Aku yang
terusir jauh
Sang pemilik
hati yang tersuci, yang tersesat oleh cinta
Dan selalu
dibuang jauh
Ku berlayar
tanpa angin tak menentu arah dan tujuan
Mencari
sang permata ku yang menghilang tenggelam
Aku tak
menyangka begitu saja dirimu pergi
Jangan
kau tinggalkan aku seperti ini
Aku tak
mampu bertahan hidup tanpa dirimu dan cintamu
Jangan
kau tinggalkan aku seperti ini
Memang
jiwa ku terlalu lemah tanpa dirimu, tanpa cintamu
Bersama
ayatku ini, cintamu selalu kubawa sampai mati kisah ini
Cinta abadi
untukmu
Tak pernah
ku sangka dirimu pergi secepat ini
- Nidji
Siapa sangka, yang dulu telah hilang datang lagi ke hidupku. Saat cinta
selalu pulang.
Tuan, saya tak menyangka bahwa kau akan kembali lagi pada ku. Ya,
kau berjanji tidak akan pergi lagi. Saya tidak mau kehilanganmu lagi, Tuan. Jangan
pergi lagi. Saya tau, kau adalah tempat untuk selalu pulang. Seperti Yogyakarta.
Tak akan kau patahkan hatiku lagi. Janjimu padaku, kala itu. Terima kasih Tuan,
sudah kembali kepadaku lagi. Walau saja kondisi tidak sama. Saya sadar, saat
jauh dekat semuanya sama. Ku selalu mencintaimu, Tuan.
Sekian lama ku menanti dirimu yang sudah pergi jauh tanpa
mengingatku. Sekian lama ku terbuang akan indahnya cinta. Betapa abu-abunya
hidup tanpa cinta. Dan kini kau telah kembali lagi bersamaku. Tak ada yang berubah dengan kau. Kata
maaf dan janji dari kau untuk kembali dan tidak akan pergi lagi akan ku genggam.
Saya sadar ketika pun saya pergi untuk melupakanmu jauh setelah kau pergi
dahulu, namun cinta ini masih tetaplah ada. Hingga teringat saya akan definisi
CINTA menurut HAMKA, “cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia
laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah
yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah
oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan
lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,
di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi
dan lain-lain perangai yang terpuji.” Dan hingga kau datang kembali kepadaku, berjanjilah
engkau selalu mencintaiku dengan kesucian hatimu, Tuan. Dan jangan engkau pergi
lagi dariku. Mari kita satukan tujuan dalam langkah ke jalan Allah hingga nanti
pada saatnya cinta kita kan dimuliakan oleh Allah. Dalam kebenaran, ketulusan,
dan kesucian cinta.
Saya merasa bahwa saya sanggup memberimu bahagia pada tiap-tiap
hidupmu, yang tiada seorang perempuan agaknya yang sanggup menandingi saya di
dalam ala mini dalam kesetiaan memegangnya, sebab sudah lebih dahulu digiling
oleh kedukaan, dipupuk dengan air mata. Sejenak setelah kau pergi kala itu.
Dan kalau sedianya engkau kabulkan, kalau sedianya engkau terima aku
apa adanya, saya pun tidak meminta upah dan balasan dari engkau. Upah yang saya
harapkan hanya dari Dia, Allah Yang Maha Esa, supaya engkau diberi-Nya bahagia,
dihentikan-Nya aliran air matamu yang telah mengalir sekian lama, Tuan. Aliran mata
yang disebabkan oleh beban yang kau sungging sendiri selama ini. Saya tidak
bisa berjanji menjadi pendampingmu yang terbaik, tapi saya berjanji akan selalu
mendampingimu dalam situasi apapun, Tuan.
Hingga datanglah pada hari dimana engkau kembali memecahkan apa
yang sudah pernah kau pecahkan dahulu. Untuk yang kedua kalinya, tanpa alasan yang
bernalar, dengan alasan yang sesungguhnya itu dapat kita ubah kodratnya. Namun kau
kembali memecahkan hatiku, menyeretku dalam istana paling gelap yang pernah ku
singgahi dahulu ketika kau pergi meninggalkan aku. Terjerat ku dengan jeruji
besi cintamu. Tak bisa lagi ku menyusun keeping-kepingan hati yang kau pecahkan
untuk yang kedua kalinya. Jika saya tidak seperti apa yang kau inginkan, maka
maafkanlah saya Tuan. Jika melakukan kesalahan, janganlah kau menyuruhku pergi.
Caci makilah saya jika itu membuatmu puas, Tuan. Tetapi cintaku padamu tak
pernah bisa padam. Jika saja kau ijinkan kita perbaiki semuanya. Kini seolah
cinta dan harapan dibunuh dan mati, bangkit dan terbunuh lagi.
Tidak ingatkah kau janji dimana kukatakan “jika aku melakukan kesalahan dan melakukan hal yang tidak kau sukai,
maka jangan marahi aku, jangan tinggalkan aku. Tapi beritahu aku, dan
rengkuhlah aku. Maka aku akan berusaha memperbaikinya.”
Tuan, apakah kau ingin pergi lagi dariku? Meninggalkan aku? Haruskah
aku kehilangan mu untuk yang kedua kalinya? Tidakkah ada artinya semua yang
telah kita lakukan selama ini, Tuan? Sepertinya sampai hati benar kau
mengusirku.
Tanpamu saya berlayar tanpa arah tujuan yang pasti. Janganlah engkau
tinggalkan aku seperti ini. Ataukah jika kau ingin aku pergi, maka biarkanlah aku
yang pergi, jika itu yang kau inginkan, Tuan. Jika itu yang membuatmu bahagia. Namun
cintaku selalu ada untukmu, sampai saatnya berpisah nanti, cintaku selalu ada
untukmu.
Saya tidak pernah menyangka kau akan pergi secepat ini, Tuan. Bersama
ayatku ini, ku lantunkan ayat untuk cintamu, cinta kita. Cintamu pun ku bawa
sampai saatnya berpisah nanti.
Dan kini ku nelangsa bagai bunga tunggal di atas karang, cantik
tidak tergenggam, terpisah takdir dunia. Bersama cinta yang kau tinggalkan. Tak
ada lagi air mata yang mengalir dimataku, karena air mata yang telah habis
untukmu. Namun cintaku tak pernah habis untukmu, Tuan. Tidak ku sangka kau
pergi secepat ini.
Hidupku hanya buat kau seorang.
Aku tak inginkan banyak hal. Aku hanya ingin ada di dekat kau. Yang aku ingin hanya selalu ada di dekat kau. Itu saja. Bersama ayatku kulantunkan. Bukankah seharusnya cinta dapat menguatkan? Mengubah yang buruk menjadi baik? Jika nanti kita tidak ditakdirkan bersama di dunia jika kita tidak dijodohkan di dunia, maka kita akan ditakdirkan bersama, bersatu dan dijodohkan di akhirat nanti.
Aku tak inginkan banyak hal. Aku hanya ingin ada di dekat kau. Yang aku ingin hanya selalu ada di dekat kau. Itu saja. Bersama ayatku kulantunkan. Bukankah seharusnya cinta dapat menguatkan? Mengubah yang buruk menjadi baik? Jika nanti kita tidak ditakdirkan bersama di dunia jika kita tidak dijodohkan di dunia, maka kita akan ditakdirkan bersama, bersatu dan dijodohkan di akhirat nanti.
Ingatlah
bahwa aku selalu mengingatmu dan hatiku tetap untukmu sampai saatnya berpisah
nanti. Tak ada yang berubah, walau bulan, mentari, hilang ku tetap mencintaimu.
Nisa, 20th
Yogyakarta, 19 February 2015




0 komentar:
Posting Komentar