karena menyebrang jalan sambil melamun. Maafkan aku, Tuan. Mobil Tuan bagaimana?” jawabku.
“Sudah, mobilku tidak masalah. Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Ini salahku, aku minta maaf. Oh ya, Nona akan pergi kemana memangnya? Mari saya antar saja bagaimana sebagai tanda permohonan maaf saya?” tanyanya padaku. Aku masih terdiam. “..itupun kalau Nona tidak keberatan.” Lanjutnya.
“Terima kasih, Tuan atas kebaikan dan tawarannya. Tetapi aku hanya akan pergi ke kedai depan itu.” Jawabku sambil tersenyum dan menunjuk sebuah kedai kopi di seberang jalan.
“Kalau begitu kita ke kedai itu bersama saja, kebetulan aku juga akan ke tempat itu.” Jawabnya. Akhirnya aku dan pria itu memasuki mobil dan kami menuju kedai di seberang jalan itu.
Kami memasuki kedai itu bersama dan disambut oleh beberapa barista di kedai tersebut.
 


“Selamat malam tuan Edwin.” Ucap beberapa barista menyambut pria disebelahku. Aku tertegun, mengapa para barista seolah mengenal dekat pria ini. Otakku mulai berputar berpikir kemana-mana. Muncul banyak pertanyaan. Tapi ah sudahlah, abaikan. Kami duduk disalah sudut kedai di dekat jendela. Saling berhadapan. Salah seorang barista mendatangi kami untuk memberikan menu pada kami.
“Kau ingin memesan apa nona?” Tanya pria yang duduk di depanku ini.
“Expresso saja satu, Tuan Edwin.”
“Hei, dari mana kau tau namaku?” tanyanya padaku serambi memanggil satu barista yang tadi memberikan menu. “Expresso satu, dan seperti biasa ya.” Ucapnya lagi kepada si barista, seolah barista tadi sudah hafal dengan permintaan si pria ini.
“Bagaimana tidak, bukannya tadi para barista memanggilmu dengan nama Edwin, Tuan?” ucapku sambil tersenyum. “itu namamu kan?”
“Hahaha.. oh ya, aku lupa kalau mereka tadi menyapaku. Oh ya nona, maaf siapa namamu? Sedari tadi kita belum berkenalan.”
“Namaku Al..” aku diam sejenak, teringat panggilanku sudah bukan lagi Allena. Ya, di dunia dewasa ku kini semuanya sudah berubah. Edwin masih saja menatapku, menunggu aku meneruskan kata-kataku tadi. “Sorry, aku masih shock sepertinya hehe. Panggil saja aku Ruth.” jawabku sambil tersenyum. “Oh ya, sepertinya orang-orang disini sudah mengenalmu begitu akrab. Kamu sering ke tempat ini?”
“Sebenarnya kedai ini milik ayahku.” Jawabnya datar.
“Cool! Pantas saja orang-orang disini seperti mengenalmu. Memangnya kamu tinggal dimana? Sudah lama pasti kamu tinggal di Jerman?” ujarku seolah penuh tanya. Seru sekali rupanya mengenal sosok Edwin.
“Aku tinggal di apartemen dekat sini, di belakang gedung seberang itu. Aku baru saja datang ke Jerman. Aku sempat tinggal di Prancis, lalu aku pindah ke Amsterdam untuk sementara waktu. Ayahku orang Jerman, dia memutuskan kembali ke Jerman sendiri setahun yang lalu dan mendirikan kedai ini. Sesekali ayah pulang ke Amsterdam menemuiku.”
“Oh ya, lalu kenapa orang-orang disini sepertinya sudah mengenalmu begitu akrab? Apakah kita satu gedung apartemen? Tadi pagi aku seperti melihat mobilmu di depan apartemenku. Kupikir itu memang kamu, Tuan.”
“Iya, aku sudah datang ke Jerman sebulan yang lalu hanya saja aku belum tinggal di apartemen disini, aku sering ke tempat ini sejak aku datang di Jerman. Ayahku yang mengenalkan aku pada mereka. Aku datang kesini untuk mengurus kedai milik ayahku ini untuk sementara waktu saja karena ayah sekarang sedang sakit. Kamu juga tinggal di apartemen itu? Kebetulan sekali kalau begitu.”
“iya aku tinggal disana. Ooh ya, semoga ayahmu lekas sembuh Tuan Edwin.” Ucapku sambil tersenyum. Sementara barista sudah datang membawakan pesanan kami. Satu expresso panas dan satu green tea panas. “hei, mengapa kau tidak memesan kopi, Tuan?”
“kalau begitu nanti kita pulang bersama saja, kan satu jalan. Ruth, panggil saja namaku tidak usah pakai Tuan hahaha. Aku tidak suka kopi, Ruth.” Jawabnya tanpa menatapku. Aneh sekali, pikirku. Ini kan kedai kopi, lalu untuk apa dia mempunyai kedai kopi tetapi pemiliknya sendiri tidak menyukai kopi. Aneh sekali.
“Oh okay, Edwin terima kasih untuk tawarannya. Kenapa kamu tidak menyukai kopi? Ini kan kedai milikmu.”
“Bukan, Ruth. Ini milik ayahku.” Jawabnya dengan halus. Dan aku tidak mau melanjutkan pertanyaan-pertanyaanku lagi. “Oh ya, kamu suka kopi ya? Ekspresso itu kan pahit. Kamu suka pahit?” sekali lagi aku merasa aneh, bagaimana bisa dia tau rasa ekspresso kalau dia tidak menyukai kopi? Apa dia pernah mencoba, atau hanya dia mendengar dari ayahnya, atau.. ah sudahlah, orang ini membuat aku semakin penasaran saja.
“Dulu aku tidak menyukai pahit, tapi aku suka kopi. Dulu ayahku mempunyai kedai kopi juga, ayahku adalah pecinta kopi. Itu sebabnya aku mengikuti ayahku sebagai pecinta kopi.” Tanpa basa-basi Edwin tiba-tiba mendekatkan wajahnya kepadaku, aku terkejut. “Ada apa Edwin? Mengapa kau menatapku begitu? Ada sesuatu yang aneh ya?” tanyaku bingung. Aneh sekali pria ini, cool dan keren sih sebenarnya. Tapi ada sesuatu yang aneh.
“Tidak, Ruth. Hanya aku seperti pernah mengenalimu sebelumnya. Mengenali bola matamu.” Edwin kembali duduk dengan baik di kursinya. Aneh pikirku, memangnya dia siapa. Baru saja kenal dan aneh sekali.
“Mungkin banyak orang yang mirip denganku, hahaha.” Candaku.
Hampir dua jam kami berada di kedai milik ayah Edwin. Berbincang dengan hangat sehangat kopi. Orang ini memang aneh, tapi mengenalnya serasa bahagia. Sejak kepergian Josh aku tidak pernah bertemu seorang teman yang menyenangkan seperti ini. Bertemu dan berbincang dengan Edwin seolah aku bertemu dengan Josh kedua. Akhirnya setelah lama kami berbincang banyak hal, aku dan Edwin pun memutuskan untuk kembali ke apartemen.
“Ruth, flat milikmu lantai berapa?”
“Lantai empat nomor 21, mainlah ke flat ku kalau kau sempat, Edwin.”
“Baiklah, besok saja ini sudah malam. Flatku berada di lantai tiga nomor 15. Kalau ada apa-apa atau kau butuh teman bercerita panggilah aku atau kau bisa berkunjung ke flatku. Oh ya ini nomor telepon ku. Kau bisa hubungi aku kapan pun kau mau.”
“Okay Edwin, terima kasih kalau begitu aku istirahat dulu ya. See you again, Edwin!” sambil mengulas senyum kepada Edwin. Edwin pun membalas senyumanku dan melambaikan tangannya. Aku pun memasuki kamarku dan beristirahat.
Kadang aku memang tidak pernah bisa menemukan sosok Josh dimanapun. Tapi kali ini aku menemukan kebali sosok Josh dalamdiri Edwin. Tidak pernah aku menemukan teman yang paling asik setelah kepergian Josh. Ah, aku begitu merindukannya. Seperti apa dia sekarang? Apakah dia masih hidup? Apakah sekarang dia menjadi pria yang tampan? Atau seperti apakah dia sekarang? Aku merindukanmu, Josh. Dengan secangkir kopi pahit yang dulu pernah kau buatkan special untukku.