Dia, tidak
tau ke mana dia harus berjalan. Belok kanan, belok kiri, atau lurus saja. Dia
hanya tau bahwa hidup harus terus berjalan. Dia tidak pernah paham jalan mana
yang harus dia ambil. Dia hanya takut mengambil jalan yang salah. Dia hanya
mengikuti kata hatinya untuk berjalan. Ya, dia hanya melihat dengan hatinya.
Hati yang sedikit redup dan gersang, yang berdinding kelam dan kedinginan. Dia
selalu tersenyum dan tertawa. Iya, dia tertawa hanya tuk tenangkan jiwa. Karena
baginya, seperti apapun hidupnya dia harus selalu bahagia. Bahagia didepan
semua. Tak peduli hatinya.
Dia, selalu
berjalan terus tanpa henti. Jalan dan terus berjalan, demi mewujudkan keinginan
orang-orang yang dia sayang, demi orang-orang terkasihnya. Dia menatap terus
lurus ke depan. Dia menatap bagaimana masa depan yang akan dia jalani esok
hari. Yang dia ingin hanya membuat bahagia orang-orang disekelilingnya,
orang-orang yang dia sayang. Tanpa memperdulikan hatinya. Hingga dia menemukan
sebuah persimpangan jalan, tidak tau akan kemana kaki ini melangkah. Lelah baginya
terus berjalan sendiri. Lalu, dia terduduk di persimpangan itu. Kakinya sudah
terlalu sakit untuk berjalan terus.
Saat ini dia
membutuhkan seseorang untuk menuntunnya berjalan. Menopangnya, agar ia tak
takut lagi ketika terjatuh. Agar ketika dia terjatuh dan kesakitan dia tidak
merasa sendirian.
Dia ingin
pulang, bersimpuh dihadapan orang-orang terkasihnya. Namun, tidak. Dia memutuskan
untuk terus berjalan. Menaruh nasib terlalu dekat dengan persimpangan. Lalu,
kapan takdir akan membawanya pulang untuk bersimpuh?
Dia,
seseorang dipersimpangan itu. Dia, membutuhkan kamu. Membutuhkanmu untuk
membawanya pulang pada kelembutan orang-orang terkasihnya. Membawa pulang dari
segala persimpangan yang membuatnya terluka.


0 komentar:
Posting Komentar