About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Sabtu, 06 Juni 2015

KAPAN? (I need you.)



Hai, ayah. Kapan ya kita bisa akur?
Hai, ayah. Kapan ya kita bisa deket?
Kapan bisa seperti saat kecilku dulu? Kapan ya kita bisa seperti orang-orang yang lain? Kapan aku bisa seperti anak-anak yang lain? Kapan? Kapaaaaan? Aku tidak berharap apapun. Aku hanya ingin seperti anak-anak yang lain. Aku bukan orang lain, aku bukan adikku, aku tidak bisa seperti yang lain, tidak bisa pula seperti adikku. Aku tidak sempurna. Memang sangat berbeda sekali aku dengan adikku. Dari sisi kelakuan, dari sisi agama. Aku tau, ya, aku tau. Tapi aku ingin menjadi aku yang apa adanya, yang orang melihat aku yang sesungguhnya. Bukan terlihat seperti manusia munafik yang menutupi keburukannya dengan segala hal yang sok baik, padahal sesungguhnya tidak. Hanya saja aku selalu berusaha terus berusaha untuk memperbaiki diri sendiri. Aku tidak sesempurna itu. Aku tidak seperti mereka. Tapi satu saja, aku ingin berikan yang terbaik untukmu, Ayah. Aku akan selalu berusaha menjadi diri yang lebih baik. Tapi aku butuh penuntun yang baik. Tidak dengan segala macam tuntutan dan tekanan. Aku akan selalu berusaha memberi yang terbaik untukmu. Hingga akhir hayatku nanti, you’re my super Daddy and my number one man! I always need someone like father, I always need you, Daddy.



Takutnya aku terhadap dunia ini kadang aku tidak tau harus bersandar kepada siapa. Kepada lengan yang kekar dan bisa melindungi aku. Kepada pelukan sehangat pelukan seorang ayah. Kemana aku temui kaum Adam yang mampu melindungi aku. Aku tak tau kemana aku harus memberanikan diri. Itulah sebabnya aku membutuhkan sosok seorang ayah, seorang yang bisa dibilang bapak-able mungkin. Karena aku takut, aku takut menghadapi dunia ini sendirian tanpa topangan dari seorang kaum adam yang mampu melindungi aku.


Ayah aku ingin dekat denganmu. Aku ingin seperti anak-anak yang lain. Apa aku perlu pergi jauh agar kita bisa dekat. Dekat sedekat nadi. Ya, itu yang kurasa. Kita bisa sedekat nadi saat aku jauh darimu. Seperti ketika aku harus kabur dari negeri ini. Kita mampu sangat dekat. Sedekat nadi, Ayah.
Kelak suatu saat aku akan pergi. Kelak nanti aku akan menikah. Kelak aku sangat membutuhkanmu. Begitu besar rasa takut ku padamu hingga aku pernah jatuh kepada satu titik ketakutan ku pada kaum adam. Ya, aku tau hidup begitu keras. Kau memang mengajariku bagaimana aku bertahan hidup pada kerasnya dunia, tahan banting, seperti para militer. Tidak peduli panas terik hujan badai menopang diri sendiri. Ya, tidak ada tempat bersandar. Aku hanya bisa bersujud, berbisik pada tanah hingga langit mendengar. Bahwa aku sangat membutuhkanmu, Ayah. Membutuhkan sosok kaum Adam yang mampu membantuku berjalan hingga penghujung hidupku nanti.

-Your Little Angel (Gadis Kecil)-

 

0 komentar:

Posting Komentar