About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Selasa, 02 Juni 2015

A Coffee Cup from Josh (2)



Salju diluar masih turun dengan tebal. Dingin masih merasuki sampai ke tulang-tulang. Pagi hari yang begitu dingin, aku berdiri di depan perapian mencoba untuk menghangatkan diri. Terdengar ketukan pintu dari pintu apartemen ku. Segera ku berjalan menuju arah pintu, ku lihat dari lubang kecil di pintu untuk melihat siapa yang datang. Tapi aku tidak melihat siapapun. Aku mencoba untuk membuka pintu flat ku dan tak kulihat siapapun yang datang. Tidak ada orang, pikirku hanya orang yang sedang jail saja. Tapi tunggu, ada secangkir kopi di depan pintu flat apartemenku. Hei, siapa ini yang mengirimkan aku secangkir kopi? Tanyaku dalam hati. Ada secarik kertas kecil seperti sebuah surat di bawah cangkir kopi itu. Segera ku ambil secangkir kopi dan secarik kertas tersebut dan segera ku kunci pintu apartemenku. Ku lihat tidak tertera nama pengirimnya. Ku baca isi pesannya.

Kamu suka kopi pahit kan sekarang? Aku membuatkan secangkir kopi panas untukmu. Kau mau mencoba meminumnya? Kopi panas ini spesial dariku untukmu, Ruth.

Terbelalak mataku secepat kilat, ini pasti dari Edwin, pikirku. Tapi aku seperti tidak asing dengan kata-kata ini. Aku teringat malam itu Edwin memberiku nomor pribadinya. Mungkin aku akan coba menelponnya. Ku ketik nomor Edwin lalu ku coba menelponnya. Sambil menunggu orang disana menerima telepon aku coba meminum kopinya sedikit demi sedikit. Bukan karena panas, tapi karena takut jika kopi ini bukan dari Edwin atau ada orang jahat yang ingin meracuniku. Ku rasakan aroma kopi itu, begitu wangi aromanya. Rasanya yang pahit dan nikmat. Aku menyukai kopi ini. Sungguh aku sangat menyukai kopi ini. Sambil menikmati kopi yang sudah setengah cangkir ku habiskan seketika terdengar seseorang disana mengangkat teleponku.
            “Halo, Edwin. Maaf mengganggu, ini Ruth. Apakah kau yang mengirimkan secangkir kopi untukku baru saja?”
            “Hai Ruth, bagaimana kau suka atau tidak?” jawabnya dari seberang telepon.
            “Ya, aku suka. Sangat suka sekali. Terima kasih Edwin, apakah kau membuatnnya sendiri?”
            “Ya, tentu saja. Ku buatkan kau kopi special untukmu, Nona.” Ucapnya diseberang telepon sambil tersenyum.
            “Terima kasih Edwin.” Jawabku sambil tersenyum, walau aku tau dia tidak melihatku tersenyum tetapi pastilah dia tau melalu suaraku. Kadang aku berfikir pria ini sangatlah aneh, kami baru saja berkenalan dan dia seperti orang yang sudah mengenalku sejak lama. Dia juga tiba-tiba mengirimkan aku secangkir kopi panas yang jelas pahit dan seperti tertera di surat kecil tertulis seolah dia mengetahui bahwa dulu aku tidak menyukai kopi yang pahit tapi sekarang aku menyukainya. Dari mana dia tau? Pikirku.
            “Oh ya, Ruth. Apakah mala mini kau ada acara?”
            “Aku rasa tidak ada, Edwin. Ada apa, Tuan?”
            “Tidak, aku hanya ingin mengajakmu ke kedai milik ayahku. Apa kau mau?”
            “Oh baiklah, tentu saja. Tentu saja aku mau.”
            “Baiklah, nanti malam aku jemput kau di flat mu ya.”
            “Okay, Tuan Edwin. See ya!”
***
 

Malam ini masih sama seperti malam-malam sebelumnya. Salju masih turun, tapi udara tidak sedingin saat pertama. Edwin menjemputku, kami berjalan kaki menuju kedai milik ayah Edwin. Untuk malam ini, hingga akhirnnya untuk malam-malam berikutnya. Hampir setiap hari kami pergi berdua. Entah apa yang terjadi, saat aku jalan bersama Edwin aku merasa aman dan nyaman. Sama seperti ketika aku masih kecil, seperti ketika aku berada di dekat Josh. Ah, aku sangat merindukan Josh. Sudahlah, seharusnya aku sekarang bersyukur bisa menemukan sosok pria seperti Edwin yang memiliki aura seperti Josh. Hampir setiap hari pula Edwin mengirimkan aku secangkir kopi dan tentunya didampingi dengan setangkai bunga mawar putih. Oh, aku sangat menyukainya. Aku menyukai ini. Hingga malam itu aku dan Edwin bertemu lagi. Kami membuat janji untuk bertemu di kedai milik ayah Edwin. Kami duduk di tempat pertama kali kami datang bersama ke kedai ini. Di ujung dekat jendela namun tidak terlalu ramai orang yang datang dan pergi. Lebih privat memang, dan lebih membuat santai dan cozy. Edwin menatapku sangat dalam saat itu, seolah ingin sekali dia berbicara banyak kepadaku. Tapi dia tak kunjung berbicara denganku. Dia sedang tidak terlihat baik-baik saja. Entah, aku tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya.
            “Ruth..” akhirnya dia membuka mulutnya dan memanggilku. Seketika dia memegang tanganku. Aku kaget. Tapi aku diam saja.
            “Ya, Edwin. Kau baik-baik saja?” tanyaku perlahan. Mencoba memastikan kondisi Edwin. Dia hanya tersenyum seolah senyumnya sangat berat. Matanya menatapku sangat lekat dan seperti berkaca-kaca. Aku tidak tau apa yang terjadi pada Edwin. Aku hanya sangat khawatir dengannya.
            “Ruth, apakah kau menyukai secangkir kopi panas yang ku buatkan special untukmu setiap pagi?” suara Edwin semakin berat. Aku khawatir sekali, apa yang terjadi dengannya. Entah kenapa aku sangat khawatir padanya. Aku hanya tidak ingin dia kenapa-kenapa. Oh tidak, mengapa aku jadi sangat peduli dengan Edwin. Seolah seperti Edwin adalah aku, atau aku adalah Edwin. Ataukah aku mencintainya? Oh tidak. Tapi sungguh aku sangat mengkhawatirkan dirinya.
            “Edwin kau kenapa? Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu? Tentu saja aku sangat menyukai kopi buatanmu.” Seketika kami berdua diam dan saling menggenggam tangan semakin erat, semakin kami menggenggam tangan. Jantungku berdegup kencang entah apa yang terjadi. Perasaanku sangat bercampur aduk, antara takut, bahagia, juga khawatir. Hampir beberapa lama kami saling menggenggam tangan dan terdiam. Seketika Edwin mencium keningku. Aku kaget, tapi aku seperti merasakan hal yang tak wajar. Aku bahagia, tapi aku takut. Enntah apa yang sedang aku takuti.
            “Ruth, aku menyayangimu. Ruth, ijinkan aku membuatkanmu secangkir kopi lagi malam ini. Bolehkah aku membuatnya untukmu?” ucapannya tak lagi seberat saat pertama tadi, tapi matanya masih berkaca-kaca. Aku tidak tau apa yang sesungguhnya terjadi. Aku hanya menganggukkan kepala. Edwin pun beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju tempat para barista membuat kopi. Beberapa lama aku menunggu Edwin kembali ke sofa tempat kami duduk. Hingga akhirnya Edwin datang dengan secangkir kopi dan bunga mawar putih kesukaanku.
“Ruth, aku membuatkan secangkir kopi panas untukmu. Kau mau mencoba meminumnya? Kopi panas ini spesial dariku untukmu. Aku buatkan kopi special ini dan ku bawakan setangkai bunga mawar putih ini untukmu, aku hanya ingin kau tau bahwa aku menyayangimu, Ruth.” Ucapnya sambil membawakan kopi dan setangkai mawar putih untukku. Matanya masih berkaca-kaca.
“Kalau kau menyayangiku, minumlah kopi yang kubuatkan untukmu..” ucapnya terhenti ketika aku tersenyum dan aku mengambil secangkir kopi dari tangannya dan meminumnya.
            “Aku tau kopi ini sangat special, aku menyukainya, dan aku menyayangimu juga Edwin.” Ucapku dengan tatapan lekan menatap wajah Edwin. Dan sungguh aku tidak tau apa yang sedang terjadi pada Edwin, matanya semakin berkaca-kaca. Bukankah dia seharusnya bahagia aku juga menyayanginya? Pikirku.
“Edwin, aku menyayangimu. Mengapa matamu terlihat berkaca-kaca? Apakah kau sungguh menyayangiku, Edwin?” ku coba memastikan apa yang sedang terjadi pada Edwin.
            “Ya, tentu saja aku menyayangimu. Aku tau kau sangat menyukai kopi. Dengan kopi kau selalu merasa tenang, karena aku tau kopi bisa menjadi sesuatu yang sangat baik untukmu. Apakah kau tidak berfikir aku ingin membunuhmu dengan secangkir kopi panas dan pahit ini?” aku terbelalak mendengar Edwin berkata seperti itu. Aku seperti teringat sesuatu dengan kata-kata itu.
            “Edwin, mengapa kau berbicara seperti itu? Apakah kau benar ingin membunuhku dengan kopi? Tidak Edwin, aku tidak pernah berpikir sejahat itu padamu. Aku tau kau membuatkan aku kopi itu dari hatimu, bukan untuk menyakiti apalagi membunuhku dan meracuni aku. Edwin, aku tau kau tulus menyayangi aku.”
            “Ya, aku tidak ingin membunuhmu, karena sungguh aku sangat menyayangimu sungguh menyayangimu, Allena.” Ucapnya sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung parka yang dia pakainya dan masih digenggamnya, aku tak tau apa yang dia genggam. Aku sangat terbelalak ketika dia memanggilku Allena. Dari mana dia tau nama kecilku? Pikirku. Aku memelototinya dan tercengang.
“Tidak kah kau ingat ini..” sambil membuka genggamannya dan memperlihatkannya padaku tepat didepan mukaku. Aku sontak tercengang melihatnya. Tidak ini tidak mungkin. Aku mencoba mencari sesuatu dileherku dan kulepaskan dari leherku. Ku angkat dan sejajarkan dengan genggaman Edwin.
“Astaga, kau…” ucapku sontak sangat kaget sekali.
“Tidak, ini tidak mungkin. Edwin, kau adalah…” suaraku semakin berat, mataku semakin berkaca-kaca. Dan perlahan air mataku menetes satu per satu. Edwin pun ikut meneteskan air matanya.
“Kau jahat sekali, aku tidak menyangka dengan semua ini. Kemana saja kau selama ini, Josh? Aku sangat merindukanmu. Aku benar-benar merindukanmu, tapi kau tak pernah ada kabar. Paman Jack pun tak pernah lagi mengabariku. Sejak Daddy meninggal, sejak kau dan Paman Jack meninggalkan aku, hidupku benar-benar berubah. Aku tak punya arah, aku berusaha mencoba bahagia. Seperti yang kau minta dulu. Kau tak pernah datang lagi menemuiku. Aku tidak pernah lagi menemui sosok seperti Josh. Hingga akhirnya malam itu hampir saja aku tertabrak mobil milik seorang pria tampan yang aneh, yang selalu membuatkan aku kopi panas setiap pagi dan meletakkannya di depan pintu apartemenku. Dan aku melihat sosok Josh dalam diri Edwin, aku melihat aura yang sangat menenangkan jiwaku sama seperti Josh yang dulu selalu menenangkan aku. Dan ternyata seorang pria itu sendiri adalah Edwin Josh Apsel? Aku tidak menyangka, dan sepertinya kamu sudah mengetahui aku dari awal bahwa aku adalah Allena? Mengapa tidak dari awal saja kau katakana kau adalah Josh. Aku merindukanmu Josh, aku merindukanmu!!!” ucapku sangat marah dan perasaanku tak menentuk.
            “Maafkan aku, maafkan aku Allena. Aku hanya takut kau marah saat itu, karena aku tidak pernah menemuimu lagi. Sejak hari dimana aku pergi ke Prancis, aku tidak bisa kemana-mana. Aku disana..”
            “Cukup, Josh! Aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku memang menyayangimu, tapi aku benci padamu, Josh! Aku benci padamu!” aku beranjak dari sofa tempat aku dan Josh duduk. Aku pergi meninggalkan Josh sendiri. Aku kecewa. Josh jahat sekali padaku. Aku membencinya. Tapi tidak, aku tidak bisa membencinya. Aku lari dan pergi meninggalkan kedai itu. Aku kembali ke apartemenku. Ku rebahkan badanku di tempat tidurku. Air mataku mulai menetes. Sedih sekali, seolah semua orang meninggalkan aku saat itu dan seketika dipermainkan oleh keadaan dan orang-orang yang meninggalkan aku. Sahabat kecilku yang selalu aku tunggu kedatangannya dan sekaligus dia adalah orang yang aku cintai yang tiba-tiba datang dengan cara seperti ini. Sedih sekali.
***
            Beberapa hari tak kudengar lagi kabar dari Josh setelah kejadian malam itu. Tak ada lagi yang mengajakku pergi berjalan-jalan. Tidak ada lagi kiriman secangkir kopi pahit dan panas, dan setangkai bunga mawar. Benar saja pikirku, Josh tidak mengejarku. Buktinya dia tidak sama sekali menghubugiku. Tidak juga mencoba meminta maaf denganku, walau sebenarnya aku ingin sekali bertemu lagi dengan Josh dan memeluknya. Aku marah, aku kecewa, tapi aku ingin Josh. Aku merindukan Josh, aku menyayanginya. Beberapa aku hanya berdiam diri di apartemen saja. Keluar sebentar dari flat hanya untuk melihat dan memastikan flat lantai 3 nomer 15. Tapi seperti tidak ada kehidupan, sepi sekali. Pernah sekali ku coba memberanikan diri untuk menelpon Josh dan tidak pernah di angkat. Sekali saja telepon dariku di angkat. Hanya tak ada yang menjawab ketika telepon sudah terangkat dan kukatakan apa saja yang aku rasakan. Ku ungkapkan semua perasaanku saat telepon terangkat walaupun Josh tidak berbicara, aku tau dia pasti mendengarkan. Setidaknya aku sudah lega bisa mengungkapkan semua perasaanku dan meminta maaf padanya. Lamunanku masih pada wajah Josh saat ku temui dia terakhir di kedai malam itu. Matanya yang berkaca-kaca, wajahnya yang tetap tampan walau dia menangis dan terlihat berat mengakui bahwa dia adalah Josh, tatapan yang begitu penuh beban. Kadang aku merasa menyesal meninggalkan Josh sendirian di kedai itu. Seketika lamunanku tentang Josh buyar ketika suara pintu apartemen ku diketuk.
            “Josh!” pikirku. Dengan penuh harapan bahwa Josh datang dengan secangkir kopinya yang biasa ia berikan special untukku. Dan ketika ku membukakan pintu, berdirilah seorang pria gagah, dadanya bidang, wajahnya tampan dengan kumis tipis. Aku menunduk dengan sedih, ternyata bukan Josh. Tapi seorang barista dari kedai milik ayah Josh. Senyumku tidak lagi mengembang ketika mengetahui yang datang bukanlah Josh. Melainkan Sam, salah seorang barista di kedai milik Paman Jack.
            “Selamat pagi, Nona Allena. Ini ada secangkir kopi, setangkai bunga mawar dan secarik surat dari Tuan Josh untukmu.” Ucapnya sambil tersenyum. Aku terbelalak mendengar ucapan barista itu, lalu ku persilahkan dia untuk masuk ke dalam flat milikku dan duduk di ruang tamu.
            “Maaf, apakah kau utusan Tuan Josh? Dimana saat ini Josh berada? Tolong jawab jujur pertanyaanku. Dimana Josh saat ini berada?” tanyaku pada barista itu. Namun barista itu hanya menunduk seolah menutupi wajahnya yang sedih.
“Hei, tolong jawab pertanyaanku. Aku mohon.”
            “Maafkan Nona Allena, Nona harus sabar ya. Nona harus kuat dan harus bahagia. Itu pesan dari Tuan Josh. Tuan Josh bilang, dia sangat mencintaimu, Nona. Kemarin setelah kejadian Nona dan Tuan bertengkar di kedai dan Nona pergi meninggalkan Tuan Josh di kedai sendirian seketika dia jatuh dan pingsan. Lalu kami membawa Tuan Josh ke rumah sakit. Dia sempat koma tiga hari kata dokter jantungnya kambuh, dan tapi dia sudah sadarkan diri saat ini dan sudah membaik dan ketika dia sadarkan diri dia memintaku untuk mengantarkan kopi, setangkai bunga dan secarik surat itu. Mungkin Nona bisa membacanya dulu isi suratnya.” Aku kaget, aku shock. Jantung? Hei, itu adalah kontak hidup dan mati manusia! Batinku, semakin khawatir semakin takut.
            “Apa? Jantung?!! Josh kenapa tidak pernah mengatakannya padaku bahwa dia punya penyakit jantung? Aku mengenal Josh sedari kecil. Tapi kenapa aku tidak tau?” air mataku mulai menetes semakin deras. Akhirnya ku coba untuk membaca surat dari Josh.
Allena, aku tau mungkin kau marah padaku. Aku tau kecewa padaku. Tapi aku mohon maafkan aku. Maafkan segala kesalahanku, Allena. Ada yang perlu kau ketahui Allena. Dulu saat  aku pindah ke Prancis, sejujurnya aku sempat meminta pulang ke Jerman pada Daddy. Tapi aku tidak bisa, aku tidak pernah melupakanmu. Di Prancis aku selalu memikirkan kamu. Aku berfikir bagaimana kau mempunyai teman baru di Jerman. Adakah sahabat yang bisa membuatmu bersandar saat kau menangis? Adakah sahabat yang mau membuatkanmu kopi saat kau kedinginan?  Aku minta maaf karena mungkin kau baru saja mengetahui penyakitku ini. Sekarang kau mengerti bukan kenapa aku tidak bisa meminum kopi. Allena, ketika di Prancis aku harus melakukan berbagai macam pengobatan. Kau tau, Allena, mengapa aku tidak berani meminum kopi, karena itu adalah pantangan dari dokter. Aku sangat merindukan minum kopi, dan juga merindukan kau. Setiap aku akan kembali ke Jerman, jantung ku selalu kambuh. Hingga akhirnya aku harus menjalani operasi di Prancis, dan saat itu aku membutuhkan donor jantung. Awalnya Daddy yang mendonorkan jantungnya padaku, aku sangat tidak percaya, aku sangat terpukul sekali ketika Daddy mendonorkan jantungnya padaku. Mommy mencoba menenangkan aku hingga akhirnya aku mampu tenang ketika meminum kopi. Tapi jantungku kambuh lagi, hingga aku harus mendapatkan donor jantung kembali. Dan aku meminta maaf padamu Allena, bahwa pahlawan baik pendonor jantungku saat itu adalah paman Dawson, awalnya aku menolak. Tetapi Paman Dawson berkata padaku bahwa Paman Dawson sangat saying padaku seperti dia menyayangimu, Allena. Dan dia juga berkata bahwa aku harus sembuh agar aku bisa menemuimu kembali dan menjagamu, seumur hidupmu. Karena Paman Dawson tak bisa lagi menjagamu. Dan jantung paman Dawson mampu bertahan dalam diriku hingga saat ini, Allena.
Allena, aku sangat menyayangimu. Aku sahabatmu, aku juga mencintaimu. Allena, maafkan aku.. maafkan aku.. dan sekarang aku harus kembali ke Prancis untuk melihat perkembangan jantungku yang kemarin sempat memburuk lagi. Tolong jaga baik-baik kedai milik Daddy ya, kedai itu milikmu juga, Allena. Percayalah. Paman Dawson dan Daddy yang memberikan kedai itu pada kita. Aku pamit, Allena. Aku akan berangkat ke Prancis pagi ini. I love you...
Edwin Josh Apsel
Seketika tak bisa lagi air mata ini ku bending. Aku menangis sejadi-jadinya. Hanya Sam yang menenangkan aku disitu.
            “Sam, tolong antarkan aku ke landasan udara sekarang. Aku mohon, tolonglah aku. Aku ingin menemui Josh sebelum dia berangkat.”
            “Baik Nona, saya antar.” Sam langsung merangkul ku menuju mobilnya dan menenangkan aku. Tak kuasa lagi air mataku terus berjatuhan. Sam mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, aku tak peduli lagi dengan kecepatan mobil yang sangat tinggi. Air mata teruslah saja berjatuhan hingga akhirnya aku sampai juga di landasan udara. Aku langsung keluar dari mobil dan berlari menuju bandara. Tak peduli aku menerobos orang-orang bahkan security yang memanggil dan mengejarku pun aku tak peduli. Hingga akhirnya sampailah aku di ruang tunggu. Aku melihat seorang pria tampan, berdada bidang, berkumis tipis sedang duduk di kursi roda menunggu kedatangan pesawat. Dia mengenakan oksigen.
            “Jossssshhh!” pria itu menengokan kepalanya kepadaku. Dia berusaha berdiri hingga akhirnya dia pun dapat berdiri. Aku datang dan memeluknya dengar erat. “Josh, janganlah pergi. Janganlah kau tinggalkan aku lagi. Apa kau mau pergi lagi? Kau pasti mau meninggalkan aku lagi kan? Aku tak bisa tanpa kau, Josh. Aku menyayangimu.”
            “Allena.. Allena..” panggilnya ditelingaku sambil memelukku. “jangan kau khawatirkan aku, aku akan meminta Sam menjagamu selama aku kembali ke Prancis. Aku akan baik-baik saja. Apa kau tak ingin aku sembuh, Allena? Jantung ini milikmu juga, Allena. Allena, bagaimana bisa kau memasuki ruangan ini? Kau menerobos security yang itu, mereka mengejarmu Allena.” Para security dan para penjaga di bandara saat itu memang mengejarku sampai aku bertemu dengan Josh, mereka pun berhenti mengejar dan menyaksikan kami. Aku tidak peduli, biar saja dunia tau.
            “Aku ingin kau sembuh, Josh. Aku ingin. Berjanjilah kau akan kembali lagi ke Jerman, Josh. Aku membutuhkan kau.”
            “Iya Allena, aku janji. Allena, pesawatku telah datang menjemput. Aku pamit dulu Allena.” Pesawat Airbus Germanwings telah datang menjemput. Josh harus pergi. Sekali lagi aku memeluknya dengan erat. Sangat erat. Josh menghapus air mataku. Josh dan seorang temannya entah siapa dia yang mengantarkan menuju ke Prancis agar Josh tidak sendiri dengan kondisi seperti ini. Josh berjalan dengan kursi rodanya dan oksigennya yang menempel di hidungnya menuju ke pesawat. Aku hanya bisa menangis dan berharap Josh dapat sembuh kembali. Ketika pesawat lepas landas dadaku terasa sakit sekali. Entah kenapa rasanya sakit sekali. Beberapa security menghampiriku dan membawaku berjalan keluar dari ruag tunggu. Aku meminta maaf pada mereka karena menyerobot masuk tanpa izin. Sam pun mengahmpiriku menenangkan aku dan membawakan aku segelas kopi yang ia beli baru saja. Aku masih terduduk di dekat pintu ruang tunggu diluar. Beberapa lama hingga aku tenang seketika banyak sekali orang berhilir mudik di depanku, aku terasa pusing mau pingsan rasanya. Sam masih menjagaku. Beberapa pilot tampak keluar dan terlihat sibuk dan panik. Rasanya dadaku semakin sakit dan sesak nafas. Entah kenapa, padahal aku sudah tenang hanya saja sedikit pusing melihat banyak orang yang berhilir mudik. Tanpa aba-aba apapun seketika banyak sekali orang panic dan beberapa orang mengatakan bahwa pesawat Airbus Germanwings telah jatuh, aku hanya bisa terbelalak dan menahan rasa sakit di dada ini. Sakit sekali rasanya. Hingga aku tak bisa lagi menahan dan membendung air mataku. Aku tidak peduli sekitarku, aku menangis sejadi-jadinya.
“Tidaaaaaakkk!!! Sam ini semua tidak mungkiiiiin, tidak mungkiiiin!!!” Aku mencengkram baju Sam dan memukul-mukulnya. Sam mencoba menenangkan aku hingga dia memelukku agar aku tenang dan sabar. Aku tidak menyangka baru saja Josh mengatakan akan pergi dan dia memang akan pergi, pergi untuk selamanya. Dan dia benar-benar menyuruhku untuk menjaga kedai milik Daddy dan Paman Jack. Betapa hancurnya hatiku. Tidak disangka semua begitu cepat dan aku menyesali akan pertemuan terakhir yangburuk dengan Josh saat berada di kedai.

Josh, tidak ada seorang sahanat sepertimu lagi. Kaulah satu-satunya yang paling mengerti dan memahamiku. Aku tau kini kau tidak lagi merasakan sakit lagi. Kau sudah tenang berada di Surga. Bersama Paman Jack dan Daddy. Kalung ini akan selalu aku simpan untuk persahabatan kita. Dan selamanya kau akan selalu hidup, Josh. Hidup dalam hatiku. Aku menyayangimu. Kini tidak ada lagi secangkir kopi special buatanmu untukku. Dan, kini ku buat secangkir kopi dan secarik kertas surat ini untuk kita, Josh.
-Allena-


The End.


0 komentar:

Posting Komentar