Syukur
Dari yakin ku teguh, hati ikhlas ku penuh
Akan karunia-Mu
Tanah air pusaka Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan Kehadirat-Mu Tuhan
Dari yakin ku teguh, cinta ikhlas ku penuh
Akan jasa usaha, pahlawanku yang baka
Indonesia merdeka
Syukur aku hunjukkan ke bawah duli tuan
Dari yakin ku teguh, bakti ikhlas ku penuh
Akan azas rukunmu
Pandu bangsa yang nyata, Indonesia merdeka
Syukur aku hunjukkan ke hadapanmu tuan
(Tanah air pusaka Indonesia merdeka)
Syukur aku sembahkan kehadirat-Mu Tuhan…
Akan karunia-Mu
Tanah air pusaka Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan Kehadirat-Mu Tuhan
Dari yakin ku teguh, cinta ikhlas ku penuh
Akan jasa usaha, pahlawanku yang baka
Indonesia merdeka
Syukur aku hunjukkan ke bawah duli tuan
Dari yakin ku teguh, bakti ikhlas ku penuh
Akan azas rukunmu
Pandu bangsa yang nyata, Indonesia merdeka
Syukur aku hunjukkan ke hadapanmu tuan
(Tanah air pusaka Indonesia merdeka)
Syukur aku sembahkan kehadirat-Mu Tuhan…
Selalu merinding setiap mengdengar lagu itu. Syukur. Kenapa?
Entahlah. Lagu itu seolah sakral banget. Seolah gambaran-gambaran jaman dahulu
datang dibenak saya. Ya. Jaman dimana ketika Indonesia dijajah oleh bangsa-bangsa
asing. Dimana Indonesia harus memperjuangkan bangsanya. Mempertahankan erat
bumi pertiwi. Bertahun-tahun Indonesia di jajah oleh bangsa-bangsa asing.
Bertahun-tahun bangsa ini akrab dengan penderitaan, kesengsaraan, kepedihan,
dan kematian. Setiap generasi yang datang hilang karena kematian. Bertahun-tahun bangsa ini dijajah, 350 tahun
lamanya Indonesia dijajah oleh Belanda. Entah berapa ribu bahkan berapa ratus
ribu orang yang tewas pada masa itu. Masyarakat memperjuangkan bangsa ini penuh
dengan tumpah darah.
MERDEKA
ATAU MATI!!!
Teringat kekejaman
tentara Jepang ketika menjajah Indonesia melebihi Belanda. Bahkan kekejaman
penjajahan Belanda selama 350 tahun seakan terhapus oleh kekejaman Jepang.
Bukan terhapus karena hilang, tetapi saking kejamnya penjajahan dari Jepang.
Perang Dunia ke II yang sangat mengerikan. Masyarakat Indonesia mati-matian
memperjuangkan bangsa ini hingga titik darah penghabisan. Harapan mereka saat
itu hanyalah mempertahankan erat bumi pertiwi. Apa yang terjadi atas bangsaku?
Pilu getir kurasakan di kalbu ketika terngiang cerita masa-masa itu. Saat itu,
saat-saat kelabu. Semuanya terjadi dan cepat berlalu. Dengan keinginan untuk merdeka mengalirkan rasa
nasionalisme didalam setiap aliran darah anak bumi pertiwi. Nasionalisme serta
keinginan yang kuat untuk merdeka menjadi senjata yang paling baik untuk
menentang, melawan dan mengusir penjajah yang kejam. Ribuan nyawa melayang
untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Hanya satu hal yang membuat bumi pertiwi
dapat bertahan yaitu dengan harapan datangnya hari esok dengan “KEMERDEKAAN”. Ya,
kemerdekaanlah yang membuat mereka selalu memiliki harapan untuk tetap hidup
melalui hari demi hari dibawah belenggu pejajahan.
Hingga
akhirnya tiba pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu
dikarena jatuhnya dibom atom si kota Hirosima dan Nagasaki. Kekalahan Jepang
kepada Sekutu dan kekosongan kekuasaan yang terjadi di Indonesia digunakan
dengan sebaik-baiknya oleh para pemuda Indonesia untuk merebut kemerdekaan.
Dengan semangat juang yang tidak kenal menyerah yang dilandasi iman dan taqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta keikhlasan berkorban telah terpatri dalam
jiwa para pemuda dan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaannya, yang
kemudian diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta.
Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor, dan tak ada
pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta
ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Bahkan konon katanya, katrol
tiang bendera dibuat dari gelas bekas sahur Moh. Hatta. Tetapi itulah,
kenyataan yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nanti selama
lebih dari 300 tahun! Bahkan ketika sedang Upacara Proklamasi pun Bung Karno
sedang sakit.
“Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah
merdeka!”, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka
lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih.
Dan ini adalah pidato dari Bung Karno saat
pembacaan Proklamasi :
Saudara-saudara sekalian!
Saya telah meminta Anda untuk hadir di sini untuk menyaksikan peristiwa dalam sejarah kami yang paling penting.
Selama beberapa dekade kita, Rakyat Indonesia, telah berjuang untuk kebebasan negara kita-bahkan selama ratusan tahun!
Ada gelombang dalam tindakan kita untuk memenangkan kemerdekaan yang naik, dan ada yang jatuh, namun semangat kami masih ditetapkan dalam arah cita-cita kami.
Juga selama zaman Jepang usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak pernah berhenti. Pada zaman Jepang itu hanya muncul bahwa kita membungkuk pada mereka. Tetapi pada dasarnya, kita masih terus membangun kekuatan kita sendiri, kita masih percaya pada kekuatan kita sendiri.
Kini telah hadir saat ketika benar-benar kita mengambil nasib tindakan kita dan nasib negara kita ke tangan kita sendiri. Hanya suatu bangsa cukup berani untuk mengambil nasib ke dalam tangannya sendiri akan dapat berdiri dalam kekuatan.
Oleh karena semalam kami telah musyawarah dengan tokoh-tokoh Indonesia dari seluruh Indonesia. Bahwa pengumpulan deliberatif dengan suara bulat berpendapat bahwa sekarang telah datang waktu untuk mendeklarasikan kemerdekaan.
Saudara-saudara:
Bersama ini kami menyatakan solidaritas penentuan itu.
Saya telah meminta Anda untuk hadir di sini untuk menyaksikan peristiwa dalam sejarah kami yang paling penting.
Selama beberapa dekade kita, Rakyat Indonesia, telah berjuang untuk kebebasan negara kita-bahkan selama ratusan tahun!
Ada gelombang dalam tindakan kita untuk memenangkan kemerdekaan yang naik, dan ada yang jatuh, namun semangat kami masih ditetapkan dalam arah cita-cita kami.
Juga selama zaman Jepang usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak pernah berhenti. Pada zaman Jepang itu hanya muncul bahwa kita membungkuk pada mereka. Tetapi pada dasarnya, kita masih terus membangun kekuatan kita sendiri, kita masih percaya pada kekuatan kita sendiri.
Kini telah hadir saat ketika benar-benar kita mengambil nasib tindakan kita dan nasib negara kita ke tangan kita sendiri. Hanya suatu bangsa cukup berani untuk mengambil nasib ke dalam tangannya sendiri akan dapat berdiri dalam kekuatan.
Oleh karena semalam kami telah musyawarah dengan tokoh-tokoh Indonesia dari seluruh Indonesia. Bahwa pengumpulan deliberatif dengan suara bulat berpendapat bahwa sekarang telah datang waktu untuk mendeklarasikan kemerdekaan.
Saudara-saudara:
Bersama ini kami menyatakan solidaritas penentuan itu.
Dengarkan Proklamasi kami :
P R O K L A M A S I
KAMI BANGSA INDONESIA DENGAN INI MENYATAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA.
HAL-HAL YANG MENGENAI PEMINDAHAN KEKUASAAN DAN LAIN-LAIN DISELENGGARAKAN
DENGAN CARA SAKSAMA DAN DALAM TEMPO YANG SESINGKAT-SINGKATNYA.
DJAKARTA, 17 AGUSTUS 1945
ATAS NAMA BANGSA INDONESIA.
SUKARNO-HATTA.
Jadi, Saudara-saudara!
Kita sekarang sudah bebas!
Tidak ada lagi penjajahan yang mengikat negara kita dan bangsa kita!
Mulai saat ini kita membangun negara kita. Sebuah negara bebas, Negara Republik Indonesia-lamanya dan abadi independen. Semoga Tuhan memberkati dan membuat aman kemerdekaan kita ini!
Kita sekarang sudah bebas!
Tidak ada lagi penjajahan yang mengikat negara kita dan bangsa kita!
Mulai saat ini kita membangun negara kita. Sebuah negara bebas, Negara Republik Indonesia-lamanya dan abadi independen. Semoga Tuhan memberkati dan membuat aman kemerdekaan kita ini!
Sungguh
betapa sakralnya jika mendengar lagu Syukur. Selalu terngiang cerita-cerita di
masa lalu. Air mataku mengalir, sungguh bakti ikhlasku penuh. Tanah air pusaka
Indonesia merdeka.
Betapa
berat perjuangan bangsa Indonesia kala itu. Saat itu saat-saat kelabu. Pilu getir
kurasakan dikalbu kala mengingat cerita-cerita dimasa lalu. Tak terbayang dalam
benak ku, tak terukur di seluruh nalarku jika aku lahir pada masa-masa itu. Betapa
hebat dan tangguhnya para pahlawan Indonesia, hingga pahlawan-pahlawan yang
telah gugur. Mereka bersatu untuk mempertahankan negeri ini. Lalu, mengapa
Indonesia dahulu bersatu dan saling bergenggam tangan kini telah memudar? Apa yang
telah terjadi? Orang-orang saling berperang satu sama lain, saling menjatuhkan.
Orang-orang saling membunuh, tanpa ada rasa manusiawi sedikitpun, bahkan
memakan harta rakyat. Memakan harta Negara. Bukankah kami satu bangsa? Bukankah
kami satu persaudaraan? Bukankah kami satu perjuangan? Lalu mengapa orang-orang
tega melakukan hal seperti ini? Bukankah itu hal kejam dan keji? Bukankah
dulu kita pernah dijajah oleh bangsa asing dengan kejam? Lalu kenapa masa
sekarang orang-orang bangsa ini saling melakukan kejahatan dan kekejaman di
antara bangsa ini? Tidak ingatkah kau atas kekejaman pada masa dahulu? Tapi mengapa
kita bangsa Indonesia saling kejam? Apa yang terjadi atas bangsaku saat ini? Mengapa
kita harus nodai persaudaraan kita yang abadi? Tatkala senyum harus ku
sunggingkan, namun hatiku masih berat menekan. APA YANG TERJADI ATAS BANGSAKU? Tanyaku. Kini air mata ku mulai mengering,
bahkan tangisku kini telah tak bersuara. Batinku masih terasa tergerak. Mengapa
ini harus terjadi pada negeri yang ku cintai? Salahkah aku lahir disini? Tuhan tempatkan
aku di negeri ini, negeri dengan gugsan ribuan pulaunya. Dia memberiku disitu. AKU BERBANGSA!! Teriakku.
Negeri
ini sangat indah Tuhan… bantu kami menjaganya…
Ku
tahu semua harus ku syukuri…
Saya
Anisa, saya mencintai negeri indah dengan gugusan ribuan pulaunya, tanah air
Indonesia seumur hidup saya, sampai saya mati.
Nisa, 20 tahun
Yogyakarta, 2015





0 komentar:
Posting Komentar