Duduklah. Mari
kita membicarakan tentang cinta yang itu-itu saja. Sambil meminum secangkir kopi
panas untuk menenangkan jiwa dan menatap senja dari rooftop, bersamaku. Menatap
senja yang kau dan aku sukai. Singgahlah dulu, walau sebentar. Tidakkah kau ingat,
pada janjimu aku terikat dan sekejap kau berdiri lalu kau pergi. Begitu. Seperti
senja, selalu aku tunggu dan hanya sekejap dia datang. Itu sebabnya aku
menyukai senja, karnadia selalu aku tunggu kedatangannya dan dia selalu datang hanya sebentar. Itu sebabnya
aku selalu menunggunya. Sama sepertimu, sama seperti aku mencintaimu.
Kemarilah sebentar,
lalu kita bicarakan tentang cinta yang itu-itu saja. Yang selalu kau buat
rumit. Ingatkah kau saat kau bilang “sudahkah kamu bahagia hari ini?”, ”jangan
lupa bahagia, Sayang”, “sejak bersamamu aku selalu bahagia”. Dan aku selalu
bilang “bukan aku yang membuatmu bahagia, bahagia itu kamu sendiri yang
membuat. Bukan aku, Sayang. Aku hanya mendampingimu untuk bahagia”. Kau bahagia
karna cinta yang kau tanam, Sayang. Kau yang membumbuiku dan kamu dengan cinta.
Cinta, sama secangkir kopi yang selalu aku minum setiap pagi. Pahit, namun
terasa manis jika dinikmati ketika meminumnya. Sayangnya cintamu sungguh
seperti kopi, nikmat jika diminum waktu panas. Namun akan cepat habis. Atau di
minum pelan-pelan, tapi resikonya cepat dingin. Sama seperti cinta kita yang
sudah dingin, bermula karna kau yang pergi tanpa alas an di masa lalu dan kau dating
kembali kepadaku menyatakan kebahagiaan itu karena aku dank au. Lalu, entah
sengaja atau lupa, kini kau membiarkannya kopi itu dingin lagi. Seperti kopi
yang sedari tadi ku diamkan diatas meja, dan aku asik sendiri menatap senja.
Aku hanya tak
ingin berada pada alur yang akhirnya bisa kutebak. Dan saat ini kau sedang
dengan duniamu, yang entah kau bahagia atau tidak dengan tanpa aku. Sementara aku
disini menunggumu datang sambil meminum kopi dan menatap senja. Sendirian. Senja
yang selalu kau dan aku sukai. Kau hanya perlu duduk sebentar disini, menatap
senja bersamaku seperti dulu. Duduk disampingku sembari meminum kopi panas. Singgahlah
sebentar, lalu kau memilih.
Membiarkan
kopi ini dingin atau meninggalkan hati untuk dicaci. Ataukah menyempurnakan
kebahagiaan dengan luka.
Nisa.


0 komentar:
Posting Komentar