Salju diluar masih turun dengan tebal. Dingin masih
merasuki sampai ke tulang-tulang. Pagi hari yang begitu dingin, aku berdiri di
depan perapian mencoba untuk menghangatkan diri. Terdengar ketukan pintu dari
pintu apartemen ku. Segera ku berjalan menuju arah pintu, ku lihat dari lubang
kecil di pintu untuk melihat siapa yang datang. Tapi aku tidak melihat
siapapun. Aku mencoba untuk membuka pintu flat ku dan tak kulihat siapapun yang
datang. Tidak ada orang, pikirku hanya orang yang sedang jail saja. Tapi
tunggu, ada secangkir kopi di depan pintu flat apartemenku. Hei, siapa ini yang mengirimkan aku
secangkir kopi? Tanyaku dalam hati. Ada secarik kertas kecil seperti sebuah
surat di bawah cangkir kopi itu. Segera ku ambil secangkir kopi dan secarik
kertas tersebut dan segera ku kunci pintu apartemenku. Ku lihat tidak tertera
nama pengirimnya. Ku baca isi pesannya.
Kamu suka kopi pahit kan sekarang? Aku membuatkan secangkir kopi
panas untukmu. Kau mau mencoba meminumnya? Kopi panas ini spesial dariku
untukmu, Ruth.
Terbelalak mataku secepat kilat, ini pasti dari
Edwin, pikirku. Tapi aku seperti tidak asing dengan kata-kata ini. Aku teringat
malam itu Edwin memberiku nomor pribadinya. Mungkin aku akan coba menelponnya.
Ku ketik nomor Edwin lalu ku coba menelponnya. Sambil menunggu orang disana
menerima telepon aku coba meminum kopinya sedikit demi sedikit. Bukan karena
panas, tapi karena takut jika kopi ini bukan dari Edwin atau ada orang jahat
yang ingin meracuniku. Ku rasakan aroma kopi itu, begitu wangi aromanya.
Rasanya yang pahit dan nikmat. Aku menyukai kopi ini. Sungguh aku sangat
menyukai kopi ini. Sambil menikmati kopi yang sudah setengah cangkir ku
habiskan seketika terdengar seseorang disana mengangkat teleponku.
“Halo,
Edwin. Maaf mengganggu, ini Ruth. Apakah kau yang mengirimkan secangkir kopi
untukku baru saja?”
“Hai
Ruth, bagaimana kau suka atau tidak?” jawabnya dari seberang telepon.
“Ya,
aku suka. Sangat suka sekali. Terima kasih Edwin, apakah kau membuatnnya
sendiri?”
“Ya,
tentu saja. Ku buatkan kau kopi special untukmu, Nona.” Ucapnya diseberang
telepon sambil tersenyum.
“Terima
kasih Edwin.” Jawabku sambil tersenyum, walau aku tau dia tidak melihatku
tersenyum tetapi pastilah dia tau melalu suaraku. Kadang aku berfikir pria ini
sangatlah aneh, kami baru saja berkenalan dan dia seperti orang yang sudah
mengenalku sejak lama. Dia juga tiba-tiba mengirimkan aku secangkir kopi panas
yang jelas pahit dan seperti tertera di surat kecil tertulis seolah dia
mengetahui bahwa dulu aku tidak menyukai kopi yang pahit tapi sekarang aku
menyukainya. Dari mana dia tau?
Pikirku.
“Oh
ya, Ruth. Apakah mala mini kau ada acara?”
“Aku
rasa tidak ada, Edwin. Ada apa, Tuan?”
“Tidak,
aku hanya ingin mengajakmu ke kedai milik ayahku. Apa kau mau?”
“Oh
baiklah, tentu saja. Tentu saja aku mau.”
“Baiklah,
nanti malam aku jemput kau di flat mu ya.”
“Okay,
Tuan Edwin. See ya!”
***
Malam ini masih sama seperti malam-malam sebelumnya.
Salju masih turun, tapi udara tidak sedingin saat pertama. Edwin menjemputku,
kami berjalan kaki menuju kedai milik ayah Edwin. Untuk malam ini, hingga
akhirnnya untuk malam-malam berikutnya. Hampir setiap hari kami pergi berdua.
Entah apa yang terjadi, saat aku jalan bersama Edwin aku merasa aman dan
nyaman. Sama seperti ketika aku masih kecil, seperti ketika aku berada di dekat
Josh. Ah, aku sangat merindukan Josh. Sudahlah, seharusnya aku sekarang
bersyukur bisa menemukan sosok pria seperti Edwin yang memiliki aura seperti
Josh. Hampir setiap hari pula Edwin mengirimkan aku secangkir kopi dan tentunya
didampingi dengan setangkai bunga mawar putih. Oh, aku sangat menyukainya. Aku
menyukai ini. Hingga malam itu aku dan Edwin bertemu lagi. Kami membuat janji
untuk bertemu di kedai milik ayah Edwin. Kami duduk di tempat pertama kali kami
datang bersama ke kedai ini. Di ujung dekat jendela namun tidak terlalu ramai
orang yang datang dan pergi. Lebih privat memang, dan lebih membuat santai dan cozy. Edwin menatapku sangat dalam saat
itu, seolah ingin sekali dia berbicara banyak kepadaku. Tapi dia tak kunjung
berbicara denganku. Dia sedang tidak terlihat baik-baik saja. Entah, aku tidak
tau apa yang terjadi dengan dirinya.
“Ruth..”
akhirnya dia membuka mulutnya dan memanggilku. Seketika dia memegang tanganku.
Aku kaget. Tapi aku diam saja.
“Ya,
Edwin. Kau baik-baik saja?” tanyaku perlahan. Mencoba memastikan kondisi Edwin.
Dia hanya tersenyum seolah senyumnya sangat berat. Matanya menatapku sangat
lekat dan seperti berkaca-kaca. Aku tidak tau apa yang terjadi pada Edwin. Aku
hanya sangat khawatir dengannya.
“Ruth,
apakah kau menyukai secangkir kopi panas yang ku buatkan special untukmu setiap
pagi?” suara Edwin semakin berat. Aku khawatir sekali, apa yang terjadi
dengannya. Entah kenapa aku sangat khawatir padanya. Aku hanya tidak ingin dia
kenapa-kenapa. Oh tidak, mengapa aku jadi sangat peduli dengan Edwin. Seolah
seperti Edwin adalah aku, atau aku adalah Edwin. Ataukah aku mencintainya? Oh
tidak. Tapi sungguh aku sangat mengkhawatirkan dirinya.
“Edwin
kau kenapa? Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu? Tentu saja aku sangat
menyukai kopi buatanmu.” Seketika kami berdua diam dan saling menggenggam
tangan semakin erat, semakin kami menggenggam tangan. Jantungku berdegup
kencang entah apa yang terjadi. Perasaanku sangat bercampur aduk, antara takut,
bahagia, juga khawatir. Hampir beberapa lama kami saling menggenggam tangan dan
terdiam. Seketika Edwin mencium keningku. Aku kaget, tapi aku seperti merasakan
hal yang tak wajar. Aku bahagia, tapi aku takut. Enntah apa yang sedang aku takuti.
“Ruth,
aku menyayangimu. Ruth, ijinkan aku membuatkanmu secangkir kopi lagi malam ini.
Bolehkah aku membuatnya untukmu?” ucapannya tak lagi seberat saat pertama tadi,
tapi matanya masih berkaca-kaca. Aku tidak tau apa yang sesungguhnya terjadi.
Aku hanya menganggukkan kepala. Edwin pun beranjak dari tempat duduk dan berjalan
menuju tempat para barista membuat kopi. Beberapa lama aku menunggu Edwin
kembali ke sofa tempat kami duduk. Hingga akhirnya Edwin datang dengan
secangkir kopi dan bunga mawar putih kesukaanku.
“Ruth, aku membuatkan secangkir kopi panas untukmu.
Kau mau mencoba meminumnya? Kopi panas ini spesial dariku untukmu. Aku buatkan
kopi special ini dan ku bawakan setangkai bunga mawar putih ini untukmu, aku
hanya ingin kau tau bahwa aku menyayangimu, Ruth.” Ucapnya sambil membawakan
kopi dan setangkai mawar putih untukku. Matanya masih berkaca-kaca.
“Kalau kau menyayangiku, minumlah kopi yang
kubuatkan untukmu..” ucapnya terhenti ketika aku tersenyum dan aku mengambil
secangkir kopi dari tangannya dan meminumnya.
“Aku
tau kopi ini sangat special, aku menyukainya, dan aku menyayangimu juga Edwin.”
Ucapku dengan tatapan lekan menatap wajah Edwin. Dan sungguh aku tidak tau apa
yang sedang terjadi pada Edwin, matanya semakin berkaca-kaca. Bukankah dia
seharusnya bahagia aku juga menyayanginya? Pikirku.
“Edwin, aku menyayangimu. Mengapa matamu terlihat
berkaca-kaca? Apakah kau sungguh menyayangiku, Edwin?” ku coba memastikan apa
yang sedang terjadi pada Edwin.
“Ya,
tentu saja aku menyayangimu. Aku tau kau sangat menyukai kopi. Dengan kopi kau
selalu merasa tenang, karena aku tau kopi bisa menjadi sesuatu yang sangat baik
untukmu. Apakah kau tidak berfikir aku ingin membunuhmu dengan secangkir kopi
panas dan pahit ini?” aku terbelalak mendengar Edwin berkata seperti itu. Aku
seperti teringat sesuatu dengan kata-kata itu.
“Edwin,
mengapa kau berbicara seperti itu? Apakah kau benar ingin membunuhku dengan
kopi? Tidak Edwin, aku tidak pernah berpikir sejahat itu padamu. Aku tau kau
membuatkan aku kopi itu dari hatimu, bukan untuk menyakiti apalagi membunuhku
dan meracuni aku. Edwin, aku tau kau tulus menyayangi aku.”
“Ya,
aku tidak ingin membunuhmu, karena sungguh aku sangat menyayangimu sungguh
menyayangimu, Allena.” Ucapnya sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung
parka yang dia pakainya dan masih digenggamnya, aku tak tau apa yang dia
genggam. Aku sangat terbelalak ketika dia memanggilku Allena. Dari mana dia tau
nama kecilku? Pikirku. Aku memelototinya dan tercengang.
“Tidak kah kau ingat ini..” sambil membuka
genggamannya dan memperlihatkannya padaku tepat didepan mukaku. Aku sontak
tercengang melihatnya. Tidak ini tidak mungkin. Aku mencoba mencari sesuatu
dileherku dan kulepaskan dari leherku. Ku angkat dan sejajarkan dengan
genggaman Edwin.
“Astaga, kau…” ucapku sontak sangat kaget sekali.
“Tidak, ini tidak mungkin. Edwin, kau adalah…”
suaraku semakin berat, mataku semakin berkaca-kaca. Dan perlahan air mataku
menetes satu per satu. Edwin pun ikut meneteskan air matanya.
“Kau jahat sekali, aku tidak menyangka dengan semua
ini. Kemana saja kau selama ini, Josh? Aku sangat merindukanmu. Aku benar-benar
merindukanmu, tapi kau tak pernah ada kabar. Paman Jack pun tak pernah lagi
mengabariku. Sejak Daddy meninggal, sejak kau dan Paman Jack meninggalkan aku,
hidupku benar-benar berubah. Aku tak punya arah, aku berusaha mencoba bahagia.
Seperti yang kau minta dulu. Kau tak pernah datang lagi menemuiku. Aku tidak
pernah lagi menemui sosok seperti Josh. Hingga akhirnya malam itu hampir saja
aku tertabrak mobil milik seorang pria tampan yang aneh, yang selalu membuatkan
aku kopi panas setiap pagi dan meletakkannya di depan pintu apartemenku. Dan
aku melihat sosok Josh dalam diri Edwin, aku melihat aura yang sangat
menenangkan jiwaku sama seperti Josh yang dulu selalu menenangkan aku. Dan
ternyata seorang pria itu sendiri adalah Edwin Josh Apsel? Aku tidak menyangka,
dan sepertinya kamu sudah mengetahui aku dari awal bahwa aku adalah Allena?
Mengapa tidak dari awal saja kau katakana kau adalah Josh. Aku merindukanmu
Josh, aku merindukanmu!!!” ucapku sangat marah dan perasaanku tak menentuk.
“Maafkan
aku, maafkan aku Allena. Aku hanya takut kau marah saat itu, karena aku tidak
pernah menemuimu lagi. Sejak hari dimana aku pergi ke Prancis, aku tidak bisa
kemana-mana. Aku disana..”
“Cukup,
Josh! Aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku memang menyayangimu, tapi aku benci
padamu, Josh! Aku benci padamu!” aku beranjak dari sofa tempat aku dan Josh
duduk. Aku pergi meninggalkan Josh sendiri. Aku kecewa. Josh jahat sekali
padaku. Aku membencinya. Tapi tidak, aku tidak bisa membencinya. Aku lari dan
pergi meninggalkan kedai itu. Aku kembali ke apartemenku. Ku rebahkan badanku
di tempat tidurku. Air mataku mulai menetes. Sedih sekali, seolah semua orang
meninggalkan aku saat itu dan seketika dipermainkan oleh keadaan dan
orang-orang yang meninggalkan aku. Sahabat kecilku yang selalu aku tunggu
kedatangannya dan sekaligus dia adalah orang yang aku cintai yang tiba-tiba
datang dengan cara seperti ini. Sedih sekali.
***
Beberapa
hari tak kudengar lagi kabar dari Josh setelah kejadian malam itu. Tak ada lagi
yang mengajakku pergi berjalan-jalan. Tidak ada lagi kiriman secangkir kopi
pahit dan panas, dan setangkai bunga mawar. Benar saja pikirku, Josh tidak
mengejarku. Buktinya dia tidak sama sekali menghubugiku. Tidak juga mencoba
meminta maaf denganku, walau sebenarnya aku ingin sekali bertemu lagi dengan
Josh dan memeluknya. Aku marah, aku kecewa, tapi aku ingin Josh. Aku merindukan
Josh, aku menyayanginya. Beberapa aku hanya berdiam diri di apartemen saja.
Keluar sebentar dari flat hanya untuk melihat dan memastikan flat lantai 3
nomer 15. Tapi seperti tidak ada kehidupan, sepi sekali. Pernah sekali ku coba
memberanikan diri untuk menelpon Josh dan tidak pernah di angkat. Sekali saja
telepon dariku di angkat. Hanya tak ada yang menjawab ketika telepon sudah
terangkat dan kukatakan apa saja yang aku rasakan. Ku ungkapkan semua
perasaanku saat telepon terangkat walaupun Josh tidak berbicara, aku tau dia
pasti mendengarkan. Setidaknya aku sudah lega bisa mengungkapkan semua
perasaanku dan meminta maaf padanya. Lamunanku masih pada wajah Josh saat ku
temui dia terakhir di kedai malam itu. Matanya yang berkaca-kaca, wajahnya yang
tetap tampan walau dia menangis dan terlihat berat mengakui bahwa dia adalah
Josh, tatapan yang begitu penuh beban. Kadang aku merasa menyesal meninggalkan
Josh sendirian di kedai itu. Seketika lamunanku tentang Josh buyar ketika suara
pintu apartemen ku diketuk.
“Josh!”
pikirku. Dengan penuh harapan bahwa Josh datang dengan secangkir kopinya yang
biasa ia berikan special untukku. Dan ketika ku membukakan pintu, berdirilah
seorang pria gagah, dadanya bidang, wajahnya tampan dengan kumis tipis. Aku
menunduk dengan sedih, ternyata bukan Josh. Tapi seorang barista dari kedai
milik ayah Josh. Senyumku tidak lagi mengembang ketika mengetahui yang datang
bukanlah Josh. Melainkan Sam, salah seorang barista di kedai milik Paman Jack.
“Selamat
pagi, Nona Allena. Ini ada secangkir kopi, setangkai bunga mawar dan secarik
surat dari Tuan Josh untukmu.” Ucapnya sambil tersenyum. Aku terbelalak mendengar
ucapan barista itu, lalu ku persilahkan dia untuk masuk ke dalam flat milikku
dan duduk di ruang tamu.
“Maaf,
apakah kau utusan Tuan Josh? Dimana saat ini Josh berada? Tolong jawab jujur
pertanyaanku. Dimana Josh saat ini berada?” tanyaku pada barista itu. Namun
barista itu hanya menunduk seolah menutupi wajahnya yang sedih.
“Hei, tolong jawab pertanyaanku. Aku mohon.”
“Maafkan
Nona Allena, Nona harus sabar ya. Nona harus kuat dan harus bahagia. Itu pesan
dari Tuan Josh. Tuan Josh bilang, dia sangat mencintaimu, Nona. Kemarin setelah
kejadian Nona dan Tuan bertengkar di kedai dan Nona pergi meninggalkan Tuan
Josh di kedai sendirian seketika dia jatuh dan pingsan. Lalu kami membawa Tuan
Josh ke rumah sakit. Dia sempat koma tiga hari kata dokter jantungnya kambuh,
dan tapi dia sudah sadarkan diri saat ini dan sudah membaik dan ketika dia
sadarkan diri dia memintaku untuk mengantarkan kopi, setangkai bunga dan
secarik surat itu. Mungkin Nona bisa membacanya dulu isi suratnya.” Aku kaget,
aku shock. Jantung? Hei, itu adalah kontak hidup dan mati manusia! Batinku,
semakin khawatir semakin takut.
“Apa?
Jantung?!! Josh kenapa tidak pernah mengatakannya padaku bahwa dia punya
penyakit jantung? Aku mengenal Josh sedari kecil. Tapi kenapa aku tidak tau?”
air mataku mulai menetes semakin deras. Akhirnya ku coba untuk membaca surat
dari Josh.
Allena, aku tau mungkin kau marah padaku. Aku tau kecewa padaku. Tapi
aku mohon maafkan aku. Maafkan segala kesalahanku, Allena. Ada yang perlu kau
ketahui Allena. Dulu saat aku pindah ke
Prancis, sejujurnya aku sempat meminta pulang ke Jerman pada Daddy. Tapi aku
tidak bisa, aku tidak pernah melupakanmu. Di Prancis aku selalu memikirkan
kamu. Aku berfikir bagaimana kau mempunyai teman baru di Jerman. Adakah sahabat
yang bisa membuatmu bersandar saat kau menangis? Adakah sahabat yang mau membuatkanmu
kopi saat kau kedinginan? Aku minta maaf
karena mungkin kau baru saja mengetahui penyakitku ini. Sekarang kau mengerti
bukan kenapa aku tidak bisa meminum kopi. Allena, ketika di Prancis aku harus melakukan berbagai macam pengobatan. Kau tau, Allena, mengapa aku tidak berani
meminum kopi, karena itu adalah pantangan dari dokter. Aku sangat merindukan
minum kopi, dan juga merindukan kau. Setiap aku akan kembali ke Jerman, jantung
ku selalu kambuh. Hingga akhirnya aku harus menjalani operasi di Prancis, dan
saat itu aku membutuhkan donor jantung. Awalnya Daddy yang mendonorkan
jantungnya padaku, aku sangat tidak percaya, aku sangat terpukul sekali ketika
Daddy mendonorkan jantungnya padaku. Mommy mencoba menenangkan aku hingga
akhirnya aku mampu tenang ketika meminum kopi. Tapi jantungku kambuh lagi,
hingga aku harus mendapatkan donor jantung kembali. Dan aku meminta maaf padamu
Allena, bahwa pahlawan baik pendonor jantungku saat itu adalah paman Dawson,
awalnya aku menolak. Tetapi Paman Dawson berkata padaku bahwa Paman Dawson
sangat saying padaku seperti dia menyayangimu, Allena. Dan dia juga berkata
bahwa aku harus sembuh agar aku bisa menemuimu kembali dan menjagamu, seumur
hidupmu. Karena Paman Dawson tak bisa lagi menjagamu. Dan jantung paman Dawson
mampu bertahan dalam diriku hingga saat ini, Allena.
Allena, aku sangat menyayangimu. Aku sahabatmu, aku juga
mencintaimu. Allena, maafkan aku.. maafkan aku.. dan sekarang aku harus kembali
ke Prancis untuk melihat perkembangan jantungku yang kemarin sempat memburuk
lagi. Tolong jaga baik-baik kedai milik Daddy ya, kedai itu milikmu juga,
Allena. Percayalah. Paman Dawson dan Daddy yang memberikan kedai itu pada kita.
Aku pamit, Allena. Aku akan berangkat ke Prancis pagi ini. I love you...
Edwin Josh
Apsel
Seketika tak bisa lagi air mata ini ku bending. Aku menangis
sejadi-jadinya. Hanya Sam yang menenangkan aku disitu.
“Sam,
tolong antarkan aku ke landasan udara sekarang. Aku mohon, tolonglah aku. Aku ingin
menemui Josh sebelum dia berangkat.”
“Baik
Nona, saya antar.” Sam langsung merangkul ku menuju mobilnya dan menenangkan
aku. Tak kuasa lagi air mataku terus berjatuhan. Sam mengendarai mobil dengan
kecepatan tinggi, aku tak peduli lagi dengan kecepatan mobil yang sangat
tinggi. Air mata teruslah saja berjatuhan hingga akhirnya aku sampai juga di
landasan udara. Aku langsung keluar dari mobil dan berlari menuju bandara. Tak peduli
aku menerobos orang-orang bahkan security
yang memanggil dan mengejarku pun aku tak peduli. Hingga akhirnya sampailah aku
di ruang tunggu. Aku melihat seorang pria tampan, berdada bidang, berkumis
tipis sedang duduk di kursi roda menunggu kedatangan pesawat. Dia mengenakan
oksigen.
“Jossssshhh!”
pria itu menengokan kepalanya kepadaku. Dia berusaha berdiri hingga akhirnya
dia pun dapat berdiri. Aku datang dan memeluknya dengar erat. “Josh, janganlah
pergi. Janganlah kau tinggalkan aku lagi. Apa kau mau pergi lagi? Kau pasti mau
meninggalkan aku lagi kan? Aku tak bisa tanpa kau, Josh. Aku menyayangimu.”
“Allena..
Allena..” panggilnya ditelingaku sambil memelukku. “jangan kau khawatirkan aku,
aku akan meminta Sam menjagamu selama aku kembali ke Prancis. Aku akan
baik-baik saja. Apa kau tak ingin aku sembuh, Allena? Jantung ini milikmu juga,
Allena. Allena, bagaimana bisa kau memasuki ruangan ini? Kau menerobos security yang itu, mereka mengejarmu
Allena.” Para security dan para
penjaga di bandara saat itu memang mengejarku sampai aku bertemu dengan Josh,
mereka pun berhenti mengejar dan menyaksikan kami. Aku tidak peduli, biar saja
dunia tau.
“Aku
ingin kau sembuh, Josh. Aku ingin. Berjanjilah kau akan kembali lagi ke Jerman,
Josh. Aku membutuhkan kau.”
“Iya
Allena, aku janji. Allena, pesawatku telah datang menjemput. Aku pamit dulu
Allena.” Pesawat Airbus Germanwings telah datang menjemput. Josh harus pergi. Sekali
lagi aku memeluknya dengan erat. Sangat erat. Josh menghapus air mataku. Josh dan
seorang temannya entah siapa dia yang mengantarkan menuju ke Prancis agar Josh
tidak sendiri dengan kondisi seperti ini. Josh berjalan dengan kursi rodanya
dan oksigennya yang menempel di hidungnya menuju ke pesawat. Aku hanya bisa
menangis dan berharap Josh dapat sembuh kembali. Ketika pesawat lepas landas
dadaku terasa sakit sekali. Entah kenapa rasanya sakit sekali. Beberapa security menghampiriku dan membawaku berjalan
keluar dari ruag tunggu. Aku meminta maaf pada mereka karena menyerobot masuk
tanpa izin. Sam pun mengahmpiriku menenangkan aku dan membawakan aku segelas
kopi yang ia beli baru saja. Aku masih terduduk di dekat pintu ruang tunggu
diluar. Beberapa lama hingga aku tenang seketika banyak sekali orang berhilir
mudik di depanku, aku terasa pusing mau pingsan rasanya. Sam masih menjagaku. Beberapa
pilot tampak keluar dan terlihat sibuk dan panik. Rasanya dadaku semakin sakit
dan sesak nafas. Entah kenapa, padahal aku sudah tenang hanya saja sedikit
pusing melihat banyak orang yang berhilir mudik. Tanpa aba-aba apapun seketika banyak
sekali orang panic dan beberapa orang mengatakan bahwa pesawat Airbus Germanwings
telah jatuh, aku hanya bisa terbelalak dan menahan rasa sakit di dada ini. Sakit
sekali rasanya. Hingga aku tak bisa lagi menahan dan membendung air mataku. Aku
tidak peduli sekitarku, aku menangis sejadi-jadinya.
“Tidaaaaaakkk!!! Sam
ini semua tidak mungkiiiiin, tidak mungkiiiin!!!” Aku mencengkram baju Sam dan
memukul-mukulnya. Sam mencoba menenangkan aku hingga dia memelukku agar aku
tenang dan sabar. Aku tidak menyangka baru saja Josh mengatakan akan pergi dan
dia memang akan pergi, pergi untuk selamanya. Dan dia benar-benar menyuruhku
untuk menjaga kedai milik Daddy dan Paman Jack. Betapa hancurnya hatiku. Tidak disangka
semua begitu cepat dan aku menyesali akan pertemuan terakhir yangburuk dengan
Josh saat berada di kedai.
Josh,
tidak ada seorang sahanat sepertimu lagi. Kaulah satu-satunya yang paling
mengerti dan memahamiku. Aku tau kini kau tidak lagi merasakan sakit lagi. Kau sudah
tenang berada di Surga. Bersama Paman Jack dan Daddy. Kalung ini akan selalu
aku simpan untuk persahabatan kita. Dan selamanya kau akan selalu hidup, Josh. Hidup
dalam hatiku. Aku menyayangimu. Kini tidak ada lagi secangkir kopi special buatanmu
untukku. Dan, kini ku buat secangkir kopi dan secarik kertas surat ini untuk
kita, Josh.
-Allena-
The End.
The End.



0 komentar:
Posting Komentar