About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Senin, 16 Februari 2015

Cahaya Setelah Kecelakaan, Malam Itu



Cahaya lampu menari semalam, berhembus angin dinginnya malam itu. Menusuk jantung sampai ke tulang-tulang. Berlari-lari tanpa henti, sambil menyanyikan lagu-lagu indah. Bekerja keras tanpa kenal lelah dalam kebahagiaan. Semua terasa bersorak seperti “kau” -lah ratunya, menjadi sorotan setiap mata. Menjadi gemerlap ketika hidup berada dipuncak. Dan semua begitu indah. Dengan sedikit caci maki yang tak peduli adanya, dan tetap menjadi ratu yang berjalan terus tanpa henti diikuti sorot mata. Dengan anggun menari, dengan indah berseenandung, dengan bahagia untuk bekerja keras, dengan CINTA.

Namun semuanya begitu cepat berlalu, dan “kau” tetap saja hanyalah manusia biasa yang berjalan dengan sangat cepat. “Kau” bukanlah siapa tanpa cinta, “kau” bukanlah apa tanpa mereka. Dan “kau” berusaha menjaga semuanya untuk kebahagiaan itu. Bagai ombak mengerti pantai. Bagai batu karang bertahan oleh ombak. Ya, semua terasa indah bagai suara ombak di laut. Cahaya “kau” begitu terang sinarnya. Bagai gemilau yang menerangi malam yang gelap.

Sayangnya waktu begitu cepat berlalu, malam itu secercah harapan yang tersungkur. Cinta yang bergejolak di dalam hati, berkecamuk begitu hebatnya. Kekuatan yang begitu hebatnya, hingga semua perasaan sedih, suka semua menjadi satu. Untuk malam itu, “kau” lakukan semuanya. “Kau” lakukan semua dengan penuh cinta dan kekuatan, hingga malam itu terasa sangat cepat. Begitu cepatnya ketika “kau” harus terhempas oleh arus yang keras. “Kau” terhempas di tengah jalan yang sepi dan sangat keras. Tersungkur dipinggiran jalan sepi, sendiri. Gelap.Semuanya terasa begitu cepat, dan mengerikan. Bagaimana bisa, bahwa ternyata “kau” adalah “aku”. Ya, aku terhempas begitu keras ditengah jalan itu. Dan aku telah lupa apa yang terjadi begitu cepat dan mengerikan itu. Kejadian yang aku kira hanya mimpi buruk, dan ternyata semua yang telah terjadi bukanlah mimpi.

Langit begitu gelap dalam siang, langit seolah murung. Langit bergemuruh seolah murka dan kecewa. Dan hujan pun turun seolah langit sedang menangis. Gelap sudah menyelimuti kota ini. Semua seloah berubah menjadi gelap. Seakan mendung pun menutupi hatiku pula.
Ya, kejadian malam itu hampir saja menggelapkan seluruh isi kota, ataukah hanya “kau” yang rasakan. “Kau” seolah kehilangan cahaya hidup yang selama ini bersinar gemilau. Sinar yang gemilau pun telah hilang. Seolah telah terbunuh dan bangkit lalu terbunuh lagi. Cahaya itu hilang. Tanpa rasa cinta, tanpa ada kekuatan, tanpa mereka. Dan entah hingga akhirnya memang benar bahwa kejadian mengerikan ini telah mengikatku pada sebuah istana berisolasi. Menyeretku pada sebuah jeruji besi mengerikan. “Kau” hanya menunggu seseorang diluar sana menyelamatkan mu dalam istana itu. Karena cahaya, cinta dan harapan seolah telah dibunuh dan mati, bangkit dan terbunuh lagi. Dan “kau” hanya berjuang menyelamatkan cinta di luar sana dari dalam istana berisolasi itu.
Ketika CINTA harus menyelamatkan CINTA. Cinta yang sedang berjuang di luar sana harus menyelamatkan cinta dengan cahayanya di dalam istana berisolasi, dan Cinta yang sedang berjuang untuk menyelamatkan Cinta di luar sana dengan sebuah Cinta. Akankah waktu yang bisa menjawab semuanya, ataukah kekuatan cahaya cinta yang mampu mempertemuan cinta dengan cinta dalam jalan yang terang?


Nisa

0 komentar:

Posting Komentar