Aku
mengenalmu sejak semester satu. Sejak kau sebut namamu. Sejak kita berjabat
tangan dan saling mengucapkan nama satu sama lain di loby siang itu. Sejak
hampir dua tahun yang lalu, sejak kamu mengenalkan aku dengan Yogyakarta. Sejak
kudengar logatmu yang Jogja banget. Mungkin bagimu hampir dua tahun adalah
waktu yang singkat. Dan hampir setahun mungkin aku tiada arti.
Ku
akui aku mulai mencintaimu saat itu. Mencintaimu dalam diam. Menikmati cinta
dalam hati, hanya karena aku takut jauh dari kamu. Hanya karena aku takut kamu
pergi. Dan inilah aku dan perasaan yang aku simpan baik-baik di dalam sebuah
kotak yang terkunci di dalam hati.
Dan
harus ku akui kamu masih yang pertama dan tetap yang pertama sejak aku
menginjakan kaki di kampus ini. Walaupun memang kamu bukanlah cinta pertamaku.
Tapi kamu tetap menjadi yang pertama sejak aku mengenalmu. Bahkan ketika celah
jemarimu diisi oleh celah jemarinya.
Aku
menutup telinga, aku mengunci seluru indraku. Berharap rasa ini terbunuh dan
mati, berharap baying wajahmu pergi. Namu kamu masih saja tetap disini, merasuk
menembus dinding hati dan merobeknya. Hingga pada akhirnya air mata ini pun
mengalir deras bagai sungai. Tapi kamu masih saja tetap menjadi satu-satunya,
menjadi yang aku cinta tanpa banyak Tanya, gtanpa aku banyak meminta. Aku sudah
mencintaimu sejak semester satu. Dan kini mungkin kamu sudah bahagia, dan aku putuskan
untuk pergi. Pergi berusaha untuk melupakanmu, dan kekonyolan bersamamu,
kenangan bersama kamu di kota ini. Yogyakarta. Kota yang sederhana, namun
sangat Istimewa. Seperti kamu, kamu yang selalu aku cinta. Sejak semester satu.
Malam itu di Merlion, Singapore…
Aku
berjalan menyusuri jalan didepan Hotel Fullerton. Berjalan menuju patung singa
di Merlion sendiri. Sore itu pukul 18.00, suasana di Singapore masih terang
seperti pukul 17.00 waktu setempat. Sampai sudah aku di patung singa. Menikmati
suasana sore yang segar. Lalu aku balik arah kembali lagi ke jalan sebelumnya.
Aku menyambar pagar danau yang melingkari seluruh arena Merlion. Aku menunggu laser dari gedung Marina Bay Sands. Aku
terduduk disebuah kursi dipinggir danau itu yang bersebelahan dengan sebuah
café yang entah aku tidak tahu nama cafenya. Sambil menunggu laser yang akan terjadi pukul 19.00 waktu
setempat. Hingga akhirnya langit mulai terlihat gelap. Suasana seperti ketika
Maghrib di Indonesia. Seperti masih petang, tapi ini sudah tepat pukul 19.00. Laser belum juga muncul. Aku menyeruput
segelas macchiato yang ku beli di salah satu counter café di dekat patung singa
sebelum aku duduk di dekat danau yang menghadap ke arah gedung Marina Bay
Sands. Seandainya aku berjalan ditempat
seromantis ini dengan kau. Pikirku! Sudahlah, untuk apalagi berkhayal yang
tidak-tidak. Buktinya aku berada ditempat ini tanpa kamu. Ya. Aku berjalan
ditempat seromantis ini tanpa kamu. Sendiri. Tanpa ingatanmu. Tanpa genggaman
tanganmu.
Akhirnya
laser dari Marina Bay Sands mulai
muncul perlahan. Aku memperhatikan setiap gerakan lampu yang tersorot di gedung
itu. Terlihat kapal-kapal lecl yang melintas melewati danau seolah ikut
tersorot oleh laser. Indah, romantis.
Aku suka. Hanya saja tidak lengkap. Tanpa kamu. Ya, mana mungkin lah. Kamu saja
tidak sedikitpun mengingatku, mungkin. Tempat ini seolah berkata padaku agar
aku tidak kembali lagi ke Indonesia. Tidak lagi bertemu denganmu. Seolah tempat
ini mengerti perasaanku. Hatiku, tersayat. Dirobek, lalu dihempaskan. Hingga
jatuh berkeping-keping. Tapi tidak! Aku harus kembali ke negaraku tercinta,
demi study ku, dan orang tuaku.
Pagi itu menuju Changi Airport..
Ucapan
selamat dari supir yang mengantarku ke Changi terasa berat aku dengar. Hari itu
aku harus pulang ke Indonesia, ke kotaku. Yogyakarta. Kota yang sangat
istimewa. Seperti kamu, Mas. Berat sekali rasanya harus menghadapi segala
rutinitas, tanpa kamu. Tanpa hatimu. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus hadapi
ini.
Sampailah
aku didepan bandara Changi. Aku masih diam didalam mobil. Seketika supir
membukakan pintu mobil untukku sambil tersenyum dan mengatakan bahwa kita sudah
sampai. Aku hanya membalas senyumnya. Berat rasanya jika harus turun dari
mobil. Akhirnya akupun turun, dengan berat hati. Aku mengambil koperku yang
sudah diturunkan dari bagasi mobil oleh supir yang mengantarku. Supir yang baik
dan ramah sekali. Sayang sekali supir hanya bisa mengantarkan aku sampai
didepan saja. Aku pun mengucapkan terima kasih padanya lalu aku berbalik badan
dan berjalan meuju pintu bandara. Dengan berat hati, aku berjalan dan terus
berjalan. Dan seketika supir itu memanggilku. Aku pun berbalik badan dan
tertegun. Supir itu menghampiriku dan memberikanku sebuah syal hangat sambil
berkata “ini syal siapa tertinggal di
mobil? Punya Nona kan? Jangan sampai ketinggalan ya, Nona.hati-hati di jalan.
Save flight, Nona.” Aku hanya menjawab terima kasih sambil tersenyum. Aku
tercengang seolah-olah aku tidak diperbolehkan pulang ke Indonesia. Tidak
diperbolehkan lagi bertemu kamu. Mungkin. Lalu aku segera berjalan lagi sampai
ke pemeriksaan barang sebelum ketinggalan pesawat. Seolah air mata akan turun
ketika aku didalam pesawat. Tapi sudahlah, aku memang harus menghadapinya.
Menghadapi rutinitasku, dan menghadapi kamu yang telah bersamanya. Berat
sekali. Sakit rasanya.
6 bulan kemudian..
Yogyakarta
istimewa di sore hari dengan langit senja yang indah. Hai kamu. Ya, kamu yang
hilang dan kini datang lagi. Senyum itu masih sama. Tatapan mata itu pun masih
sama seperti dulu. Menatapku dengan tatapan berbinar. Aku suka mata itu. Aku
masih suka mata itu. Oh, tidak. Kamu datang lagi. Seolah ada oksigen yang
menghidupkan detak jantung ini lagi.
Hai kamu yang selalu aku tunggu,
apa kabar? Kamu masih bersamanya? Oh, baiklah. Baik-baik ya. Aku senang jika
kamu senang. Kenapa? Mengapa? Kau tak bahagia? Ya. Kenapa? Tidak, tidak
mungkin. Apa? Tidak, jangan bercanda. Kenapa kau bicara begitu? Sulit sekali.
Ini posisi yang paling susah untuk aku. Kaupun. Lalu? Ah. Susah ya hidup jadi
AKU. Baiklah. Untuk apa aku pergi jauh, jika pada akhirnya kau kembali. IYA. I
LOVE YOU TOO. Terima kasih sudah datang kembali. Selamat datang kembali. Jangan
pergi lagi. Jangan lupa bahagia. Ya. Bahagia itu kamu sendiri yang buat, bukan
aku, bukan orang lain. Aku sayang kamu.
Ah,
roda kehidupan begitu cepat berputar. Kadang dibawah, kadang di atas. Kadang
aku rindu kamu. Tahukah kamu, saat ini? Detik ini? Aku RINDU KAMU, Mas. Kadang
semua yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Bukan begitu? Aku hanya
tidak mau memberimu cinta yang merepotkan. Tapi setidaknya jangan lagi pecahkan
hati. Lalu hati yang pernah pecah karenamu dan sudah kau benahi walau hanya
dengan lem dan jika disentuh dan di senggol sedikit saja dia bisa jatuh dan
pecah lagi.
Sudah
ku alami yang terbaik dan terburuk denganmu.
Tahukah
kamu?
Aku.
Sayang. Kamu.

0 komentar:
Posting Komentar