About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Kamis, 02 April 2015

Adelaide Sky (2)


Suara bising pesawat terdengar menggema di telinga. Aku berjalan sendiri menuju ruang tunggu. Aku melangkahkan kakiku menuju salah satu kursi di ruang tunggu. Aku menatap ke arah jendela, menatap pesawat-pesawat yang lepas landas dan yang baru datang pula. Pesawat, terbang bebas ke langit dan mendarat dengan elegan pula. Aku suka pesawat. Aku suka suara pesawat. Aku melihat kea rah pintu dimana aku tadi datang, tak seorangpun mengejarku. Mereka membiarkan aku pergi rupanya. Josh membiarkan aku pergi, pergi jauh darinya. Pergi benar-benar pergi. Ya, Josh telah membenciku rupanya. Baiklah, aku memang harus pergi. Pikirku. Aku menunggu pesawatku datang. Membawaku pergi, pergi jauh dari sini. Dari kota ini, dari negeri tercinta ini. Jauh dari kamu. Jauh dari kamu. Jauh dari kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu…
Josh menatapku tanpa berkedip. Tanpa berpaling. Entah mengapa jantungku berdebar. Seperti dulu. Seperti ada yang memompa jantungku lebih keras, lebih keras, sangat keras. Hingga detak jantungku berdetak cepat sekali. Aku mencoba mengalihkan pandangannya padaku.
“Josh, kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanyaku. Tapi dia hanya menggelengkan kepala dan masih tetap menatapku. Lalu dia menatap mataku. Terus saja menatapku. Apa yang kau lakukan Josh, mengapa kau melihatku seperti itu? tatapanmu tidak pernah berubah sedari dulu. Pikirku. Tanpa diduga pun Josh memgang tanganku. Aku kaget. Aku terperangah. Seketika dia memeluk ku. Memeluku erat sekali. Sangat erat. Hampir aku tidak bisa bernafas.
“Ellie, aku menyayangimu. Maafkan aku. Maafkan aku pernah pergi darimu. Aku sayang kamu.” Ucapnya sambil memelukku begitu erat. Aku hanya diam dan seketika air mataku pun menetes. “Ellie, jangan menangis. Aku minta maaf, aku sayang kamu.” Tambahnya lagi masih memelukku.
Josh mulai melepaskan pelukannya. Aku hanya menunduk. “Jangan menangis Ellie.” Ucapnya sambil memegang dagu ku dan melihat wajahku. Aku melihat wajahnya, lalu aku memeluknya. Memeluknya sangat erat.
“Kamu jahat sekali, Josh!” ucapku sambil memeluknya. “Kemana saja kau selama ini? Aku menunggumu. Tapi kau pergi. Kamu jahat!”
“Maafkan aku Ellie. Maafkan aku.” Jawabnya. Aku melepaskan pelukku. “Ellie, aku janji aku takkan pergi lagi. Aku janji, ingat itu Ellie, aku tidak akan pergi lagi. Aku janji.” Ucapnya sambil menatapku tajam. Lalu dia mencium keningku.
“Ellie..” ucapnya sedikit berbisik sambil menatapku.
“Ya, Josh?” jawabku.
“I love you.. I love you so much..” ucap Josh masih dengan nada berbisik. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Mataku masih berkaca-kaca. Mulutku membisu seketika. Aku tidak bisa bicara. Aku hanya bisa memeluknya.
“Josh, a..ku sa..” ucapku terbata-bata layaknya manusia yang sedang belajar bicara.
“Ya, Ellie. Apa yang ingin kau katakana? Tanya Josh.
“Josh, aku.. sa..” ucapku kesulitan lalu aku ingin menangis. Aku ingin menangis, aku ingin menghantam apapun yang didepanku. Aku tidak bisa bicara. Ah, Josh membuatku menjadi begini.
“Aku sa.. apa Ellie? Katakana saja. Kau ingin bicara apa?”
“… aku sayang kamu Josh…” ucapku masih sedikit terbata. Lalu Josh memelukku lagi.
“aku juga sayang kamu Ellie.” Ujarnya lagi.
            Suara bising pesawat yang baru datang membuyarkan lamunanku. Lamunan masa laluku. Josh. Kekasih yang paling memahamiku yang pernah aku miliki. Ah suara michrophone sudah terdengar. Aku terperangah. Oh, pesawatku sudah datang. Datang menjemputku dan aku harus pergi. Tidak ada lagi yang perlu aku tunggu. Aku harus pergi. Sekarang semuanya sudah selesai. Kini tinggal menunggu giliran pesawat membawaku pergi oh entah kemana pesawat akan membawaku pergi. Ya, ke Adelaide Sky. Atau kemana? Entah. Tapi tujuanku saat ini adalah Adelaide Sky. Aku berjalan menuju pesawat. Angin semilir begitu hebat. Suara bising pesawat begitu terdera seolah mendorongku untuk pergi dari tempat ini.


Aku duduk dibagian sayap pesawat. Lebih luas kursinya, lebih nyaman pula. Duduk di dekat jendela. Ya, itu kesukaanku dari kecil. Duduk di dekat jendela. Aku memandangi ke luar jendela. Menikmati perjalanan, melihat ke bawah. Seolah aku terbang bebas disini. Tanpa beban, tanpa kesibukan, tanpa Josh. Aku berada di atas awan. Aku memandang langit. Melihat ke arah luar. Seketika aku teringat Josh. Tidak disangka ternyata ada air mengalir dari mata yang turun perlahan seperti grimis. Menetes perlahan namun terus menerus. Aku hapus air mataku dengan syal kesayanganku. Syal dari Papi dari Jerman 15 tahun yang lalu untukku. Syal yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi. Khususnya pergi jauh. Seketika dingin. Untung saja ada pramugari yang menawari minuman. Aku hanya memesan kopi panas saja untuk menghangatkan tubuhku. Perjalanan masih beberapa jam. Aku masih duduk terdiam. Kursi sebelahku kosong. Tidak ada teman bicara. Aku hanya membaca buku yang aku bawa. Novel lebih tepatnya. Lalu aku melihat ke arah jendela lagi. Aku melihat langit begitu cerah. Di atas ketinggian aku melihat betapa sebenarnya diatas langit masih ada langit. Ya, aku menyukai langit. Langit biru.
Kopi panas ku pun datang. Aku menyeruput kopi panas. Badanku mulai sedikit menghangat. Sudah lebih baik. Aroma kopinya menggoda sekali. Aku suka. Seketika memori lama kembali lagi. Tidak, tidak boleh. Aku harus bisa tetap hidup tanpa Josh. Kali ini tidak akan sama lagi. Hidupku harus terus berjalan. Entah bagaimana pun caranya. Mungkin kali ini kamu tidak bisa kembali, Josh. Mulai sekarang mungkin kita hidup dalam waktu yang berbeda. Ya, aku tetap mencintaimu, Josh. Walaupun aku selalu melawan kehadiranmu dalam pikiranku.
            Aku melihat ke arah langit lagi. Indah langitnya. Hey, welcome to Adelaide Sky.. welcome to myself. Setelah beberapa jam di dalam pesawat di atas ketinggian di langit. Pesawat sudah hampir menapakkan rodanya ke tanah. Syukurlah sampai dengan selamat. Aku turun menuruni tangga pesawat. Menuju tempat pengambilan bagasi. Perlahan kakiku berjalan. Walau sedikit berat. But, ya, aku harus terus berjalan. Hidupku harus terus berjalan. Bagaimanapun caranya. Sakit sekali memang, sungguh sangat sakit. Berat sekali di saat-saat seperti ini. Itulah kenapa kini aku harus pergi. Karna aku ingin terus bertahan hidup, menyenangkan diri sendiri. Entah bagaimana caranya. I will survive. Hidup harus terus berjalan. Hidup bagai untaian sekenario. Hidup itu adalah sebuah drama yang kita nggak tau endingnya. Drama sesungguhnya yang Tuhan-lah sutradaranya.



Tiada suara seindah ombak,
Tiada kenyamanan seindah kotaku,
Kali ini ku titipkan rinduku melalui angin yang berhembus,
Kami memandang satu langit dalam satu benua,
Dalam zona waktu yang berbeda,
Untukmu yang jauh disana,
Kutitipkan salam rinduku pada udara yang berhembus,
Semoga kau rasakan salam rinduku,
Tak ada cinta seindah dirimu,
Maka,
Kini izinkan aku…
Izinkan aku mencintaimu,
Mencintaimu dengan sederhana…
Tiada yang kejam,
Tiada yang kejam selain cinta,
Tiada yang kejam selain waktu,
Mengehmpaskan aku ke salah satu sudut dunia,
Menyeretku dalam jeruji besi mengerikan.
Maka,
Kini izinkan aku…
Izinkan aku selalu mencintaimu dengan sederhana…

0 komentar:

Posting Komentar