Berjalan menuju senja,
Senja yang sangat indah, yang selalu ku tunggu di
sore hari
Namun akan segera sirna ditelan gelap malam
aku tiada tujuan, yang ku tau cahaya di ufuk timur
Aku menyusuri jalanan dengan tergopoh menuju kearah
timur
Berjalan, berlari, melayang
Aku tak sadarkan diri
Sakit, luka, goresan diseluruh tubuhku
Tiada pertolongan, aku takut, aku bingar
kesedihan menyertaiku
mereka pernah berkata padaku, kesedihanku akan pergi
terhempas angin selatan yang penuh debu terbawa
terjauh ke ufuk timur
aku terdiam, bertanya dalam hati
kapan ini akan berakhir?
Namun senja hanya datang sekali dan tiada lagi
Terang yang ku dambakan telah hilang
Aku terbangun, aku tak begitu ingat apa yang telah terjadi
Luka dan
goresan masih membekas di tubuhku
Aku melihat matahari telah terbit dari ufuk timur
Pagi, namanya
Mataku terbuka lebar, aku sadar
Begitu indah pagi hari, tiada kesedihan
Pagi begitu terang, cahayanya menguatkanku
Pagi, namanya
Dia menarik perhatianku
Mereka berkata padaku, dia adalah kebahagiaanku
Pagi, namanya
Dimana orang-orang masih semangat dan penasaran,
apa yang akan terjadi nanti
dimana mentari menyapaku dengan kehangatannya
Pagi, namanya
Bukanlah senja, yang indahnya hanya sesaat dan mudah
terganti
Pagi, yang ku mau
Ku mau menjadi pagi, ku mau seperti pagi
Karena pagi itu kamu,
Pagi adalah kita.
“dan taukah kau?
aku mencintai pagi sepenuh hati, aku memeluk hangatnya mentari seperti memelukmu
erat hingga waktu berhenti nanti”


0 komentar:
Posting Komentar