About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Minggu, 07 Juni 2015

Really, It’s Not That Bad!




When the accident moment, I think I would lose my life. But, well, I don’t. I think now, I found a new life. Be better from the best. Well, life must go on. And now, I will to living to my life and thanks God. I must got my alive now.. – Sa.

Hidup itu kadang emang tidak selalu seperti yang diinginkan bukan? Mungkin, kadang kita terlalu terlena dengan sebuah “gemilau” nya dunia dan hidup dalam angan-angan begitupula dengan saya. Terlalu banyak hidup dengan angan-angan dan kemilaunya dunia, juga dengan kesibukan-kesibukan yang kadang memang membuat lupa segalanya termasuk “rumah”, sampai pada akhirnya sebuah hal buruk menimpa saya.
Kamu tahu, kadang ada begitu banyak hal buruk yang kita bayangkan, namun saat kita jalani, tidaklah seburuk yang kita bayangkan. Ya, memang. Bahkan ketika kita mengalami hal buruk pun seolah ini benar-benar buruk. Tapi ketika kita sudah melewatinya, barulah sadar bahwa hal itu tidak seburuk dan segelap yang kita bayangkan saat pertama.
Sebut saja, mungkin ini adalah titik terendah saya saat sebuah accident mengerikan itu terjadi. Beberapa hari, beberapa jam, bahkan beberapa menit sebelum kejadian itu saya dipenuhi dengan rasa takut yang amat sangat, yang tidak jelas dengan beberapa hal, bahkan dengan beberapa orang disekitar saya. Saya selalu dibayang-bayangi rasa takut kepada mereka. Hingga akhirnya saya mengalami sendiri accident itu. Bahkan ketika titik terendah saya, seolah dunia menjadi gelap. Tidak ada sosok sandaran selain sosok Ibu. Tidak bisa bersandar dengan seorang Ayah, ditinggal pula oleh sang kekasih. Saya benar-benar tidak menyangka dia yang selama ini aku banggakan ternyata seperti itu. Pergi juga. Seolah semua menghilang dalam sekejap. Berjalan saja aku tak mampu saat itu. Saya kehilangan beberapa kesibukan yang sebenarnya itu sangat menghasilkan. Tidak boleh lagi berkendara. Saat itu seolah semua lenyap. Hanya ada sosok Ibu yang selalu disamping saya. Hilang sudah cahaya hidup saat itu. Hampir saja hilang semua mimpi-mimpiku yang belum terwujud. Dan saya benar harus melewati ini semua.
Tapi tetap saja, hari itu benar-benar datang. Hari ulang tahun pun tiba dan seolah itu adalah hari ulang tahun terburuk seumur hidup saya. Tidak ada siapa-siapa. Tidak bisa kemana-mana. Berdiri saja aku tak mampu. Rasanya hancur berkeping-keping saat itu. Hanya ada sosok Ibu saya. Untung saja aku masih mempunyai teman-teman SMA yang masih peduli dan selalu punya ide gila yang selalu membuat saya tertawa. Walau saat itu saya benar-benar harus berusaha seperti baik-baik saja.
Hampir sebulan lebih saya kehilangan semangat, tidak ada harapan rasanya untuk bangkit kembali. Banyak hal yang membuat saya khawatir dan takut, banyak juga hal yang membuat saya iri juga pesimis pada diri saya sendiri. Dan itu semua bermula dari angan-angan saya tentang hari esok dalam kondisi seperti ini.
Bagaimana nanti kalau.. bagaimana nanti jika.. bagaimana nanti bila.. dan yang lain sebagainya.
Saya kehilangan rasa ingin tahu pada hari esok. What about tomorrow? Saya tidak peduli. Walaupun saya selalu berusaha lapang dada dan terlihat baik-baik saja. Walau pun setengah mati saya berusaha terlihat baik-baik saja, saya tetap tidak tertolong. Setiap malam, saya selalu berpikir sangat buruk. Saya merasa semua sirna, semua gelap. Saya selalu merenung mengingat semua perbuatan saya selama ini; ‘Sa tau selama ini Sa sangat egois. Bahkan Sa tidak peduli dengan diri sendiri, dengan kesehatan diri sendiri. Mungkin ini yang disebut teguran dari Allah. Mungkin Sa disuruh istirahat.walau Sa terlihat sehat dan baik-baik saja. Tapi waktu telah memforsir tubuhku. Peringatan dari semua orang tidak pernah aku hiraukan. Tidak. Bukan begitu, aku punya alasan mengapa aku memforsir tubuh ini dengan kesibukan berlebih dan sangat berat. Maafkan Nisa, ya Allah.. Sa tau ini adalah peringatan untukku. Tapi kini nasi telah menjadi bubur.
Ibu saya pernah berkata kepada saya : ‘tidak kah kamu lelah, Nak, dengan semua kesibukanmu. Tidak kah kau ingin beristirahat sejenak dirumah saja?’tapi saya hanya mengikuti kemauan saya. Pernah ku katakana pada Ibu saya;’Bunda, aku lelah. Sa tidak sanggup. Sa sudah tidak kuat, Sa takut. Sa cuma bisa melakukan ini sekarang. Memforsir dan memenuhi waktuku dengan segudang pekerjaan agar aku tidak takut melulu dirumah. Itu saja, Bunda. Hanya itu alasanku. –walau pada akhirnya aku memang sangat-sangat ingin berada dirumah ini.’
Padam sudah rasanya hidup ini seolah semua semakin membeku. Sepi, sendiri dirumah. Apalah arti sebuah istana jika hanya ada seorang diri. Hingga akhirnya perlahan saya belajar sendiri untuk berjalan. Awalnya memang belajar bersama Ibu saya, tapi saya tidak bisa terus menerus bergantung pada ibu saya. Saya harus bisa belajar sendiri. Perlahan saya belajar, kata dokter saya tidak boleh jatuh saat belajar berjalan, kata dokter harus ada orang yang mendampingi saya untuk belajar berjalan. Tapi tidak, saya tau kesibukan orang-orang, saya tidak dekat dengan ayah saya, kekasih pun telah pergi. Tidak ada lagi yang bisa ku gantungkan. Saya benar-benar harus berjalan sendiri. Pada sat-saat seperti ini saya hanya bisa memotivasi diri saya sendiri dengan berkata pada diri sendiri bahwa; Namaku Nisa. Aku cantik. Aku kuat. Aku tidak takut dengan apapun, karena Allah selalu bersamaku. Hanya dengan cara itu saya bisa bertahan.


Tapi hari-hari itu sudah berada di belakang saya. Saya yang sekarang, sudah bersahabat dengan ‘kebaik-baik sajaan’. Saya sudah bisa berjalan, saya sudah bisa melakukan aktifitas seperti dulu. Hanya saja hidupku sudah tak sebebas dulu, hanya saja waktuku kini sangatlah terbatas. Aku hanya bisa mengikuti orang-orang. Mengikuti waktu orang lain. Ya, saya sadar mungkin dulu saya terlalu memforsir diri. Banyak sekali kegiatan yang saya ikuti, bahkan berbagai event yang saya pegang. Berbagai event sudah saya pegang, mungkin kini saatnya saya memegang kehidupan saya sendiri. Mengarahkan hidup saya kepada kehidupan yang benar didepan, menata hidup, karir, bahkan cinta. Walau dengan cara seperti ini saya bersyukur masih bisa beraktifitas dan bertemu dengan orang-orang yang saya cintai. Ibu saya, adik-adik saya, teman-teman saya.
Tapi dengan pengalaman buruk ini saya justru menjadi sadar akan orang-orang yang tak setia meninggalkan saya dalam kondisi titik terendah saya. Saya kini tau mana yang pergi dan bertahan pada titik terendah saya. Untuk Ibu saya dan teman-teman SMA saya yang masih selalu mendampingi saya saat kondisi terburuk saya. Terima kasih sekali atas semuanya. Perlahan satu per satu mata saya terbuka, bahwa ini memang jalan saya menuju jalan yang terbaik. Dijauhkan dari orang-orang yang salah.
Dan sekarang saya sadar, hal apa pun, pasti punya waktunya untuk berlalu. Tapi yakinlah, setiap kehilangan yang terjadi, akan membuatmu lebih menghargai mereka yang masih setia bertahan di sisimu sampai saat ini bahkan membuatmu lebih menghargai waktu juga diri sendiri. Saya sadar selama ini saya tidak peduli dengan diri sendiri.
Biar saja saya menjalaninya dengan cara seperti ini. Sekarang saya mulai membuka lembaran baru dalam hidup saya. Saya yakin dengan kesabaran dan dengan ‘kebaik-baik sajaan’ saya saat ini akan mebuahkan hasil. Aka nada saatnya nanti saya menemukan hasil yang memusakan, akan ada saatnya nanti dimana kesetiaan yang sesungguhnya datang kepada saya, teman, sahabat, begitupula dengan cinta. Saya yakin, akan ada cinta yang sejati yang mau mendampingi saya dalam kondisi seperti apapun suatu saat nanti. Dan lembaran itu kini sudah saya buka lebar untuk hidup saya yang lebih baik lagi, juga untuk menuju jalan lurus kepada-Nya.
Kesedihan dan kekecewaan seperti apa pun pasti akan punya waktunya untuk selesai, asal kamu tetap bertahan menjalani hidupmu dan mensyukuri apa yang masih tertinggal di dalamnya. Begitu pun penantian akan hal-hal yang belum bisa kamu miliki sampai saat ini. Mimpi-mimpi yang kerap membuat hatimu sesak, karena belum juga berhasil kamu wujudkan. Well, I have been there so many times.



Tuhan Maha Bijaksana, Tuhan Maha Pengasih Lagi Maha Pengampun. Selalu memberi apa yang kamu butuhkan, bukan kamu inginkan. Selalu memberi kamu pengampunan dan memberikan jalan dengan cara-Nya. Semua sudah diatur oleh-Nya. – Sa
 
Saat itulah, saya mencoba memahami makna ‘ikhlas’, menerima bahwa segala yang pernah terjadi dan belum sempat terjadi dalam hidup saya adalah bagian terbaik  yang bisa saya miliki saat ini. Selama saya menjalani hidup dengan memilih jadi manusia terbaik yang bisa saya upayakan. Selama saya terus berusaha, berdoa, dan berharap dengan bijaksana—Tuhan tidak akan pernah menutup matanya. Dia selalu mendengar harapan saya, bahkan mungkin yang tidak mampu terucap sekali pun--karena terlalu besarnya harapan itu. 

Karena akhirnya saya menyadari, bahwa ada begitu banyak doa dan harapan yang bahkan saya lupa pernah menginginkannya, ternyata mampu benar terjadi. Mungkin memang bukan terjadi di waktu yang saya inginkan, tapi jelas terjadi di waktu yang paling tepat. Karena mungkin saja, bila saya memiliki atau menjalani harapan itu di waktu yang lalu, hidup saya tidaklah sebaik ini.

Percayalah, bahwa Dia menjagamu, sebaik kamu menjaga dirimu dalam doa-doa dan perbuatan baik yang kamu lakukan selama ini. Percayalah.

0 komentar:

Posting Komentar