About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Jumat, 15 Mei 2015

Terdampar ke Tanah Jawa, Terbuang ke Pulau Seberang


Aku berdiri dipinggir pantai selatan. Menikmati suasana senja hari itu. Mendengarkan suara ombak, suara paling merdu di dunia. Kembali sudah dari persembunyianku. Kembalilah aku di Tanah Jawa ini. Tanah tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Dimana aku mengenal hidup pertama kalinya. Ya, aku bukan Jawa tulen. Aku pula bukan berdarah Sumatera asli. Ataukah aku orang Kalimantan, atau Sulawesi, atau pula Papua? Sudahlah. Entah aku ini orang mana. Tak peduli benar kali ini. Yang aku tau banyak sekali tempat indah di Indonesia yang akan menjadi tempat untukku bernostalgia. Hingga aku sekarang berada dipantai ini saat ini. Berada ditempat seindah ini sendiri pula.
Perjalanan jauh yang sudah aku lalui, hingga aku kembali berada di tanah Jawa. Ya, di tempat ini. Di pulau ini, tanah Jawa. Kembali lagi pada memori masa lalu. Kenangan dan harapan. Semua seolah berdatangan dalam bayangku. Ya. Kota ini khususnya, kota Istimewa ini. Terngiang sebuah adat Jawa yang seolah menggema dalam telinga, menghantui sebuah ingatan. Suara gamelan Jawa yang seolah menggema ditelinga, mengembalikan semua ingatan. Ingatan betapa istimewanya kota ini. Hingga aku tau mengapa aku dapat terdampar di tanah Jawa ini.

Kata orang, orang Jawa itu ramah dan halus pula tutur kata dan tata kramanya pula sungguh santun. Begitu istimewa perilakunya pula, nan anggun. Ku kira benar, hingga aku bertemu denganmu. Benar ku kira bahwa orang Jawa begitu istimewa dengan tata kramanya yang santun. Benar memang begitu sederhananya engkau hingga benar terlihat istimewa. Ya, seperti kota ini. Yogyakarta. Sederhana, tetapi istimewa. Hingga akhirnya hatiku dipenuhi cinta kepada kau. Orang yang selalu ku bilang “Sangat Jogja”. Kenapa? Karena kau selalu istimewa. Benar ku kira bahwa santun perkataannya dan perilakunya. Ribuan hari bahagia penuh warna disetiap detiknya.
Ku kira benar semua yang terjadi sangat indah. Dengan alunan-alunan khas Yogyakarta rasanya selalu mengiringi hariku dank au selama ini. Ku kira benar begitu santunnya kau. Ternyata semua salah. Aku salah. Salah menilaimu. Semua berubah. Langit Jawa seolah tertutup oleh awan hitam. Langit seolah murka. Mengetahui kau begitu kejamnya. Tutur kata yang tidak sesantun itu. Tidak setata dahulu. Hingga aku terbuang jauh dari Tanah Jawa ini. Tempat dimana aku mengenal semuanya. Kau memang istimewa. Kau begitu hebatnya. Kau yang sanggup menjadikan aku seseorang yang pemberani. Kau pula yang sanggup menjadikan aku sengsara selamanya. Kau boleh memutuskan pengharapanku. Kau pun sanggup membunuhku.
Akupula, memutuskan untuk pergi dari Tanah Jawa ini. Ingin aku kembali ke tanah kelahiran Bundo. Hidup tenang bersama Nenek, Pakcik dan Makcik. Aku memutuskan untuk pergi, namun aku entah kemana tanpa arah tujuan. Perjalanan liku-liku. Hampir pula aku mati menanggung cinta. Aku memang pergi, tapi kau lebih dulu pergi dengan kejamnya. Kau memilih pergi dengan meninggalkan santunan tanpa karma. Memilih untuk kembali ke duniamu yang aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Dan kau pula memintaku untuk pergi jauh. Sangat jauh. Siapakah diantara kita yang kejam, Mas? Siapa yang telah menghalangi seorang anak muda yang bercita-cita tinggi menambah pengetahuan tetapi akhirnya terbuang jauh dari Tanah Jawa ini, hilang kampung dan halamannya sehingga dia menjadi anak  yang tertawa di muka ini tetapi menangis di belakang layar. Tidak, saya tidak kejam! Aku hanya menuruti katamu, bahwa kau memang menginginkan aku untuk pergi jauh. Sangat jauh. Jauh dari kau. Bukankah kau yang meminta supaya cinta kita itu dihilangkan dan dilupakan saja, diganti dengan pertemanan yang kekal dan lebih baik. Permintaan itulah yang saya pegang teguh sekarang. Dan kamu, untuk kesekian kalinya member rantai dan jeruji besi berduri kepadaku. Maka kini pergilah engkau. Heningkan hatimu kembali. Sama-sama kita habisi kekecewaan yang sudah-sudah. Perlahan kurelakan kau. Dan akan ku tinggalkan Tanah Jawa ini ketika tugasku sudah selesai. Kalaupun aku kembali pada Tanah Jawa ini, akan hanya untuk mengunjungi sanak saudara yang ada di tempat ini. Teman maupun kerabat. Dan kau akan selalu kekal abadi dalam sebuah kotak memori saya. Akan tersimpan dan terjaga disana. Tanpa harus ada yang mengusik, sekalipun aku yang memangunkan kembali. Tidak. Tidak akan.

Masih terduduk di pinggir pantai sendirian. Masih dalam ingatan memori masa lalu. Ah.. kota ini. Sudahlah. Sebenarnya kamu sudah tak ada. Sekuatnya aku kan mencoba tertawa, sejujurnya ini terlalu sakit. Ya, aku rela berpisah denganmu. Dan, hari ini akan menjadi yang terbaik untuk yang terbaik. Kembali ke Tanah Jawa dengan sekuat hati. Selalu mencintai tanah ini demi Indonesiaku. Dan.. di pantai ini aku melepaskan semuanya. Semua yang sudah pernah terjadi di tanah ini kepadaku. Kenangan, dan harapan jadi satu. Dan aku akan selesaikan tugas dan studi ku di Tanah Jawa ini hingga selesai. Lalu, mulai ku berfikir perlahan untuk pergi dari zona nyaman kota ini. Kota istimewa ini. Dan akan ku kembali pada tanah kelahiran Bundo nantinya.

0 komentar:

Posting Komentar