Air mataku mengering,
tangisku tak lagi bersuara..
Kesedihanku telah
menghilang, batinku masih terasa tergerak..
Mengapa ini harus
terjadi pada negeri yang kucintai?
Mengapa kita harus
nodai persaudaraan kita yang abadi?
Salahkah aku lahir
disini, Tuhan tempatkan aku di negeri ini?
Dia memberiku
disitu..
AKU BERBANGSA!!!
Sepertinya saya memang tidak pernah bisa jauh dari
yang namanya sebuah sejarah masa silam. Selalu saja masih terbayang dalam benak
saya tentang semua cerita dari almarhum Simbah, aku memanggilnya Simbah
walaupun bukan Nenek kandung saya. Simbah, orang yang sudah puluhan tahun
lamanya mengabdi pada keluarga besar saya. Pengabdiannya begitu besar, setianya
beliau terhadap keluarga besar ini sangat membuatku terenyuh. Betapa setianya
beliau dalam mengabdi pada keluarga besar saya. Saya menyayanginya seperti
menyayangi Nenek saya sendiri. Ya, saya ingat saat itu saya masih kecil dan
setiap hari saya harus dititipkan oleh Ibu saya di tempat bude saya dan saya
selalu bersama Simbah di rumah itu. Simbah sering cerita pada saya tentang
perjuangan-perjuangan pahlawan jaman dahulu, penjajahan-penjajahan yang pernah
terjadi di masa silam. Perjuangan eyang-eyang buyut, canggah, cicit atau apalah
itu saya sampai lupa nama tetua-tetua saya. Terutama untuk keluarga yang sudah
terbentuk dalam keluarga dan didikan ala militer sejak saat itu, walau saja
sekarang di antara kami tidak ada yang melanjutkan seperti para tetua, tetapi
tetap saja kedisiplinan keluarga besar ini sangat kuat.
Setiap kali saya ingat tentang cerita-cerita
perjuangan masa silam, saya sering berfikir betapa besar perjuangan para
pahlawan jaman dahulu. Perjuangan mereka untuk merebut kembali bangsa ini dari para
penjajah. Semua rakyat Indonesia saling bersatu padu, demi sebuah kemerdekaan
bangsa ini. Semua saling menopang, menguatkan dan menolong. Untuk merebut
kembali sebuah negara indah dengan gugusan ribuan pulaunya. Indonesia. Hingga akhirnya
kemerdekaan pun telah kami dapatkan sebagai bangsa Indonesia yang telah bebas
dari segala penjajahan. Semua rakyat Indonesia, semua orang Indonesia telah
menang, semuanya telah berhasil. Maka bersatulah engkau para seluruh rakyat Indonesia
dengan berbagai macam suku, ras, bahasa, dan agama. Ya, seharusnya memang
begitu. Tapi apa? Ternyata tidak demikian. Saya tahu betul, saya melihatnya,
saya telah melihatnya. Semuanya terjadi begitu cepat dan cepat berlalu. Tidak terbayang
dalam benak saya, bahwa ternyata setelah semua keberhasilan dan kemenangan itu
ternyata kali ini saya melihat sesama bangsa Indonesia saja sudah berperang. Sudah
saling menjatuhkan, tidak lagi saling menolong seperti saat negeri kita dijajah
oleh bangsa lain. Bahkan setiap manusia menginginkan kemenangan diri sendiri,
menginginkan menjadi yang nomor satu. Bahkan dalam negeri ini sendiri banyak
sekali orang yang saling membunuh dan menghancurkan, para mahasiswa, paara
berandal muda, bahkan ada pula tragedy kerusuhan pada tahun 1998 di Ibukota. Semua
orang telah dibutakan matanya oleh perekonomian, bahkan ketika financial Asia
yang melemah membuat rakyat sebangsa setanah air saling membunuh? Itu terlihat
sangat BODOH bukan? Apakah kita bangsa Indonesia telah lupa bahwa kita adalah orang-orang
seperjuangan yang seharusnya membela tanah air ini, bukan saling menuding
menyalahkan dan menjatuhkan satu sama lain?
Bahkan hingga saat-saat ini, banyak sekali berita
pembunuhan, dan berita-berita criminal lain yang mengerikan di negeri ini. Entah
apa motivasinya orang-orang yang seperti itu. Bukankah kita semua sama-sama
manusia yang berhak hidup? Lalu mengapa kita saling menjatuhkan, saling
membunuh dan menuding menyalahkan? Ingin menjadi yang nomor satu dan menjadi
orang “YANG PALING”? Bodoh! Tolol! Bukan
dengan cara menjatuhkan dan membunuh sesama manusia untuk menjadi ORANG YANG
PALING. Sejujurnya begitu perih dan sangat menyedihkan melihat semua ini.
Sesungguhnya apa yang terjadi pada bangsa saya? Walau
harus saya sunggingkan senyuman pada semua orang, tapi rasa itu selalu ada. Pilu,
getir saya rasakan dalam kalbu. Tak terbayang dalam benak saya, tak terukur di
seluruh nalar saya bahwa semua ini harus terjadi pada negeri ini, negeri yang
selalu saya cintai sampai saya mati. Apakah kita semua lupa bahwa kita semua
adalah satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air, kita semua memang berbeda
suku, ras, agama, bahkan sosial dan ekonomi, tapi ingatkah kita bahwa kita
pernah saling berjuang dan menopang, merembut kembali negeri indah ini? Apakah kita
semua telah lupa bahwa kita semua adalah saudara? Tidak perlu lagi saya
menangis dengan air mata, hanya saja batin saya sangat tergerak. MENGAPA KITA
HARUS NODAI PERSAUDARAAN KITA YANG ABADI?
Kadang saya selalu berfikir pula, salahkah saya
lahir disini? Tuhan tempatkan saya di negeri ini. Saya berbangsa! Saya mencintai
negeri indah ini! Bukankah memang sudah seharusnya kita sadar akan hal ini? Ya,
SEHARUSNYA memang begitu. Ingatkah kita pada perjuangan para tetua kita jaman
dahulu sebelum kemerdekaan? Bahkan mereka ada yang gugur dan terbunuh oleh
bangsa lain. Tapi mengapa sekarang kita yang sesama sebangsa setanah air saling
membunuh dan menghancurkan? Harusnya kita bangga dengan mereka para tetua kita,
seharusnya kita malu kepada mereka. Untuk kali ini benar, air mata pun kini
telah mengering.
Saya, hanya seorang mahasiswa biasa. Bukan apa-apa. Hanya
butiran debu di antara para pejabat dan orang-orang hebat yang memiliki pangkat
berbintang banyak. Tapi, saya punya jutaan mimpi. Namun, salah satunnya adalah
ingin merubah semuanya. Andai saja saya bisa memutar waktu dan memperlihatkan
kembali semua dimasa silam yang kelabu itu. Masa dimana Indonesia harus
berjuang mati-matian untuk bangsa ini. Agar kita semua saling sadar bahwa kita
semua adalah saudara. Saya ingin mengubah pola hidup bangsa ini. Seandainya saya
bisa. Seandainya saya bisa merubah semuanya, saya ingin merubah kedisiplinan
bangsa ini. Seandainya saya bisa, saya ingin menjunjung tinggi solidaritas dan
martabat bangsa ini. Tidak ada lagi yang mengemis di setiap pinggir jalan,
tidak ada lagi yang tertindas, tidak ada lagi yang hidupnya berakhir hanya
karena masalah perekonomian. Tidak ada lagi manusia di negeri ini yang malas
bekerja. Sehingga tidak ada lagi kasus-kasus mengerikan hingga terjadi sebuah
kematian ataupun saling membunuh, menindas dan melukai. Ingatlah satu hal, kita
semua adalah saudara. Kita berbangsa satu, berbahasa satu, kita Bhineka Tunggal Ika. Bukankah kalian
mencintai negeri ini kan? Negeri indah dengan gugusan ribuan pulaunya,
Indonesia. Indonesia, negeri kita bersama.
Lakukanlah yang
terbaik untuk negerimu, maka kamu akan menjadi sosok yang baik pula dalam
negaramu dan engkau akan menjadi bangsa yang baik pula bahkan hingga hati nurani
dan nasib yang baik sekalipun itu – Anisah Darumeutia.
Saya, Nisa. Saya mencintai negeri indah dengan
gugusan ribuan pulaunya, sampai saya mati, tanah air Indonesia!
PS : saya hanya mengungkapkan perasaan saja. Bukan menjatuhkan,
saya hanya ingin setiap orang sadar. Bukan mencacat, tapi saya ingin
kesejahteraan dan tidak ada lagi persaudaraan yang hancur. Itu saja. Saya tahu,
semua begitu indah dihadapan-Nya. Dan kini saya pasrah untuk negeri ini
kepada-Nya. Karena saya tahu, saya bukanlah apa-apa. Hanya mahasiswa biasa yang
menyukai seni. Saya tidak suka politik. Saya hanya mengungkapkan perasaan saja.
Bahkan apabila bisa, saya ingin meminta maaf untuk setiap sakit yang saya
ciptakan bahkan untuk orang-orang yang telah jauh dari saya, sahabat saya,
saudara saya atau bahkan keluarga saya sendiri hingga para tetua-tetua saya.




0 komentar:
Posting Komentar