“kuliah? Kerja?
Atau… event organizer? kesana kemari, skill oke, dapet duit banyak tapi badan
ngga karuan.”
Hidup itu adalah
sebuah pilihan. Kamu ingin menjadi orang baik atau orang yangtidak baik. Kamu ingin
menjadi sukses atau tetap hidup yang itu-itu saja. Ingin menjadi professor atau
dokter. Ingin menjadi manajer atau petani. Ingin bekerja atau tidak. Ingin menjadi
wanita karir atau ibu rumah tangga. Ingin menjadi penyanyi atau actor. Apapun itu,
semua adalah pilihan. Bukan begitu?
![]() |
| by my heart, I saw, I felt |
Well done! Kali ini sedikit serius disini, aku mau cerita
sebagian hidup aku yang udah membawa aku hijrah melakukan banyak hal. Finally, akhirnya aku sadar bahwa aku
memilih melanjutkan study ku dengan baik-baik saja. Sebelumnya, aku mahasiswa fakultas
ekonomi disalah satu universitas negeri di kota Jogja. Anak yang ngga pernah
suka belajar ekonomi sama sekali yang pada akhirnya memang harus mendarat di
fakultas ekonomi. Benci ekonomi? Enggak kok, cuma emang ngga suka aja sama
itung-itungan. Sebenernya aku lebih suka jalan-jalan, belajar kebudayaan dan
bahasa juga sastra, mencintai setiap kesenian, mendarah daging sama yang
namanya musik. Yah tapi mungkin memang sudah takdirnya aku ada disini. Sudah jalannya
aku berada disini, mungkin ini jalan yang terbaik untuk aku mencapai
kesuksesanku, yah semoga saja.. amiiiiin……
Awal kuliah aku memang ngga begitu fokus sama
kuliah, udah keasikan banget sama yang namanya EVENT. Seneng bisa bikin event
sendiri, kenal orang sana sini. Kenal orang-orang hebat, punya link kerja sana
sini. Menjelajah dunia yang berbeda-beda, dan pada akhirnya aku bisa mengenal
berbagai macam dunianya setiap orang. Nge-event,
bisa dapetin duit banyak, bergelimang duit yang ngga tau pada akhirnya kemana. Tapi
lama-kelamaan badan bisa hancur kalau terus begitu. Sudah hancur, jarang pula
ketemu sahabat-sahabat, keluarga dan orang-orang terdekat. Seketika ketika
bener-bener lagi ngga ada kesibukan kerasa banget sepinya. Kenal orang
dimana-mana, duit banyak, tapi ngga sebahagia ketika bisa berkumpul sama
sahabat-sahabat dan orang-orang terdekat. Tapi tetap saja aku terus jalani
hidup seperti itu, sampai pada akhirnya Tuhan benar-benar memberi peringatan
keras untuk aku. Dan kali ini aku sadar, bahagia, hidup, itu tidak melulu tentang
uang, tidak selalu tentang pamor yang melejit, tidak selalu ada di puncak. Bahagia
itu sederhana, sesederhana aku bisa berkumpul dengan orang-orang tersayang dan
terdekat.
Banyak yang sudah dilewati. Dan sejak itu, kuliah
yang udah naik turun dan kehilangan seorang sahabat membuat aku sadar, hidup
tidak selalu harus menyibukan diri untuk menutupi masalah, tidak melulu tentang
memforsir diri untuk sebuah pelarian sebuah masalah. Tapi semua itu untuk
belajar. Belajar bagaimana kita memanajemen waktu, uang, dan banyak sekali hal
yang harus ditata rapi. Hidup misalnya.
Sejak saat itu aku mulai sadar tentang kuliah, tentang
kebersamaan, tentang hubungan, bahkan tentang kesehatan diri sendiri. Dan mulai
saat itu akhirnya aku telah memilih. Aku memilih untuk melanjutkan studi
kuliahku dengan baik-baik saja dan memperbaiki nilai-nilai yang sudah anjlok
karena ketidak-fokus-an ku saat awal-awal kuliah. Sejak ibuku memperlihatkan bermacam-macam
‘behind the scane’ kesuksesan dan
kegagalan seseorang, juga sejak akhirnya aku bertemu dengan seseorang. Kali ini
mereka berdua benar-benar mampu menyadarkan aku, untuk studiku, untuk aku, dan
untuk masa depan ku. Hijrah hidupku menguatkan alasanku untuk menjadi manusia
yang lebih baik, hidup yang lebih baik lagi.
![]() |
| with my Mom, thankful I have mother like you, I love you the most, Mom. |
Nah, kembali lagi pada hidup. Pada akhirnya dalam
hidup kita harus memilih, ingin menjadi baik atau tidak baik. Ingin menjadi
sukses atau yang biasa-biasa saja. Dan kali ini aku telah memilih, aku memilih
ingin hidup yang lebih baik. Aku memilih ingin menjadi sukses, karena sukses
bagiku bukanlah perkara punya uang banyak atau dikenal oleh orang banyak, tapi
sukses bagiku adalah bisa memberi harapan untuk orang lain dan mewujudkan
harapan itu.
Bagaimanapun jalan yang udah aku lalui,
lika-likunya, susah senangnya, aku percaya Tuhan akan selalu punya rencana yang
indah untuk setiap umatnya, untukku. Karena aku percaya, happy ending itu pasti ada. PASTI
ADA, AKU YAKIN. AKU YAKIN.
Tidak ada gading
yang tak retak, begitu kata pepatah. Dan aku percaya, bahwa tidak semua jalan
itu halus, kadang kita harus melewati hal-hal yang mungkin terlihat buruk
tetapi aku tau itu cara Tuhan mendewasakan kita, dan memperlihatkan sebuah
jalan yang urus dan terang untuk mencapai sebuah kebahagiaan. – Sa
PS : terima kasih yang begitu besar aku panjatkan
untuk Bundaku tercinta dan untuk kamu #R , karena kalian begitu berharga untuk
aku. Untuk hidupku.
With Love,
Nisa.



