About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Jumat, 23 Januari 2015

Aku, Kau, dan Senja




“sayang…” kataku pada kekasihku sambil menatap senja sore itu.
“ya, sayang?” jawabnya.
“tau kah kau, mengapa aku mencintai senja dan selalu menunggunya setiap sore?”
“hmm.. mengapa memangnya, sayang?”
“ya, senja itu indah. Dia selalu aku tunggu karena keberadaannya hanya sementara, sayang. Itu sebabnya aku selalu menunggu senja datang. Sama, seperti aku selalu menunggumu. Dulu..”
“maafkan aku sayang, aku tau itu salahku.”
“tidak masalah sayang, sudah ku maafkan dari dulu. Yang penting kau sudah disini bersama ku sekarang.” Jawabku sambil tersenyum menatap matanya yang penuh rasa bersalah.
“terima kasih yaa sayang.. oh, ya aku juga sangat menyukai senja.”
“benarkah, apa yang membuatmu menyukai senja?”
“entahlah, aku tidak mengerti apa yang ku sukai dari senja. Tapi aku menyukainya.” Mendengar jawabannya aku mengerutkan keningku dan berfikir. “ya, aku menyukai senja tanpa alasan. Sama seperti aku mencintaimu, Sayang. aku mencintaimu tanpa alasan.” Sambungnya lagi sambil menatapku. Lalu, dia tersenyum padaku dan mengecup keningku. Begitu lama, bengitu hening dengan cinta yang berterbangan tanpa sayap. Kembali menatap senja bersama, menikmati rasa yang bercambuk dihati bersamamu. Ya, sore itu hanya aku, kau dan senja. Senja yang menjadi saksi mata kasih cinta kita yang kembali bersatu.

Kita terlalu lama pergi dari sini.
Dan senja telah pertemukan kita kembali, Sayang.
Rasa rindu yang bercambuk di dada, telah kau padamkan dengan api cintamu.
Satu kecup dikening telah meredakan rindu dalam candu.
Kita duduk disini. Dan kita tidak beranjak, Sayang.
Lalu, mengapa kau diam saja?
Kita sudah terlalu lama pula duduk, dan saling diam.
Sepertinya senja tak lagi teduh belakangan ini.
Ayolah, jangan diam saja.
Jangan biarkan waktu tersia dengan tebakan lagi, tebakan yang tak kunjung ada jawaban.
Bicaralah, dan inginkah kau jalan kita bersampingan menuju senja?


Nisa.

0 komentar:

Posting Komentar