“sayang…”
kataku pada kekasihku sambil menatap senja sore itu.
“ya, sayang?”
jawabnya.
“tau
kah kau, mengapa aku mencintai senja dan selalu menunggunya setiap sore?”
“hmm..
mengapa memangnya, sayang?”
“ya,
senja itu indah. Dia selalu aku tunggu karena keberadaannya hanya sementara,
sayang. Itu sebabnya aku selalu menunggu senja datang. Sama, seperti aku selalu
menunggumu. Dulu..”
“maafkan
aku sayang, aku tau itu salahku.”
“tidak
masalah sayang, sudah ku maafkan dari dulu. Yang penting kau sudah disini
bersama ku sekarang.” Jawabku sambil tersenyum menatap matanya yang penuh rasa
bersalah.
“terima
kasih yaa sayang.. oh, ya aku juga sangat menyukai senja.”
“benarkah,
apa yang membuatmu menyukai senja?”
“entahlah,
aku tidak mengerti apa yang ku sukai dari senja. Tapi aku menyukainya.” Mendengar
jawabannya aku mengerutkan keningku dan berfikir. “ya, aku menyukai senja tanpa
alasan. Sama seperti aku mencintaimu, Sayang. aku mencintaimu tanpa alasan.” Sambungnya
lagi sambil menatapku. Lalu, dia tersenyum padaku dan mengecup keningku. Begitu
lama, bengitu hening dengan cinta yang berterbangan tanpa sayap. Kembali menatap
senja bersama, menikmati rasa yang bercambuk dihati bersamamu. Ya, sore itu
hanya aku, kau dan senja. Senja yang menjadi saksi mata kasih cinta kita yang
kembali bersatu.
Kita terlalu lama pergi dari sini.
Dan senja telah pertemukan kita kembali,
Sayang.
Rasa rindu yang bercambuk di dada, telah kau
padamkan dengan api cintamu.
Satu kecup dikening telah meredakan rindu dalam
candu.
Kita duduk disini. Dan kita tidak
beranjak, Sayang.
Lalu, mengapa kau diam saja?
Kita sudah terlalu lama pula duduk, dan saling
diam.
Sepertinya senja tak lagi teduh belakangan ini.
Ayolah, jangan diam saja.
Jangan biarkan waktu tersia dengan tebakan
lagi, tebakan yang tak kunjung ada jawaban.
Bicaralah, dan inginkah kau jalan kita
bersampingan menuju senja?
Nisa.


0 komentar:
Posting Komentar