About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Jumat, 23 Januari 2015

Secangkir Kopi dan Senja






Duduklah. Mari kita membicarakan tentang cinta yang itu-itu saja. Sambil meminum secangkir kopi panas untuk menenangkan jiwa dan menatap senja dari rooftop, bersamaku. Menatap senja yang kau dan aku sukai. Singgahlah dulu, walau sebentar. Tidakkah kau ingat, pada janjimu aku terikat dan sekejap kau berdiri lalu kau pergi. Begitu. Seperti senja, selalu aku tunggu dan hanya sekejap dia datang. Itu sebabnya aku menyukai senja, karnadia selalu aku tunggu kedatangannya dan  dia selalu datang hanya sebentar. Itu sebabnya aku selalu menunggunya. Sama sepertimu, sama seperti aku mencintaimu.

Kemarilah sebentar, lalu kita bicarakan tentang cinta yang itu-itu saja. Yang selalu kau buat rumit. Ingatkah kau saat kau bilang “sudahkah kamu bahagia hari ini?”, ”jangan lupa bahagia, Sayang”, “sejak bersamamu aku selalu bahagia”. Dan aku selalu bilang “bukan aku yang membuatmu bahagia, bahagia itu kamu sendiri yang membuat. Bukan aku, Sayang. Aku hanya mendampingimu untuk bahagia”. Kau bahagia karna cinta yang kau tanam, Sayang. Kau yang membumbuiku dan kamu dengan cinta. Cinta, sama secangkir kopi yang selalu aku minum setiap pagi. Pahit, namun terasa manis jika dinikmati ketika meminumnya. Sayangnya cintamu sungguh seperti kopi, nikmat jika diminum waktu panas. Namun akan cepat habis. Atau di minum pelan-pelan, tapi resikonya cepat dingin. Sama seperti cinta kita yang sudah dingin, bermula karna kau yang pergi tanpa alas an di masa lalu dan kau dating kembali kepadaku menyatakan kebahagiaan itu karena aku dank au. Lalu, entah sengaja atau lupa, kini kau membiarkannya kopi itu dingin lagi. Seperti kopi yang sedari tadi ku diamkan diatas meja, dan aku asik sendiri menatap senja.

Aku hanya tak ingin berada pada alur yang akhirnya bisa kutebak. Dan saat ini kau sedang dengan duniamu, yang entah kau bahagia atau tidak dengan tanpa aku. Sementara aku disini menunggumu datang sambil meminum kopi dan menatap senja. Sendirian. Senja yang selalu kau dan aku sukai. Kau hanya perlu duduk sebentar disini, menatap senja bersamaku seperti dulu. Duduk disampingku sembari meminum kopi panas. Singgahlah sebentar, lalu kau memilih.
Membiarkan kopi ini dingin atau meninggalkan hati untuk dicaci. Ataukah menyempurnakan kebahagiaan dengan luka.


Nisa.

0 komentar:

Posting Komentar