Yang kau
jerat, adalah riwayat tidak punah jadi sejarah
Yang bicara,
adalah cahaya.
Dikonstruksi,
dikomposisi
Padam semua
lampu, semua lampu.
Membekukan yang
cair, mencairkan yang beku.
Jangan kabur
berjamur, jangan kabur berjamur,
Segala negative
menuju positif,
Kekal.
[ERK – Kamar Gelap]
Tidak ada
gading yang tak retak,
Tidak ada baik
jika tidak ada buruk.
Tidak akan ada aku
jika tidak ada kau,
Ayah.
Tidak ada yang
lebih berharga dari seorang anak kandung daripada bensin.
Tidak ada yang
lebih berharga dari seorang anak kandung daripada barang branded.
Tidak ada pula
yang lebih berharga dari anak kandung daripada sebuah gelar, uang, harta,
benda, semua duniawi.
Luka.
Kau kenalkan
aku dengan sebuah goresan panjang, tak berunjung,
Sangat panjang
dan membekas, tancapan yang mampu mengeluarkan tetesan darah,
Dia bernama,
luka.
Hidup.
Aku hidup untuk
belajar mencintai luka,
Kau bekukan
sebuah luka dalam hidup, kau jerat dengan goresan yang tak bisa terungkap,
Kau ajari aku
tentang luka,
Dalam hidup,
kau kenalkan aku dengan luka,
Luka yang akan
selalu membekas, bahkan hampir saja aku tidak ingin berjumpa dengan orang lain,
Karena aku
takut, aku takut dengan luka lagi diluar sana,
Tapi sesosok
malaikat tanpa sayap memberitahuku tentang dunia diluar sana tak semuram
istanamu yang besar itu.
Riwayat.
Dalam hidup,
kau buatkan aku sebuah riwayat,
yang akan
menjadi sejarah, sejarah dalam hidupku,
aku yang penuh
dengan luka,
kau jerat tanpa
aku bisa bicara, mulutku terkunci,
hati
berkata-kata,
hati berteriak
kencang,
aku hanya bisa
diam, mulutku terkunci diam seribu bahasa,
saat aku sedang
diam tanpa suara, saat itulah hati sedang berbicara, berteriak,
tapi tak ada
yang mendengarnya,
ribuan kata tak
mampu keluar, tak dapat terungkap,
sebuah luka tak
mampu menunjukkan betapa perih,
yang bicara
adalah cahaya.
Tidak, tidak,
bukan uang yang ingin,
Bukah barang-barang
mahal yang ku mau,
Tapi satu hal
yang ku mau,
Yang aku amat
sangat rindu,
Dekap hangatmu,
kasih sayangmu.
aku tak pernah
bicara, aku tidak bisu,
aku diam, aku
tak punya cukup keberanian untuk bicara,
aku tidak cukup
berani ungkapkan kata rindu,
aku hanya rindu
akan momen, ketika bersamamu,
Ayah.
Karena akan
datang hari, dimana aku dimiliki seorang pria yang akan menyayangiku seumur
hidupnya setelah kau,
Akan datang
hari dimana aku akan dijemput oleh sosok pria yang akan selalu menjadi tempat
aku berlabuh,
Akan datang
hari dimana kau harus melepaskan aku untuk itu,
Ayah.
Maka, sebelum
semua itu terjadi,
Aku hanya ingin
bisa menikmati momen bersamamu,
Aku ingin bisa
mengenalmu lebih dekat,
Aku ingin bisa
melabuhkan lelahku kepadamu
Ayah,
Sebelum aku
benar-benar pergi dan berlabuh dengan pria yang ku cintai nantinya,
Karena aku
selalu merindukan kau,
Ayah.
Karena aku tau,
Tidak ada hal
duniawi apapun yang lebih berharga dari AKU
RINDU DAN SAYANG AYAH.
Malaikat
Kecilmu



0 komentar:
Posting Komentar