About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Rabu, 10 Juni 2015

Talking About Partner in Life



Hallo guys, kali ini saya mau cerita tentang yang namanya teman hidup. Tapi sebelumnya, at least boleh kali ya cerita tentang diri sendiri sebum ngomongin teman hidup. Well, saya emang lebih suka punya temen cowok. Kenapa? At least karena mereka bisa jaga rahasia dan pastinya ngga ribet sih kalo main sama mereka. Tapi ngga sedikit juga temen cewek. But, kebanyakan temen-temen cowok selalu bilang kalo saya ini galak. “Yaelah, lu galak banget sih Ca!”, “ah lu ngeselin banget sih”, “galak banget sih lu, Ca! pantes aja jomblo.”, “gimana mau punya pacar sih, Ca. jadi orang jangan galak-galak.”. Okey, itu kata temen-temen cowok sih. But, ya this is my life. Bukan galak kok maksut aku sih emang rada cuek tapi engga bermaksut galak. Tapi udah bawaan kali ya kalo sama temen sendiri emang begitu. Jadi galak, terus jomblo gitu? Ya namanya juga cewek, galak itu karena dia pengen melindungi dirinya sendiri dari ancaman para laki-laki yang jahat. Tapi kalau pada akhirnya dia bisa jatuh hati pada satu laki-laki, dia pasti akan menjadi lebih halus pada satu laki-laki itu. Kegarangan dan kegalakkan wanita pada laki-laki yang ia cintai itu akan berkurang dan pastinya mungkin itu sebabnya salah satu alas an kenapa cewek butuh banget temen hidup. Buat melindungi dirinya, dan pastinya keluarganya.
By the way talking about teman hidup. Hmm.. Banyak orang yang kalau ditanya ingin pasangan seperti apa, maka jawabannya bisa tidak cukup di lembar pertama yang diberikan. Kalau saya ditanya pertanyaan yang sama, jawaban saya cukup 6 kata; setia, taqwa, konsisten, pengertian, tidak keras dan bertanggung jawab. Banyak? Iya karena lebih dari 1 kata, tapi tidak berlembar. Kata orang punya pacar itu untuk calon teman hidup nantinya. Banyak sekali yang suka bertanya. Kadang saya suka kelimpungan untuk menjawabnya.

Ada yang deketin kan? Ngga pengen punya cowok, Sa?




Ya mau, tapi gimana hati belum pas. Mau maksa punya cowok tapi kalo hatinya ngga sreg dan pas buat apa? Kalo nggak cinta gimana? Bahagia? Juga enggak kan.

Ngga pengen punya cowok kaya, Sa?


Ya mau, tapi saya sudah pernah ngerasain hidup banyak uang. Dituntut segala materi sama orang-orang sekeliling saya. Tapi saya nggak bahagia. Rejeki yang cukup saja, bisa untuk kebutuhan pokok sehari-hari, liburan, dan sekolah anak-anak. Tapi kalo dikasih lebih ya alhamdulillah :)

Ngga pengen punya cowok ganteng, Sa?


Ya mau, tapi ngga perlu seganteng Harjunot Ali juga sih. Dan yang penting bisa buat saya dan keluarga saya nyaman dan selalu mau dampingin saya dalam kondisi apapun itu sudah cukup. Lagipula jaman sekarang kan cowok ganteng sukanya sama yang ganteng juga :(

Ngga pengen punya cowok pintar, Sa?

Kalau dia taqwa, dia pasti pandai. Karena dia tahu, salah satu amalan yang tidak akan terputus walau seseorang sudah meninggal adalah ‘ilmu yang bermanfaat’.

Tapi cowok taqwa kan kolot, Sa!


Hey, siapa bilang? Tidak semuanya begitu. Gini nih kalo punya pikiran yang ‘cetek’. Pikiran macem gini nih yang membuat orang nggak mau lagi jadi taqwa. Bahkan sesama muslim disekitarnya, menganggap taqwa itu ‘aneh dan kolot’. Padahal enggak, menurut saya semua itu tergantung orangnya masing-masing. Taqwa itu seharusnya ya pandai mengikuti perkembangan jaman. Karena pengetahuannya luas, karena hatinya luas, karena pikirannya nggak sempit.
It’s okay, ketika muda masih bandel itu wajar setidaknya kita bisa berubah menuju yang positif. Tapi bukan berarti berprinsip bahwa ketika  muda itu saatnya cobain segala kenakalan .

Oh, terus kenapa sekarang masih aja jomblo? Itu cowok yang  taqwa juga banyak kan?
Well,ini pertanyaan kayaknya emang menjurus banget. Iya, cowok yang taqwa itu banyak, tapi aku masih trauma aja. Kenapa? Taqwa sih, tapi ketaqwaannya tidak setimpal dengan perbuatannya. Taqwa hanya semata-mata melihat untuk akhirat saja, tidak untuk duniawinya. Keras pula wataknya. Lalu keluarganya nanti mau dikasih makan apa? Bisa cepet mati kali kalo berdo’a terus buat akhirat, tapi nggak makan. Harusnya setimpal dong duniawi dan akhirati-nya. Konsisten? Enggak. Nyaman? Jelas enggaklah!

Oh, terus sekarang masih belum bisa move on juga sama si “bapak presiden”?
Hell yeah! Ini pertanyaan yang paling bikin kesel. Iya sih dulu emang nggak move on – move on berapa tahun gitu sampe diomelin orang banyak. Sahabat-sahabat cewek maupun cowok pun udah ngomel macem emak-emak di pasar. Tapi semakin kesini mata saya semakin terbuka kok. Hebat memang, tapi tidak menghargai wanita. Ninggalin? Iya. Artinya nggak tanggungjawab dong ya, Kak? Setau saya kalo cowok hebat itu akan bertanggung jawab dengan semua perkataannya dan juga menghargai wanitanya. Bukan ninggalin wanitanya ketika wanitanya pada titik terendah dalam hidupnya. Bukan “keras”in wanitanya juga. Gitu kak. Dan sudah saya putuskan untuk membuka lagi lembaran baru yang bersih. :) 
Let me tell you, saya hampir saja kehilangan nyawa kali ya akibat besarnya rasa takut dengan orang-orang yang keras sama saya ini. Taqwa, tapi keras. Hebat, tapi keras. Dan ketika hampir saja saya terbunuh, tetap saja saya yang salah dikata oleh mereka. Bagaimana tidak, saya takut bilang “tidak”. Dan akhirnya apa yang hilang dari hidup saya saat itu? BANYAK. Dan waktu, nggak akan pernah bisa kembali. Mau beli di mana pun, juga nggak ada yang jual. Kadang saya menyesal menjadi orang paling takut sedunia. Tapi apalah, nasi sudah menjadi bubur. Akhirnya saya sadar bagaimana cara saya harus bisa mengahadapi orang, bagaimana cara saya untuk bisa survive. Dan sejak itu saya melihat dua sosok manusia yang sangat keras. Dan dari situ saya bisa melihat bagaimana saya harus memilih perjalanan hidup saya untuk yang lebih baik. Bukan mengulang sejarah.
Sejak kecil saya sudah menghadapi satu sosok orang yang sangat keras, saat sudah dewasa pun aku bertemu lagi sosok manusia yang keras. Dua manusia tersebut mungkinlah hampir sama watak. Saya takut? Jelas. Takut untuk melangkah. Tapi satu sosok malaikat tanpa sayap mengajari saya, menekankan pada saya bahwa tidak semua laki-laki itu keras. Tidak semua. Saya akan menemukan sosok manusia yang lembut dan bertanggungjawab. Dan menyayangi saya dan keluarga saya. Walaupun tidak seperti dirinya, Bunda. Sosok malaikat tanpa sayap yang selalu mendukung saya dan mendorong saya juga menekankan saya bahwa saya bisa. Saya tidak memiliki orangtua yang sempurna, and I’m deal with it. Because nobody’s perfect. Siapa pun bisa mengecewakanmu. Tidak terkecuali orang yang melahirkanmu ke dunia. Dan itu bukan salahmu. Tidak perlu lantas merasa tidak berharga, karena seseorang menganggapmu tidak seberapa berharga. Kalau masih takut mati, maka hiduplah baik-baik.
“Banyak sekali hal buruk yang memberi keburukan dalam hidup saya. Padahal saya, tidak melakukan apa pun yang buruk pada hidup saya sendiri. Kamu tahu, itulah jahatnya hal-hal buruk. Tanpa kamu sadari, hal-hal buruk tersebut ikut melukai banyak orang tidak bersalah yang ada di sekitarmu. Tidak lagi hanya berhubungan dengan hidupmu sendiri. Banyak keputusanmu yang salah, pada akhirnya menghancurkan banyak hati—selain hatimu sendiri.” – Fa.

Dan kenapa saya ingin memiliki pasangan yang setia?


My mother taught me how to love. My father taught me how to leave, would you like to teach me how to laugh?
Karena pada akhirnya, kamu perlu hidup bersama dia yang akan rela mencebokimu saat kamu sakit. Menuntunmu saat kamu tidak bisa berjalan. Mendoakanmu saat hidupmu tengah sempit. Dan tetap mencintaimu setelah banyak kekecewaan yang terjadi dalam kehidupan kalian. Karena pada akhirnya nanti kamu akan membutuhkan kehidupan yang nyaman dengan seseorang yang mendampingimu saat kau tua nanti.
Saya pernah jatuh bangun menghadapi hidup saya. Bahkan ada-ada saja yang terjadi terhadap saya selama ini. Dari yang saya opname masuk rumah sakit, saya operasi, saya kecelakaan parah hingga 3 kali. Dan paling parah adalah kecelakaan yang ke tiga itu dan berharap tidak ada lagi hal mengerikan itu.hampir saja saya kehilangan segalanya. Tapi tidak, selalu ada Bunda saya yang mendampingi saya selama ini. Dari yang saya sedih akibat teman-teman saya waktu SD, dari yang saya patah hati, atau berbagai macam masalah yang membuat saya mengeluh. Selalu sada Bunda saya yang mendampingi saya tanpa lelah. Walau saya sempat berada pada titik paling down yang membuat saya patah semangat, ingin marah pada semua, menjadi manusia paling murung sedunia mungkin. Tapi Bunda saya tidak pernah lelah mengahdapi saya, tidak pernah berhenti mendorong saya dan membuat saya agar bangkit lagi membuka kehidupan yang lebih baik. Semoga kamu nggak perlu melewatinya. (well, ini adalah salah satu pengalaman hidup yang kalau kamu nggak rasain sendiri, kamu nggak akan tahu gimana beratnya. Lucky me pernah dikasih kesempatan sama Tuhan buat merasakannya. Semoga kamu nggak perlu melewatinya  ya. Saya pernah merasa sedih, marah, dan benci saat mengalaminya. Tapi waktu akhirnya membuat saya menyadari bahwa pernah melewatinya adalah waktu yang sangat berharga. Dan berhasil melewatinya adalah sebuah hadiah yang luar biasa.)
At least, saya belajar dari Bunda. Betapa setia dan sabarnya menghadapi saya yang selalu bersahabat dengan ke ‘ada-ada sajaan’ yang selalu terjadi pada saya. Lucu sih kadang tapi nggak enak juga sih dengan ke ‘ada-ada sajaan’ nya itu. Sakit kak, hahaha. Ya, Bunda sangat sabar sekali menghadapi saya. Dengan penuh cinta dan kasih sayangnya dan ke-taqwaanya pula Bunda selalu mendampingi saya dalam kondisi apapun. Pengalaman itu yang membuat saya tidak lagi menjadi manusia yang sama seperti saya yang sebelumnya. Pengalaman yang akhirnya membuat saya tersadar, bahwa cinta, tidaklah cukup menjadikan seseorang mampu setia. Tapi taqwa dan kelembutan penuh kasih sayang mampu melakukannya.


Menikah, bukanlah hanya perkara kamu dan dia. Tapi juga perkara hidup anak-anakmu. Menikahlah dengan dia yang mau sama-sama tumbuh menjadi orangtua yang semestinya. Dan menjadi pasangan yang setia menggenggammu apa pun yang terjadi.
Siapa pun bisa menjadi pembohong dalam kehidupanmu. Bahkan orang yang paling kamu cintai sekali pun. Saya pernah dibohongi yang begitu besar, kebohongan yang bisa jadi alasan saya untuk merusak diri saya sendiri. Tapi saya tidak perlu melakukan kebohongan yang sama untuk menunjukkan bahwa saya tengah terluka. Saya tidak perlu terjun ke jurang yang sama, hanya untuk menunjukkan bahwa saya juga mampu bertahan dalam kehancuran.
Dewasa adalah saat kamu mampu tetap hidup dengan baik, seperapa pun banyak kotoran yang dilemparkan manusia lain ke wajahmu.



Well, balik lagi ke pasangan. Seberapa pun ganteng, kaya, pinter, tajir pasanganmu. Kalau dia nggak ‘taqwa, tanggung jawab dan konsisten’ –segalanya akan hilang. SEGALANYA. Bahkan, dia bisa membuatmu kehilangan dirimu sendiri.

Kalau saya sih selalu ingin punya anak yang bisa belajar sholat dan mengaji dari orangtuanya sendiri. Bisa belajar kebijaksanaan dari ayahnya, bisa belajar kasih dan sayang dari ibunya. Dan bisa belajar kejujuran dari kedua orangtuanya. Bisa mendapatkan kenyamanan dari orang tuanya pula. Kenyamanan, bukan kekerasan dalam didikan. One of my coolest dreams I guess.
 
Yuk, sama-sama belajar hidup yang tenang Kak. Semoga one day, kita pun dipertemukan dengan pasangan yang selalu mampu ‘menenangkan’ kita :)

Rosul saya Muhammad selalu berpesan, kalau mau hidup tenang, maka urusan dunia lihatnya ke bawah, sedang urusan ibadah lihatnya ke atas.”

Peace out!
Nisa.

0 komentar:

Posting Komentar