Pagi tadi aku melihat sebuah
mobil berhenti di depan apartemenku. Tak tahu siapa, mungkin salah seorang tamu
dari pemilik salah satu flat di apartemen ini atau orang baru yang akan
menempati salah satu flat di apartemen ini. Mobilnya tidak tampak bening karena
tertutup salju. Hari ini hari pertama musim salju atau sebut saja winterzeit. Salju pertama musim dingin
di Jerman, kali ini aku sendiri saja di apartemen. Ya, sesekali aku keluar
untuk melihat suasana diluar dengan menggunakan pakaian tebal berbahan wol,
jaket tebal yang tahan air dan juga syal, tidak lupa juga menggunakan tutup
kepala, sarung tangan, kaus kaki tebal dan juga sepatu boot agar tidak
menggigil diluar sana. Membosankan memang ketika musim salju seperti ini aku
hanya sendiri di apartemen dan nothing to
do, ya karena juga kuliah dan kantor sedang libur di hari pertama turun
salju seperti ini. Orang-orang menghabiskan hari pertama msuim dingin bersama
keluarganya. Menghangatkan diri bersama orang-orang tersayang. Dan aku hanya
sendiri saja di dalam apartemen ku. Oh ya, by
the way namaku Ruth. Ruth Allena Dawson. Aku adalah student di Freie
Universität Berlin. Apartemenku
tidak jauh pula dari kampus. Jadi tidak perlu menggunakan waktu yang lama untuk
sampai kampus.
Malam itu diluar sangat
dingin sekali, aku sangat bosan berada di apartemen saja. Kuputuskan untuk memberanikan
diri keluar apartemen untuk mencari kopi panas di sebuah kedai kopi di dekat seputaran
apartemen. Tidak jauh dari apartemenku memang ada sebuah kedai kopi. Aku suka
sekali berada di kedai itu. Aku suka sekali dengan kopi, sama seperti Daddy..
Kedai itu sama seperti kedai milik Daddy dan Paman Jack Apsel, dulu ketika aku
masih tinggal di Frankfrut bersama Mom dan Daddy juga bertetangga dengan Paman
Jack. Paman Jack adalah sahabat Daddy sedari kecil. Dulu ketika Daddy dan Paman
Jack sedang membuat kopi dengan mesin-mesin yang aku bilang unik, aku dan Josh
sering mengganggu mereka ketika membuat kopi. Aku dan Josh berlari-larian di
dalam kedai hingga Daddy dan Paman Jack memarahi kami. Lucu sekali saat itu
rasanya kalau teringat masa itu. Betapa aku sungguh merindukan masa itu. Aku
merindukan Daddy, Josh, dan Paman Jack. Masa kecil yang menyenangkan sekali
saat itu.
***
“Daddy! Lihatlah ini
kopi buatan ku dengan Josh untukmu dan untuk Paman Jack. Kau mau mencobanya?”
ucapku sambil berlari memeluk Daddy dan menunjuk kearah Josh dan dua cangkir
kopi yang berada di salah satu meja di pojokan tempat aku dan Josh selalu
bermain.
“Ah, tentu saja saying.
Nanti kalau Daddy dan Paman Jack sudah selesai bekerja kami akan mencoba
meminum kopi buatan kalian.” Jawab Daddy sambil tersenyum lalu melepaskan
pelukanku karena harus kembali bekerja. Aku kembali berlari menuju meja tempat
dimana Josh duduk bersama dua cangkir kopi yang sepertinya memang tidak panas,
tapi itu adalah kopi buatan kami. Aku dan Josh.
Aku dan Josh bersahabat dari kecil. Dia selalu
memberiku permen ketika aku menangis. Layaknya anak kecil yang selalu diam jika
diberi sesuatu ketika menangis. Begitu pula sebaliknya. Ketika Josh bersedih
akupun selalu mengajaknya bermain dan bercanda agar dia tidak sedih kembali.
“Allena!!
Lihat Allena, aku membuatkan secangkir kopi panas untukmu. Kau mau mencoba
meminumnya? Kopi panas ini spesial dariku untukmu.” Sambil menyodorkan
secangkir kopi, Josh tersenyum penuh kebanggaan karena dapat membuat kopi
untukku.
“Josh, kau sudah bisa
membuat kopi?” jawabku sedikit tercengang, bagaimana tidak jika anak kecil
seumuranku dan Josh mampu membuat kopi panas sendiri. Yah, walaupun umur Josh
dua tahun lebih tua dari pada aku. “baiklah sini aku akan meminum kopi
buatanmu, Josh.”
Akupun mulai mengambil cangkir itu dari tangan Josh.
Perlahan aku mencoba meminumnya sedikit demi sedikit, dan.. “Jossssshhh!!!!”
Josh kaget dan tercengang ketika aku berteriak. “Josh, ini pahit sekali!
Special dari mananya Josh, kau ingin membunuhku?” jawabku kesal.
“Tidak Allena, aku
tidak bermaksud untuk membunuhmu. Aku hanya ingin mencoba membuatkanmu
secangkir kopi panas seperti Daddy membuatkan secangkir kopi panas untuk
Mommy.” Jawabnya terlihat sedih. Dan aku hanya menangis, aku tidak suka pahit
saat aku masih kecil. Josh terlihat panik dan dia segera mengeluarkan permen
dari kantong celananya dan memberikannya untukku lalu Josh mengusap air mataku.
Aku hanya diam dan kesal. Ya, aku masih kesal dengan Josh. Akhirnya mengambil
permen yang Josh berikan padaku. Josh pun mengajakku berjalan-jalan di sekitar
komplek kedai yang terlihat sangat ramai.
Siang
itu hari pertama turun salju, Josh mengajaku berjalan-jalan setelah aku
menangis karena kopi yang sudah dibuatkan Josh untukku. Josh berkata agar aku
tidak sedih lagi sebagai tanda permintaan maaf dia akan membawaku
berjalan-jalan ditengah salju. Aku dan Josh pun bermain diluar. Membuat bola
salju dan bermain salju sepuas-puasnya. Kami pun tertawa bahagia. Bagaimana
tidak, begitu beruntungnya aku mempunyai sahabat seperti Josh. Kami tidak
merasakan dinginnya salju. Josh selalu bilang padaku ketika aku kedinginan,
Josh selalu menyuruhku meletakkan tangan didepan mulut lalu aku meniup tanganku
sendiri maka itu akan sedikit menghangatkan. Kami bermain dengan salju seharian,
akhirnya kami tiduran di atas salju karena lelah. Menyenangkan sekali rasanya,
Josh memang selalu bisa membuatku tertawa. Aku
tidak ingin kehilangan sahabat sepertimu Josh! Ucapku dalam hati.
“Ah menyenangkan
sekali! Terima kasih, Josh.” aku tersenyum bahagia sambil menatap langit sambil
merebahkan badanku di atas salju.
“Ya. Kembali kasih,
Allena. Kau sudah bahagia?” ucap Josh dengan nada yang datar dan dia pun ikut
merebahkan tubuhnya di atas salju bersamaku. Tapi tatapannya lurus menghadap
langit. Aneh, baru saja tadi tertawa tiba-tiba saja nadanya menjadi datar. Tapi
aku masih menatap langit.
“Tentu saja, Josh.”
Jawabku dengan bahagia.
“Syukurlah kalau kau
sudah bahagia. Allena?”
“ya, Josh?” jawabku
lalu memalingkan kepala melihat Josh yang masih tidur disampingku sambil
menatap langit.
“Maukah kau berjanji
kepadaku, Allena? Berjanjilah untuk selalu bahagia, berjanjilah kepadaku kau
akan tetap bahagia, dan terus bahagia. Apapun yang terjadi kau harus selalu
tersenyum dan tertawa seperti saat ini.” Aku tercengang. Aku bangun dari
tidurku. Aku terduduk disamping Josh. Dia pun ikut bangun dan duduk di
sampingku.
“Oh Josh, kau kenapa?
Tentu saja aku akan selalu bahagia, dan akan terus bahagia. Aku janji, Josh.
Bagaimana aku tidak bahagia kalau aku mempunya sahabat sepertimu. Aku akan
selalu bahagia jika selalu bersamamu, Josh. Kau sahabat terbaik yang paling
baik sebaik-baiknya yang aku punya, Josh.” Jawabku sambil tersenyum kepada
Josh. Josh menatapku lalu tersenyum.
“Terima kasih Allena.
Tetapi kau harus tetap bahagia ya jika tanpa aku..” ucapan Josh terhenti
sejenak dan membuatku tercengang. “..kau harus tetap bahagia walau tanpaku, aku
akan selalu menjadi sahabat terbaikmu. Kamu juga akan selalu menjadi sahabat
terbaikku, Allena. Aku akan tetap menjadi sahabatmu walaupun aku tidak berada bersamamu.”
Ucapnya berat sambil menepuk pundakku.
“Josh.. mengapa kau
berbicara seperti itu? Kau ingin meninggalkan aku?” ucapku sedikit dengan nada
tinggi. Aku sedih. Aku menangis lagi. Dan lagi Josh mengusap air mataku.
“Tidak Allena, aku
tidak ingin meninggalkanmu. Sebenarnya aku tidak ingin, tapi aku harus pamit. Besok
pagi aku, Mommy dan Daddy harus pergi ke Prancis. Kau harus berjanji padaku,
dengan ada atau tanpa aku kau harus selalu bahagia. Kau akan selalu menjadi
sahabat terbaikku, Allena.” aku masih terus menangis. Bagaimana aku tidak sedih
ketika satu-satunya sahabat terbaikku harus pergi dan meninggalkan aku.
“Josh, kau jahat
sekali. Kamu sangat jahat, kamu mau meninggalkan aku di Jerman sendirian?!”
“Tidak Allena, aku
tidak ingin. Kau tenang saja, nanti kalau kau sudah memasuk sekolah kau pasti
akan menemukan teman baru. Kau tidak sendiri, Allena. Nanti kalau ada
kesempatan aku akan kembali ke Frankfrut, aku janji..” “oh ya, ini aku punya
sesuatu untukmu. Aku membuatnya sendiri untukmu, tenang saja ini bukan kopi
jadi kau tidak perlu khawatir.” Ucapnya sedikit tertawa. Dia mengeluarkan
sebuah kalung dengan bandul cangkir kopi yang unik dan di bandul cangkir kopi
tersebut ada huruf bertuliskan A&J. Josh mengenakannya kepadaku. Aku hanya
diam karena masih merasa sedih. “nah kalau kau merindukan aku kau bisa melihat
kalung ini, Allena. Disimpan baik-baik kalung ini ya, agar kau selalu
mengingatku. Mengingat kita pernah bersahabat sedekat nadi. Kalung ini ada dua,
satu untukku dan satu untukmu. Agar kita sama-sama saling mengingat kalau kita
jauh nanti.” Ucap Josh untuk yang terakhir saat itu. Aku lalu memeluk Josh
dengan erat.
Malamnya
aku masih sedih dan memperhatikan kalung yang diberikan Josh padaku. Rumahku
terasa sepi sekali, Daddy belum juga pulang. Mommy sudah tertidur dikamarnya.
Aneh sekali, pikirku. Daddy belum pulang malam ini. Ku putuskan untuk pergi ke
kedai milik Daddy dan Paman Jack malam itu. Mengenakan jaket tebal, syal dan
sarung tangan tidak lupa dengan sepat boot pemberian Daddy ketika aku ulang tahun yang ke 5 dulu. Aku
menyusuri ruang tamu secara perlahan agar Mommy tidak terbangun. Aku
mengendap-endap keluar rumah seperti pencuri. Akhirnya aku mendapatkan keluar
dari rumah tanpa Mommy harus terbangun.
Aku
menghampiri kedai milik Daddy dan Paman Jack. Terlihat sepi, tetapi Daddy belum
juga pulang ke rumah. Aneh sekali, pikirku. Ku hampiri perlahan, ku buka pintu
kedai yang ternyata tidak terkunci. Kedai masih tertata rapi seperti biasanya.
Hanya saja seperti kosong penuh dengan kardus-kardus yang seperti baru saja
akan dibereskan. Tidak ada Daddy, tidak Paman Jack. Lau, kemana mereka?
Aku perlahan memasuki ruang istirahat barista,
tempat dimana Daddy dan Paman Jack beristirahat jika kedai sedang sepi.
KREEEEK! Tiba-tiba terdengar seperti suara pintu
terbuka. Aku pun segera bersembunyi dibawah meja barista.
“Jadi
kau benar-benar ingin pergi Jack?” terdengar suara Daddy begitu berat.
“Ya,
Dawson. Demi anakku, aku tidak ingin kehilangan anakku, Josh. Aku harus
menyelamatkan anakku. Sekalipun harus meninggalkan Jerman. Aku tidak ingin
melihat Josh seperti ini. Aku minta maaf jika arus berhenti dari pekerjaan ini.
Aku sangat senang bisa bekerja denganmu, Tuan Dawson.”
“Baiklah
Jack, aku mengerti. Aku paham. Aku pun berharap Josh lekas sembuh. Josh juga
sudah seperti anakku sendiri. Kalau memang ini yang terbaik, jaga anakmu
baik-baik, Jack. Aku berharap kau dan keluargamu kembali ke Jerman. Aku
berharap kita bisa berjumpa lagi. Kelak kalau anak-anak kita sudah besar nanti.
Kasian Allena dan Josh, mereka pasti sama-sama merasa kehilangan teman
dekatnya.”
“Mau
bagaimana lagi, Dawson. Nanti kalau anakku sudah benar-benar bisa sembuh, kami
akan kembali lagi ke Jerman. Menemui kalian lagi, dan Allena juga pastinya.”
“Daddy,
Paman Dawson..” tiba-tiba Josh terlihat keluar dari dalam pintu yang terbuka
tadi. Dia terlihat seperti bangun tidur.
“Hei,
Josh kau belum tidur nak?” Tanya Daddy.
“Sudah
Paman Dawson, aku hanya terbangun. Maafkan aku paman, aku mendengar percakapan
kalian. Paman, jaga Allena baik-baik ya. Jangan sampai Allena bersedih.”
“Ya,
Josh paman akan jaga Allena baik-baik. Kau juga jaga diri baik-baik ya, lekas
sembuh. Lalu nanti bermain bersama lagi bersama Allena. Paman akan selalu
merindukan kamu, Josh. Salam untuk menara Eiffle ya..” ucap Daddy dengan sedih,
sambil mengusap kepala Josh.
Aku
sungguh tidak paham dengan percakapan mereka saat itu. Saat itu aku masih
sangat kecil. Dibalik meja aku hanya bisa menangis mengetahui jika memang benar
Josh harus pergi dari Jerman. Terlebih lagi aku sangat tidak paham apa
maksutnya Josh lekas sembuh. Apa dia sakit? Lalu sakit apa? Kalau memang sakit,
kenapa selama ini aku tidak tahu? Kenapa?
Esok
harinya aku mengetahui Josh telah pergi. Kedai kopi milik Daddy dan Paman Jack
pun sudah tutup. Daddy sudah tidak bekerja lagi sebagai pemilik kedai. Dia
menjual kedainya dan beralih pekerjaan. Aku memberanikan diri bertanya kepada
Daddy soal mengapa Josh harus pergi jauh hingga Prancis. Daddy begitu berat
sepertinya ketika akan menjelaskan. Daddy hanya bilang bahwa Josh sakit dan
harus dirawat di Prancis sampai dia sembuh. Berkali-kali aku sering bertanya
apa penyakit Josh, sampai suatu hari Daddy bercerita bahwa Josh mengalami sakit
jantung yang selama ini kita tidak mengetahui. Aku sangat terkejut. Aku sempat
marah kepada Daddy karena tak memberitahuku. Bahkan sampai aku beranjak remaja
pun aku tidak pernah lagi mengetahui kabar Josh. Daddy pun seperti selalu
merahasiakan semua tentang Josh. Aku hanya takut, aku takut aku kehilangan
Josh. Sahabat kecil, sahabat terbaikku sepanjang masa.
***
Aku berjalan keluar
dari pintu apartemen. Masih dengan lamunan masa lalu dan sambil berjalan menuju
kedai. Sambil membenahi sarung tangan yang aku pakai agar tidak menggigil
kedinginan diluar. Lamunanku masih tertuju pada masa lalu yang aku rindukan
itu. Memperhatikan bandul kalung dari Josh yang sampai sekarang masih aku pakai
di lingkar leherku. Lalu ku masukkan kembali kalung itu di dalam syal yang
menutupi leherku. Talinya memang sudah terlihat lusuh. Tapi masih tetap cukup
jika aku pakai karena talinya yang panjang. Josh, ah aku merindukannya. Dimana
dia sekarang? Bagaimana keadaaanya? Tidak terasa aku berjalan dan hampir saja
sampai di kedai, tapi… CIIIIIIITTTT!!!!!
Kaget setengah mati, ampir saja aku tertabrak oleh
mobil. Aku terjatuh, tetapi aku masih baik-baik saja karena mobil dapat
menge-rem mobilnya dengan pandai. Dan.. hei, lihat mobil yang akan menabrakku
barusan! Itu adalah mobil yang tadi pagi aku lihat berada didepan apartemenku. Aku
memperhatikan mobil itu, dan sekejap seorang pria turun dari mobil itu. Dia
mengenakan sepatu boot, jaket tebal, sarung tangan, syal tebal dan juga penutup
kepala. Tidak hanya itu, tetapi dia juga mengenakan kacamata hitam sehingga aku
tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Dia berjalan menghampiriku yang
masih posisi terjatuh di depan mobilnya. Suara hentak kakinya sedikit
terdengar. Aku menatapnya dengan penasaran, dia menghampiriku lalu membuka
kacamatanya sehingga kali ini aku dapat melihat wajahnya yang terlihat cool dan sepertinya dia masih muda dan
sepertinya umurnya tidak jauh dariku.
“Hei Nona, apa kau
baik-baik saja? Aku minta maaf tadi sedang tidak focus mengendarai mobilku.
Mari Nona, aku bantu berdiri.” Ucap lelaki itu meminta maaf padaku sambil
mengulurkan tangannya.
“Ah, jangan khawatir,
Tuan. Aku tidak apa-apa, hanya sekedar shock
saja. Aku yang meminta maaf karena menyebrang jalan sambil melamun. Maafkan
aku, Tuan. Mobil Tuan bagaimana?” jawabku.
“Sudah, mobilku tidak
masalah. Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Ini salahku, aku minta maaf. Oh
ya, Nona akan pergi kemana memangnya? Mari saya antar saja bagaimana sebagai
tanda permohonan maaf saya?” tanyanya padaku. Aku masih terdiam. “..itupun
kalau Nona tidak keberatan.” Lanjutnya.
“Terima kasih, Tuan atas
kebaikan dan tawarannya. Tetapi aku hanya akan pergi ke kedai depan itu.”
Jawabku sambil tersenyum dan menunjuk sebuah kedai kopi di seberang jalan.
“Kalau begitu kita ke kedai
itu bersama saja, kebetulan aku juga akan ke tempat itu.” Jawabnya. Akhirnya
aku dan pria itu memasuki mobil dan kami menuju kedai di seberang jalan itu.
Kami memasuki kedai itu bersama dan disambut oleh
beberapa barista di kedai tersebut.
“Selamat malam tuan
Edwin.” Ucap beberapa barista menyambut pria disebelahku. Aku tertegun, mengapa
para barista seolah mengenal dekat pria ini. Otakku mulai berputar berpikir
kemana-mana. Muncul banyak pertanyaan. Tapi ah sudahlah, abaikan. Kami duduk
disalah sudut kedai di dekat jendela. Saling berhadapan. Salah seorang barista
mendatangi kami untuk memberikan menu pada kami.
“Kau ingin memesan apa
nona?” Tanya pria yang duduk di depanku ini.
“Expresso saja satu,
Tuan Edwin.”
“Hei, dari mana kau tau
namaku?” tanyanya padaku serambi memanggil satu barista yang tadi memberikan
menu. “Expresso satu, dan seperti biasa ya.” Ucapnya lagi kepada si barista,
seolah barista tadi sudah hafal dengan permintaan si pria ini.
“Bagaimana tidak,
bukannya tadi para barista memanggilmu dengan nama Edwin, Tuan?” ucapku sambil
tersenyum. “itu namamu kan?”
“Hahaha.. oh ya, aku
lupa kalau mereka tadi menyapaku. Oh ya nona, maaf siapa namamu? Sedari tadi
kita belum berkenalan.”
“Namaku Al..” aku diam
sejenak, teringat panggilanku sudah bukan lagi Allena. Ya, di dunia dewasa ku
kini semuanya sudah berubah. Edwin masih saja menatapku, menunggu aku
meneruskan kata-kataku tadi. “Sorry, aku masih shock sepertinya hehe. Panggil saja
aku Ruth.” jawabku sambil tersenyum. “Oh ya, sepertinya orang-orang disini
sudah mengenalmu begitu akrab. Kamu sering ke tempat ini?”
“Sebenarnya kedai ini
milik ayahku.” Jawabnya datar.
“Cool! Pantas saja
orang-orang disini seperti mengenalmu. Memangnya kamu tinggal dimana? Sudah lama
pasti kamu tinggal di Jerman?” ujarku seolah penuh tanya. Seru sekali rupanya
mengenal sosok Edwin.
“Aku tinggal di
apartemen dekat sini, di belakang gedung seberang itu. Aku baru saja datang ke
Jerman. Aku sempat tinggal di Prancis, lalu aku pindah ke Amsterdam untuk
sementara waktu. Ayahku orang Jerman, dia memutuskan kembali ke Jerman sendiri setahun
yang lalu dan mendirikan kedai ini. Sesekali ayah pulang ke Amsterdam menemuiku.”
“Oh ya, lalu kenapa
orang-orang disini sepertinya sudah mengenalmu begitu akrab? Apakah kita satu
gedung apartemen? Tadi pagi aku seperti melihat mobilmu di depan apartemenku. Kupikir
itu memang kamu, Tuan.”
“Iya, aku sudah datang ke
Jerman sebulan yang lalu hanya saja aku belum tinggal di apartemen disini, aku
sering ke tempat ini sejak aku datang di Jerman. Ayahku yang mengenalkan aku
pada mereka. Aku datang kesini untuk mengurus kedai milik ayahku ini untuk
sementara waktu saja karena ayah sekarang sedang sakit. Kamu juga tinggal di
apartemen itu? Kebetulan sekali kalau begitu.”
“iya aku tinggal
disana. Ooh ya, semoga ayahmu lekas sembuh Tuan Edwin.” Ucapku sambil tersenyum.
Sementara barista sudah datang membawakan pesanan kami. Satu expresso panas dan
satu green tea panas. “hei, mengapa kau tidak memesan kopi, Tuan?”
“kalau begitu nanti
kita pulang bersama saja, kan satu jalan. Ruth, panggil saja namaku tidak usah
pakai Tuan hahaha. Aku tidak suka kopi, Ruth.” Jawabnya tanpa menatapku. Aneh sekali,
pikirku. Ini kan kedai kopi, lalu untuk apa dia mempunyai kedai kopi tetapi
pemiliknya sendiri tidak menyukai kopi. Aneh sekali.
“Oh okay, Edwin terima
kasih untuk tawarannya. Kenapa kamu tidak menyukai kopi? Ini kan kedai milikmu.”
“Bukan, Ruth. Ini milik
ayahku.” Jawabnya dengan halus. Dan aku tidak mau melanjutkan
pertanyaan-pertanyaanku lagi. “Oh ya, kamu suka kopi ya? Ekspresso itu kan
pahit. Kamu suka pahit?” sekali lagi aku merasa aneh, bagaimana bisa dia tau
rasa ekspresso kalau dia tidak menyukai kopi? Apa dia pernah mencoba, atau
hanya dia mendengar dari ayahnya, atau.. ah sudahlah, orang ini membuat aku
semakin penasaran saja.
“Dulu aku tidak
menyukai pahit, tapi aku suka kopi. Dulu ayahku mempunyai kedai kopi juga,
ayahku adalah pecinta kopi. Itu sebabnya aku mengikuti ayahku sebagai pecinta
kopi.” Tanpa basa-basi Edwin tiba-tiba mendekatkan wajahnya kepadaku, aku
terkejut. “Ada apa Edwin? Mengapa kau menatapku begitu? Ada sesuatu yang aneh
ya?” tanyaku bingung. Aneh sekali pria ini, cool
dan keren sih sebenarnya. Tapi ada sesuatu yang aneh.
“Tidak, Ruth. Hanya aku
seperti pernah mengenalimu sebelumnya. Mengenali bola matamu.” Edwin kembali
duduk dengan baik di kursinya. Aneh pikirku, memangnya dia siapa. Baru saja
kenal dan aneh sekali.
“Mungkin banyak orang
yang mirip denganku, hahaha.” Candaku.
Hampir dua jam kami berada di kedai milik ayah
Edwin. Berbincang dengan hangat sehangat kopi. Orang ini memang aneh, tapi
mengenalnya serasa bahagia. Sejak kepergian Josh aku tidak pernah bertemu
seorang teman yang menyenangkan seperti ini. Bertemu dan berbincang dengan
Edwin seolah aku bertemu dengan Josh kedua. Akhirnya setelah lama kami
berbincang banyak hal, aku dan Edwin pun memutuskan untuk kembali ke apartemen.
“Ruth, flat milikmu
lantai berapa?”
“Lantai empat nomor 21,
mainlah ke flat ku kalau kau sempat, Edwin.”
“Baiklah, besok saja
ini sudah malam. Flatku berada di lantai tiga nomor 15. Kalau ada apa-apa atau
kau butuh teman bercerita panggilah aku atau kau bisa berkunjung ke flatku. Oh
ya ini nomor telepon ku. Kau bisa hubungi aku kapan pun kau mau.”
“Okay Edwin, terima
kasih kalau begitu aku istirahat dulu ya. See you again, Edwin!” sambil
mengulas senyum kepada Edwin. Edwin pun membalas senyumanku dan melambaikan
tangannya. Aku pun memasuki kamarku dan beristirahat.
Kadang aku memang tidak pernah bisa menemukan sosok
Josh dimanapun. Tapi kali ini aku menemukan kebali sosok Josh dalamdiri Edwin. Tidak
pernah aku menemukan teman yang paling asik setelah kepergian Josh. Ah, aku
begitu merindukannya. Seperti apa dia sekarang? Apakah dia masih hidup? Apakah sekarang
dia menjadi pria yang tampan? Atau seperti apakah dia sekarang? Aku merindukanmu,
Josh. Dengan secangkir kopi pahit yang dulu pernah kau buatkan special untukku.
.jpg)
.jpg)
.jpg)

0 komentar:
Posting Komentar