Hai, ayah. Kapan ya kita bisa akur?
Hai, ayah. Kapan ya kita bisa deket?
Kapan bisa seperti saat kecilku dulu?
Kapan ya kita bisa seperti orang-orang yang lain? Kapan aku bisa seperti
anak-anak yang lain? Kapan? Kapaaaaan? Aku tidak berharap apapun. Aku hanya
ingin seperti anak-anak yang lain. Aku bukan orang lain, aku bukan adikku, aku
tidak bisa seperti yang lain, tidak bisa pula seperti adikku. Aku tidak
sempurna. Memang sangat berbeda sekali aku dengan adikku. Dari sisi kelakuan,
dari sisi agama. Aku tau, ya, aku tau. Tapi aku ingin menjadi aku yang apa adanya,
yang orang melihat aku yang sesungguhnya. Bukan terlihat seperti manusia
munafik yang menutupi keburukannya dengan segala hal yang sok baik, padahal
sesungguhnya tidak. Hanya saja aku selalu berusaha terus berusaha untuk
memperbaiki diri sendiri. Aku tidak sesempurna itu. Aku tidak seperti mereka.
Tapi satu saja, aku ingin berikan yang terbaik untukmu, Ayah. Aku akan selalu
berusaha menjadi diri yang lebih baik. Tapi aku butuh penuntun yang baik. Tidak
dengan segala macam tuntutan dan tekanan. Aku akan selalu berusaha memberi yang
terbaik untukmu. Hingga akhir hayatku nanti, you’re my super Daddy and my number one man! I always need someone like
father, I always need you, Daddy.
Takutnya aku terhadap dunia ini kadang
aku tidak tau harus bersandar kepada siapa. Kepada lengan yang kekar dan bisa
melindungi aku. Kepada pelukan sehangat pelukan seorang ayah. Kemana aku temui
kaum Adam yang mampu melindungi aku. Aku tak tau kemana aku harus memberanikan
diri. Itulah sebabnya aku membutuhkan sosok seorang ayah, seorang yang bisa dibilang bapak-able
mungkin. Karena aku takut, aku takut menghadapi dunia ini sendirian tanpa
topangan dari seorang kaum adam yang mampu melindungi aku.
Ayah aku ingin dekat denganmu. Aku ingin
seperti anak-anak yang lain. Apa aku perlu pergi jauh agar kita bisa dekat. Dekat
sedekat nadi. Ya, itu yang kurasa. Kita bisa sedekat nadi saat aku jauh darimu.
Seperti ketika aku harus kabur dari negeri ini. Kita mampu sangat dekat. Sedekat
nadi, Ayah.
Kelak suatu saat aku akan pergi. Kelak
nanti aku akan menikah. Kelak aku sangat membutuhkanmu. Begitu besar rasa takut
ku padamu hingga aku pernah jatuh kepada satu titik ketakutan ku pada kaum
adam. Ya, aku tau hidup begitu keras. Kau memang mengajariku bagaimana aku
bertahan hidup pada kerasnya dunia, tahan banting, seperti para militer. Tidak peduli
panas terik hujan badai menopang diri sendiri. Ya, tidak ada tempat bersandar. Aku
hanya bisa bersujud, berbisik pada tanah hingga langit mendengar. Bahwa aku
sangat membutuhkanmu, Ayah. Membutuhkan sosok kaum Adam yang mampu membantuku
berjalan hingga penghujung hidupku nanti.
-Your Little Angel (Gadis Kecil)-




0 komentar:
Posting Komentar