Hallo guys, kali
ini saya mau cerita tentang yang namanya teman hidup. Tapi sebelumnya, at least boleh kali ya cerita tentang
diri sendiri sebum ngomongin teman hidup. Well,
saya emang lebih suka punya temen cowok. Kenapa? At least karena mereka bisa jaga rahasia dan pastinya ngga ribet
sih kalo main sama mereka. Tapi ngga sedikit juga temen cewek. But, kebanyakan temen-temen cowok selalu
bilang kalo saya ini galak. “Yaelah, lu galak banget sih Ca!”, “ah lu ngeselin
banget sih”, “galak banget sih lu, Ca! pantes aja jomblo.”, “gimana mau punya
pacar sih, Ca. jadi orang jangan galak-galak.”. Okey, itu kata temen-temen
cowok sih. But, ya this is my life. Bukan galak kok maksut aku sih emang rada cuek
tapi engga bermaksut galak. Tapi udah bawaan kali ya kalo sama temen sendiri
emang begitu. Jadi galak, terus jomblo gitu? Ya namanya juga cewek, galak itu
karena dia pengen melindungi dirinya sendiri dari ancaman para laki-laki yang
jahat. Tapi kalau pada akhirnya dia bisa jatuh hati pada satu laki-laki, dia
pasti akan menjadi lebih halus pada satu laki-laki itu. Kegarangan dan
kegalakkan wanita pada laki-laki yang ia cintai itu akan berkurang dan pastinya
mungkin itu sebabnya salah satu alas an kenapa cewek butuh banget temen hidup. Buat
melindungi dirinya, dan pastinya keluarganya.
By the way talking about teman
hidup. Hmm.. Banyak orang yang kalau ditanya ingin
pasangan seperti apa, maka jawabannya bisa tidak cukup di lembar pertama yang
diberikan. Kalau saya ditanya pertanyaan yang sama, jawaban saya cukup 6 kata; setia,
taqwa, konsisten, pengertian, tidak keras dan bertanggung jawab.
Banyak? Iya karena lebih dari 1 kata, tapi tidak berlembar. Kata orang punya
pacar itu untuk calon teman hidup nantinya. Banyak sekali yang suka bertanya. Kadang
saya suka kelimpungan untuk menjawabnya.
Ada yang deketin kan? Ngga pengen
punya cowok, Sa?
Ya
mau, tapi gimana hati belum pas. Mau maksa punya cowok tapi kalo hatinya ngga
sreg dan pas buat apa? Kalo nggak cinta gimana? Bahagia? Juga enggak kan.
Ngga pengen punya cowok kaya, Sa?
Ya
mau, tapi saya sudah pernah ngerasain hidup banyak uang. Dituntut segala materi
sama orang-orang sekeliling saya. Tapi saya nggak bahagia. Rejeki yang cukup
saja, bisa untuk kebutuhan pokok sehari-hari, liburan, dan sekolah anak-anak. Tapi kalo dikasih lebih ya alhamdulillah :)
Ngga pengen punya cowok ganteng,
Sa?
Ya
mau, tapi ngga perlu seganteng Harjunot Ali juga sih. Dan yang penting bisa
buat saya dan keluarga saya nyaman dan selalu mau dampingin saya dalam kondisi
apapun itu sudah cukup. Lagipula jaman sekarang kan cowok ganteng sukanya sama
yang ganteng juga :(
Ngga pengen punya cowok pintar, Sa?
Kalau
dia taqwa, dia pasti pandai. Karena dia tahu, salah satu amalan yang tidak akan
terputus walau seseorang sudah meninggal adalah ‘ilmu yang bermanfaat’.
Tapi cowok taqwa kan kolot, Sa!
Hey,
siapa bilang? Tidak semuanya begitu. Gini nih kalo punya pikiran yang ‘cetek’. Pikiran
macem gini nih yang membuat orang nggak mau lagi jadi taqwa. Bahkan sesama muslim
disekitarnya, menganggap taqwa itu ‘aneh dan kolot’. Padahal enggak, menurut
saya semua itu tergantung orangnya masing-masing. Taqwa itu seharusnya ya
pandai mengikuti perkembangan jaman. Karena pengetahuannya luas, karena hatinya
luas, karena pikirannya nggak sempit.
It’s okay,
ketika muda masih bandel itu wajar setidaknya kita bisa berubah menuju yang
positif. Tapi bukan berarti berprinsip bahwa ketika muda itu saatnya cobain segala kenakalan .
Oh, terus kenapa sekarang masih aja
jomblo? Itu cowok yang taqwa juga banyak
kan?
Well,ini
pertanyaan kayaknya emang menjurus banget. Iya, cowok yang taqwa itu banyak,
tapi aku masih trauma aja. Kenapa? Taqwa sih, tapi ketaqwaannya tidak setimpal
dengan perbuatannya. Taqwa hanya semata-mata melihat untuk akhirat saja, tidak
untuk duniawinya. Keras pula wataknya. Lalu keluarganya nanti mau dikasih makan
apa? Bisa cepet mati kali kalo berdo’a terus buat akhirat, tapi nggak makan. Harusnya
setimpal dong duniawi dan akhirati-nya. Konsisten? Enggak. Nyaman? Jelas enggaklah!
Oh, terus sekarang masih belum bisa
move on juga sama si “bapak presiden”?
Hell yeah! Ini pertanyaan
yang paling bikin kesel. Iya sih dulu emang nggak move on – move on berapa
tahun gitu sampe diomelin orang banyak. Sahabat-sahabat cewek maupun cowok pun
udah ngomel macem emak-emak di pasar. Tapi semakin kesini mata saya semakin
terbuka kok. Hebat memang, tapi tidak menghargai wanita. Ninggalin? Iya. Artinya
nggak tanggungjawab dong ya, Kak? Setau saya kalo cowok hebat itu akan
bertanggung jawab dengan semua perkataannya dan juga menghargai wanitanya. Bukan
ninggalin wanitanya ketika wanitanya pada titik terendah dalam hidupnya. Bukan “keras”in
wanitanya juga. Gitu kak. Dan sudah saya putuskan untuk membuka lagi lembaran
baru yang bersih. :)
Let me tell you, saya hampir
saja kehilangan nyawa kali ya akibat besarnya rasa takut dengan orang-orang
yang keras sama saya ini. Taqwa, tapi keras. Hebat, tapi keras. Dan ketika
hampir saja saya terbunuh, tetap saja saya yang salah dikata oleh mereka. Bagaimana
tidak, saya takut bilang “tidak”. Dan akhirnya apa yang hilang dari hidup saya
saat itu? BANYAK. Dan waktu, nggak akan pernah bisa kembali. Mau beli di mana
pun, juga nggak ada yang jual. Kadang saya menyesal menjadi orang paling takut
sedunia. Tapi apalah, nasi sudah menjadi bubur. Akhirnya saya sadar bagaimana
cara saya harus bisa mengahadapi orang, bagaimana cara saya untuk bisa survive. Dan sejak itu saya melihat dua
sosok manusia yang sangat keras. Dan dari situ saya bisa melihat bagaimana saya
harus memilih perjalanan hidup saya untuk yang lebih baik. Bukan mengulang
sejarah.
Sejak
kecil saya sudah menghadapi satu sosok orang yang sangat keras, saat sudah
dewasa pun aku bertemu lagi sosok manusia yang keras. Dua manusia tersebut
mungkinlah hampir sama watak. Saya takut? Jelas. Takut untuk melangkah. Tapi satu
sosok malaikat tanpa sayap mengajari saya, menekankan pada saya bahwa tidak
semua laki-laki itu keras. Tidak semua. Saya akan menemukan sosok manusia yang
lembut dan bertanggungjawab. Dan menyayangi saya dan keluarga saya. Walaupun tidak
seperti dirinya, Bunda. Sosok malaikat tanpa sayap yang selalu mendukung saya
dan mendorong saya juga menekankan saya bahwa saya bisa. Saya tidak memiliki
orangtua yang sempurna, and I’m deal with it. Because nobody’s perfect. Siapa
pun bisa mengecewakanmu. Tidak terkecuali orang yang melahirkanmu ke dunia. Dan
itu bukan salahmu. Tidak perlu lantas merasa tidak berharga, karena seseorang
menganggapmu tidak seberapa berharga. Kalau masih takut mati, maka hiduplah
baik-baik.
“Banyak
sekali hal buruk yang memberi keburukan dalam hidup saya. Padahal saya, tidak
melakukan apa pun yang buruk pada hidup saya sendiri. Kamu tahu, itulah
jahatnya hal-hal buruk. Tanpa kamu sadari, hal-hal buruk tersebut ikut melukai
banyak orang tidak bersalah yang ada di sekitarmu. Tidak lagi hanya berhubungan
dengan hidupmu sendiri. Banyak keputusanmu yang salah, pada akhirnya
menghancurkan banyak hati—selain hatimu sendiri.” – Fa.
Dan kenapa saya ingin
memiliki pasangan yang setia?
My mother taught
me how to love. My father taught me how to leave, would you like to teach me
how to laugh?
Karena
pada akhirnya, kamu perlu hidup bersama dia yang akan rela mencebokimu saat
kamu sakit. Menuntunmu saat kamu tidak bisa berjalan. Mendoakanmu saat hidupmu
tengah sempit. Dan tetap mencintaimu setelah banyak kekecewaan yang terjadi
dalam kehidupan kalian. Karena pada akhirnya nanti kamu akan membutuhkan
kehidupan yang nyaman dengan seseorang yang mendampingimu saat kau tua nanti.
Saya
pernah jatuh bangun menghadapi hidup saya. Bahkan ada-ada saja yang terjadi
terhadap saya selama ini. Dari yang saya opname masuk rumah sakit, saya operasi,
saya kecelakaan parah hingga 3 kali. Dan paling parah adalah kecelakaan yang ke
tiga itu dan berharap tidak ada lagi hal mengerikan itu.hampir saja saya
kehilangan segalanya. Tapi tidak, selalu ada Bunda saya yang mendampingi saya
selama ini. Dari yang saya sedih akibat teman-teman saya waktu SD, dari yang
saya patah hati, atau berbagai macam masalah yang membuat saya mengeluh. Selalu
sada Bunda saya yang mendampingi saya tanpa lelah. Walau saya sempat berada
pada titik paling down yang membuat
saya patah semangat, ingin marah pada semua, menjadi manusia paling murung
sedunia mungkin. Tapi Bunda saya tidak pernah lelah mengahdapi saya, tidak
pernah berhenti mendorong saya dan membuat saya agar bangkit lagi membuka
kehidupan yang lebih baik. Semoga kamu nggak perlu melewatinya. (well,
ini adalah salah satu pengalaman hidup yang kalau kamu nggak rasain sendiri,
kamu nggak akan tahu gimana beratnya. Lucky me pernah dikasih kesempatan
sama Tuhan buat merasakannya. Semoga kamu nggak perlu melewatinya ya.
Saya pernah merasa sedih, marah, dan benci saat mengalaminya. Tapi waktu
akhirnya membuat saya menyadari bahwa pernah melewatinya adalah waktu yang
sangat berharga. Dan berhasil melewatinya adalah sebuah hadiah yang luar biasa.)
At least, saya belajar
dari Bunda. Betapa setia dan sabarnya menghadapi saya yang selalu bersahabat
dengan ke ‘ada-ada sajaan’ yang selalu terjadi pada saya. Lucu sih kadang tapi nggak
enak juga sih dengan ke ‘ada-ada sajaan’ nya itu. Sakit kak, hahaha. Ya, Bunda
sangat sabar sekali menghadapi saya. Dengan penuh cinta dan kasih sayangnya dan
ke-taqwaanya pula Bunda selalu mendampingi saya dalam kondisi apapun. Pengalaman
itu yang membuat saya tidak lagi menjadi manusia yang sama seperti saya yang
sebelumnya. Pengalaman yang akhirnya membuat saya tersadar, bahwa cinta,
tidaklah cukup menjadikan seseorang mampu setia. Tapi taqwa dan kelembutan
penuh kasih sayang mampu melakukannya.
Menikah,
bukanlah hanya perkara kamu dan dia. Tapi juga perkara hidup anak-anakmu.
Menikahlah dengan dia yang mau sama-sama tumbuh menjadi orangtua yang
semestinya. Dan menjadi pasangan yang setia menggenggammu apa pun yang terjadi.
Siapa
pun bisa menjadi pembohong dalam kehidupanmu. Bahkan orang yang paling kamu
cintai sekali pun. Saya pernah dibohongi yang begitu besar, kebohongan yang
bisa jadi alasan saya untuk merusak diri saya sendiri. Tapi saya tidak perlu
melakukan kebohongan yang sama untuk menunjukkan bahwa saya tengah terluka.
Saya tidak perlu terjun ke jurang yang sama, hanya untuk menunjukkan bahwa saya
juga mampu bertahan dalam kehancuran.
Dewasa
adalah saat kamu mampu tetap hidup dengan baik, seperapa pun banyak kotoran
yang dilemparkan manusia lain ke wajahmu.
Well,
balik lagi ke pasangan. Seberapa pun ganteng, kaya, pinter, tajir pasanganmu. Kalau
dia nggak ‘taqwa, tanggung jawab dan konsisten’ –segalanya akan hilang.
SEGALANYA. Bahkan, dia bisa membuatmu kehilangan dirimu sendiri.
Kalau
saya sih selalu ingin punya anak yang bisa belajar sholat dan mengaji dari
orangtuanya sendiri. Bisa belajar kebijaksanaan dari ayahnya, bisa belajar
kasih dan sayang dari ibunya. Dan bisa belajar kejujuran dari kedua
orangtuanya. Bisa mendapatkan kenyamanan dari orang tuanya pula. Kenyamanan,
bukan kekerasan dalam didikan. One of my coolest dreams I guess.
Yuk, sama-sama belajar hidup yang tenang
Kak. Semoga one day, kita pun dipertemukan dengan pasangan yang selalu
mampu ‘menenangkan’ kita :)
“Rosul saya Muhammad
selalu berpesan, kalau mau hidup tenang, maka urusan dunia lihatnya ke bawah,
sedang urusan ibadah lihatnya ke atas.”
Peace out!
Nisa.










0 komentar:
Posting Komentar