About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Minggu, 18 September 2016

PESAWATKU

i'm visioner! where is my destination?
Sore itu aku sedang bermain dihalaman belakang rumah lamaku dengan boneka-boneka milikku. Langit terlihat sedikit mendung. Sepertinya akan hujan. Ibuku menghampiriku untuk membereskan mainanku dan mengajakku masuk ke dalam rumah. Seketika saat itu pula, aku melihat sebuah burung besi melintas di atas rumahku. Sebuah pesawat besar dengan sayap-sayapnya yang membentang dengan gagahnya. Aku masih tidak tahu benda apa itu, lalu Ibuku hendak menggendongku dan mengambil tanganku untuk melambaikan tangan kepada pesawat itu.
“Itu namanya pesawat terbang sayang, say good bye sama cawat telbangnya, Nak. Dadah dadaaaah cawat…” kata ibuku membahasakan aku pada saat itu. Bahagia sekali pada saat itu, sesederhana itu aku bahagia hanya untuk melambaikan tanganku kepada pesawat terbang.
“Bunda, aku mau naik cawat. Aku mau bisa telbang, tapi aku tak punya sayap. Aku mau naik cawat saja, Bunda.” Kataku pada saat itu. Ibuku hanya tersenyum dan bergegas membawaku masuk ke dalam rumah karena seketika hujan rintik-rintik mulai turun. Aku tidak pernah berfikir bagaimana pesawat yang melintasi rumahku tadi melewati hujan yang mulai deras itu dan melewati awan-awan yang gelap itu.
pesawatku melintas diatas rumahku. aku menyukainya.

Kembali lagi aku bermain di dalam rumah. Diluar hujan mulai deras. Ibuku membawakan aku beberapa kertas lipat dan mengajariku bermain melipat kertas origami. Senang sekali, Ibuku membuatkan aku origami pesawat terbang. Sesekali Ibuku mengajari aku untuk menerbangkan pesawat kertas itu ke udara. Meskipun di dalam rumah yang tidak begitu luas di rumah lamaku saat itu, setidaknya pesawat kertasku bisa terbang. Dan aku bahagia bisa menerbangkannya.
***





Gadis kecil bermain pesawat kertasnya
Ruang keluarga dijadikannya sebagai bandara
Lantai keramik sebagai landa pacunya
Pesawat kertasku terbang mengudara
Tangan kanan menggenggam harapan, tangan kiri menggenggam ingatan
Esok hari gadis kecil telah menjelma menjadi wanita dewasa dengan ribuan visinya
Pesawat kertas pun telah menjelma menjadi burung besi
Membawaku pergi mengudara bersama segenggam harapan dan segenggam ingatan
Terbang ke angkasa bersama harapan
Aku, akan kembali lagi dengan jutaan mimpi yang ku wujudkan
Akhirnya, aku bisa terbang meski harus dengan sayap-sayap besi
[Karya - Nisa Chandra]
***
 


Aku harus pergi. Demi mewujudkan semua mimpiku. Ibuku sebenarnya tidak terlalu menginginkan kepergianku, tapi apa boleh buat aku harus pergi demi mengejar masa depan dan mewujudkan impianku apapun resikonya. Aku akan pergi ke negeri sakura esok hari. Demi ribuan bahkan jutaan impianku.
“Jangan khawatir Bunda, aku akan baik saja selama disana dan aku akan kembali dengan mimpi yang sudah ku wujudkan itu. Demi dikau, Bunda.” Sambil memeluk Ibuku di pintu masuk bandara. Kulihat mata Ibuku yang mulai berkaca-kaca.
“Pulanglah, Nak. Bunda akan selalu menunggumu kembali.” Ucapnya kepadaku.
“Aku pasti akan kembali, Bunda.” Ku peluk Ibuku dengan erat sebelum aku bergegas memasuki bandara itu.
Kaki ku terasa berat untuk melangkah, tapi aku harus terus berjalan. Pesawatku telah menunggu. Burung besi yang akan membawaku terbang bersama harapan telah menungguku dengan gagahnya. Harapanku telah menungguku disana. Di negeri sakura impianku. Negeri tempat dimana Papi pernah berkarya disana. 


Pi, dengarlah aku sedang berada di atas awan. Bukankah kita begitu dekat saat ini? Dimana surge tempatmu berbahagia, Papi? Pi, lihatlah aku akan wujudkan semuanya. I love you to the heaven and never back! Ucapku dalam hati sambil berkaca-kaca melihat kea rah jendela. Awan dan langit begitu tak bertepi. Seolah aku benar-benar mencari sesuatu di atas langit. Oh ya, pesawatku sudah berada di atas ketinggian 35.000ft. Langit hari itu begitu cerah. Aku tidak khawatir dalam 7 jam perjalanan. Sekali lagi aku masih merindukan sosok Papi.
Pesawatku akhirnya telah mendarat di Bandara Haneda Tokyo setelah 7 jam perjalanan. Langkahku menuju pengambilan barang di bagasi rasanya begitu cepat. Entah aku yang terlalu bersemangat ataukah memang ingin segera sampai ke tempat penginapanku di salah satu rumah di Tokyo. Rumah dimana Papi pernah singgah jaman dahulu. Disinilah semuanya dimulai. Awal dari segala mimpi dan harapanku. Selamat datang!
Udara di Tokyo hari itu begitu dingin. Saljunya mulai turun. Aku berjalan sendirian menuju rumah yang sudah diberikan peta dan alamatnya. Udara terlalu dingin, aku tidak kuat lagi dan akhirnya ku putuskan untuk berhenti sejenak disebuah kedai kopi untuk membeli secangkir kopi panas sambil menghangatkan tubuh. Tepat sekali rasanya datang ke negeri ini saat winter. Dan, bukankah impianku sejak kecil bertemu dengan salju setelah di Jerman hari itu? Ya, tentu saja.
Salju sudah tidak begitu deras, ku lanjutkan lagi untuk berjalan menuju rumah. Rumah itu tidak terlalu jauh dari kedai kopi yang ku hampiri tadi. Akhirnya sampai juga aku di rumah tersebut. Sejenak ku rebahkan tubuhku dikasur karena lelahnya. Hingga aku tertidur hingga pagi menjelang. Selamat pagi negeri sakuraku! Welcome to the jungle, dan selamat mengawali hari untuk mewujudkan mimpi-mimpi hari ini dan untuk hari-hari ke depannya.
***

6 bulan kemudian…
“Bunda, aku akan terbang siang ini! Akan ku bawakan seluruh impianku yang telah terwiujud untukmu, Bunda. Ya, mungkin akan sampai nanti malam sedikit larut. Biar Mang Ujang saja yang menjemputku di bandara. Bunda istirahat saja. I love you, Mom!  Ucapku bahagia sekali di telepon pagi itu. Benar-benar ceria sampai aku lupa pernah terluka dahulu oleh cinta. Sebelum aku menutup telepon, Ibuku sempat berkata bahwa mantan kekasihku datang ke rumahku kemarin. Dia mencariku yang sudah lama menghilang. Kata Ibuku, dia masih menungguku pulang. Aku hanya tidak menanggapi saja, untuk apa, toh setelah sekian lama rasa sakit itu ku tutupi dan dia baru mencariku sekarang? Toh, dia sudah bahagia kan dengan kekasih barunya setelah aku? Ah sudahlah, lupakan. Aku tidak ingin membahasnya. Aku sedang bahagia hari ini. Banyak impianku yang sudah terwujud, dan aku akan pulang menemui Ibuku. Banyak sekali yang ingin ku ceritakan padanya. Cerita ini bukan cerita cinta, biarkan aku bercerita tentang harapanku dan segala impianku yang telah ku wujudkan satu per satu meskipun belum semuanya.
Pesawatku telah menungguku. Burung besiku yang selalu ingin  ku tunggangi dulu saat kecil agar aku bisa terbang. Senang rasanya bisa terbang, walaupun aku tak punya sayap sendiri. Walaupun aku harus terbang dengan sayap-sayap besi, tapi bukankah itu harapanku? Ingin bisa terbang sendiri. Sebenarnya semua harapan bisa terkabulkan, hanya saja entah kapan terkabulnya itu tergantung bagaimana usaha kita untuk mewujudkannya. Tuhan tidak tidur, Dia akan selalu melihat usaha kita. Jika sudah berusaha dan berjuang dengan semaksimal mungkin, Tuhan pasti akan mengabulkannya. Berdo’a dan beribadaah jangan pernah putus.
Hari ini langit begitu cerah, perjalanan 7 jam diselingi transit yang cukup membuat menunggu tak membuatku terlalu khawatir. Hanya saja entah mengapa aku pergi ke bandara dengan waktu yang terlalu mepet. Ah, tidak! Jangan sampai aku tertinggal pesawat. Aku telah berjanji akan pulang mala mini. Belum lagi syal kesayangan milikku hampir saja tertinggal dirumah. Untung saja belum setengah perjalanan menuju ke bandara aku ingat, sehingga bisa aku ambil dahulu.
Sesampainya di bandara aku langsung berlari-lari. Kurang dari satu jam keberangkatan aku sudah diruang tunggu. Hampir saja terlambat, aku fikir aku akan terlambat. Untung saja aku menaiki taksi hari ini. Meskipun sedikit lebih mahal setidaknya aku bisa sampai dengan cepat.
Pesawatku telah siap. Ku langkahkan kakiku menuju pesawatku. Entah mengapa rasanya begitu berat. Ah, sudahlah. Mungkin karena aku masih betah di negeri ini jadi seolah terasa berat. Toh, aku akan kembali lagi ke negeri ini untuk menyelesaikan mimpi-mimpiku yang belum selesai. Pikirku, dalam hati. Hari yang cerah untuk mengudara, aku bahagia. Sangat bahagia, bahkan aku lupa bahwa ada seseorang tak ingin ku lihat lagi batang hidungnya yang sedang menunggu kepulanganku di Indonesia.
***
Langit-langit tiada bertepi
Ingin ku gapai semua awan-awan
Bagai ku gapai segala mimpi dan anganku
Langit yang cerah untuk jiwa yang telah lama sepi
Aku terbang mengudara bersama harapan
Biarkan aku terbang tinggi
Biarkan aku terbang sangat jauh
Agar sesisi dunia tau, aku akan menjadi begitu berarti
Setelah aku usai menggenggam ingatan
Syukur-syukur bisa diingat pula
[Karya - Nisa Chandra]
***

Langit menampakan cahayanya. Ku rasa hari sudah mulai gelap. Usai transit, ku biarkan saja mataku terpejam agar tak terlalu lelah nanti sesampainya di bandara. Ku lihat kea rah jendela pesawat. Langit begitu gelapnya. Tak ada bintang, ingin sekali melihat bintang. Tapi kan aku sedang berada di angkasa, lalu dimana bintang-bintang? Ah, mungkin saja sedang tidur. Mungkin mereka sedang lelah pula. Biarlah bintang hilang, tapi aku bersinar. Mungkin langit sedang mendung. Malam ini bahagia sekali rasanya. Ku pejamkan mata hingga benar-benar tertidur akhirnya di atas ketinggian 37.000ft. tinggi sekali rasanya, tapi aku menyukai ini. Sekali lagi aku menyukai semua ini. Terbang.
“KREKKK!!” suara itu mengagetkanku sampai akhirnya aku terbangun. Benar-benar tercengang. Lampu di pesawat tidak stabil, mati-nyala mati-nyala. Orang-orang panik ketakutan. Ku lihat ke arah luar jendela, ternyata hujan begitu deras. Kilat memperlihatkan kilauan cahayanya yang begitu cepat. Cepat kilatan cahaya merambat 186.000 mil atau 299.338 kilometer/detik. Ku lihat jam tanganku, masih tersisa 2 jam lagi sampai Indonesia. Pesawat semakin tidak stabil dan aku mulai panik. Aku segera mengambil oksigen yang sudah tersedia di board pesawat. Orang-orang pun juga segera mengambil oksigen. Gemuruh diluar terdengar begitu keras. Oh ya, sebelumnya maaf untuk perkenalan yang terlalu akhir. Namaku Ishida Sakura Keiko. Namaku memang seperti orang Jepang, tapi aku orang Indonesia, tentu saja. Panjang jika harus diceritakan bagaimana sejarah namaku. Saat ini aku sedang ketakutan. Sebelumnya, terima kasih sudah mau mengenalku meskipun di akhir cerita ini.
Aku sangat takut, sangat takut. Aku hanya berdo’a dan terus berdo’a. Terus saja aku berdzikir menyebut nama Allah. Entah akan bagaimana nasibku setelah ini. Seketika aku mengingat Ibuku, mengingat saudara-saudara dan teman-temanku, dan harus ku akui aku mengingat pula seseorang yang sedang menungguku di rumah bersama Ibuku. Dia yang pernah menyakitiku, aku belum sempat bertemu dengannya setelah terakhir kali hanya bertengkar dan bermaafan sekedarnya melalui sebuah pesan singkat. Dan, Papi. Papi, dimana kau? Aku takut Pi, sangat takut. Kita memang sedang dekat, mungkin sangat lebih dekat mala mini. Akankah kita berjumpa mala mini? Aku takut, Pi. Takut sekali. Ucapku dalam hati sambil memejamkan mata. Entah apa yang terjadi dalam kondisi pesawat yang semakin tidak stabil disertai orang-orang yang mengucapkan takbir. Aku hanya bisa duduk terdiam dan pasrah. Sambil terus melantunkan nama Allah. Udara di pesawat pun semakin hilang, sesak sekali di dada rasanya tak bisa bernafas. Aku hanya bisa terbatuk-batuk meskipun sudah menggunakan oksigen. Getaran pesawat semakin terasa, dan aku sangat takut. Terus saja ku pejamkan mata dan berdzikir sampai semuanya berakhir. Dan…
***




Harapan ku terbangkan ke angkasa
Pesawatku tlah membawanya
Ku hantarkan harapanku bersama sayap besiku
Ku genggam harapan sampai akhir
Ku bawa ingatan sampai terpejam
Ku sandarkan lelahku
Tentang cintaku yang membeku
Rinduku tak pernah sampai
Bagai daun yang merindukan anginnya
Meski angin telah menggugurkannya
Rindunya tak pernah mati
Cintanya tak pernah padam
Seperti impian yang dibawa sampai akhir
[Karya – Nisa Chandra]


[ P.s : Sebenarnya saya membuat cerita ini adalah terinspirasi dari salah satu cerita seorang pramugari, salah satu lagu yang membuat saya memiliki imajinasi seperti ini, dan sedikit saya beri bumbu dari hidup saya sendiri. Dan cerita ini dibuat dirumah saya ketika saya sedang benar-benar berada dirumah sendiri. Dalam kondisi langit begitu gelap, langit bergemuruh dan hujan turun dengan lebat. Sambil mengatasi rasa takut karena gelap dan sambil saya berimajinasi. Terima kasih sudah membaca. Selamat membayangkan rasannya! :) ]