About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Minggu, 28 Juni 2015

Hal-hal yang Selalu Dirindukan, Aku Tidak Pernah Meninggalkan Panggung…



And I don't want the world to see me, cause I don't think that they'd understand. When everything's made to be broken, I just want you to know who I am…



Aku, dibesarkan dalam keluarga besar yang bisa dibilang setengah seni dan setengah ala milirter. Keluarga yang masih sangat disiplin dalam beberapa hal dan penuh aturan ketat. Namun, masih juga penuh dengan berbagai macam kesenian didalamnya, apapun itu, lebih cenderung dengan music dan tarian.
Sejak kecil, Ayahku selalu mengajariku kedisiplinan, tegas, keras, dan harus menjadi yang tahan banting. Namun, Bunda selalu mengajariku bernyanyi dan bermain musik. Mendengarkan berbagai macam musik, merasakan setiap alunan melodi dari yang lembut hingga up beat, juga bernyanyi, tetapi sejak aku bayi, Bunda lebih sering mendengarkan aku sebuah musik klasik. Keduanya sama, berlatar belakang dengan keluarga yang sangat disiplin dan tegas. Tapi aku, aku masih kecil. Masih sangat kecil. Belum tahu apa hobiku, juga bakatku.
 


Bunda mengajariku kelembutan dan kasih sayang, bahkan melalui musik dan bernyanyi. Aku menyukainya, sangat suka. Aku suka bermusik, bernyanyi dan menari. Ketiga hal itu menurutku sangat menyenangkan, apalagi aku termasuk orang yang sangat ekspresif. Dari ketiga hal itu aku mampu mengekspresikan segala sesuatunya, bahkan perasaanku. Bunda selalu menunjukkan aku sebuah panggung. Bahkan setiap ditunjukan sebuah panggung aku selalu ingin berada di atas panggung itu. Aku selalu ingin berada di atas panggung dan mengekspresikan segala yang ku mau. Aku masih kecil kala itu. Pernah juga saat itu aku masih berumur sekitar 5 tahun. Bunda mendaftarkan aku mengikuti lomba mewarnai di sebuah acara pameran perangko. Disana ada sebuah panggung yang selalu ada pengisi acaranya, ada yang menari dan menyanyi. Saat itu aku belum selesai mewarnai, tapi hasil karyaku sudah aku berikan pada bunda. Bunda berkata padaku “ini kok belum selesai udah mau dikumpulin?” dan aku masih ingat benar saat itu aku hanya menjawab “udah, udah selesai. Aku bosan, Bunda.” Lalu aku berlari menuju kea rah panggung dan memilih ikut bernyanyi dan menari bersama pengisi acara yang sedang mengisi yang aku lupa tepatnya siapa yang sedang mengisi acara.


Akhirnya aku menginjak sekolah dasar, Bunda mendaftarkan aku pada sebuah Bina Vokalia di Jogja. Namanya Sasana Group Vokalia Kuncup Mekar yang dinaungi oleh Bapak Priyo Dwiarso. Aku suka sekali berada disana, selalu sering tampil di panggung, bahkan saat itu disorot oleh salah satu stasiun televisi dari Jogja. Mulai dari situ aku semakin suka dengan duniaku yang seperti ini. Bukan hal yang asing lagi jika aku selalu suka berada didepan kamera, sejak balita pun setiap didepan kamera aku suka bergaya. Aku suka kebebasan, aku suka berekspresi. Mengekspresikan apapun yang sedang aku rasakan. Bahkan saat SD itu pula Bunda mendaftarkan aku mengikuti ekstrakulikuler biola di sekolahku. Aku sangat menyukai les ini, namun sayangnya aku adalah anak yang mudah bosan sehingga saat itu aku suka bolos les. Bukan, bukan karena aku tidak menyukai gurunya atau ekstrakulikulernya, aku sangat menyukainya. Hanya saja aku yang mudah bosan, tapi pada akhirnya aku dipantau lagi untuk mengikuti kelas biola. Hingga pada akhirnya tiba saatnya tutup tahun ajaran dan kelas biola pun harus tampil untuk mengisi acara, dan itu adalah pertama kalinya aku tampil dipanggung dengan sebuah alat musik yang menurut aku sangat istimewa, BIOLA. Karena menurut aku sebuah gesekan biola dan suaranya membuat suasana menjadi sangat megah.



Aku pernah bermimpi.
Aku bermimpi memainkannya,
memainkan sebuah biola.
Memainkannya diatas panggung yang megah penuh cahaya itu,
dan menunjukkannya pada Bunda.
Dan aku ingin disetiap aku sedang tampil,
Bunda selalu menyaksikan aku,
menyaksikan dikursi paling depan.


Beranjak menjadi anak SMP hingga SMA, aku menemukan dunia baru. Masih berhubungan dengan musik, dan kali ini aku menemukan sebuah floor dance. Lantai dansa kutemukan, duniaku memulai. Dengan sebuah basic modern dance hingga basic balet aku lakukan. Akhirnya sejak saat itu hidupku menyatu sama yang namanya dancing. Badanku saat itu bisa dibilang memang sangat lentur, semua gerakan ala senam yoga pun aku bisa sedikit-sedikit. Hal terfavorit yang paling sering aku lakukan saat itu adalah kayang dari berdiri hingga berdiri lagi juga split kaki kanan. Aku sangat mencintai duniaku saat itu, aku telah menyatu dengan music and dancing. Bahkan aku benar-benar seperti tidak merasakan lelah.

Berputar berputar berputar gemulai,
Berlari berlari berlari, melayang…


Menari mengikuti irama musik, hentak kaki yang mengikuti ketukan musiknya pun tiada pernah lelah. Bahkan walau musik usai pun hatiku pun kan selalu menari. Setiap panggung seolah aku kuasai dengan tarian. Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Dari menari dengan alunan musik klasik, hingga music yang up beat. Aku menikmati semuanya, aku menikmati semua iramanya. Teringat adalah ketika aku dan teman-temanku menguasai setiap sudut GOR salah satu kampus negeri di Jogja. Dengan basic balet yang kami punya, kami menguasai setiap sudut GOR untuk menari.



Hingga akhirnya aku benar-benar menyelesaikan masa sekolahku, tibalah aku menjadi seorang mahasiswa. Aku mulai berhenti dari duniaku itu. Aneh rasanya, sepi. Tapi waktuku terbatas memang, sangat sibuk. Hingga duniaku berubah lagi. Kali ini hidupku dipenuhi dengan bermacam-macam event, acara, apapunlah something like that. Dan lambat laun, semua berjalan begitu cepat hingga akhirnya aku harus menemukan sebuah titik mengerikan. Aku hidup ditengah kehancuran. Kedisiplinan yang keras yang memang pada akhirnya itu adalah menjadi sebuah kekerasan hingga kasih sayang yang berubah menjadi sangat lemah. Hingga kehancuran itu hampir saja nyawaku yang jadi taruhannya pada malam itu. Canda tawa yang bagiku hanya untuk menunjukkan bahwa aku sudah bersahabat dengan ‘kebaik-baik sajaan ditengah kehancuran’.
 
Ini waktu SMA, waktu dance teater bareng Ten 2 Five

Dan aku sadar kali ini, aku memang sekarang sedang berada di atas panggung. Panggung sandiwara yang secara nyata. Bukan lagi dance teater yang aku mainkan melainkan drama kehidupan, bukan lagi tarian yang ku unjukkan diatas panggung melainkan tarian luka yang ku unjukkan, bukan lagi musik indah yang aku agungkan untuk dimainkan, bukan lagi nyanyian anak-anak ceria yang ku nyanyikan melainkan nyanyian ungkapan dari hati yang ingin kucurahkan. Lewat lagu aku bicara, karena aku tak dapat bicara. Tidak, bukan, aku tidak bisu. Hanya saja setiap kata dan ungkapan bahkan penjelasanku tak pernah didengar. Maka dari itu aku selalu mengungkapkan segala sesuatunya melalui lagu.
Setiap aku sedang mendengarkan musik klasik, menonton sebuah orchestra atau ajakan teman untuk menari. Aku hanya tersenyum seolah bayangan masa lalu yang menyenangkan itu datang. Musik dan bernyanyi selalu mengingatkan aku pada masa kecilku, yang selalu bahagia. Masa kecil yang belum tau apapun tentang luka. Namun menjadi tidak tau kadang adalah membuatku baik-baik saja dalam ketidak baik-baik sajaan. Aku rindu, aku rindu masa kecilku. Menari memang masih jadi inginku, jadi impianku menguasai setiap sudut panggung. Tapi tidak lagi, kakiku tak sekokoh dulu, sejak kecelakaan malam itu, tak bisa lagi ku seperti dulu, aku tidak berani. Aku masih ingin dan akan terus ingin, tapi aku tidak berani. Ya, karena kini semuanya tak lagi sama.

Malam itu aku dengar suara biola, piano dan cello. Indah suaranya, lembut, kurasakan kembali bayang-bayang masa kecil yang menyenangkan. Ketika semua –terlihat– seperti baik-baik saja.

Alun musik klasik terdengar disini, diatas panggung megah penuh cahaya.
Gesekkan biola ayunkan langkahku, berputar melayang seakan terbang…
Can you look into my eyes?



Tidak, aku tidak pernah meninggalkan panggung
Aku masih berdiri tegak disini, berdiri dengan kakiku sendiri
Lampu-lampu sorot kadang memang membuatku silau
Tetapi aku tahu, dibalik semua itu,
Akulah yang memegang kendali cerita,

Aku tidak pernah meninggalkan panggung, apalagi saat cerita sudah hampir setengah
Karena aku percaya, pada tanganku dan dialog-dialog yang sudah ku hafal,
Hatiku tidak akan sendiri, dalam setiap adegan

Aku percaya,
Penonton yang menudingku,
Sebenarnya mengagumi keberanianku
Penonton yang mungkin meneriakiku,
Sebenarnya menyesali kesempatan yang kumiliki

Itu sebabnya, mengapa aku tidak akan pernah meninggalkan panggung
Aku menikmati setiap dialog bahkan iringan musik, walau aku hanya berada dibelakang panggung untuk saat ini
Tapi aku tidak pernah meninggalkan panggung,
Aku selalu menunggu untuk kembali lagi berada diatas panggung,
Menguasai disetiap sudutnya,
Dan meresapi lakonku

Aku tidak pernah meninggalkan panggung,
Karena ku yakin, pada setiap adegan yang kumainkan,
Selalu ada do’a yang dititipkan…


Nisa,
20 tahun.
 




0 komentar:

Posting Komentar