About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Selasa, 30 Desember 2014

Ketakutan Ini Membunuhku


Untuk Raja yang aku sayangi dan aku hormati, dan untuk Pangeran yang aku cintai
Masa masa indah itu
Masa kanak-kanak itu
Aku masih merasakannya
Semua terasa penuh warna
Permen, cokelat, es krim, pelangi, mainan, balon, badut
Tidak mengenal apapun,
Yang dikenal hanya canda tawa, tangis karna jatuh dari sepeda
Menangis karna balon yang pecah,
Menangis karna es krim yang jatuh,
Menangis karenan mainan yang rusak,
Namun setelahnya, tawa adalah obatnya
Sayangnya, semua terjadi begitu cepat
Semua sirna…
Di balik semua canda tawa itu, goncangan dahsyat terjadi
Kobaran api membara begitu lama
Tidak juga padam
Dan kini,
percikan-percikan api luka itu masih ada
Masa lalu, meninggalkan luka lama
Luka tertancap begitu dalam, berdarah dan terus berdarah
Tidak ada yang bias menghentikan pancuran darah itu
Mereka pergi karna cinta
Dimana sosok Papa?
Detik waktu terus berjalan, hingga akhirnya aku bertemu denganmu
Setiap waktu, setiap detik bersamamu
Bahagia tiada tara..
Namun siapa sangka, jika luka masa lalu itu masih ada
Terlihat sangat jelas di dalam hati
Rasa takut untuk mencintaimu karna luka lama yang begitu dalam,
Dimana sosok penyayangmu, Sayang?
Wahai lelaki, mengapa kalian begitu menakutkan?
Harus juga aku pergi karna cinta?
Semakin cinta, semakin takut
Mengapa harus aku? Kenapa aku harus merasakan rasa takut ini?
Aku benci dengan ketakutan ini,
Selalu tertawa hanya tuk tenangkan jiwa..
Hampir saja nyawa ini yang jadi korbannya, akan rasa takut ini…
Begitu dahsyatnya rasa takut ini..
Mati rasa bagiku,
Hingga pada akhirnya rasa takut ini semakin membunuh…
Sayang, luka ini tak terhapus oleh waktu…
Ketika sesungguhnya aku membutuhkan sosok lelaki dalam hidupku..

Jumat, 19 Desember 2014

Untuk Seseorang yang Selalu Aku Sebut Namanya Dalam Do’a



Memandang aku ke luar ke langit yang luas,
Dingin malam yang merasuk jiwa,
kupejamkan mataku..
Dalam pejaman mata ku melihat seseorang..
Sosok yang pernah pergi meninggalkan senja..
Dengan seenaknya dia datang kembali membawa jingga,
Bagaimana aku bias menghindar?
Seberapa jauh aku pergi, lalu semua gagal..
Ketika perasaan ini memang tidak pernah hilang..
Benci dan rindu saling menyatu,
Bersatu padu mencabuk hati..
Saling beradu dalam kalbu..
Dia datang dan memintaku kembali..
Dia meminta ku untuk berjanji..
Jangan ada yang pergi lagi,
Jangan berdusta..
Yaa, dia adalah..
Kau..
Seorang lelaki yang selalu ku sebut namanya dalam do’aku..
Kau..
Sosok seorang pemimpin yang tangguh,
kau dengan ribuan mimpimu, bahkan jutaan
Sosok yang keras kepala..
Selalu ingin menjadi yang benar..
Yaa, kamu memang menyebalkan..
Pergi lalu datang semaumu,
Keras kepala dan menyebalkan..
Kau yang selalu membuatku tersenyum,
Tapi kau juga yang selalu membuatku takut,
Sungguh sangat ketakutan..
Tapi apa dayaku,
hati ini tidak bisa mengingkari..
Hati ini selalu kau kuasai, sampai aku lupa caranya berkuasa..
Kau menguasai hatiku dengan warna warna yang kau beri..
Kau kuasai aku dengan canda tawa yang manis..
Kau benar menyebalkan..
Tapi, begitu berarti untukku..
Aku tiada arti, tiada sempurna..
Mungkin, tidak bisa seperti apa yang kau pinta..
Kau dengan ribuan mimpimu, dan aku dengan ribuan mimpiku..
Tapi,
Atas nama CINTA…
Akan ku dampingi engkau seperti janjiku malam itu..
Akan ku dampingi engkau dalam putaran roller coster kehidupan ini..
Atas nama CINTA…
Kau adalah lelaki yang selalu ku sebut  namanya dalam setiap bait do’a yang ku panjatkan..

Jumat, 03 Oktober 2014

Bukan Untukku

tak kusesali cintaku untukmu
meskipun dirimu tak nyata untukku
sejak pertama kau mengisi hari-hariku
aku telah meragu mengapa harus dirimu

 

aku takkan bertahan
bila tak teryakinkan
sesungguhnya cintaku
memang hanya untukmu

sungguh 'ku tak menahan
bila jalan suratan
menuliskan dirimu
memang bukan untukku selamanya

 

kadang aku lelah menantimu
pastikan cinta untukku

 

Bukan Untukku by Rio Febrian

Jumat, 21 Februari 2014

True love will melt the frozen hearts; I'm frozen



I have a little story about me...
taken by song, and my story...
The snow glows white on the mountain tonight, not a footprint to be seen. A kingdom of isolation and it looks like I'm the queen. The wind is howling like this swirling storm inside. Couldn't keep it in, Heaven knows I tried. I can't hold it back anymore.
It's funny how some distance makes everything seem small and the fears that once controlled me can't get to me at all. Up here in the cold thin air I finally can breathe. I know I left a life behind but I'm too relieved to grieve. Let it go, the cold never bothered me anyway.
I’m standing frozen in the life I've chosen. You won't find me. The past is all behind me buried in the snow.


Nisa Chandra

Sabtu, 04 Januari 2014

Terpukau



Denganmu aku sempurna,
denganmu ku ingin habiskan sisa umurku..
Tuhan, jadikanlah dia jodohku..
hanya dia yang membuat aku terpukau…
Masih terasa keceriaan semalam di tengah keramaian kota Yogyakarta. Suaranya, teriakannya, tawanya, senyumnya, sorot matanya, dan tingkah lakunya. Aku masih terpukau menatap bunga mawar di atas meja sambil mengingat kejadian semalam. Ketika dia memberi bunga itu untukku. Dalam candaan semalam untuk bunga itu, tapi dia benar-benar memberikannya untukku. Tanpa sengaja aku pun melihat sorot matanya yang aku rasa berbeda. Pandangannya tiba-tiba terlihat tajam. Terlihat lebih lama memandang. Ada perasaan yang tak menentu ketika melihatnya. Tidak seperti biasanya. Aku masih menatap bunga itu dan terbayang akan kejadian-kejadian semalam.
            “Eh, itu bajunya Anes sama Tio samaan yaa.” Terngiang suara Olla semalam memecah keramaian. Aku hanya melihat ke arah Tio lalu tertawa. Seakan aku janjian dengan Tio. Tidak. Aku tidak pernah janjian untuk memakai baju yang sama dengan Tio seperti malam itu. Mungkin itu hanya kebetulan saja, pikirku.
Dan seketika aku menjadi teringat saat pertama kali aku berkenalan dengan Tio. Olla yang mengenalkan aku dengan Tio. Siang itu, Olla mengenalakan aku dengannya.
            “TIo, kenalin nih Anes adik-adikan gue. Dia yang bakalan bantuin acara kita.”
            “Hai, Tio.” Sambutnya sambil tersenyum.
            “Anes.” Ujarku sambil membalas senyumnya. Dia ramah. Dia cool. Seketika Olla memecah keheningan.
            “Hei, kalian kok mirip sih? Jangan-jangan jodoh hahaha.”
Aku hanya terdiam sambil tersenyum. Aku baru mengenalnya. Aku melihat wajahnya. Pikirku apanya yang mirip? Seiring berjalannya waktu, sejak perkenalan itu aku mulai sering bertemu dengannya. Semakin hari semakin sering berbicara dengannya, bekerja sama dengannya, bercanda dengannya. Dan entah apa yang terjadi, tiba-tiba banyak sekali orang yang bilang aku dan dia berwajah mirip. Selalu saja ada orang yang bilang begitu. Aku masih tidak mempercayainya. Akhirnya aku memperhatikan wajahnya perlahan. Aku melihat bentuk wajahnya sedikit demi sedikit. Dan rupanya kita benar-benar nyaris mirip. Aku selalu memberi canda padanya, mungkin kita adalah kembaran yang terpisah. Tapi lambat laun aku mulai menaruh harapan agar jangan kami tidak benar-benar saudara kembar yang terpisah. Aku tidak mengerti mengapa aku tidak menginginkan hal itu. Walaupun sesungguhnya aku memang pernah menginginkan mempunyai saudara kembar laki-laki. Tapi aku berharap bukan dia saudara kembarku. Jangan dia.
Hari-hari aku jalani hampir selalu bersamanya. Setelah saling mengenal, hingga akhirnya pada malam itu saat dia memberikan bunga mawar di tengah keramaian kota Yogyakarta. Sesungguhnya masih ada perasaan yang tak menentu bila melihat sorot matanya yang aku rasa berbeda. Terutama saat dia memberikan bunga itu. Entah, mungkin memang hanya perasaanku saja atau dia memang benar-benar menatapku berbeda. Dan kami pun menjalani hari-hari bersama. Pagi, siang, bahkan sampai malam. Tio sangat baik padaku. Dengan atau tanpa aku meminta dia selalu memberi. Dan aku merasa nyaman selalu berada di dekatnya.
Mengenalnya itu luar biasa. Iya. Bersamanya aku mampu jadi diri sendiri. Tidak ada kata jaim. Semua aku lakukan apa adanya. Ketika suatu hari aku benar-benar seharian bersamanya. Dalam satu hari, tidak sama sekali berpisah walau hanya satu menit. Kami bersama seharian. Canda, tawa, kita lalui bersama. Kami saling bercerita, banyak hal yang kami ceritakan. Semua mampu aku ceritakan. Apapun itu. Dia pun bercerita banyak padaku. Tentang dirinya, tentang keluarganya. Aku tercengang ketika dia bercerita tentang hidupnya. iya, sungguh. Bukankah kadang seseorang tidak dan belum tentu berani bercerita tentang kisah hidupnya ke sembarang orang? Tapi Tio.. dia menceritakannya padaku. Aku yang belum terlalu lama kenal dengannya. Aku semakin tercengang. Aku terpukau melihat Tio, mendengar kisahnya. Dia lelaki kuat. Kuat seperti aku. Atau aku yang tak bisa sekuat Tio? Entahlah. Lambat laun aku mengerti tentangnya. Tentang hidup. Dia mengenalkan aku tentang kehidupan. Dan sehari bersamanya itu sangat berkesan. Menyenangkan. Nyaman. Menenangkan. Membuatku mengerti kehidupan. Bersamanya, seakan aku merasakan sebuah kesempurnaan. Walau pun aku sesungguhnya tidak tau apa yang ku rasa. Aku terpukau.
Hari demi hari kita lalui, aku merasa semakin hari ada yang berbeda. Aku tidak mengerti apa yang ku rasa. Setiap kali bertemu Tio rasanya menjadi tenang, semangat, ceria. Melihatnya sama seperti melihat dataran hijau yang sangat luas dengan langit yang cerah. Seakan aku akan terbang di udara, di atas dataran itu. Terbang bebas, tanpa beban. Setiap kali melihatnya, jarang aku mengedipkan mata mungil ini. Sebaliknya, dia pun begitu. Aku tidak benar-benar mengerti mengapa kami begini. Tidak ada yang memberi petunjuk akan semua ini. Hanya Tuhan yang tau. Dan hanya pada Tuhan aku akan meminta petunjuk dan jawaban atas semua pertanyaanku.
Sejak mengenalnya aku mulai lupa akan yang namanya kesedihan. Aku tidak mengenal lagi dengan air maata. Sejak aku menjalani hari bersamanya, aku mulai mengenal semangat kembali. Dulu, sebelum aku bertemu Tio hidup aku gelap. Setelah aku mengenal Tio, aku menemukan kembali secercah cahaya, secercah harapanku untuk hidup. Aku tidak takut lagi sendiri, karena dia selalu bersamaku. Aku tidak takut lagi jadi pemimpi. Aku tidak takut lagi menjalani hidupku. Hidupku mungkin terlalu keras untuk gadis seumuranku. Namun semenjak ada dia aku mampu menikmati hidup ini menjadi kehidupan yang lembut. Aku mulai mulai bisa mengenal warna kembali ketika bersamanya. Sayangnya aku semakin tidak mengerti apa yang kurasakan. Perasaan ini semakin bercampur menjadi satu. Walaupun aku memang belum mengerti seperti apa perasaan Tio sebenarnya. Aku hanya bisa melihat dari sorot matanya. Sorot mata yang berbeda yang aku tidak tau artinya. Tapi menenangkan. Membuatku nyaman bersamanya.
Namun suatu hari ketika aku mulai jarang bertemu dengannya, entah mengapa ada yang hilang. Aku sibuk dengan kuliahku. Dia pun begitu. Aku merasa kehilangan. Mulai merasa sepi. Kemana kah cahaya itu? Akankah nanti cahaya itu kembali padaku? Akankah kesempurnaan bagiku itu akan kembali lagi? Kesempurnaan itu terasa karena aku dan dia, seperti merasa lengkap. Segalanya terasa ada.
Dalam diam, aku selalu berdo’a pada Tuhan agar dia kembali dalam hidupku. Mungkin sangat besar harapanku. Mungkin aku terus bermimpi untuk selalu bersamamu. Tapi aku yakin akan kebaikan Tuhan. Aku percaya akan kebesaran Tuhan. Tuhan maha pengasih lagi penyayang. Dan aku selalu meminta pada Tuhan, karena bersamanya aku merasa sempurna dan hanya bersamanya aku ingin menghabiskan sisa umurku. Aku ingin selalu mendampinginya seperti saat-saat kami menjalani hari-hari bersama. Sesederhana itu yang aku minta.
“Hai kamu, yang mengenalkan aku tentang hidup. Kamu yang telah membuatku terpukau. Kamu yang mengajakku mengelilingi kota istimewa ini. Yogyakarta. Iya, Yogyakarta. Dulu aku ingin sekali bisa mengelilingi kota ini bersama seseorang yang berkesan di hati, namun tidak pernah ada orang itu. Tidak pernah ada kisah seperti itu. Mungkin hanya harapanku ssemata. Aku tidak percaya dengan kisah itu lagi. Hingga akhirnya aku bertemu denganmu. Kamu datang dengan ketenangan dan keistimewaan. Dan tanpa aku meminta, kamu telah membawaku pergi mengelilingi kota istimewa ini. Ya. Yogyakarta. Seperti kisah dalam impianku. Kamu sama seperti Yogyakarta. Istimewa. Terimakasih Yogyakartaku. Kamu.” 


Sejak kamu mengenalkan aku tentang kehidupan,
Aku merasa mimpiku semakin dekat…
Sejak kamu memberi bunga itu untukku,
seolah ada yang berbeda…
Ada perasaan yang tak menentu dihati,
bila ingat sorot matamu yang kurasa berbeda…
Hari ini aku juga bermimpi, 

Aku bermimpi bisa berbagi dunia ku bersama kamu…
Karna bersama kamu, aku tidak takut lagi jadi pemimpi…
Karna hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat…
Segala sesuatunya ada…