Aku berdiri dipinggir pantai selatan. Menikmati suasana senja hari itu. Mendengarkan suara ombak, suara paling merdu di dunia. Kembali sudah dari persembunyianku. Kembalilah aku di Tanah Jawa ini. Tanah tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Dimana aku mengenal hidup pertama kalinya. Ya, aku bukan Jawa tulen. Aku pula bukan berdarah Sumatera asli. Ataukah aku orang Kalimantan, atau Sulawesi, atau pula Papua? Sudahlah. Entah aku ini orang mana. Tak peduli benar kali ini. Yang aku tau banyak sekali tempat indah di Indonesia yang akan menjadi tempat untukku bernostalgia. Hingga aku sekarang berada dipantai ini saat ini. Berada ditempat seindah ini sendiri pula.
Perjalanan jauh yang sudah aku lalui,
hingga aku kembali berada di tanah Jawa. Ya, di tempat ini. Di pulau ini, tanah
Jawa. Kembali lagi pada memori masa lalu. Kenangan dan harapan. Semua seolah
berdatangan dalam bayangku. Ya. Kota ini khususnya, kota Istimewa ini.
Terngiang sebuah adat Jawa yang seolah menggema dalam telinga, menghantui
sebuah ingatan. Suara gamelan Jawa yang seolah menggema ditelinga,
mengembalikan semua ingatan. Ingatan betapa istimewanya kota ini. Hingga aku
tau mengapa aku dapat terdampar di tanah Jawa ini.
Kata orang, orang Jawa
itu ramah dan halus pula tutur kata dan tata kramanya pula sungguh santun. Begitu
istimewa perilakunya pula, nan anggun. Ku kira benar, hingga aku bertemu denganmu.
Benar ku kira bahwa orang Jawa begitu istimewa dengan tata kramanya yang
santun. Benar memang begitu sederhananya engkau hingga benar terlihat istimewa.
Ya, seperti kota ini. Yogyakarta. Sederhana, tetapi istimewa. Hingga akhirnya
hatiku dipenuhi cinta kepada kau. Orang yang selalu ku bilang “Sangat Jogja”. Kenapa?
Karena kau selalu istimewa. Benar ku kira bahwa santun perkataannya dan
perilakunya. Ribuan hari bahagia penuh warna disetiap detiknya.
Ku kira benar semua
yang terjadi sangat indah. Dengan alunan-alunan khas Yogyakarta rasanya selalu
mengiringi hariku dank au selama ini. Ku kira benar begitu santunnya kau.
Ternyata semua salah. Aku salah. Salah menilaimu. Semua berubah. Langit Jawa
seolah tertutup oleh awan hitam. Langit seolah murka. Mengetahui kau begitu
kejamnya. Tutur kata yang tidak sesantun itu. Tidak setata dahulu. Hingga aku
terbuang jauh dari Tanah Jawa ini. Tempat dimana aku mengenal semuanya. Kau memang
istimewa. Kau begitu hebatnya. Kau yang sanggup menjadikan aku seseorang yang pemberani.
Kau pula yang sanggup menjadikan aku sengsara selamanya. Kau boleh memutuskan
pengharapanku. Kau pun sanggup membunuhku.
Akupula, memutuskan
untuk pergi dari Tanah Jawa ini. Ingin aku kembali ke tanah kelahiran Bundo.
Hidup tenang bersama Nenek, Pakcik dan Makcik. Aku memutuskan untuk pergi,
namun aku entah kemana tanpa arah tujuan. Perjalanan liku-liku. Hampir pula aku
mati menanggung cinta. Aku memang pergi, tapi kau lebih dulu pergi dengan
kejamnya. Kau memilih pergi dengan meninggalkan santunan tanpa karma. Memilih
untuk kembali ke duniamu yang aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Dan kau
pula memintaku untuk pergi jauh. Sangat jauh. Siapakah diantara kita yang
kejam, Mas? Siapa yang telah menghalangi seorang anak muda yang bercita-cita
tinggi menambah pengetahuan tetapi akhirnya terbuang jauh dari Tanah Jawa ini,
hilang kampung dan halamannya sehingga dia menjadi anak yang tertawa di muka
ini tetapi menangis di belakang layar. Tidak, saya tidak kejam! Aku hanya
menuruti katamu, bahwa kau memang menginginkan aku untuk pergi jauh. Sangat
jauh. Jauh dari kau. Bukankah kau yang meminta supaya cinta kita itu
dihilangkan dan dilupakan saja, diganti dengan pertemanan yang kekal dan lebih
baik. Permintaan itulah yang saya pegang teguh sekarang. Dan kamu, untuk
kesekian kalinya member rantai dan jeruji besi berduri kepadaku. Maka kini
pergilah engkau. Heningkan hatimu kembali. Sama-sama kita habisi kekecewaan
yang sudah-sudah. Perlahan kurelakan kau. Dan akan ku tinggalkan Tanah Jawa ini
ketika tugasku sudah selesai. Kalaupun aku kembali pada Tanah Jawa ini, akan
hanya untuk mengunjungi sanak saudara yang ada di tempat ini. Teman maupun
kerabat. Dan kau akan selalu kekal abadi dalam sebuah kotak memori saya. Akan tersimpan
dan terjaga disana. Tanpa harus ada yang mengusik, sekalipun aku yang memangunkan
kembali. Tidak. Tidak akan.
Masih terduduk di pinggir pantai sendirian.
Masih dalam ingatan memori masa lalu. Ah.. kota ini. Sudahlah. Sebenarnya kamu
sudah tak ada. Sekuatnya aku kan mencoba tertawa, sejujurnya ini terlalu sakit.
Ya, aku rela berpisah denganmu. Dan, hari ini akan menjadi yang terbaik untuk
yang terbaik. Kembali ke Tanah Jawa dengan sekuat hati. Selalu mencintai tanah
ini demi Indonesiaku. Dan.. di pantai ini aku melepaskan semuanya. Semua yang
sudah pernah terjadi di tanah ini kepadaku. Kenangan, dan harapan jadi satu. Dan
aku akan selesaikan tugas dan studi ku di Tanah Jawa ini hingga selesai. Lalu,
mulai ku berfikir perlahan untuk pergi dari zona nyaman kota ini. Kota istimewa
ini. Dan akan ku kembali pada tanah kelahiran Bundo nantinya.

0 komentar:
Posting Komentar