About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Jumat, 14 Agustus 2015

the father figure in yourself, Papi



“nisa mau apa?”
“mau bulu-bulu, YangPi itu.” Kataku sambil menunjukkan arumanis di sebuah pasar malam di salah satu daerah di Jawa Tengah.
“mau yang warna apa, Nak?” tanya Papi.
“mau yang warnanya jambon ya, YangPi.” Jawabku.

Belasan tahun sudah terlewati dan rasanya cepat sekali. Waktu itu aku masih sangat kecil. Aku diajak tinggal dirumah Eyang Papi di Ungaran bersama ayah dan bundaku. Entah kenapa, karena apa, entahlah. Aku tidak tau, yang aku tau saat itu hanya pergi berlibur atau tinggal di tempat Papi. Malam itu Papi mengajakku pergi ke pasar malam didekat rumah. Aku diajak jalan-jalan keliling pasar malam, dibeliin bulu-bulu (arum manis yang aku selalu menyebutnya bulu-bulu, karena bentuknya lucu seperti bulu). Aku sayang sekali sama Papi. Papi suka anak kecil, Papi menghormati orang-orang yang lebih tua, Papi selalu menghargai orang-orang yang lebih muda. Aku sayang Papi. Papi sayang aku, sepupu-sepupu aku. Kami semua diperlakukan sama. Aku sayang Papi. Papi sangat ramah, papi lembut dan penyayang terutama terhadap anak kecil. Aku suka. Dimana sosok seorang ayah yang selalu kutemukan pada diri Papi melebihi ayahku sendiri. Eyang Papi. Aku sayang eyang papi.

Namun roda dunia memang berputar, terseret sudah semua orang pada roda dunia. Kehidupan yang mulai berubah. Aku tidak pernah tau lagi apapun hal yang terjadi, hingga aku beranjak remaja. Aku mendengar Papi jatuh sakit. Sedih, sedih rasanya melihat Papi terbaring tidur di salah satu kamar di rumah sakit di Yogyakarta. Kotaku, kotaku yang istimewa seperti keluargaku yang selalu istimewa. Bagaimanapun, seperti apapun bentuknya. Tapi tetap istimewa bagiku. Berbulan-bulan aku melihatmu dengan kondisi seperti itu. Hampir setiap hari aku ikut ayah atau bunda untuk ke rumah sakit.

“Anisa… Anisa…”
Seperti itu kan Papi selalu memanggilku? Papi masih sering memanggil namaku, atau adik sepupuku. Berbulan-bulan, setahun sudah, sampai pada akhirnya roda dunia benar-benar berputar. Malam itu, di bulan ramadhan. Aku yang masih menginjak SMP dan saat itu masih duduk-duduk di ruang tengah di rumahku. Aku mendapati sebuah kabar entah dari siapa yang ada di telfon saat itu aku tidak tahu pasti. Sebuah kabar duka, aku benar-benar tidak percaya bahwa Papi sudah meninggalkan kami semua. Aku hanya diam. Diam saja. Tidak histeris, tidak menangis, tidak pula melakukan banyak hal. Aku hanya diam, diam saja. Tidak berbicara dengan siapapun. Sedih sekali tapi tidak bisa diungkapkan. Ya, aku tahu semua berjalan dalam kehendak-Nya, nafas, hidup, cinta, dan segalanya. Dan kali ini takdir yang sudah menjawab. Papi tidak lagi merasa kesakitan, tidak lagi mendengar suara keras yang aku sangat benar tahu betul apa suara keras itu. Suara yang sesungguhnya aku juga sangat tidak kuat mendengarnya. Kali ini benar, Papi sudah benar-benar tenang.

Esok harinya sebelum pemakaman, pagi hari aku jatuh sakit. Sekali lagi, aku sakit entah sakit apa. Mungkin anemia. Badan rasanya memang saat itu tidak berdaya. Sekali lagi, aku jatuh sakit ketika ada yang pergi. Pergi dari hidupku. Rapuh? Mungkin. Aku tidak sekuat batu karang memang. Aku adalah gadis kecil yang butuh sandaran dan topangan dari sosok pria yang mampu menenangkan aku, seperti Papi, seperti Kakek. Namun kali ini mereka memang telah benar-benar pergi. Tidak ada lagi sosok pria yang bisa menjadi figure seorang ayah untukku. Hingga aku benar-benar hidup dengan sebuah keharusan untuk kuat menjadi seorang gadis. Hingga saatnya aku dewasa seperti sekarang ini, dan kali ini aku benar-benar melihat sosok mana yang memiliki figure seorang ayah. Mungkin selain pamanku, karena jarang bertemu tak mungkin aku bersandar padanya. Mungkin benar kali ini tak lagi dari sosok tetuaku. Mungkin saja orang lain, tapi siapa? Kekasih kelak? Siapa kekasihku kelak? Siapa teman hidupku nanti? Apa dia memiliki figure seorang ayah yang penuh kasih sayang? Apa dia memiliki sosok yang halus, lembut dan penuh dengan kasih sayang seperti kakek? Apa dia menyukai anak kecil dan menghormati orang yang lebih tua seperti Papi? Apakah dia tidak keras dan kasar? Apakah dia apakah dia apakah dia? Selalu saja pertanyaan itu bermunculan saat aku mulai beranjak dewasa. Aku takut. Ya, aku takut. Aku takut. Aku takut bertemu dengan orang yang salah.

Secercah surat untuk Papi di Surga:
Pi, if heaven had a phone. I want to call you and hear your voice. And I want to share with you. I’m so tired, I want to share about my trouble but I don’t know, to whom I had to tell my problem. Aku tau Pi, Papi pasti mengetahui masalah terbesar dan terberatku saat ini. Aku tau, Papi pasti melihatnya dari Sana, aku tau Papi pasti benar-benar mengerti Papi pasti memahami kondisi suasana disini. Walaupun kita berbeda dimensi Pi, tapi aku tau Papi selalu ada disini. Di dalam hati aku. Aku tau Papi pasti sedih melihat semuanya, maka dari itu Pi, aku ingin sekali merubah semuanya. Merubah semuanya menjadi lebih baik, tapi aku tidak tau caranya Pi. Aku tidak tau harus bagaimana, bahkan untuk bicara saja aku tak mampu. Hanya bisa bicara dalam hati. Sakit Pi rasanya, sakiiiiit. Sangat sakit. Hanya bisa bicara dalam hati pada diri sendiri. Tidak bisa mengungkapkan kepada orang-orang. Pi, ingin sekali aku menyatukan kembali semuanya. Semua kaca yang sudah terpecah belah sama seperti hatiku yang telah hancur sejak kecil. Semua tulang yang sudah terpisah. Pi, do’akan aku dari Surga, bahwa aku akan bisa mewujudkan dan merubah semuanya, menyatukan segalanya yang sudah hancur. Karena aku yakin Pi, suatu saat nanti AKULAH yang akan menyatukan semuanya lagi. Aku yakin. Apapun yang terjadi. Hingga suatu saat nanti semuanya akan menjadi dekat kembali, aku yakin, Pi, aku yakin. Do’akanlah aku, Pi.
Pi, aku sangat merindukanmu. Aku menyayangimu, Pi.



And I don't want the world to see me
'Cause I don't think that they'd understand
When everything's made to be broken
I just want you to know who I am

0 komentar:

Posting Komentar