About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Jumat, 23 Januari 2015

Seseorang di Persimpangan




Dia, tidak tau ke mana dia harus berjalan. Belok kanan, belok kiri, atau lurus saja. Dia hanya tau bahwa hidup harus terus berjalan. Dia tidak pernah paham jalan mana yang harus dia ambil. Dia hanya takut mengambil jalan yang salah. Dia hanya mengikuti kata hatinya untuk berjalan. Ya, dia hanya melihat dengan hatinya. Hati yang sedikit redup dan gersang, yang berdinding kelam dan kedinginan. Dia selalu tersenyum dan tertawa. Iya, dia tertawa hanya tuk tenangkan jiwa. Karena baginya, seperti apapun hidupnya dia harus selalu bahagia. Bahagia didepan semua. Tak peduli hatinya.

Dia, selalu berjalan terus tanpa henti. Jalan dan terus berjalan, demi mewujudkan keinginan orang-orang yang dia sayang, demi orang-orang terkasihnya. Dia menatap terus lurus ke depan. Dia menatap bagaimana masa depan yang akan dia jalani esok hari. Yang dia ingin hanya membuat bahagia orang-orang disekelilingnya, orang-orang yang dia sayang. Tanpa memperdulikan hatinya. Hingga dia menemukan sebuah persimpangan jalan, tidak tau akan kemana kaki ini melangkah. Lelah baginya terus berjalan sendiri. Lalu, dia terduduk di persimpangan itu. Kakinya sudah terlalu sakit untuk berjalan terus.

Saat ini dia membutuhkan seseorang untuk menuntunnya berjalan. Menopangnya, agar ia tak takut lagi ketika terjatuh. Agar ketika dia terjatuh dan kesakitan dia tidak merasa sendirian.
Dia ingin pulang, bersimpuh dihadapan orang-orang terkasihnya. Namun, tidak. Dia memutuskan untuk terus berjalan. Menaruh nasib terlalu dekat dengan persimpangan. Lalu, kapan takdir akan membawanya pulang untuk bersimpuh?

Dia, seseorang dipersimpangan itu. Dia, membutuhkan kamu. Membutuhkanmu untuk membawanya pulang pada kelembutan orang-orang terkasihnya. Membawa pulang dari segala persimpangan yang membuatnya terluka.

0 komentar:

Posting Komentar