Cahaya lampu menari semalam, berhembus angin dinginnya malam itu. Menusuk jantung sampai ke tulang-tulang. Berlari-lari tanpa henti, sambil menyanyikan lagu-lagu indah. Bekerja keras tanpa kenal lelah dalam kebahagiaan. Semua terasa bersorak seperti “kau” -lah ratunya, menjadi sorotan setiap mata. Menjadi gemerlap ketika hidup berada dipuncak. Dan semua begitu indah. Dengan sedikit caci maki yang tak peduli adanya, dan tetap menjadi ratu yang berjalan terus tanpa henti diikuti sorot mata. Dengan anggun menari, dengan indah berseenandung, dengan bahagia untuk bekerja keras, dengan CINTA.
Namun semuanya begitu cepat
berlalu, dan “kau” tetap saja hanyalah manusia biasa yang berjalan dengan
sangat cepat. “Kau” bukanlah siapa tanpa cinta, “kau” bukanlah apa tanpa
mereka. Dan “kau” berusaha menjaga semuanya untuk kebahagiaan itu. Bagai ombak
mengerti pantai. Bagai batu karang bertahan oleh ombak. Ya, semua terasa indah
bagai suara ombak di laut. Cahaya “kau” begitu terang sinarnya. Bagai gemilau
yang menerangi malam yang gelap.
Sayangnya waktu begitu cepat
berlalu, malam itu secercah harapan yang tersungkur. Cinta yang bergejolak di
dalam hati, berkecamuk begitu hebatnya. Kekuatan yang begitu hebatnya, hingga
semua perasaan sedih, suka semua menjadi satu. Untuk malam itu, “kau” lakukan
semuanya. “Kau” lakukan semua dengan penuh cinta dan kekuatan, hingga malam itu
terasa sangat cepat. Begitu cepatnya ketika “kau” harus terhempas oleh arus
yang keras. “Kau” terhempas di tengah jalan yang sepi dan sangat keras. Tersungkur
dipinggiran jalan sepi, sendiri. Gelap.Semuanya terasa begitu cepat, dan
mengerikan. Bagaimana bisa, bahwa ternyata “kau” adalah “aku”. Ya, aku
terhempas begitu keras ditengah jalan itu. Dan aku telah lupa apa yang terjadi
begitu cepat dan mengerikan itu. Kejadian yang aku kira hanya mimpi buruk, dan
ternyata semua yang telah terjadi bukanlah mimpi.
Langit begitu gelap dalam
siang, langit seolah murung. Langit bergemuruh seolah murka dan kecewa. Dan hujan
pun turun seolah langit sedang menangis. Gelap sudah menyelimuti kota ini. Semua
seloah berubah menjadi gelap. Seakan mendung pun menutupi hatiku pula.
Ya, kejadian malam itu hampir
saja menggelapkan seluruh isi kota, ataukah hanya “kau” yang rasakan. “Kau”
seolah kehilangan cahaya hidup yang selama ini bersinar gemilau. Sinar yang
gemilau pun telah hilang. Seolah telah terbunuh dan bangkit lalu terbunuh lagi.
Cahaya itu hilang. Tanpa rasa cinta, tanpa ada kekuatan, tanpa mereka. Dan entah
hingga akhirnya memang benar bahwa kejadian mengerikan ini telah mengikatku
pada sebuah istana berisolasi. Menyeretku pada sebuah jeruji besi mengerikan. “Kau”
hanya menunggu seseorang diluar sana menyelamatkan mu dalam istana itu. Karena cahaya,
cinta dan harapan seolah telah dibunuh dan mati, bangkit dan terbunuh lagi. Dan
“kau” hanya berjuang menyelamatkan cinta di luar sana dari dalam istana
berisolasi itu.
Ketika CINTA harus
menyelamatkan CINTA. Cinta yang sedang berjuang di luar sana harus
menyelamatkan cinta dengan cahayanya di dalam istana berisolasi, dan Cinta yang
sedang berjuang untuk menyelamatkan Cinta di luar sana dengan sebuah Cinta. Akankah
waktu yang bisa menjawab semuanya, ataukah kekuatan cahaya cinta yang mampu
mempertemuan cinta dengan cinta dalam jalan yang terang?
Nisa

0 komentar:
Posting Komentar