About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Sabtu, 24 Januari 2015

Sekolah. (jalan-jalan, traveling, bahagia)





Sejak kecil, saya punya masalah dengan rutinitas dan konsentrasi. Seperti sekolah, saya sering bertanya-tanya sendiri: kenapa saya selalu berada di tempat yang sama, pada waktu yang sama, dan pada hari-hari yang sama, terus-menerus? Akibatnya saya membuat “modifikasi” misalnya, membolos, tidak mengerjakan tugas, datang terlambat (didukung oleh penyakit malas bangun pagi yang kronis akut atau apalah itu). Itulah salah satu kenapa saya lebih menyukai seni, karena pola waktu dan aktivitas bisa berubah-ubah. Walaupun tetap menjadi rutinitas tetapi saya bisa memilih waktu saya sesuai mood sehingga tidak membosankan.

Seperti sekolah. Ya, karena sebenarnya saya lebih menyukai sekolah yang informal. Tidak harus datang, duduk, diam, mendengarkan para tetua bercerita dan berkonsentrasi penuh pada hal yang menurut saya membosankan. Namun, saya menyukai sekolah, karena bisa bertemu banyak teman dan kejadian-kejadian unik yang saya lewati bersama teman-teman. Bukan karena saya suka proses pembelajaran yang begitu-begitu saja. Membosankan bukan, sedangkan saya tidak bisa berkonsentrasi penuh pada satu hal yang begitu terus. Itu membosankan. Saya lebih menyukai variasi yang unik. Saya lebih meyukai bermusik, jalan-jalan (berkeliling kota, kota lain atau bisa negeri tetangga) atau mungkin menulis dan menceritakan hal-hal tentang karakter dan kebudayaan. Itu juga sebabnya saya menyukai jalan-jalan. Saya suka mempelajari sebuah karakter dan kebudayaan di setiap tempat. Dan itu pula sebab beberapa kali saya bolos sekolah karena keluar kota atau keluar negeri.

Saya ingat sewaktu SMA, saat itu saya masih kelas 2 SMA. Dan waktu itu saya membolos sekolah (lebih tepatnya ijin) karena harus berangkat ke Bali. Untuk apa? Untuk berlibur, ya semacam meliburkan diri tetapi mau bagaimana lagi saya menyukainya dan saya bisa belajar tentang kebudayaan dan karakter orang-orang disana.

Sejak kuliah, (ya pada akhirnya saya kuliah di Fakultas Ekonomi) yang sesungguhnya saya tidak menyukai pelajaran ekonomi yang harus berpusing-pusing dengan uang sedangkan saya tidak begitu suka menghitung uang. Tapi tetaplah saya jalani. Menurut saya mungkin ini sudah jalannya. Nah, sejak saya kuliah akhirnya saya mempunyai rutinitas. Walau saya selalu bosan dengan yang namanya rutinitas (yang menurut saya hanya itu-itu saja pada hal-hal yang sama, itu membosankan) tetapi saya menemukan rutinitas yang menurut saya, saya memilih rutinitas ini BUKAN karena terpaksa. Rutinitas yang pas untuk profesi saya. Tidak jauh dari sebuah seni. Dari yang namanya sebuah event, disitulah saya mulai menyukai yang namanya rutinitas yang menurut saya itu asik-asik aja. Tidak membosankan karena terpaksa (mis.sekolah).

Pernah juga saat itu saya kuliah semester 2, saya bolos kuliah karena harus ke Singapore. Tidak ada libur, saya hanya meliburkan diri. Disana saya belajar banyak hal, dari orang-orangnya yang sangat disiplin. Saya bisa belajar karakter juga disana. Sekolah pun lebih banyak mengajarkan tentang karakter. Sekolah pun tidak dipatok masuk jam 7 pagi. Sehingga orang pun tidak terburu-buru. Seperti saya yang selalu terburu-buru untuk berangkat sekolah atau kuliah. dan bagi saya jalan-jalan adalah sebuah pelajaran berharga.

Maklumlah, saya selalu bermasalah dengan konsentrasi. Ada kalanya, saking senangnya saya keluar kota saya cenderung melupakan hal-hal akademik yang saya jalani. Walaupun saya rutin menjalaninya. Seperti keegoisan, tapi mau bagaimana lagi. Saking kepinginnya pergi ke tempat-tempat baru yang mungkin juga dapat menenangkan saya, saya tidak memperhitungkan bahwa  di Jogja pun banyak tempat-tempat yang belum saya jelajahi dan tempat-tempat yang adem untuk menenangkan diri.

Meskipun terkenal punya masalah dengan rutinitas dan konsentrasi, saya akui saya menyukai sekolah. Itu karena teman-temannya dan momen-momen lucu dan unik yang selalu saya temui. Karena bagi saya sekolah yang SESUNGGUHNYA adalah sekolah yang mampu mengajarkan setiap karakter seseorang agar seseorang itu mempunyai kepribadian yang baik. Bukan hanya kepintaran saja yang selalu di bangga-banggakan. Sekolah yang mampu mengajarkan kita untuk bertahan hidup dengan baik dan disiplin. Itu saja. Bagi saya. And, forever young.


NISA. 20th (belum genap). Mahasiswa.
Yogyakarta, 24 January 2015.

Jumat, 23 Januari 2015

Aku, Kau, dan Senja




“sayang…” kataku pada kekasihku sambil menatap senja sore itu.
“ya, sayang?” jawabnya.
“tau kah kau, mengapa aku mencintai senja dan selalu menunggunya setiap sore?”
“hmm.. mengapa memangnya, sayang?”
“ya, senja itu indah. Dia selalu aku tunggu karena keberadaannya hanya sementara, sayang. Itu sebabnya aku selalu menunggu senja datang. Sama, seperti aku selalu menunggumu. Dulu..”
“maafkan aku sayang, aku tau itu salahku.”
“tidak masalah sayang, sudah ku maafkan dari dulu. Yang penting kau sudah disini bersama ku sekarang.” Jawabku sambil tersenyum menatap matanya yang penuh rasa bersalah.
“terima kasih yaa sayang.. oh, ya aku juga sangat menyukai senja.”
“benarkah, apa yang membuatmu menyukai senja?”
“entahlah, aku tidak mengerti apa yang ku sukai dari senja. Tapi aku menyukainya.” Mendengar jawabannya aku mengerutkan keningku dan berfikir. “ya, aku menyukai senja tanpa alasan. Sama seperti aku mencintaimu, Sayang. aku mencintaimu tanpa alasan.” Sambungnya lagi sambil menatapku. Lalu, dia tersenyum padaku dan mengecup keningku. Begitu lama, bengitu hening dengan cinta yang berterbangan tanpa sayap. Kembali menatap senja bersama, menikmati rasa yang bercambuk dihati bersamamu. Ya, sore itu hanya aku, kau dan senja. Senja yang menjadi saksi mata kasih cinta kita yang kembali bersatu.

Kita terlalu lama pergi dari sini.
Dan senja telah pertemukan kita kembali, Sayang.
Rasa rindu yang bercambuk di dada, telah kau padamkan dengan api cintamu.
Satu kecup dikening telah meredakan rindu dalam candu.
Kita duduk disini. Dan kita tidak beranjak, Sayang.
Lalu, mengapa kau diam saja?
Kita sudah terlalu lama pula duduk, dan saling diam.
Sepertinya senja tak lagi teduh belakangan ini.
Ayolah, jangan diam saja.
Jangan biarkan waktu tersia dengan tebakan lagi, tebakan yang tak kunjung ada jawaban.
Bicaralah, dan inginkah kau jalan kita bersampingan menuju senja?


Nisa.

Seseorang di Persimpangan




Dia, tidak tau ke mana dia harus berjalan. Belok kanan, belok kiri, atau lurus saja. Dia hanya tau bahwa hidup harus terus berjalan. Dia tidak pernah paham jalan mana yang harus dia ambil. Dia hanya takut mengambil jalan yang salah. Dia hanya mengikuti kata hatinya untuk berjalan. Ya, dia hanya melihat dengan hatinya. Hati yang sedikit redup dan gersang, yang berdinding kelam dan kedinginan. Dia selalu tersenyum dan tertawa. Iya, dia tertawa hanya tuk tenangkan jiwa. Karena baginya, seperti apapun hidupnya dia harus selalu bahagia. Bahagia didepan semua. Tak peduli hatinya.

Dia, selalu berjalan terus tanpa henti. Jalan dan terus berjalan, demi mewujudkan keinginan orang-orang yang dia sayang, demi orang-orang terkasihnya. Dia menatap terus lurus ke depan. Dia menatap bagaimana masa depan yang akan dia jalani esok hari. Yang dia ingin hanya membuat bahagia orang-orang disekelilingnya, orang-orang yang dia sayang. Tanpa memperdulikan hatinya. Hingga dia menemukan sebuah persimpangan jalan, tidak tau akan kemana kaki ini melangkah. Lelah baginya terus berjalan sendiri. Lalu, dia terduduk di persimpangan itu. Kakinya sudah terlalu sakit untuk berjalan terus.

Saat ini dia membutuhkan seseorang untuk menuntunnya berjalan. Menopangnya, agar ia tak takut lagi ketika terjatuh. Agar ketika dia terjatuh dan kesakitan dia tidak merasa sendirian.
Dia ingin pulang, bersimpuh dihadapan orang-orang terkasihnya. Namun, tidak. Dia memutuskan untuk terus berjalan. Menaruh nasib terlalu dekat dengan persimpangan. Lalu, kapan takdir akan membawanya pulang untuk bersimpuh?

Dia, seseorang dipersimpangan itu. Dia, membutuhkan kamu. Membutuhkanmu untuk membawanya pulang pada kelembutan orang-orang terkasihnya. Membawa pulang dari segala persimpangan yang membuatnya terluka.