About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Sabtu, 21 Maret 2015

Hampir Dua Tahun yang Lalu



Aku mengenalmu sejak semester satu. Sejak kau sebut namamu. Sejak kita berjabat tangan dan saling mengucapkan nama satu sama lain di loby siang itu. Sejak hampir dua tahun yang lalu, sejak kamu mengenalkan aku dengan Yogyakarta. Sejak kudengar logatmu yang Jogja banget. Mungkin bagimu hampir dua tahun adalah waktu yang singkat. Dan hampir setahun mungkin aku tiada arti.

Ku akui aku mulai mencintaimu saat itu. Mencintaimu dalam diam. Menikmati cinta dalam hati, hanya karena aku takut jauh dari kamu. Hanya karena aku takut kamu pergi. Dan inilah aku dan perasaan yang aku simpan baik-baik di dalam sebuah kotak yang terkunci di dalam hati.

Dan harus ku akui kamu masih yang pertama dan tetap yang pertama sejak aku menginjakan kaki di kampus ini. Walaupun memang kamu bukanlah cinta pertamaku. Tapi kamu tetap menjadi yang pertama sejak aku mengenalmu. Bahkan ketika celah jemarimu diisi oleh celah jemarinya.

Aku menutup telinga, aku mengunci seluru indraku. Berharap rasa ini terbunuh dan mati, berharap baying wajahmu pergi. Namu kamu masih saja tetap disini, merasuk menembus dinding hati dan merobeknya. Hingga pada akhirnya air mata ini pun mengalir deras bagai sungai. Tapi kamu masih saja tetap menjadi satu-satunya, menjadi yang aku cinta tanpa banyak Tanya, gtanpa aku banyak meminta. Aku sudah mencintaimu sejak semester satu. Dan kini mungkin kamu sudah bahagia, dan aku putuskan untuk pergi. Pergi berusaha untuk melupakanmu, dan kekonyolan bersamamu, kenangan bersama kamu di kota ini. Yogyakarta. Kota yang sederhana, namun sangat Istimewa. Seperti kamu, kamu yang selalu aku cinta. Sejak semester satu.

Malam itu di Merlion, Singapore…

Aku berjalan menyusuri jalan didepan Hotel Fullerton. Berjalan menuju patung singa di Merlion sendiri. Sore itu pukul 18.00, suasana di Singapore masih terang seperti pukul 17.00 waktu setempat. Sampai sudah aku di patung singa. Menikmati suasana sore yang segar. Lalu aku balik arah kembali lagi ke jalan sebelumnya. Aku menyambar pagar danau yang melingkari seluruh arena Merlion. Aku menunggu laser dari gedung Marina Bay Sands. Aku terduduk disebuah kursi dipinggir danau itu yang bersebelahan dengan sebuah café yang entah aku tidak tahu nama cafenya. Sambil menunggu laser yang akan terjadi pukul 19.00 waktu setempat. Hingga akhirnya langit mulai terlihat gelap. Suasana seperti ketika Maghrib di Indonesia. Seperti masih petang, tapi ini sudah tepat pukul 19.00. Laser belum juga muncul. Aku menyeruput segelas macchiato yang ku beli di salah satu counter café di dekat patung singa sebelum aku duduk di dekat danau yang menghadap ke arah gedung Marina Bay Sands. Seandainya aku berjalan ditempat seromantis ini dengan kau. Pikirku! Sudahlah, untuk apalagi berkhayal yang tidak-tidak. Buktinya aku berada ditempat ini tanpa kamu. Ya. Aku berjalan ditempat seromantis ini tanpa kamu. Sendiri. Tanpa ingatanmu. Tanpa genggaman tanganmu.

Akhirnya laser dari Marina Bay Sands mulai muncul perlahan. Aku memperhatikan setiap gerakan lampu yang tersorot di gedung itu. Terlihat kapal-kapal lecl yang melintas melewati danau seolah ikut tersorot oleh laser. Indah, romantis. Aku suka. Hanya saja tidak lengkap. Tanpa kamu. Ya, mana mungkin lah. Kamu saja tidak sedikitpun mengingatku, mungkin. Tempat ini seolah berkata padaku agar aku tidak kembali lagi ke Indonesia. Tidak lagi bertemu denganmu. Seolah tempat ini mengerti perasaanku. Hatiku, tersayat. Dirobek, lalu dihempaskan. Hingga jatuh berkeping-keping. Tapi tidak! Aku harus kembali ke negaraku tercinta, demi study ku, dan orang tuaku.

Pagi itu menuju Changi Airport..

Ucapan selamat dari supir yang mengantarku ke Changi terasa berat aku dengar. Hari itu aku harus pulang ke Indonesia, ke kotaku. Yogyakarta. Kota yang sangat istimewa. Seperti kamu, Mas. Berat sekali rasanya harus menghadapi segala rutinitas, tanpa kamu. Tanpa hatimu. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus hadapi ini.
Sampailah aku didepan bandara Changi. Aku masih diam didalam mobil. Seketika supir membukakan pintu mobil untukku sambil tersenyum dan mengatakan bahwa kita sudah sampai. Aku hanya membalas senyumnya. Berat rasanya jika harus turun dari mobil. Akhirnya akupun turun, dengan berat hati. Aku mengambil koperku yang sudah diturunkan dari bagasi mobil oleh supir yang mengantarku. Supir yang baik dan ramah sekali. Sayang sekali supir hanya bisa mengantarkan aku sampai didepan saja. Aku pun mengucapkan terima kasih padanya lalu aku berbalik badan dan berjalan meuju pintu bandara. Dengan berat hati, aku berjalan dan terus berjalan. Dan seketika supir itu memanggilku. Aku pun berbalik badan dan tertegun. Supir itu menghampiriku dan memberikanku sebuah syal hangat sambil berkata “ini syal siapa tertinggal di mobil? Punya Nona kan? Jangan sampai ketinggalan ya, Nona.hati-hati di jalan. Save flight, Nona.” Aku hanya menjawab terima kasih sambil tersenyum. Aku tercengang seolah-olah aku tidak diperbolehkan pulang ke Indonesia. Tidak diperbolehkan lagi bertemu kamu. Mungkin. Lalu aku segera berjalan lagi sampai ke pemeriksaan barang sebelum ketinggalan pesawat. Seolah air mata akan turun ketika aku didalam pesawat. Tapi sudahlah, aku memang harus menghadapinya. Menghadapi rutinitasku, dan menghadapi kamu yang telah bersamanya. Berat sekali. Sakit rasanya.

6 bulan kemudian..

Yogyakarta istimewa di sore hari dengan langit senja yang indah. Hai kamu. Ya, kamu yang hilang dan kini datang lagi. Senyum itu masih sama. Tatapan mata itu pun masih sama seperti dulu. Menatapku dengan tatapan berbinar. Aku suka mata itu. Aku masih suka mata itu. Oh, tidak. Kamu datang lagi. Seolah ada oksigen yang menghidupkan detak jantung ini lagi.
Hai kamu yang selalu aku tunggu, apa kabar? Kamu masih bersamanya? Oh, baiklah. Baik-baik ya. Aku senang jika kamu senang. Kenapa? Mengapa? Kau tak bahagia? Ya. Kenapa? Tidak, tidak mungkin. Apa? Tidak, jangan bercanda. Kenapa kau bicara begitu? Sulit sekali. Ini posisi yang paling susah untuk aku. Kaupun. Lalu? Ah. Susah ya hidup jadi AKU. Baiklah. Untuk apa aku pergi jauh, jika pada akhirnya kau kembali. IYA. I LOVE YOU TOO. Terima kasih sudah datang kembali. Selamat datang kembali. Jangan pergi lagi. Jangan lupa bahagia. Ya. Bahagia itu kamu sendiri yang buat, bukan aku, bukan orang lain. Aku sayang kamu.

Ah, roda kehidupan begitu cepat berputar. Kadang dibawah, kadang di atas. Kadang aku rindu kamu. Tahukah kamu, saat ini? Detik ini? Aku RINDU KAMU, Mas. Kadang semua yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Bukan begitu? Aku hanya tidak mau memberimu cinta yang merepotkan. Tapi setidaknya jangan lagi pecahkan hati. Lalu hati yang pernah pecah karenamu dan sudah kau benahi walau hanya dengan lem dan jika disentuh dan di senggol sedikit saja dia bisa jatuh dan pecah lagi.
Sudah ku alami yang terbaik dan terburuk denganmu.
Tahukah kamu?
Aku. Sayang. Kamu.

0 komentar:

Posting Komentar