About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Jumat, 31 Juli 2015

Bangsaku, Bangsamu. Negeri Kita Bersama, Indonesia.



Air mataku mengering, tangisku tak lagi bersuara..
Kesedihanku telah menghilang, batinku masih terasa tergerak..
Mengapa ini harus terjadi pada negeri yang kucintai?
Mengapa kita harus nodai persaudaraan kita yang abadi?
Salahkah aku lahir disini, Tuhan tempatkan aku di negeri ini?
Dia memberiku disitu..
AKU BERBANGSA!!!



Sepertinya saya memang tidak pernah bisa jauh dari yang namanya sebuah sejarah masa silam. Selalu saja masih terbayang dalam benak saya tentang semua cerita dari almarhum Simbah, aku memanggilnya Simbah walaupun bukan Nenek kandung saya. Simbah, orang yang sudah puluhan tahun lamanya mengabdi pada keluarga besar saya. Pengabdiannya begitu besar, setianya beliau terhadap keluarga besar ini sangat membuatku terenyuh. Betapa setianya beliau dalam mengabdi pada keluarga besar saya. Saya menyayanginya seperti menyayangi Nenek saya sendiri. Ya, saya ingat saat itu saya masih kecil dan setiap hari saya harus dititipkan oleh Ibu saya di tempat bude saya dan saya selalu bersama Simbah di rumah itu. Simbah sering cerita pada saya tentang perjuangan-perjuangan pahlawan jaman dahulu, penjajahan-penjajahan yang pernah terjadi di masa silam. Perjuangan eyang-eyang buyut, canggah, cicit atau apalah itu saya sampai lupa nama tetua-tetua saya. Terutama untuk keluarga yang sudah terbentuk dalam keluarga dan didikan ala militer sejak saat itu, walau saja sekarang di antara kami tidak ada yang melanjutkan seperti para tetua, tetapi tetap saja kedisiplinan keluarga besar ini sangat kuat.
Setiap kali saya ingat tentang cerita-cerita perjuangan masa silam, saya sering berfikir betapa besar perjuangan para pahlawan jaman dahulu. Perjuangan mereka untuk merebut kembali bangsa ini dari para penjajah. Semua rakyat Indonesia saling bersatu padu, demi sebuah kemerdekaan bangsa ini. Semua saling menopang, menguatkan dan menolong. Untuk merebut kembali sebuah negara indah dengan gugusan ribuan pulaunya. Indonesia. Hingga akhirnya kemerdekaan pun telah kami dapatkan sebagai bangsa Indonesia yang telah bebas dari segala penjajahan. Semua rakyat Indonesia, semua orang Indonesia telah menang, semuanya telah berhasil. Maka bersatulah engkau para seluruh rakyat Indonesia dengan berbagai macam suku, ras, bahasa, dan agama. Ya, seharusnya memang begitu. Tapi apa? Ternyata tidak demikian. Saya tahu betul, saya melihatnya, saya telah melihatnya. Semuanya terjadi begitu cepat dan cepat berlalu. Tidak terbayang dalam benak saya, bahwa ternyata setelah semua keberhasilan dan kemenangan itu ternyata kali ini saya melihat sesama bangsa Indonesia saja sudah berperang. Sudah saling menjatuhkan, tidak lagi saling menolong seperti saat negeri kita dijajah oleh bangsa lain. Bahkan setiap manusia menginginkan kemenangan diri sendiri, menginginkan menjadi yang nomor satu. Bahkan dalam negeri ini sendiri banyak sekali orang yang saling membunuh dan menghancurkan, para mahasiswa, paara berandal muda, bahkan ada pula tragedy kerusuhan pada tahun 1998 di Ibukota. Semua orang telah dibutakan matanya oleh perekonomian, bahkan ketika financial Asia yang melemah membuat rakyat sebangsa setanah air saling membunuh? Itu terlihat sangat BODOH bukan? Apakah kita bangsa Indonesia telah lupa bahwa kita adalah orang-orang seperjuangan yang seharusnya membela tanah air ini, bukan saling menuding menyalahkan dan menjatuhkan satu sama lain?
Bahkan hingga saat-saat ini, banyak sekali berita pembunuhan, dan berita-berita criminal lain yang mengerikan di negeri ini. Entah apa motivasinya orang-orang yang seperti itu. Bukankah kita semua sama-sama manusia yang berhak hidup? Lalu mengapa kita saling menjatuhkan, saling membunuh dan menuding menyalahkan? Ingin menjadi yang nomor satu dan menjadi orang “YANG PALING”?  Bodoh! Tolol! Bukan dengan cara menjatuhkan dan membunuh sesama manusia untuk menjadi ORANG YANG PALING. Sejujurnya begitu perih dan sangat menyedihkan melihat semua ini.
Sesungguhnya apa yang terjadi pada bangsa saya? Walau harus saya sunggingkan senyuman pada semua orang, tapi rasa itu selalu ada. Pilu, getir saya rasakan dalam kalbu. Tak terbayang dalam benak saya, tak terukur di seluruh nalar saya bahwa semua ini harus terjadi pada negeri ini, negeri yang selalu saya cintai sampai saya mati. Apakah kita semua lupa bahwa kita semua adalah satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air, kita semua memang berbeda suku, ras, agama, bahkan sosial dan ekonomi, tapi ingatkah kita bahwa kita pernah saling berjuang dan menopang, merembut kembali negeri indah ini? Apakah kita semua telah lupa bahwa kita semua adalah saudara? Tidak perlu lagi saya menangis dengan air mata, hanya saja batin saya sangat tergerak. MENGAPA KITA HARUS NODAI PERSAUDARAAN KITA YANG ABADI?
Kadang saya selalu berfikir pula, salahkah saya lahir disini? Tuhan tempatkan saya di negeri ini. Saya berbangsa! Saya mencintai negeri indah ini! Bukankah memang sudah seharusnya kita sadar akan hal ini? Ya, SEHARUSNYA memang begitu. Ingatkah kita pada perjuangan para tetua kita jaman dahulu sebelum kemerdekaan? Bahkan mereka ada yang gugur dan terbunuh oleh bangsa lain. Tapi mengapa sekarang kita yang sesama sebangsa setanah air saling membunuh dan menghancurkan? Harusnya kita bangga dengan mereka para tetua kita, seharusnya kita malu kepada mereka. Untuk kali ini benar, air mata pun kini telah mengering.
Saya, hanya seorang mahasiswa biasa. Bukan apa-apa. Hanya butiran debu di antara para pejabat dan orang-orang hebat yang memiliki pangkat berbintang banyak. Tapi, saya punya jutaan mimpi. Namun, salah satunnya adalah ingin merubah semuanya. Andai saja saya bisa memutar waktu dan memperlihatkan kembali semua dimasa silam yang kelabu itu. Masa dimana Indonesia harus berjuang mati-matian untuk bangsa ini. Agar kita semua saling sadar bahwa kita semua adalah saudara. Saya ingin mengubah pola hidup bangsa ini. Seandainya saya bisa. Seandainya saya bisa merubah semuanya, saya ingin merubah kedisiplinan bangsa ini. Seandainya saya bisa, saya ingin menjunjung tinggi solidaritas dan martabat bangsa ini. Tidak ada lagi yang mengemis di setiap pinggir jalan, tidak ada lagi yang tertindas, tidak ada lagi yang hidupnya berakhir hanya karena masalah perekonomian. Tidak ada lagi manusia di negeri ini yang malas bekerja. Sehingga tidak ada lagi kasus-kasus mengerikan hingga terjadi sebuah kematian ataupun saling membunuh, menindas dan melukai. Ingatlah satu hal, kita semua adalah saudara. Kita berbangsa satu, berbahasa satu, kita Bhineka Tunggal Ika. Bukankah kalian mencintai negeri ini kan? Negeri indah dengan gugusan ribuan pulaunya, Indonesia. Indonesia, negeri kita bersama.


Lakukanlah yang terbaik untuk negerimu, maka kamu akan menjadi sosok yang baik pula dalam negaramu dan engkau akan menjadi bangsa yang baik pula bahkan hingga hati nurani dan nasib yang baik sekalipun itu – Anisah Darumeutia.

Saya, Nisa. Saya mencintai negeri indah dengan gugusan ribuan pulaunya, sampai saya mati, tanah air Indonesia!

PS : saya hanya mengungkapkan perasaan saja. Bukan menjatuhkan, saya hanya ingin setiap orang sadar. Bukan mencacat, tapi saya ingin kesejahteraan dan tidak ada lagi persaudaraan yang hancur. Itu saja. Saya tahu, semua begitu indah dihadapan-Nya. Dan kini saya pasrah untuk negeri ini kepada-Nya. Karena saya tahu, saya bukanlah apa-apa. Hanya mahasiswa biasa yang menyukai seni. Saya tidak suka politik. Saya hanya mengungkapkan perasaan saja. Bahkan apabila bisa, saya ingin meminta maaf untuk setiap sakit yang saya ciptakan bahkan untuk orang-orang yang telah jauh dari saya, sahabat saya, saudara saya atau bahkan keluarga saya sendiri hingga para tetua-tetua saya.

0 komentar:

Posting Komentar