Sejak kecil, saya punya masalah dengan rutinitas dan konsentrasi. Seperti sekolah, saya sering bertanya-tanya sendiri: kenapa saya selalu berada di tempat yang sama, pada waktu yang sama, dan pada hari-hari yang sama, terus-menerus? Akibatnya saya membuat “modifikasi” misalnya, membolos, tidak mengerjakan tugas, datang terlambat (didukung oleh penyakit malas bangun pagi yang kronis akut atau apalah itu). Itulah salah satu kenapa saya lebih menyukai seni, karena pola waktu dan aktivitas bisa berubah-ubah. Walaupun tetap menjadi rutinitas tetapi saya bisa memilih waktu saya sesuai mood sehingga tidak membosankan.
Seperti
sekolah. Ya, karena sebenarnya saya lebih menyukai sekolah yang informal. Tidak
harus datang, duduk, diam, mendengarkan para tetua bercerita dan berkonsentrasi
penuh pada hal yang menurut saya membosankan. Namun, saya menyukai sekolah,
karena bisa bertemu banyak teman dan kejadian-kejadian unik yang saya lewati
bersama teman-teman. Bukan karena saya suka proses pembelajaran yang
begitu-begitu saja. Membosankan bukan, sedangkan saya tidak bisa berkonsentrasi
penuh pada satu hal yang begitu terus. Itu membosankan. Saya lebih menyukai
variasi yang unik. Saya lebih meyukai bermusik, jalan-jalan (berkeliling kota,
kota lain atau bisa negeri tetangga) atau mungkin menulis dan menceritakan
hal-hal tentang karakter dan kebudayaan. Itu juga sebabnya saya menyukai
jalan-jalan. Saya suka mempelajari sebuah karakter dan kebudayaan di setiap
tempat. Dan itu pula sebab beberapa kali saya bolos sekolah karena keluar kota
atau keluar negeri.
Saya
ingat sewaktu SMA, saat itu saya masih kelas 2 SMA. Dan waktu itu saya membolos
sekolah (lebih tepatnya ijin) karena harus berangkat ke Bali. Untuk apa? Untuk berlibur,
ya semacam meliburkan diri tetapi mau bagaimana lagi saya menyukainya dan saya
bisa belajar tentang kebudayaan dan karakter orang-orang disana.
Sejak
kuliah, (ya pada akhirnya saya kuliah di Fakultas Ekonomi) yang sesungguhnya
saya tidak menyukai pelajaran ekonomi yang harus berpusing-pusing dengan uang
sedangkan saya tidak begitu suka menghitung uang. Tapi tetaplah saya jalani. Menurut
saya mungkin ini sudah jalannya. Nah, sejak saya kuliah akhirnya saya mempunyai
rutinitas. Walau saya selalu bosan dengan yang namanya rutinitas (yang menurut
saya hanya itu-itu saja pada hal-hal yang sama, itu membosankan) tetapi saya
menemukan rutinitas yang menurut saya, saya memilih rutinitas ini BUKAN karena
terpaksa. Rutinitas yang pas untuk
profesi saya. Tidak jauh dari sebuah seni. Dari yang namanya sebuah event, disitulah saya mulai menyukai
yang namanya rutinitas yang menurut saya itu asik-asik aja. Tidak membosankan
karena terpaksa (mis.sekolah).
Pernah
juga saat itu saya kuliah semester 2, saya bolos kuliah karena harus ke
Singapore. Tidak ada libur, saya hanya meliburkan diri. Disana saya belajar
banyak hal, dari orang-orangnya yang sangat disiplin. Saya bisa belajar
karakter juga disana. Sekolah pun lebih banyak mengajarkan tentang karakter. Sekolah
pun tidak dipatok masuk jam 7 pagi. Sehingga orang pun tidak terburu-buru. Seperti
saya yang selalu terburu-buru untuk berangkat sekolah atau kuliah. dan bagi saya jalan-jalan adalah sebuah pelajaran berharga.
Maklumlah,
saya selalu bermasalah dengan konsentrasi. Ada kalanya, saking senangnya saya
keluar kota saya cenderung melupakan hal-hal akademik yang saya jalani. Walaupun
saya rutin menjalaninya. Seperti keegoisan, tapi mau bagaimana lagi. Saking kepinginnya
pergi ke tempat-tempat baru yang mungkin juga dapat menenangkan saya, saya tidak
memperhitungkan bahwa di Jogja pun
banyak tempat-tempat yang belum saya jelajahi dan tempat-tempat yang adem untuk
menenangkan diri.
Meskipun
terkenal punya masalah dengan rutinitas dan konsentrasi, saya akui saya
menyukai sekolah. Itu karena teman-temannya dan momen-momen lucu dan unik yang
selalu saya temui. Karena bagi saya sekolah yang SESUNGGUHNYA adalah sekolah yang
mampu mengajarkan setiap karakter seseorang agar seseorang itu mempunyai
kepribadian yang baik. Bukan hanya kepintaran saja yang selalu di
bangga-banggakan. Sekolah yang mampu mengajarkan kita untuk bertahan hidup
dengan baik dan disiplin. Itu saja. Bagi saya. And, forever young.
NISA. 20th (belum genap). Mahasiswa.
Yogyakarta, 24 January 2015.



