About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Senin, 13 April 2015

KAMU.



Kini maafkanlah aku bila ku menjadi bisu kepada dirimu,
Bukan santunku terbungkam, hanya hatiku berbatas tuk mengerti kamu.
Maafkanlah aku…


Aromanya begitu lekat. Aku sangat mengenal bau harum ini. Ya, aku sangat mengenal dengan baunya. Begitu dekat, begitu hangat. Aroma parfum yang sangat memekakan hidungku. Aku sangat mengenal bau parfum ini. Belagio warna biru. Baunya mengingatkan aku pada seseorang. Kali ini baunya sangat dekat. Kembali lagi pada memori. Kamu.
Tatapan matanya masih sama, aroma tubuhnya yang sangat hangat. Baunya sungguh laki-laki banget. Senyumnya yang selalu membuatku blushing, menenangkan hati. Jahilnya selalu sama. Orang yang keras kepala tapi sedikit manja, tapi sangat mandiri. Tidak mau merepotkan orang lain. Kamu menyebalkan, ya, terkadang. Tapi kamu, aku selalu sayang kamu. Iya, kamu. Kamu, istimewa. Sama seperti kotamu, Yogyakarta. Banyak cerita tentang aku, kamu, dan kotamu. Kamu, mandiri dan sederhana. Aku suka. Aku suka kesederhanaanmu. Sederhana, tapi istimewa. Seperti kotamu.
Kamu mengenal perjuangan, aku tidak sepaham itu. Kamu mengenal susah, aku tidak, aku bodoh. Kamu sederhana, aku tidak. Aku, hanya suka dengan caraku, duniaku. Berbeda denganmu. Tapi, kamu mengenalkan semua itu padaku. Aku suka. Aku berubah. Aku bahagia mengenalmu. Bahagia dengan caramu. Kita, bahagia. Iya, aku dan kamu. Kita. Sesederhana itu aku mencintaimu. Kita, bahagia. Sesederhana itu. sesederhana kamu membawaku berkeliling seluruh kota Yogyakarta. Aku suka.
Kamu menyukai buah durian, aku pula. Bagai manusia bertahun-tahun yang belum makan jika melihat durian. Lucu. Tidak kenal malu. Aku suka. Lucu cara kita bersama. Aku suka.
Namun, kali ini aku harus pergi dari kota ini. Dari negeri tercinta ini. Aku pergi, pada titik terendahmu. Bahkan pada titik kehidupan terendahku pula. Pergi tanpa kamu. Meninggalkan kamu, sendiri, mungkin. Kamu kan kuat. Tanpa aku. Ya, aku pergi. Pesawat sudah menanti di lapangan landasan udara Adisucipto. Aku pergi. Aku kejam? Tidak, aku tidak kejam sayang. Aku hanya menuruti permintaanmu jika itu adalah benar permintaan mu padaku. Bau harum aromamu masih membekas di hidungku. Bahkan semua yang pernah kita lakukan akan selalu aku ingat. Tidak, aku tidak mau bicara sayang. Bukan karna aku kejam. Bukan pula aku bisu. Kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk bicara untuk hubungan terakhir kemarin. Tidak, aku tidak kejam. Aku hanya mematuhi perintahmu, sayang.
Ku coba mengerti, ku coba member semua yang kau mau. Aku tidak ingin menunggu lagi dengan hati penuh duka, sayang. Tanpa jawabanmu untuk terakhir lalu, kau buatku luka. Walaupun berakhir, aku tau kau masih disini. Berat memang. Tapi mungkin benar kau memintaku untuk pergi bukan? Yang aku cintai mengapa kau pergi? Atau mengapa kau usir aku?
Kali ini, hanya ada do’a yang aku ucapkan. Atas nama cinta dibawah rembulan.



Yogyakarta

0 komentar:

Posting Komentar