About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Rabu, 01 Juli 2015

Kita untuk Selamanya, Sahabat.



Catatan ini aku persembahkan untuk sahabatku, Monik. Happy Anniversery 5th Persahabatn Kita yaa…



Hai, namaku Anisah Darumeutia. Artinya wanita mulia yang taat dan beruntung. Ya, aku sangat beruntung mempunyai Ayah dan Ibu yang sangat menyayangiku bagaimanapun caranya, mempunyai adik-adik yang selalu perhatian denganku, mempunyai teman-teman yang selalu peduli denganku, mempunyai sahabat-sahabat yang udah kayak keluarga sendiri seperti (sebut saja) Pandawa 7 (karena terdiri dari 7 orang dan 7 karakter yang berbeda), dan pastinya sangat beruntung pula aku mempunyai sahabat seperti Monik. Skolastika Listya Monika. Dia adalah sahabatku dari kelas 1 SMA. Kami saling kenal sejak masih menjadi siswa baru. Kami tidak pernah sekelas, tapi kami selalu dekat. Sejak itu kami bersahabat.
Monik, orangnya lucu, dia gendut, putih dan baik hati. Dulu aku selalu panggil dia beruang kutub. Walaupun kadang suka emosian, suka keras kepala dan mau menang sendiri, tapi dia tetep sahabat aku. Banyak banget hal-hal yang udah kita lewatin bareng selama sekolah. Kalo aku lagi sedih dan lagi banyak masalah, Monik selalu ada buat aku. Selalu dengerin cerita aku dan ngga pernah bosen. Sebaliknya juga begitu. Dari yang sama-sama kenal yang namanya jatuh cinta, marahan karna hal-hal kecil, cemburu, konyol, gila, ngga punya malu, semuanya kita lakuin bareng-bareng.

Sebut saja kenangan tempo dulu…

Waktu kelas 1 SMA, aku berada di kelas 10A dan Monik berada dikelas 10B, tapi kita ngga pernah absen sama yang namanya ketemu, cerita dan main walaupun Cuma sekedar makan atau ke mall. Bahkan waktu itu pernah ditilang polisi karena kita salah jalan, it’s okay but no problem karena itu kita masih belum punya SIM dan udah berani turun ke jalan. Malu-maluin dan konyol? Banget. Tapi itu lucu, pengalaman yang nggak bakal terlupakan banget. Kita lewatin hari sama-sama. Berantem? Sering. Tapi selalu ada kata maaf dan memaafkan setiap kita berantem.
Waktu kelas 2 SMA pun, kita ngga sekelas. Kita sama-sama kelas IPS memang, tapi aku kelas 11IPS2 dan Monik kelas 11IPS1. Tapi kita masih selalu sering main bareng. Curhat bareng, dari hal-hal yang sedih banget sampe yang seneng banget semua-semuanya diceritain. Apapun itu. Sedekat itu, dan ngga terkecuali kita perna juga berantem. Tepatnya berantem lebih besar dan aku lupa tepat masalahnya karena apa. Hampir sebukan lebih ada kali ya kita berantem. Dan akhirnya kita bisa baikan lagi karena saat itu aku yang berusaha buat minta maaf walapun aku ngga tau saat itu siapa yang salah, aku lupa. Aku sengaja menitipkan kado untuknya. Bukan, bukan untuk apa-apa, tapi hanya saja aku ingin meminta maaf. Aku ngga mau ada permusuhan dianta aku dan Monik. Karena aku sadar, dia adalah sahabatku. Akhirnya kita baikan. Setiap istirahat sekolah pum aku selalu main sama dia, kadang juga aku suka main ke kelasnya. Sampe akhirnya kita harus naik ke kelas 3 SMA.
I miss that moment ngejar promo minuman di Calais


And finally, kelas 3 SMA guruku memang paling mengerti. Aku pun disatukan dengan Monik di dalam satu kelas yang sama. Kelas 12IPS1, kelas pecahan yang di acak lagi dan pada akhirnya aku disatukan dengan Monik. Sejak kelas 3 SMA aku disatukan dengan sahabat-sahabat dan teman-teman aku yang menyenangkan. Teman dan sahabat yang justru peduli walau kalo jaman SMA sebut saja berbeda kubu tapi pada akhirnya kelas kita tetap bisa bersatu. Bahkan satu kelas justru udah seperti saudara sendiri. Aku dan monik sudah sangat dekat, bahkan kita sudah saling sama-sama tau baik buruk dari diri kita masing-masing. Banyak perbedaan memang diantara kita, tapi itulah yang membuat kita bisa menjadi sahabat. Saling melengkapi. Sama-sama keras kepala memang, tapi setelah kita sama-sama tau karakter kita satu sama lain, kita selalu saling mencoba memahami. Masih sering berantem? Masih. Tapi selalu ada jalan untuk kata maaf. Menurutku kelas 3 SMA adalah masa yang paling indah. Dimana bisa merasa jadi anak paling keren itu adalah waktu kelas 3 SMA. Aku dan Monik selalu meluangkan waktu untuk bermain entah dirumahnya, atau dirumahku. Entah dari yang main, nognkrong bareng malem-malem di Raminten deket rumahnya Monik. Dari hal-hal konyol sampe malu-maluin pun kita jalanin sama-sama. Sama-sama support prestasi dan saling meyakini kalau kita bisa dalam pelajaran, itu asik banget by the way ternyata. Banyak banget hal yang udah aku laluin sama Monik. Dari yang sama-sama ngerasain yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama, kenal yang namanya cinta, kalo aku lagi seneng, Monik pasti lagi galau. Sebaliknya begitu. Mungkin itu sebabnya agar kita saling menghibur saat yang satu sedih maka satunya menghibur. Bahkan kita pernah sama-sama patah hati. Lucu memang, sama-sama galau dan ngga tau siapa yang ngehibur kita. Main ke mall, timezone, atlantis, makan sepuasnya, makan bakso, kantin waktu ada kelas, bolos di UKS, apalagi? Kalau lagi sama-sama galau semua bisa dilakuin cuma buat menghibur diri. Lupa lagi diet? Lupa lagi ninggiin badan? Iya, itu KITA. Aku dan Monik.




Satu per satu memori terekam, di dalam arti semangat yang tak pernah padam…

Waktu itu, menjelang ujian nasional. Saat itu ujian praktik, pelajaran bahasa jawa. Para murid menunggu panggilan giliran di depan kelas untuk menunggu giliran ujian praktik. Bagaimana bisa aku nangis didepan kelas hanya karena aku ngga bisa baca aksara jawa. Hahaha, lucu memang kalau di ingat. Berkali-kali ujian di depan Bu Febi dan selalu gagal. Akhirnya aku disuruh belajar dulu diluar kelas sama Bu Febi saat itu. Saat itu pula ada dua sahabat aku yang bantuin aku buat belajar baca aksara pelan-pelan. Yoga dan Monik, mereka bantuin aku buat belajar baca aksara jawa dengan benar dan pelan-pelan. Mereka bilang sama aku kalau aku bisa. Pasti bisa. Kadang kalau diingat-ingat lucu juga ya. Please, ini ujian dan kenapa aku nangis? Konyol banget kalo dipikir. Tapi akhirnya aku bisa lolos dari Bu Febi berkan Monik dan Yoga. Kedua sahabatku. Terima kasih..






It’s not the end, it's just the beginning…




Finally, hari kelulusan tiba. Kita semua lulus 100%. Dimana hari wisuda tiba. Kata orang, dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Aku ngga suka perpisahan. Aku ngga mau pisah sama temen-temen aku. Nggak mau pisah sama sahabat-sahabat aku. They are my comfort zone!! Nggak. Aku nggak mau pisah. Nggak mau semua berakhir. Kuliah? Kerja? Ah, tidak. Apa aku bakalan nemuin temen atau sahabat seperti mereka? Pasti orang-orang diluar lebih mengerikan. Pasti dunia luar lebih kejam dari pada hukuman dari guru BK. Namun semua harus tetap berjalan, ini bukan menjadi akhir. Tapi ini adalah sebuah awal untuk kita semua menyambut masa depan. Untuk memulai menyambut mimpi-mimpi kita yang udah pernah kita buat waktu SMA. Kita semua punya mimpi. Dan ini adalah saatnya kita memijakkan kaki ke dunia yang baru. Mulai dewasa, saatnya aku dan sahabat-sahabatku memulai hidup yang baru pula. Butuh perjuangan memang untuk penyesuaian ke dunia yang baru. Dikira gampang? NGGAK sama sekali. Yang biasanya kemana-mana ada temen-temen aku, sahabat aku, ada Monik. Sekarang enggak. Kemana-mana ya sendiri. Kerasa banget sendirinya. Semua udah pada sibuk masing-masing.
Hari itu belum belum waktunya ospek dan masih bulan puasa. Kurang lebih dua hari sebelum puasa, Monik main kerumahku. Saat itu rambutku panjang, asik kali ya sore-sore didepan rumah foto-foto. Setelah foto-foto ngga jelas aku bertanya sama Monik, “Mon kalau rambut aku pendek bagus ngga?” sambil memasukan rambutku ke dalam baju. Monik bilang, “bagus kok, kamu keliatan gemukan jadi imut.” Akhirnya aku memutuskan untuk potong rambut hari itu juga diantar oleh Monik. And say hallo for my new hair cut, oke rambutku akhirnya pendek sebahu dan kita mulai lagi buat foto-foto. Betapa konyolnya potong rambut Cuma buat selfie bareng sama Monik. Dan setelah itu, akan benar-benar tiba dimana hari OSPEK dimulai. Selamat datang hari dan hidup yang baru…

SMA, Senior High School Never Ending Story…
Saat suka duka bersama, berpacu dalam prestasi bersama… finally now, it's our time to make a history. That was the moment a part of sweet memory. Lembaran kertas baru pun terbuka…













Selamat menjadi mahasiswa, dimana segala sesuatunya harus dilakukan sendiri. Awal kuliah aku memang masih bisa sering bertemu dengan Monik. Pergi ke café, makan diluar, pergi cari minuman bubble, main. Tapi sejak aku mulai mengenal duniaku yang baru kita memang jarang bertemu lagi. Aku sibuk dengan segala rutinitasku dikampus, tugas yang numpuk. Duniaku memang sudah berubah. Dari senin sampai minggu sampai senin lagi, nggak pernah dirumah. Duniaku hanya dikampus. Rumah hanya seperti apartemen yang cuma buat numpang tidur mndi dan makan. Aku ngga punya waktu buat main, ngga ada waktu buat orang-orang tersayang, keluarga, sahabat, lagi pula mereka sibuk juga pikirku. So, it’s okay dong kalo aku sibuk juga. Dari pada aku ngerasa sendiri, pacar ngga punya, temen-temen aku udah punya kesibukan sendiri, sahabat-sahabat SMA sudah berbeda waktunya, kalo mau janjian sama Monik harus punya waktu yang sinkron. Bahkan kita pernah menyesuaikan jadwal kuliah. Tapi sama saja pada akhirnya kesibukanku makin bertambah. Pagi sampai malam, begitu seterusnya. Sampai akhirnya Monik benar-benar kesal denganku yang selalu sibuk. Dan aku selalu minta maaf dan mencoba meluangkan waktu untuk hanya sekedar main dan makan. Ya, begitulah hidupku. Aku sibuk bukan perkara inginku, hanya saja aku mencari keramaian, banyak teman dan mencari pelarian dari rumah. Tapi tidak satu orang pun yang memahami itu. Mereka hanya tau bahwa aku egois mengikuti keinginan diri sendiri untuk menjadi orang paling sibuk saat itu. Sampai pada akhirnya kesibukanku pelan-pelan berkurang dan akhirnya jadwalku tidak sepadat dulu. Aku punya waktu untuk hanya sekedar nonton film, makan, main sama Monik. Hingga tiba akhir tahun, dimana itu adalah akhir dari semua pekerjaanku tahun itu yang akan lengser dan regenerasi. Dan tiba pula dimana nyawa yang jadi taruhannya.
Aku sudah pernah bilang pada Monik, bahwa kesibukanku akan selesai setelah bulan Desember. Setelah itu kita bisa main lagi, bisa nongkrong cantik lagi, bisa hunting café lagi, atau apapun itu. Hanya saja sampai akhir Desember aku memang tidak ada waktu. Tapi semua salah, aku terlambat. Karena sebelum datang bulan Januari, sebuah accident mengerikan itu pun terjadi. Dan sejak itu duniaku berubah. Gelap. Gelap sebelum pada akhirnya aku harus bangkit lagi di tengah kehancuran.

Dan membuka lembaran baru untuk hidupku.

I miss that crazy time



Secercah surat untuk Monik, sahabatku…

Hai, Mon..  Mungkin ini alay, mungkin ini aneh. But I miss you, I miss our silly conversation. Aku ngga tau apa yang udah terjadi. Aku ngga tau apa yang salah, siapa yang salah. Aku ngga bisa apa-apa, aku ngga tau harus gimana. Aku ngga akan marah. Aku ngga pernah marah, aku cuma kangen aja. Dan sekarang emang bener-bener ngga tau harus gimana. Biarin aku cerita, Mon. Betapa hancurnya saat itu, saat aku berada pada titik terendah dan saat itu juga aku ngga pernah lagi tau kabarmu bahkan kamu benar-benar menghilang. Betapa hancurnya saat itu seorang pacar dan seorang sahabat pun pergi gitu aja. Sedangkan ngga ada penjelasan apapun dari keduanya. Oke aku rela kehilangan pacar karna mungkin dia memang bukan yang terbaik buat aku dan aku yakin aku akan dapat pria yang lebih baik lagi. Tapi sahabat? Aku ngga akan pernah rela kalo harus kehilangan sahabat aku sendiri. Sahabat yang udah terjalin 5 tahun lamanya. Bolehlah ada mantan pacar, boleh punya mantan yang banyak sekalipun atau gimanapun, ngga peduli. Tapi enggak buat yang namanya sahabat! Nggak ada yang namanya mantan sahabat. Aku nggak mau. Kamu akan tetap jadi sahabat aku, dulu, sekarang, besok, dan selamanya.
Aku udah tau semua tentang kamu, itu sebabnya kali ini aku ngga ngejar kamu ketika kamu lost contact sama aku. Bukan, bukan karena aku ngga peduli. Tapi karena aku pengen kamu dewasa dan belajar mandiri. Aku pengen kamu bisa ngertiin orang lain. Karena pada akhirnya kita nantinya akan berada pada hidup kita masing-masing. Pekerjaan, rumah tangga, atau apapun itu nantinya. At least ketika kita ketemu kita masih bisa cerita-cerita banyak sampe ke akar, ketawa bareng, bercanda bareng. Mungkin sejak kuliah aku memang ngga pernah ada waktu, aku tau mungkin kamu tau alasan aku menyibukan diri, tapi aku selalu berusaha buat ngeluangin waktu walaupun itu cuma sebentar. Aku selalu ngijinin kamu curhat sama aku ditengah kesibukan aku. Walaupun aku bales chat selalu lama tapi aku selalu dengerin cerita kamu. Saat ulang tahunmu, aku memang tidak bisa seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu datang kerumahmu bawa kue, bawa kado or something like that. Aku ngga bisa apa-apa saat itu. Aku ngga bisa jalan, aku ngga bisa kemana-mana. Selebihnya aku udah ngga boleh lagi bawa kendaraan sendiri. Kamu boleh marah, kamu boleh caci. Tapi pada kenyataannya memang begitu.
Mon, seharusnya sekarang udah 5 tahun kita sahabatan. Seharusnya ini semua dirayakan sesuai permintaanmu dulu. Kamu inget ngga, pernah bilang sama aku “besok kalo kita udah 5 tahun sahabatan harus di raya-in yaa..” kamu inget ngga kita pernah sama-sama berkhayal bagaimana 10 tahun kedepan ketika kita udah sama-sama berkeluarga, punya anak, punya suami atau apalah itu sebagainya terus kita reunian. Itu khayalan kita dulu. Lucu banget kalo diinget, kita masih umur belasan dan kita udah mikirin 10 tahun ke depan. Mon, apapun kesalahanku, aku minta maaf. Cukup sekali aja aku minta maaf.
Kadang sahabatan itu bukan harus selalu ketemu, tapi saling mengerti. Dan ketika sekalinya ketemu, disitulah saatnya quality time yang bener-bener berkualitas banget. Disitulah saatnya ketika sekalinya ketemu kita harus happy bareng dan gila-gilaan bareng. Bukan cari apa salah kita. Bukan cari masalah. Tapi saling mengerti, sama kan kayak hubungan? Sama kayak hubungan orang yang lagi LDR kan? Satu aja Mon aku minta, tetaplah jadi sahabat ku, jadi beruang kutub ku, dan jadilah dewasa. Someday kalau khayalan kita yang 10 tahun ke depan itu udah bener jadi nyata, aku harap kita masih bisa sama-sama kayak dulu. Bercanda bareng, quality time bareng, ajak keluarga kita masing-masing. Pasti lucu deh. Oke, mungkin ini aja yang bisa aku sampein. Ngga ngerti lagi mau ngomong apa. Udah kehabisan kata-kata. But, previously, happy anniversary 5th friendship. Semoga persahabatan kita bisa sampe seterusnya. Apapun perbedaan kita. Kamu tetep sahabat aku. Titik.


Regards,
Icha.
I Miss Our Silly Conversation


 

0 komentar:

Posting Komentar