“nisa mau apa?”
“mau bulu-bulu, YangPi
itu.” Kataku sambil menunjukkan arumanis di sebuah pasar malam di salah satu daerah
di Jawa Tengah.
“mau yang warna
apa, Nak?” tanya Papi.
“mau yang
warnanya jambon ya, YangPi.” Jawabku.
Belasan tahun sudah terlewati dan rasanya cepat
sekali. Waktu itu aku masih sangat kecil. Aku diajak tinggal dirumah Eyang Papi
di Ungaran bersama ayah dan bundaku. Entah kenapa, karena apa, entahlah. Aku
tidak tau, yang aku tau saat itu hanya pergi berlibur atau tinggal di tempat
Papi. Malam itu Papi mengajakku pergi ke pasar malam didekat rumah. Aku diajak
jalan-jalan keliling pasar malam, dibeliin bulu-bulu (arum manis yang aku
selalu menyebutnya bulu-bulu, karena bentuknya lucu seperti bulu). Aku sayang
sekali sama Papi. Papi suka anak kecil, Papi menghormati orang-orang yang lebih
tua, Papi selalu menghargai orang-orang yang lebih muda. Aku sayang Papi. Papi
sayang aku, sepupu-sepupu aku. Kami semua diperlakukan sama. Aku sayang Papi.
Papi sangat ramah, papi lembut dan penyayang terutama terhadap anak kecil. Aku
suka. Dimana sosok seorang ayah yang selalu kutemukan pada diri Papi melebihi
ayahku sendiri. Eyang Papi. Aku sayang eyang papi.
Namun roda dunia memang berputar, terseret sudah
semua orang pada roda dunia. Kehidupan yang mulai berubah. Aku tidak pernah tau
lagi apapun hal yang terjadi, hingga aku beranjak remaja. Aku mendengar Papi
jatuh sakit. Sedih, sedih rasanya melihat Papi terbaring tidur di salah satu
kamar di rumah sakit di Yogyakarta. Kotaku, kotaku yang istimewa seperti
keluargaku yang selalu istimewa. Bagaimanapun, seperti apapun bentuknya. Tapi
tetap istimewa bagiku. Berbulan-bulan aku melihatmu dengan kondisi seperti itu.
Hampir setiap hari aku ikut ayah atau bunda untuk ke rumah sakit.
“Anisa… Anisa…”
Seperti itu kan Papi selalu memanggilku? Papi masih
sering memanggil namaku, atau adik sepupuku. Berbulan-bulan, setahun sudah,
sampai pada akhirnya roda dunia benar-benar berputar. Malam itu, di bulan
ramadhan. Aku yang masih menginjak SMP dan saat itu masih duduk-duduk di ruang
tengah di rumahku. Aku mendapati sebuah kabar entah dari siapa yang ada di
telfon saat itu aku tidak tahu pasti. Sebuah kabar duka, aku benar-benar tidak
percaya bahwa Papi sudah meninggalkan kami semua. Aku hanya diam. Diam saja.
Tidak histeris, tidak menangis, tidak pula melakukan banyak hal. Aku hanya
diam, diam saja. Tidak berbicara dengan siapapun. Sedih sekali tapi tidak bisa
diungkapkan. Ya, aku tahu semua berjalan dalam kehendak-Nya, nafas, hidup,
cinta, dan segalanya. Dan kali ini takdir yang sudah menjawab. Papi tidak lagi
merasa kesakitan, tidak lagi mendengar suara keras yang aku sangat benar tahu
betul apa suara keras itu. Suara yang sesungguhnya aku juga sangat tidak kuat
mendengarnya. Kali ini benar, Papi sudah benar-benar tenang.
Esok harinya sebelum pemakaman, pagi hari aku jatuh
sakit. Sekali lagi, aku sakit entah sakit apa. Mungkin anemia. Badan rasanya
memang saat itu tidak berdaya. Sekali lagi, aku jatuh sakit ketika ada yang
pergi. Pergi dari hidupku. Rapuh? Mungkin. Aku tidak sekuat batu karang memang.
Aku adalah gadis kecil yang butuh sandaran dan topangan dari sosok pria yang
mampu menenangkan aku, seperti Papi, seperti Kakek. Namun kali ini mereka
memang telah benar-benar pergi. Tidak ada lagi sosok pria yang bisa menjadi
figure seorang ayah untukku. Hingga aku benar-benar hidup dengan sebuah
keharusan untuk kuat menjadi seorang gadis. Hingga saatnya aku dewasa seperti
sekarang ini, dan kali ini aku benar-benar melihat sosok mana yang memiliki
figure seorang ayah. Mungkin selain pamanku, karena jarang bertemu tak mungkin
aku bersandar padanya. Mungkin benar kali ini tak lagi dari sosok tetuaku.
Mungkin saja orang lain, tapi siapa? Kekasih kelak? Siapa kekasihku kelak?
Siapa teman hidupku nanti? Apa dia memiliki figure seorang ayah yang penuh
kasih sayang? Apa dia memiliki sosok yang halus, lembut dan penuh dengan kasih
sayang seperti kakek? Apa dia menyukai anak kecil dan menghormati orang yang
lebih tua seperti Papi? Apakah dia tidak keras dan kasar? Apakah dia apakah dia
apakah dia? Selalu saja pertanyaan itu bermunculan saat aku mulai beranjak
dewasa. Aku takut. Ya, aku takut. Aku takut. Aku takut bertemu dengan orang
yang salah.
Secercah surat untuk Papi di Surga:
Pi, if heaven
had a phone. I want to call you and hear your voice. And I want to share with
you. I’m so tired, I want to share about my trouble but I don’t know, to whom I
had to tell my problem. Aku tau Pi, Papi pasti mengetahui masalah terbesar dan
terberatku saat ini. Aku tau, Papi pasti melihatnya dari Sana, aku tau Papi
pasti benar-benar mengerti Papi pasti memahami kondisi suasana disini. Walaupun
kita berbeda dimensi Pi, tapi aku tau Papi selalu ada disini. Di dalam hati
aku. Aku tau Papi pasti sedih melihat semuanya, maka dari itu Pi, aku ingin
sekali merubah semuanya. Merubah semuanya menjadi lebih baik, tapi aku tidak
tau caranya Pi. Aku tidak tau harus bagaimana, bahkan untuk bicara saja aku tak
mampu. Hanya bisa bicara dalam hati. Sakit Pi rasanya, sakiiiiit. Sangat sakit.
Hanya bisa bicara dalam hati pada diri sendiri. Tidak bisa mengungkapkan kepada
orang-orang. Pi, ingin sekali aku menyatukan kembali semuanya. Semua kaca yang
sudah terpecah belah sama seperti hatiku yang telah hancur sejak kecil. Semua
tulang yang sudah terpisah. Pi, do’akan aku dari Surga, bahwa aku akan bisa
mewujudkan dan merubah semuanya, menyatukan segalanya yang sudah hancur. Karena
aku yakin Pi, suatu saat nanti AKULAH yang akan menyatukan semuanya lagi. Aku
yakin. Apapun yang terjadi. Hingga suatu saat nanti semuanya akan menjadi dekat
kembali, aku yakin, Pi, aku yakin. Do’akanlah aku, Pi.
Pi, aku sangat
merindukanmu. Aku menyayangimu, Pi.
And I don't want the world to see me
'Cause I don't think that they'd understand
When everything's made to be broken
I just want you to know who I am
'Cause I don't think that they'd understand
When everything's made to be broken
I just want you to know who I am


0 komentar:
Posting Komentar