About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Selasa, 31 Maret 2015

Adelaide Sky

Karena aku yang entah kenapa dari kemarin dengerin lagunya Adhitya Sofian seolah memang lagu ini pas banget buat aku secara nyata. Ya, entah kenapa. Oke ini sekedar ceritaku. Tapi, entah kenapa aku jadi ingin bercerita tentang lagu ini. Entah apa dasarnya aku memilih lagu ini, atau mungkin karena lagu ini yang emang sama banget sama aku atau memang entah kenapa. So, baca cerita ini kayaknya lebih asik pake backsound-nya lagunya Adhitia Sofyan – Adelaide Sky.




Kota sedang hujan rintik-rintik. Aku melihatmu dari kejauhan. Dari sebuah café di pinggir jalan, aku melihatmu dari seberang. Kau sedang duduk di café seberang, duduk termenung di teras café. Aku melihatmu dari jendela café yang kau tidak bisa melihatku. Aku dengan secangkir kopi panas untuk menghangatkan tubuhku dan menenangkan aku. Ku pandangi wajahmu dengan cermat dari kejauhan. Pandanganku menerjang gerimis dari kaca jendela café. Aku memperhatikan seluruh wajahmu. Mata mu yang bulat, bibir yang menarik, dan tatapanmu yang tajam. Ya, masih sama. Kamu hanya diam merenung di teras café sambil meminum secangkir entah kopi atau cokelat panas. Entah apa yang sedang kau pikirkan. Sepertinya memang begitu berat masalah yang sedang kau rasakan. Ingin sekali rasanya saat ini berada disampingmu, mantan kekasihku, Senja. Oh ya, by the way namaku Ellie. Senja, itu bukan namanya itu hanya panggilan ku untuknya. Dia bernama Josh. Aku menyukai hujan, hot coffee dan senja. Ya, seperti dia yang seperti senja. Selalu dinantikan kedatangannya yang hanya sekejap dan membuat orang menunggu lagi. Seperti hujan yang selalu mendinginkan aku ditengah teriknya panas. Seperti kopi yang selalu memberiku pahit dan nikmat. Itulah, hingga akhirnya aku sayang kamu, Senja. Mantan kekasihku.
            Ku teguk secangkir kopi panasku. Hujan belum juga reda. Kamu masih juga berada di café seberang. Kau rupanya memang sudah tak peduli padaku Josh. Ah tidak, aku masih menunggumu di café ini. Menunggumu menghampiriku. Oh ya, by the way ini adalah café kesukaan kami berdua, dulu saat kita masih berpacaran. Ah sudahlah, jangan terlalu berharap banyak. Josh sudah berubah. Sepertinya memang sudah tidak peduli lagi. Entah bagaimana caranya aku ingin menemuimu Josh. Sebelum perpisahan nanti. Sebelum pada akhirnya aku mengetahui kau mungkin benar-benar memintaku untuk pergi. Ah aku ingat! Malam itu kau menyatakan cintamu dengan sungguh dan berkata bahwa kau tidak akan pergi lagi dariku di café ini. Ya, kau pernah pergi dan kini untuk yang ke dua kalinya kau pergi lagi dariku. Josh, sungguh aku ingin bertemu denganmu dengan sebuah kepastian sebelum aku pergi atau kau memang benar-benar menyuruhku untuk pergi.



Entah apa yang harus aku lakukan untuk menemuimu. Aku melihat kau sedang membuka laptop dari café seberang. Ah, I think that’s good idea! Pikirku. Aku pun mengeluarkan laptopku. Aku mulai membuka internet dan membuka email. Lalu mulai ku ketik sebuah surat email untukmu, Senja.

Hai, Senja. Apa kabar? Sedang apa kau duduk di café seberang? Maafkan aku, aku tidak sengaja melihatmu dari sini. Ingin sekali aku bertemu denganmu. Tapi tidak, aku tidak akan menghampirimu disana. Aku tidak ingin mengganggumu. Aku hanya ingin bicara sebentar saja denganmu. Aku sedari tadi duduk disini, di café kesukaanmu. Dengan secangkir kopi panas yang sekarang sudah mulai dingin. Sejujurnya, aku hanya ingin perlu tau apa yang ada dipikiranmu saat ini? Sekiranya pula aku ingin tau hatimu, perasaanmu padaku saat ini? Apakah kau benar-benar membenciku? Apakah kesalahanku begitu besar di matamu? Tidak, bagiku itu adalah hal yang bisa di ubah. Tidak kah kau ingat dulu, kita bahagia tertawa bersama? Tidak kah kau ingat apa saja yang sudah kita lakukan bersama? Tidak ingatkah kau kala itu? maafkan aku. Ya, aku hanya rindu kecupan kening untukku lalu kau berkata “aku sayang kamu”. Tidak seperti ini yang ku ingin, kita seperti manusia yang seolah tidak saling kenal.
Oh ya, besok aku akan terbang menuju Adelaide Sky. Aku akan terbang ke Australia besok pagi. Mungkin kali ini kedua kalinya aku harus pergi jauh, jauh dari kamu. Tanpa kamu hanya dengan hal yang sama. Aku hanya ingin membiarkan kamu tau semua apa yang ada dipikiranku saat ini. Josh, jika kamu masih sayang padaku, jika kau benar-benar sayang padaku maka temui aku. Aku tunggu kedatanganmu mulai sekarang hingga besok pagi di Bandara sebelum aku terbang. Besok pesawat berangkat pukul 7 pagi.
Aku harap kau bisa terlihat baik kepadaku. Beri aku kesempatan untuk bicara sebelum aku berangkat. Atau jika kau memang benar-benar menyuruhku pergi, pergi jauh darimu. Baiklah, aku akan pergi. Pergi dari kamu. Tapi aku harap kamu bisa cukup baik untuk mengingatku.

With love,


Ellie

Ku kirimkan email pada Josh, lalu sebentar aku melihatnya lagi dari café seberan. Dia seperti sedang membaca sesuatu dari laptopnya. Beberapa menit kemudia aku beranjak dari tempat dudukku. Aku berjalan menuju keluar café. Langkah kaki ku terdengar seolah berat sekali. Aku berjalan menuju mobilku. Aku masih memperhatikan Josh. Seketika Josh berdiri, lalu melihatku. Aku berusaha untuk terus berjalan tanpa melihatnya. Akankah kau mengejarku, Josh? Aku mempercepat gerak kakiku menuju mobil. Hujan masih rintik-rintik. Akupun memasuki mobil lalu berjalan pulang. Tidak, Josh tidak mengejarku rupanya. Baiklah, mungkin ini memang saatnya aku benar-benar pergi. Pergi dari kamu, Josh. Pergi dari kota ini. Kotamu. Kota tercinta ini.
Walau aku kau sia-siakan. Meskipun peduliku tak kau hiraukan. Meskipun perjuanganku seperti tak kau inginkan. Tak apa, tapi ingatlah semua yang sudah kau katakana, Josh. Kau tidak akan pergi lagi dariku. Bukan begitu? Tapi kau pergi. Tapi aku selalu sayang padamu, dan aku akan coba untuk tetap terjaga dan melawan kehadiranmu di kepala dan pikiranku.

0 komentar:

Posting Komentar