 |
| i'm visioner! where is my destination? |
Sore itu aku sedang
bermain dihalaman belakang rumah lamaku dengan boneka-boneka milikku. Langit terlihat
sedikit mendung. Sepertinya akan hujan. Ibuku menghampiriku untuk membereskan
mainanku dan mengajakku masuk ke dalam rumah. Seketika saat itu pula, aku
melihat sebuah burung besi melintas di atas rumahku. Sebuah pesawat besar
dengan sayap-sayapnya yang membentang dengan gagahnya. Aku masih tidak tahu
benda apa itu, lalu Ibuku hendak menggendongku dan mengambil tanganku untuk
melambaikan tangan kepada pesawat itu.
“Itu namanya pesawat
terbang sayang, say good bye sama
cawat telbangnya, Nak. Dadah dadaaaah cawat…” kata ibuku membahasakan aku pada
saat itu. Bahagia sekali pada saat itu, sesederhana itu aku bahagia hanya untuk
melambaikan tanganku kepada pesawat terbang.
“Bunda, aku mau naik
cawat. Aku mau bisa telbang, tapi aku tak punya sayap. Aku mau naik cawat saja,
Bunda.” Kataku pada saat itu. Ibuku hanya tersenyum dan bergegas membawaku
masuk ke dalam rumah karena seketika hujan rintik-rintik mulai turun. Aku tidak
pernah berfikir bagaimana pesawat yang melintasi rumahku tadi melewati hujan
yang mulai deras itu dan melewati awan-awan yang gelap itu.
 |
| pesawatku melintas diatas rumahku. aku menyukainya. |
Kembali lagi aku bermain
di dalam rumah. Diluar hujan mulai deras. Ibuku membawakan aku beberapa kertas
lipat dan mengajariku bermain melipat kertas origami. Senang sekali, Ibuku
membuatkan aku origami pesawat terbang. Sesekali Ibuku mengajari aku untuk
menerbangkan pesawat kertas itu ke udara. Meskipun di dalam rumah yang tidak
begitu luas di rumah lamaku saat itu, setidaknya pesawat kertasku bisa terbang.
Dan aku bahagia bisa menerbangkannya.
***
Gadis
kecil bermain pesawat kertasnya
Ruang
keluarga dijadikannya sebagai bandara
Lantai
keramik sebagai landa pacunya
Pesawat
kertasku terbang mengudara
Tangan
kanan menggenggam harapan, tangan kiri menggenggam ingatan
Esok
hari gadis kecil telah menjelma menjadi wanita dewasa dengan ribuan visinya
Pesawat
kertas pun telah menjelma menjadi burung besi
Membawaku
pergi mengudara bersama segenggam harapan dan segenggam ingatan
Terbang
ke angkasa bersama harapan
Aku,
akan kembali lagi dengan jutaan mimpi yang ku wujudkan
Akhirnya,
aku bisa terbang meski harus dengan sayap-sayap besi
[Karya - Nisa Chandra]
***
Aku harus pergi. Demi mewujudkan
semua mimpiku. Ibuku sebenarnya tidak terlalu menginginkan kepergianku, tapi
apa boleh buat aku harus pergi demi mengejar masa depan dan mewujudkan impianku
apapun resikonya. Aku akan pergi ke negeri sakura esok hari. Demi ribuan bahkan
jutaan impianku.
“Jangan khawatir Bunda,
aku akan baik saja selama disana dan aku akan kembali dengan mimpi yang sudah
ku wujudkan itu. Demi dikau, Bunda.” Sambil memeluk Ibuku di pintu masuk
bandara. Kulihat mata Ibuku yang mulai berkaca-kaca.
“Pulanglah, Nak. Bunda akan
selalu menunggumu kembali.” Ucapnya kepadaku.
“Aku pasti akan
kembali, Bunda.” Ku peluk Ibuku dengan erat sebelum aku bergegas memasuki bandara
itu.
Kaki ku terasa berat
untuk melangkah, tapi aku harus terus berjalan. Pesawatku telah menunggu. Burung
besi yang akan membawaku terbang bersama harapan telah menungguku dengan
gagahnya. Harapanku telah menungguku disana. Di negeri sakura impianku. Negeri tempat
dimana Papi pernah berkarya disana.
Pi,
dengarlah aku sedang berada di atas awan. Bukankah kita begitu dekat saat ini? Dimana
surge tempatmu berbahagia, Papi? Pi, lihatlah aku akan wujudkan semuanya. I love
you to the heaven and never back!
Ucapku dalam hati sambil berkaca-kaca melihat kea rah jendela. Awan dan langit
begitu tak bertepi. Seolah aku benar-benar mencari sesuatu di atas langit. Oh
ya, pesawatku sudah berada di atas ketinggian 35.000ft. Langit hari itu begitu cerah. Aku tidak khawatir dalam 7 jam
perjalanan. Sekali lagi aku masih merindukan sosok Papi.
Pesawatku akhirnya
telah mendarat di Bandara Haneda Tokyo setelah 7 jam perjalanan. Langkahku menuju
pengambilan barang di bagasi rasanya begitu cepat. Entah aku yang terlalu
bersemangat ataukah memang ingin segera sampai ke tempat penginapanku di salah
satu rumah di Tokyo. Rumah dimana Papi pernah singgah jaman dahulu. Disinilah semuanya
dimulai. Awal dari segala mimpi dan harapanku. Selamat datang!
Udara di Tokyo hari itu
begitu dingin. Saljunya mulai turun. Aku berjalan sendirian menuju rumah yang
sudah diberikan peta dan alamatnya. Udara terlalu dingin, aku tidak kuat lagi dan
akhirnya ku putuskan untuk berhenti sejenak disebuah kedai kopi untuk membeli
secangkir kopi panas sambil menghangatkan tubuh. Tepat sekali rasanya datang ke
negeri ini saat winter. Dan, bukankah
impianku sejak kecil bertemu dengan salju setelah di Jerman hari itu? Ya, tentu
saja.
Salju sudah tidak
begitu deras, ku lanjutkan lagi untuk berjalan menuju rumah. Rumah itu tidak
terlalu jauh dari kedai kopi yang ku hampiri tadi. Akhirnya sampai juga aku di
rumah tersebut. Sejenak ku rebahkan tubuhku dikasur karena lelahnya. Hingga aku
tertidur hingga pagi menjelang. Selamat pagi negeri sakuraku! Welcome to the jungle, dan selamat
mengawali hari untuk mewujudkan mimpi-mimpi hari ini dan untuk hari-hari ke
depannya.
***
6
bulan kemudian…
“Bunda, aku akan terbang
siang ini! Akan ku bawakan seluruh impianku yang telah terwiujud untukmu,
Bunda. Ya, mungkin akan sampai nanti malam sedikit larut. Biar Mang Ujang saja
yang menjemputku di bandara. Bunda istirahat saja. I love you, Mom!” Ucapku bahagia
sekali di telepon pagi itu. Benar-benar ceria sampai aku lupa pernah terluka
dahulu oleh cinta. Sebelum aku menutup telepon, Ibuku sempat berkata bahwa
mantan kekasihku datang ke rumahku kemarin. Dia mencariku yang sudah lama
menghilang. Kata Ibuku, dia masih menungguku pulang. Aku hanya tidak menanggapi
saja, untuk apa, toh setelah sekian lama rasa sakit itu ku tutupi dan dia baru
mencariku sekarang? Toh, dia sudah bahagia kan dengan kekasih barunya setelah
aku? Ah sudahlah, lupakan. Aku tidak ingin membahasnya. Aku sedang bahagia hari
ini. Banyak impianku yang sudah terwujud, dan aku akan pulang menemui Ibuku. Banyak
sekali yang ingin ku ceritakan padanya. Cerita ini bukan cerita cinta, biarkan
aku bercerita tentang harapanku dan segala impianku yang telah ku wujudkan satu
per satu meskipun belum semuanya.
Pesawatku telah
menungguku. Burung besiku yang selalu ingin
ku tunggangi dulu saat kecil agar aku bisa terbang. Senang rasanya bisa
terbang, walaupun aku tak punya sayap sendiri. Walaupun aku harus terbang
dengan sayap-sayap besi, tapi bukankah itu harapanku? Ingin bisa terbang
sendiri. Sebenarnya semua harapan bisa terkabulkan, hanya saja entah kapan
terkabulnya itu tergantung bagaimana usaha kita untuk mewujudkannya. Tuhan tidak
tidur, Dia akan selalu melihat usaha kita. Jika sudah berusaha dan berjuang
dengan semaksimal mungkin, Tuhan pasti akan mengabulkannya. Berdo’a dan
beribadaah jangan pernah putus.
Hari ini langit begitu
cerah, perjalanan 7 jam diselingi transit yang cukup membuat menunggu tak
membuatku terlalu khawatir. Hanya saja entah mengapa aku pergi ke bandara dengan
waktu yang terlalu mepet. Ah, tidak! Jangan sampai aku tertinggal pesawat. Aku telah
berjanji akan pulang mala mini. Belum lagi syal kesayangan milikku hampir saja
tertinggal dirumah. Untung saja belum setengah perjalanan menuju ke bandara aku
ingat, sehingga bisa aku ambil dahulu.
Sesampainya di bandara
aku langsung berlari-lari. Kurang dari satu jam keberangkatan aku sudah diruang
tunggu. Hampir saja terlambat, aku fikir aku akan terlambat. Untung saja aku
menaiki taksi hari ini. Meskipun sedikit lebih mahal setidaknya aku bisa sampai
dengan cepat.
Pesawatku telah siap. Ku
langkahkan kakiku menuju pesawatku. Entah mengapa rasanya begitu berat. Ah, sudahlah. Mungkin karena aku masih betah
di negeri ini jadi seolah terasa berat. Toh, aku akan kembali lagi ke negeri
ini untuk menyelesaikan mimpi-mimpiku yang belum selesai. Pikirku, dalam
hati. Hari yang cerah untuk mengudara, aku bahagia. Sangat bahagia, bahkan aku
lupa bahwa ada seseorang tak ingin ku lihat lagi batang hidungnya yang sedang
menunggu kepulanganku di Indonesia.
***
Langit-langit
tiada bertepi
Ingin
ku gapai semua awan-awan
Bagai
ku gapai segala mimpi dan anganku
Langit
yang cerah untuk jiwa yang telah lama sepi
Aku
terbang mengudara bersama harapan
Biarkan
aku terbang tinggi
Biarkan
aku terbang sangat jauh
Agar
sesisi dunia tau, aku akan menjadi begitu berarti
Setelah
aku usai menggenggam ingatan
Syukur-syukur
bisa diingat pula
[Karya - Nisa Chandra]
***
Langit menampakan
cahayanya. Ku rasa hari sudah mulai gelap. Usai transit, ku biarkan saja mataku
terpejam agar tak terlalu lelah nanti sesampainya di bandara. Ku lihat kea rah jendela
pesawat. Langit begitu gelapnya. Tak ada bintang, ingin sekali melihat bintang.
Tapi kan aku sedang berada di angkasa, lalu dimana bintang-bintang? Ah, mungkin
saja sedang tidur. Mungkin mereka sedang lelah pula. Biarlah bintang hilang,
tapi aku bersinar. Mungkin langit sedang mendung. Malam ini bahagia sekali
rasanya. Ku pejamkan mata hingga benar-benar tertidur akhirnya di atas
ketinggian 37.000ft. tinggi sekali rasanya, tapi aku menyukai ini. Sekali lagi
aku menyukai semua ini. Terbang.
“KREKKK!!” suara itu
mengagetkanku sampai akhirnya aku terbangun. Benar-benar tercengang. Lampu di
pesawat tidak stabil, mati-nyala mati-nyala. Orang-orang panik ketakutan. Ku lihat
ke arah luar jendela, ternyata hujan begitu deras. Kilat memperlihatkan kilauan
cahayanya yang begitu cepat. Cepat kilatan cahaya merambat 186.000
mil atau 299.338 kilometer/detik.
Ku lihat jam tanganku, masih tersisa 2 jam lagi sampai Indonesia. Pesawat semakin
tidak stabil dan aku mulai panik. Aku segera mengambil oksigen yang sudah
tersedia di board pesawat. Orang-orang pun juga segera mengambil oksigen. Gemuruh
diluar terdengar begitu keras. Oh ya, sebelumnya maaf untuk perkenalan yang
terlalu akhir. Namaku Ishida Sakura Keiko. Namaku memang seperti orang Jepang,
tapi aku orang Indonesia, tentu saja. Panjang jika harus diceritakan bagaimana
sejarah namaku. Saat ini aku sedang ketakutan. Sebelumnya, terima kasih sudah
mau mengenalku meskipun di akhir cerita ini.
Aku sangat takut,
sangat takut. Aku hanya berdo’a dan terus berdo’a. Terus saja aku berdzikir
menyebut nama Allah. Entah akan bagaimana nasibku setelah ini. Seketika aku
mengingat Ibuku, mengingat saudara-saudara dan teman-temanku, dan harus ku akui
aku mengingat pula seseorang yang sedang menungguku di rumah bersama Ibuku. Dia
yang pernah menyakitiku, aku belum sempat bertemu dengannya setelah terakhir
kali hanya bertengkar dan bermaafan sekedarnya melalui sebuah pesan singkat. Dan,
Papi. Papi, dimana kau? Aku takut Pi,
sangat takut. Kita memang sedang dekat, mungkin sangat lebih dekat mala mini. Akankah
kita berjumpa mala mini? Aku takut, Pi. Takut sekali. Ucapku dalam hati
sambil memejamkan mata. Entah apa yang terjadi dalam kondisi pesawat yang
semakin tidak stabil disertai orang-orang yang mengucapkan takbir. Aku hanya
bisa duduk terdiam dan pasrah. Sambil terus melantunkan nama Allah. Udara di
pesawat pun semakin hilang, sesak sekali di dada rasanya tak bisa bernafas. Aku
hanya bisa terbatuk-batuk meskipun sudah menggunakan oksigen. Getaran pesawat
semakin terasa, dan aku sangat takut. Terus saja ku pejamkan mata dan berdzikir
sampai semuanya berakhir. Dan…
***
Harapan
ku terbangkan ke angkasa
Pesawatku
tlah membawanya
Ku
hantarkan harapanku bersama sayap besiku
Ku
genggam harapan sampai akhir
Ku
bawa ingatan sampai terpejam
Ku
sandarkan lelahku
Tentang
cintaku yang membeku
Rinduku
tak pernah sampai
Bagai
daun yang merindukan anginnya
Meski
angin telah menggugurkannya
Rindunya
tak pernah mati
Cintanya
tak pernah padam
Seperti
impian yang dibawa sampai akhir
[Karya – Nisa Chandra]
[ P.s : Sebenarnya saya membuat
cerita ini adalah terinspirasi dari salah satu cerita seorang pramugari, salah
satu lagu yang membuat saya memiliki imajinasi seperti ini, dan sedikit saya
beri bumbu dari hidup saya sendiri. Dan cerita ini dibuat dirumah saya ketika
saya sedang benar-benar berada dirumah sendiri. Dalam kondisi langit begitu
gelap, langit bergemuruh dan hujan turun dengan lebat. Sambil mengatasi rasa
takut karena gelap dan sambil saya berimajinasi. Terima kasih sudah membaca. Selamat
membayangkan rasannya! :) ]