Suara bising pesawat
terdengar menggema di telinga. Aku berjalan sendiri menuju ruang tunggu. Aku melangkahkan
kakiku menuju salah satu kursi di ruang tunggu. Aku menatap ke arah jendela,
menatap pesawat-pesawat yang lepas landas dan yang baru datang pula. Pesawat,
terbang bebas ke langit dan mendarat dengan elegan pula. Aku suka pesawat. Aku
suka suara pesawat. Aku melihat kea rah pintu dimana aku tadi datang, tak
seorangpun mengejarku. Mereka membiarkan aku pergi rupanya. Josh membiarkan aku
pergi, pergi jauh darinya. Pergi benar-benar pergi. Ya, Josh telah membenciku
rupanya. Baiklah, aku memang harus pergi.
Pikirku. Aku menunggu pesawatku datang. Membawaku pergi, pergi jauh dari sini.
Dari kota ini, dari negeri tercinta ini. Jauh dari kamu. Jauh dari kamu. Jauh
dari kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu…
Josh menatapku tanpa berkedip. Tanpa berpaling.
Entah mengapa jantungku berdebar. Seperti dulu. Seperti ada yang memompa
jantungku lebih keras, lebih keras, sangat keras. Hingga detak jantungku berdetak
cepat sekali. Aku mencoba mengalihkan pandangannya padaku.
“Josh, kenapa
kamu melihatku seperti itu?” tanyaku. Tapi dia hanya menggelengkan kepala dan
masih tetap menatapku. Lalu dia menatap mataku. Terus saja menatapku. Apa yang kau lakukan Josh, mengapa kau melihatku
seperti itu? tatapanmu tidak pernah berubah sedari dulu. Pikirku. Tanpa diduga pun Josh memgang tanganku. Aku kaget. Aku terperangah.
Seketika dia memeluk ku. Memeluku erat sekali. Sangat erat. Hampir aku tidak
bisa bernafas.
“Ellie, aku
menyayangimu. Maafkan aku. Maafkan aku pernah pergi darimu. Aku sayang kamu.”
Ucapnya sambil memelukku begitu erat. Aku hanya diam dan seketika air mataku
pun menetes. “Ellie, jangan menangis. Aku minta maaf, aku sayang kamu.”
Tambahnya lagi masih memelukku.
Josh mulai
melepaskan pelukannya. Aku hanya menunduk. “Jangan menangis Ellie.” Ucapnya
sambil memegang dagu ku dan melihat wajahku. Aku melihat wajahnya, lalu aku
memeluknya. Memeluknya sangat erat.
“Kamu jahat
sekali, Josh!” ucapku sambil memeluknya. “Kemana saja kau selama ini? Aku
menunggumu. Tapi kau pergi. Kamu jahat!”
“Maafkan aku
Ellie. Maafkan aku.” Jawabnya. Aku melepaskan pelukku. “Ellie, aku janji aku
takkan pergi lagi. Aku janji, ingat itu Ellie, aku tidak akan pergi lagi. Aku
janji.” Ucapnya sambil menatapku tajam. Lalu dia mencium keningku.
“Ellie..”
ucapnya sedikit berbisik sambil menatapku.
“Ya, Josh?”
jawabku.
“I love you.. I
love you so much..” ucap Josh masih dengan nada berbisik. Aku tidak bisa
berkata apa-apa. Mataku masih berkaca-kaca. Mulutku membisu seketika. Aku tidak
bisa bicara. Aku hanya bisa memeluknya.
“Josh, a..ku
sa..” ucapku terbata-bata layaknya manusia yang sedang belajar bicara.
“Ya, Ellie. Apa
yang ingin kau katakana? Tanya Josh.
“Josh, aku..
sa..” ucapku kesulitan lalu aku ingin menangis. Aku ingin menangis, aku ingin
menghantam apapun yang didepanku. Aku tidak bisa bicara. Ah, Josh membuatku
menjadi begini.
“Aku sa.. apa
Ellie? Katakana saja. Kau ingin bicara apa?”
“… aku sayang kamu
Josh…” ucapku masih sedikit terbata. Lalu Josh memelukku lagi.
“aku juga sayang
kamu Ellie.” Ujarnya lagi.
Suara
bising pesawat yang baru datang membuyarkan lamunanku. Lamunan masa laluku.
Josh. Kekasih yang paling memahamiku yang pernah aku miliki. Ah suara michrophone sudah terdengar. Aku
terperangah. Oh, pesawatku sudah datang. Datang menjemputku dan aku harus
pergi. Tidak ada lagi yang perlu aku tunggu. Aku harus pergi. Sekarang semuanya
sudah selesai. Kini tinggal menunggu giliran pesawat membawaku pergi oh entah
kemana pesawat akan membawaku pergi. Ya, ke Adelaide Sky. Atau kemana? Entah. Tapi
tujuanku saat ini adalah Adelaide Sky. Aku berjalan menuju pesawat. Angin semilir
begitu hebat. Suara bising pesawat begitu terdera seolah mendorongku untuk
pergi dari tempat ini.
Aku duduk dibagian sayap pesawat. Lebih luas
kursinya, lebih nyaman pula. Duduk di dekat jendela. Ya, itu kesukaanku dari
kecil. Duduk di dekat jendela. Aku memandangi ke luar jendela. Menikmati perjalanan,
melihat ke bawah. Seolah aku terbang bebas disini. Tanpa beban, tanpa
kesibukan, tanpa Josh. Aku berada di atas awan. Aku memandang langit. Melihat ke
arah luar. Seketika aku teringat Josh. Tidak disangka ternyata ada air mengalir
dari mata yang turun perlahan seperti grimis. Menetes perlahan namun terus
menerus. Aku hapus air mataku dengan syal kesayanganku. Syal dari Papi dari
Jerman 15 tahun yang lalu untukku. Syal yang selalu aku bawa kemanapun aku
pergi. Khususnya pergi jauh. Seketika dingin. Untung saja ada pramugari yang
menawari minuman. Aku hanya memesan kopi panas saja untuk menghangatkan tubuhku.
Perjalanan masih beberapa jam. Aku masih duduk terdiam. Kursi sebelahku kosong.
Tidak ada teman bicara. Aku hanya membaca buku yang aku bawa. Novel lebih
tepatnya. Lalu aku melihat ke arah jendela lagi. Aku melihat langit begitu
cerah. Di atas ketinggian aku melihat betapa sebenarnya diatas langit masih ada
langit. Ya, aku menyukai langit. Langit biru.
Kopi panas ku pun datang. Aku menyeruput kopi panas.
Badanku mulai sedikit menghangat. Sudah lebih baik. Aroma kopinya menggoda
sekali. Aku suka. Seketika memori lama kembali lagi. Tidak, tidak boleh. Aku harus
bisa tetap hidup tanpa Josh. Kali ini tidak akan sama lagi. Hidupku harus terus
berjalan. Entah bagaimana pun caranya. Mungkin kali ini kamu tidak bisa
kembali, Josh. Mulai sekarang mungkin kita hidup dalam waktu yang berbeda. Ya,
aku tetap mencintaimu, Josh. Walaupun aku selalu melawan kehadiranmu dalam
pikiranku.
Aku
melihat ke arah langit lagi. Indah langitnya. Hey, welcome to Adelaide Sky.. welcome to myself. Setelah beberapa jam
di dalam pesawat di atas ketinggian di langit. Pesawat sudah hampir menapakkan
rodanya ke tanah. Syukurlah sampai dengan selamat. Aku turun menuruni tangga
pesawat. Menuju tempat pengambilan bagasi. Perlahan kakiku berjalan. Walau sedikit
berat. But, ya, aku harus terus
berjalan. Hidupku harus terus berjalan. Bagaimanapun caranya. Sakit sekali
memang, sungguh sangat sakit. Berat sekali di saat-saat seperti ini. Itulah kenapa
kini aku harus pergi. Karna aku ingin terus bertahan hidup, menyenangkan diri
sendiri. Entah bagaimana caranya. I will
survive. Hidup harus terus berjalan. Hidup bagai untaian sekenario. Hidup itu
adalah sebuah drama yang kita nggak tau endingnya. Drama sesungguhnya yang
Tuhan-lah sutradaranya.
Tiada suara seindah ombak,
Tiada kenyamanan seindah
kotaku,
Kali ini ku titipkan rinduku
melalui angin yang berhembus,
Kami memandang satu langit
dalam satu benua,
Dalam zona waktu yang berbeda,
Untukmu yang jauh disana,
Kutitipkan salam rinduku pada
udara yang berhembus,
Semoga kau rasakan salam
rinduku,
Tak ada cinta seindah dirimu,
Maka,
Kini izinkan aku…
Izinkan aku mencintaimu,
Mencintaimu dengan sederhana…
Tiada yang kejam,
Tiada yang kejam selain cinta,
Tiada yang kejam selain waktu,
Mengehmpaskan aku ke salah satu
sudut dunia,
Menyeretku dalam jeruji besi
mengerikan.
Maka,
Kini izinkan aku…
Izinkan aku selalu mencintaimu
dengan sederhana…




0 komentar:
Posting Komentar