And I don't want the world to see me, cause I don't think that they'd understand. When everything's made to be broken, I just want you to know who I am…
Aku, dibesarkan dalam keluarga besar yang bisa dibilang setengah seni dan setengah ala milirter. Keluarga yang masih sangat disiplin dalam beberapa hal dan penuh aturan ketat. Namun, masih juga penuh dengan berbagai macam kesenian didalamnya, apapun itu, lebih cenderung dengan music dan tarian.
Sejak kecil, Ayahku selalu mengajariku kedisiplinan,
tegas, keras, dan harus menjadi yang tahan banting. Namun, Bunda selalu
mengajariku bernyanyi dan bermain musik. Mendengarkan berbagai macam musik, merasakan
setiap alunan melodi dari yang lembut hingga up beat, juga bernyanyi, tetapi sejak aku bayi, Bunda lebih sering
mendengarkan aku sebuah musik klasik. Keduanya sama, berlatar belakang dengan keluarga
yang sangat disiplin dan tegas. Tapi aku, aku masih kecil. Masih sangat kecil.
Belum tahu apa hobiku, juga bakatku.
Bunda mengajariku kelembutan dan kasih sayang,
bahkan melalui musik dan bernyanyi. Aku menyukainya, sangat suka. Aku suka
bermusik, bernyanyi dan menari. Ketiga hal itu menurutku sangat menyenangkan,
apalagi aku termasuk orang yang sangat ekspresif. Dari ketiga hal itu aku mampu
mengekspresikan segala sesuatunya, bahkan perasaanku. Bunda selalu menunjukkan
aku sebuah panggung. Bahkan setiap ditunjukan sebuah panggung aku selalu ingin
berada di atas panggung itu. Aku selalu ingin berada di atas panggung dan
mengekspresikan segala yang ku mau. Aku masih kecil kala itu. Pernah juga saat
itu aku masih berumur sekitar 5 tahun. Bunda mendaftarkan aku mengikuti lomba
mewarnai di sebuah acara pameran perangko. Disana ada sebuah panggung yang
selalu ada pengisi acaranya, ada yang menari dan menyanyi. Saat itu aku belum
selesai mewarnai, tapi hasil karyaku sudah aku berikan pada bunda. Bunda
berkata padaku “ini kok belum selesai
udah mau dikumpulin?” dan aku masih ingat benar saat itu aku hanya menjawab
“udah, udah selesai. Aku bosan, Bunda.”
Lalu aku berlari menuju kea rah panggung dan memilih ikut bernyanyi dan menari
bersama pengisi acara yang sedang mengisi yang aku lupa tepatnya siapa yang
sedang mengisi acara.
Akhirnya aku menginjak sekolah dasar, Bunda
mendaftarkan aku pada sebuah Bina Vokalia di Jogja. Namanya Sasana Group
Vokalia Kuncup Mekar yang dinaungi oleh Bapak Priyo Dwiarso. Aku suka sekali
berada disana, selalu sering tampil di panggung, bahkan saat itu disorot oleh
salah satu stasiun televisi dari Jogja. Mulai dari situ aku semakin suka dengan
duniaku yang seperti ini. Bukan hal yang asing lagi jika aku selalu suka berada
didepan kamera, sejak balita pun setiap didepan kamera aku suka bergaya. Aku
suka kebebasan, aku suka berekspresi. Mengekspresikan apapun yang sedang aku
rasakan. Bahkan saat SD itu pula Bunda mendaftarkan aku mengikuti ekstrakulikuler
biola di sekolahku. Aku sangat menyukai les ini, namun sayangnya aku adalah
anak yang mudah bosan sehingga saat itu aku suka bolos les. Bukan, bukan karena
aku tidak menyukai gurunya atau ekstrakulikulernya, aku sangat menyukainya.
Hanya saja aku yang mudah bosan, tapi pada akhirnya aku dipantau lagi untuk
mengikuti kelas biola. Hingga pada akhirnya tiba saatnya tutup tahun ajaran dan
kelas biola pun harus tampil untuk mengisi acara, dan itu adalah pertama
kalinya aku tampil dipanggung dengan sebuah alat musik yang menurut aku sangat istimewa,
BIOLA. Karena menurut aku sebuah gesekan biola dan suaranya membuat suasana
menjadi sangat megah.
Aku pernah
bermimpi.
Aku bermimpi
memainkannya,
memainkan sebuah
biola.
Memainkannya
diatas panggung yang megah penuh cahaya itu,
dan
menunjukkannya pada Bunda.
Dan aku ingin
disetiap aku sedang tampil,
Bunda selalu
menyaksikan aku,
menyaksikan
dikursi paling depan.
Beranjak menjadi anak SMP hingga SMA, aku menemukan
dunia baru. Masih berhubungan dengan musik, dan kali ini aku menemukan sebuah floor dance. Lantai dansa kutemukan,
duniaku memulai. Dengan sebuah basic modern dance hingga basic balet aku
lakukan. Akhirnya sejak saat itu hidupku menyatu sama yang namanya dancing. Badanku saat itu bisa dibilang
memang sangat lentur, semua gerakan ala senam yoga pun aku bisa
sedikit-sedikit. Hal terfavorit yang paling sering aku lakukan saat itu adalah kayang
dari berdiri hingga berdiri lagi juga split kaki kanan. Aku sangat mencintai
duniaku saat itu, aku telah menyatu dengan music
and dancing. Bahkan aku benar-benar seperti tidak merasakan lelah.
Berputar
berputar berputar gemulai,
Berlari berlari
berlari, melayang…
Menari mengikuti irama
musik, hentak kaki yang mengikuti ketukan musiknya pun tiada pernah lelah. Bahkan
walau musik usai pun hatiku pun kan selalu menari. Setiap panggung seolah aku
kuasai dengan tarian. Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Dari menari dengan
alunan musik klasik, hingga music yang up
beat. Aku menikmati semuanya, aku menikmati semua iramanya. Teringat adalah
ketika aku dan teman-temanku menguasai setiap sudut GOR salah satu kampus
negeri di Jogja. Dengan basic balet yang kami punya, kami menguasai setiap
sudut GOR untuk menari.
Hingga akhirnya aku benar-benar menyelesaikan masa
sekolahku, tibalah aku menjadi seorang mahasiswa. Aku mulai berhenti dari
duniaku itu. Aneh rasanya, sepi. Tapi waktuku terbatas memang, sangat sibuk.
Hingga duniaku berubah lagi. Kali ini hidupku dipenuhi dengan bermacam-macam
event, acara, apapunlah something like
that. Dan lambat laun, semua berjalan begitu cepat hingga akhirnya aku
harus menemukan sebuah titik mengerikan. Aku hidup ditengah kehancuran.
Kedisiplinan yang keras yang memang pada akhirnya itu adalah menjadi sebuah
kekerasan hingga kasih sayang yang berubah menjadi sangat lemah. Hingga
kehancuran itu hampir saja nyawaku yang jadi taruhannya pada malam itu. Canda
tawa yang bagiku hanya untuk menunjukkan bahwa aku sudah bersahabat dengan
‘kebaik-baik sajaan ditengah kehancuran’.
![]() |
| Ini waktu SMA, waktu dance teater bareng Ten 2 Five |
Dan aku sadar kali ini, aku memang sekarang sedang
berada di atas panggung. Panggung sandiwara yang secara nyata. Bukan lagi dance
teater yang aku mainkan melainkan drama kehidupan, bukan lagi tarian yang ku
unjukkan diatas panggung melainkan tarian luka yang ku unjukkan, bukan lagi
musik indah yang aku agungkan untuk dimainkan, bukan lagi nyanyian anak-anak
ceria yang ku nyanyikan melainkan nyanyian ungkapan dari hati yang ingin
kucurahkan. Lewat lagu aku bicara, karena aku tak dapat bicara. Tidak, bukan,
aku tidak bisu. Hanya saja setiap kata dan ungkapan bahkan penjelasanku tak
pernah didengar. Maka dari itu aku selalu mengungkapkan segala sesuatunya
melalui lagu.
Setiap aku sedang mendengarkan musik klasik,
menonton sebuah orchestra atau ajakan teman untuk menari. Aku hanya tersenyum
seolah bayangan masa lalu yang menyenangkan itu datang. Musik dan bernyanyi
selalu mengingatkan aku pada masa kecilku, yang selalu bahagia. Masa kecil yang
belum tau apapun tentang luka. Namun menjadi tidak tau kadang adalah membuatku
baik-baik saja dalam ketidak baik-baik sajaan. Aku rindu, aku rindu masa
kecilku. Menari memang masih jadi inginku, jadi impianku menguasai setiap sudut
panggung. Tapi tidak lagi, kakiku tak sekokoh dulu, sejak kecelakaan malam itu,
tak bisa lagi ku seperti dulu, aku tidak berani. Aku masih ingin dan akan terus
ingin, tapi aku tidak berani. Ya, karena kini semuanya tak lagi sama.
Malam itu aku dengar suara biola, piano dan cello. Indah
suaranya, lembut, kurasakan kembali bayang-bayang masa kecil yang menyenangkan.
Ketika semua –terlihat– seperti baik-baik saja.
Alun musik
klasik terdengar disini, diatas panggung megah penuh cahaya.
Gesekkan biola
ayunkan langkahku, berputar melayang seakan terbang…
![]() |
| Can you look into my eyes? |
Tidak, aku tidak pernah meninggalkan
panggung
Aku masih berdiri tegak disini,
berdiri dengan kakiku sendiri
Lampu-lampu sorot kadang memang
membuatku silau
Tetapi aku tahu, dibalik semua itu,
Akulah yang memegang kendali cerita,
Aku tidak pernah meninggalkan
panggung, apalagi saat cerita sudah hampir setengah
Karena aku percaya, pada tanganku dan
dialog-dialog yang sudah ku hafal,
Hatiku tidak akan sendiri, dalam
setiap adegan
Aku percaya,
Penonton yang menudingku,
Sebenarnya mengagumi keberanianku
Penonton yang mungkin meneriakiku,
Sebenarnya menyesali kesempatan yang
kumiliki
Itu sebabnya, mengapa aku tidak akan
pernah meninggalkan panggung
Aku menikmati setiap dialog bahkan
iringan musik, walau aku hanya berada dibelakang panggung untuk saat ini
Tapi aku tidak pernah meninggalkan
panggung,
Aku selalu menunggu untuk kembali
lagi berada diatas panggung,
Menguasai disetiap sudutnya,
Dan meresapi lakonku
Aku tidak pernah meninggalkan panggung,
Karena ku yakin, pada setiap adegan
yang kumainkan,
Selalu ada do’a yang dititipkan…
Nisa,
20 tahun.













0 komentar:
Posting Komentar