About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Rabu, 14 Oktober 2015

Taukah kau?




Berjalan menuju senja,
Senja yang sangat indah, yang selalu ku tunggu di sore hari
Namun akan segera sirna ditelan gelap malam
aku tiada tujuan, yang ku tau cahaya di ufuk timur
Aku menyusuri jalanan dengan tergopoh menuju kearah timur
Berjalan, berlari, melayang
Aku tak sadarkan diri
Sakit, luka, goresan diseluruh tubuhku
Tiada pertolongan, aku takut, aku bingar
kesedihan menyertaiku

mereka pernah berkata padaku, kesedihanku akan pergi
terhempas angin selatan yang penuh debu terbawa terjauh ke ufuk timur
aku terdiam, bertanya dalam hati
kapan ini akan berakhir?
Namun senja hanya datang sekali dan tiada lagi
Terang yang ku dambakan telah hilang

Aku terbangun, aku tak begitu ingat apa yang telah terjadi
Luka dan goresan masih membekas di tubuhku
Aku melihat matahari telah terbit dari ufuk timur
Pagi, namanya
Mataku terbuka lebar, aku sadar
Begitu indah pagi hari, tiada kesedihan
Pagi begitu terang, cahayanya menguatkanku
Pagi, namanya
Dia menarik perhatianku

Mereka berkata padaku, dia adalah kebahagiaanku
Pagi, namanya
Dimana orang-orang masih semangat dan penasaran,
apa yang akan terjadi nanti
dimana mentari menyapaku dengan kehangatannya
Pagi, namanya
Bukanlah senja, yang indahnya hanya sesaat dan mudah terganti
Pagi, yang ku mau
Ku mau menjadi pagi, ku mau seperti pagi
Karena pagi itu kamu,
Pagi adalah kita.

“dan taukah kau? aku mencintai pagi sepenuh hati, aku memeluk hangatnya mentari seperti memelukmu erat hingga waktu berhenti nanti”