When the accident moment, I think I would lose my life. But, well, I don’t. I think now, I found a new life. Be better from the best. Well, life must go on. And now, I will to living to my life and thanks God. I must got my alive now.. – Sa.
Hidup
itu kadang emang tidak selalu seperti yang diinginkan bukan? Mungkin, kadang
kita terlalu terlena dengan sebuah “gemilau” nya dunia dan hidup dalam
angan-angan begitupula dengan saya. Terlalu banyak hidup dengan angan-angan dan
kemilaunya dunia, juga dengan kesibukan-kesibukan yang kadang memang membuat
lupa segalanya termasuk “rumah”, sampai pada akhirnya sebuah hal buruk menimpa
saya.
Kamu
tahu, kadang ada begitu banyak hal buruk yang kita bayangkan, namun saat kita
jalani, tidaklah seburuk yang kita bayangkan. Ya, memang. Bahkan ketika kita
mengalami hal buruk pun seolah ini benar-benar buruk. Tapi ketika kita sudah
melewatinya, barulah sadar bahwa hal itu tidak seburuk dan segelap yang kita
bayangkan saat pertama.
Sebut
saja, mungkin ini adalah titik terendah saya saat sebuah accident mengerikan itu terjadi. Beberapa hari, beberapa jam,
bahkan beberapa menit sebelum kejadian itu saya dipenuhi dengan rasa takut yang
amat sangat, yang tidak jelas dengan beberapa hal, bahkan dengan beberapa orang
disekitar saya. Saya selalu dibayang-bayangi rasa takut kepada mereka. Hingga
akhirnya saya mengalami sendiri accident
itu. Bahkan ketika titik terendah saya, seolah dunia menjadi gelap. Tidak ada
sosok sandaran selain sosok Ibu. Tidak bisa bersandar dengan seorang Ayah,
ditinggal pula oleh sang kekasih. Saya benar-benar tidak menyangka dia yang
selama ini aku banggakan ternyata seperti itu. Pergi juga. Seolah semua
menghilang dalam sekejap. Berjalan saja aku tak mampu saat itu. Saya kehilangan
beberapa kesibukan yang sebenarnya itu sangat menghasilkan. Tidak boleh lagi
berkendara. Saat itu seolah semua lenyap. Hanya ada sosok Ibu yang selalu
disamping saya. Hilang sudah cahaya hidup saat itu. Hampir saja hilang semua
mimpi-mimpiku yang belum terwujud. Dan saya benar harus melewati ini semua.
Tapi
tetap saja, hari itu benar-benar datang. Hari ulang tahun pun tiba dan seolah
itu adalah hari ulang tahun terburuk seumur hidup saya. Tidak ada siapa-siapa. Tidak
bisa kemana-mana. Berdiri saja aku tak mampu. Rasanya hancur berkeping-keping
saat itu. Hanya ada sosok Ibu saya. Untung saja aku masih mempunyai teman-teman
SMA yang masih peduli dan selalu punya ide gila yang selalu membuat saya
tertawa. Walau saat itu saya benar-benar harus berusaha seperti baik-baik saja.
Hampir
sebulan lebih saya kehilangan semangat, tidak ada harapan rasanya untuk bangkit
kembali. Banyak hal yang membuat saya khawatir dan takut, banyak juga hal yang
membuat saya iri juga pesimis pada diri saya sendiri. Dan itu semua bermula
dari angan-angan saya tentang hari esok dalam kondisi seperti ini.
Bagaimana
nanti kalau.. bagaimana nanti jika.. bagaimana nanti bila.. dan yang lain
sebagainya.
Saya kehilangan rasa ingin tahu pada hari esok. What
about tomorrow? Saya tidak peduli. Walaupun saya selalu berusaha lapang
dada dan terlihat baik-baik saja. Walau pun setengah mati
saya berusaha terlihat baik-baik saja, saya tetap tidak tertolong. Setiap
malam, saya selalu berpikir sangat buruk. Saya merasa semua sirna, semua gelap.
Saya selalu merenung mengingat semua perbuatan saya selama ini; ‘Sa tau selama ini Sa sangat egois. Bahkan Sa
tidak peduli dengan diri sendiri, dengan kesehatan diri sendiri. Mungkin ini
yang disebut teguran dari Allah. Mungkin Sa disuruh istirahat.walau Sa terlihat
sehat dan baik-baik saja. Tapi waktu telah memforsir tubuhku. Peringatan dari
semua orang tidak pernah aku hiraukan. Tidak. Bukan begitu, aku punya alasan mengapa
aku memforsir tubuh ini dengan kesibukan berlebih dan sangat berat. Maafkan Nisa,
ya Allah.. Sa tau ini adalah peringatan untukku. Tapi kini nasi telah menjadi
bubur.
Ibu
saya pernah berkata kepada saya : ‘tidak
kah kamu lelah, Nak, dengan semua kesibukanmu. Tidak kah kau ingin beristirahat
sejenak dirumah saja?’tapi saya hanya mengikuti kemauan saya. Pernah ku katakana
pada Ibu saya;’Bunda, aku lelah. Sa tidak
sanggup. Sa sudah tidak kuat, Sa takut. Sa cuma bisa melakukan ini sekarang. Memforsir
dan memenuhi waktuku dengan segudang pekerjaan agar aku tidak takut melulu
dirumah. Itu saja, Bunda. Hanya itu alasanku. –walau pada akhirnya aku memang
sangat-sangat ingin berada dirumah ini.’
Padam
sudah rasanya hidup ini seolah semua semakin membeku. Sepi, sendiri dirumah. Apalah
arti sebuah istana jika hanya ada seorang diri. Hingga akhirnya perlahan saya
belajar sendiri untuk berjalan. Awalnya memang belajar bersama Ibu saya, tapi
saya tidak bisa terus menerus bergantung pada ibu saya. Saya harus bisa belajar
sendiri. Perlahan saya belajar, kata dokter saya tidak boleh jatuh saat belajar
berjalan, kata dokter harus ada orang yang mendampingi saya untuk belajar
berjalan. Tapi tidak, saya tau kesibukan orang-orang, saya tidak dekat dengan
ayah saya, kekasih pun telah pergi. Tidak ada lagi yang bisa ku gantungkan. Saya
benar-benar harus berjalan sendiri. Pada sat-saat seperti ini saya hanya bisa
memotivasi diri saya sendiri dengan berkata pada diri sendiri bahwa; Namaku Nisa. Aku cantik. Aku kuat. Aku tidak
takut dengan apapun, karena Allah selalu bersamaku. Hanya dengan cara itu
saya bisa bertahan.
Tapi
hari-hari itu sudah berada di belakang saya. Saya yang sekarang, sudah
bersahabat dengan ‘kebaik-baik sajaan’. Saya sudah bisa berjalan, saya sudah
bisa melakukan aktifitas seperti dulu. Hanya saja hidupku sudah tak sebebas dulu,
hanya saja waktuku kini sangatlah terbatas. Aku hanya bisa mengikuti
orang-orang. Mengikuti waktu orang lain. Ya, saya sadar mungkin dulu saya
terlalu memforsir diri. Banyak sekali kegiatan yang saya ikuti, bahkan berbagai
event yang saya pegang. Berbagai event sudah saya pegang, mungkin kini
saatnya saya memegang kehidupan saya sendiri. Mengarahkan hidup saya kepada
kehidupan yang benar didepan, menata hidup, karir, bahkan cinta. Walau dengan
cara seperti ini saya bersyukur masih bisa beraktifitas dan bertemu dengan
orang-orang yang saya cintai. Ibu saya, adik-adik saya, teman-teman saya.
Tapi
dengan pengalaman buruk ini saya justru menjadi sadar akan orang-orang yang tak
setia meninggalkan saya dalam kondisi titik terendah saya. Saya kini tau mana
yang pergi dan bertahan pada titik terendah saya. Untuk Ibu saya dan
teman-teman SMA saya yang masih selalu mendampingi saya saat kondisi terburuk
saya. Terima kasih sekali atas semuanya. Perlahan satu per satu mata saya
terbuka, bahwa ini memang jalan saya menuju jalan yang terbaik. Dijauhkan dari
orang-orang yang salah.
Dan
sekarang saya sadar, hal apa pun, pasti punya waktunya untuk berlalu. Tapi
yakinlah, setiap kehilangan yang terjadi, akan membuatmu lebih menghargai
mereka yang masih setia bertahan di sisimu sampai saat ini bahkan membuatmu
lebih menghargai waktu juga diri sendiri. Saya sadar selama ini saya tidak
peduli dengan diri sendiri.
Biar
saja saya menjalaninya dengan cara seperti ini. Sekarang saya mulai membuka
lembaran baru dalam hidup saya. Saya yakin dengan kesabaran dan dengan ‘kebaik-baik
sajaan’ saya saat ini akan mebuahkan hasil. Aka nada saatnya nanti saya
menemukan hasil yang memusakan, akan ada saatnya nanti dimana kesetiaan yang
sesungguhnya datang kepada saya, teman, sahabat, begitupula dengan cinta. Saya yakin,
akan ada cinta yang sejati yang mau mendampingi saya dalam kondisi seperti
apapun suatu saat nanti. Dan lembaran itu kini sudah saya buka lebar untuk
hidup saya yang lebih baik lagi, juga untuk menuju jalan lurus kepada-Nya.
Kesedihan
dan kekecewaan seperti apa pun pasti akan punya waktunya untuk selesai, asal
kamu tetap bertahan menjalani hidupmu dan mensyukuri apa yang masih tertinggal
di dalamnya. Begitu pun penantian akan hal-hal yang belum bisa kamu miliki
sampai saat ini. Mimpi-mimpi yang kerap membuat hatimu sesak, karena belum juga
berhasil kamu wujudkan. Well, I have been there so many times.
Tuhan
Maha Bijaksana, Tuhan Maha Pengasih Lagi Maha Pengampun. Selalu memberi apa
yang kamu butuhkan, bukan kamu inginkan. Selalu memberi kamu pengampunan dan
memberikan jalan dengan cara-Nya. Semua sudah diatur oleh-Nya. – Sa
Saat itulah, saya mencoba memahami makna ‘ikhlas’, menerima
bahwa segala yang pernah terjadi dan belum sempat terjadi dalam hidup saya
adalah bagian terbaik yang bisa saya miliki saat ini. Selama saya
menjalani hidup dengan memilih jadi manusia terbaik yang bisa saya upayakan.
Selama saya terus berusaha, berdoa, dan berharap dengan bijaksana—Tuhan tidak
akan pernah menutup matanya. Dia selalu mendengar harapan saya, bahkan mungkin
yang tidak mampu terucap sekali pun--karena terlalu besarnya harapan itu.
Karena akhirnya saya menyadari, bahwa ada begitu banyak doa
dan harapan yang bahkan saya lupa pernah menginginkannya, ternyata mampu benar
terjadi. Mungkin memang bukan terjadi di waktu yang saya inginkan, tapi jelas
terjadi di waktu yang paling tepat. Karena mungkin saja, bila saya memiliki
atau menjalani harapan itu di waktu yang lalu, hidup saya tidaklah sebaik ini.
Percayalah, bahwa Dia menjagamu, sebaik kamu menjaga
dirimu dalam doa-doa dan perbuatan baik yang kamu lakukan selama ini.
Percayalah.




0 komentar:
Posting Komentar