About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Senin, 23 Maret 2015

Dari : Gadis Kecil yang Ingin Berbicara




Yogyakarta, 23 Maret 2015
23.19

Kamu memilih menjadi tuna wicara padahal kamu sehat. Kamu tutup mulut kamu sendiri.” – Gadis Kecil
"Keheningan mengapungkan kenangan, mengembalikan cinta yang hilang, menerbangkan amarah, mengulang manis keberhasilan dan indah kegagalan." (Lilin Merah)

Untuk Ayah, yang selalu aku hormati seutuhnya dan selalu aku sayangi seumur hidup bahkan sampai saya mati.
Hai Ayah, apa kabar? Aku rindu. Sangat sangat rindu. Aku rindu Ayah saat pertama kali aku lahir dan kau menjadi seorang ayah. Hai Ayah, laki-laki pertama yang aku cintai. Banyak sekali yang ingin aku sampaikan, Ayah. Aku belajar kehidupan yang keras bersamamu, Ayah. Terima kasih Ayah telah mendidikku dengan cara apapun. Aku senang mempunyai ayah yang selalu berusaha melindungi aku, dari bahaya dunia maupun akhirat nantinya. Ya, aku tau maksut ayah baik untukku. Bukan aku tidak ingin mendengar, bukan aku tak ingin menuruti. Aku hanya lelah. Itu saja. Lelah dengan segala hidup yang telah pudar dan ber- abu-abu. Lalu gelap. Seolah rumah adalah istana yang terisolasi dan begitu dingin. Tidak nyaman. Untukku, mungkin.
Aku belajar hidup seperti batu karang, yang rela dihempas oleh ombak berkali-kali. Sama seperti aku harus menghadapimu Ayah. Betapa aku tidak bisa bicara. Banyak sekali ketakutan-ketakutan saat aku menghadapimu, Ayah. Seandainya kau memberiku kesempatan untuk berbicara dan menjelaskan setiap apapun yang kau pandang salah. Ya, aku memang tidak se-perfect  yang kau inginkan, Ayah. Betapa rasa takut yang seolah membunuhku. Ijinkan aku bicara, Ayah. Aku tidak bisu. Aku ingin bicara. Sesekali aku ingin berkata TIDAK. Itu saja. Sesekali aku ingin sempurna dengan diriku sendiri. Aku, bukan ayah. Hingga kadang aku berfikir, apakah semua lelaki itu seperti itu? Tidak mau mengalah. Keras. Mengerikan. Bahkan aku berfikir, bagaimana kelak jika aku sudah menikah nanti? Akankah lelaki itu mengerikan? Haruskah aku membenci kaum Adam? Tidak. Bunda berkata tidak, janganlah membenci kaum Adam. Ya, aku tidak akan bisa membenci kaum Adam. Aku hanya takut, amat sangat takut. Maaf ayah. Bagaimanapun aku selalu sayang ayah. Aku sangat membutuhkan kau, Ayah. Ayah yang lembut dan memanjakan putrinya. Ayah yang mau mendengarkan gadisnya berbicara, hanya mendengarkan saja. Karna aku hanya butuh didengarkan. Itu saja.
Entah, banyak sekali yang ingin aku sampaikan. Bagaimanapun Ayah, you’re my number one man in my life and I’ll always be your little girl. I love you, Dad. But now, every I see child laughed with her Daddy’s I always feeling so jealous.

Untuk Kekasihku, yang aku cintai setulus-tulusnya hatiku, yang selalu aku tunggu kedatanganmu kembali dengan kasih sayangmu.
            Hai Sayang, apa kabar? Dimana kau sekarang? Aku juga merindukanmu. Sangat rindu. Rindu saat-saat kita tertawa bahagia bersama. Seperti dulu. Ingatkah kau semua itu? Bagaimana kabar Ayahmu dan Ibumu? Aku tidak tau akankah kau membaca surat ini atau tidak. Sejujurnya aku hanya rindu padamu, itu saja. Sudahkah aku pernah ceritakan, Sayang semua tentangku. Tentang keluargaku. Tentang hidupku. Tidak ingatkah kau itu semua? Mungkin saja kau lupa, mungkin saja kau sedang terbebani oleh bermacam-macam pikiran. Ya, aku paham. Aku mengerti. Tapi tidakkah kau tak ingin mendengarkan ku bercerita lagi? Mungkin aja tidak.
            Sayang, aku tak meminta apapun darimu. Maafkan perilaku yang sedikit membuatmu tidak nyaman. Aku hanya takut padamu. Takut sekali. Takut ketika kau berbicara keras. Aku hanya takut. Takut sekali. Takut pada kaum Adam. Yang sekiranya kurasa manusia yang keras. Takut. Takut ini seperti membunuhku. Tapi Bunda ku selalu berkata padaku bahwa aku tidak boleh takut pada kamu Adam. Tidak boleh. Aku hanya berusaha memberanikan diri. Itu saja. Lalu kau pergi begitu saja. Dan kau tidak pernah memberiku kesempatan untuk berbicara. Sayang, aku tidak bisu. Aku bisa berbicara. Aku ingin berbicara. Ijinkan aku berbicara sebentar saja. Beri aku kesempatan berbicara. Aku hanya ingin didengarkan. Itu saja. Sederhana. Sesederhana aku mencintaimu.
            Maafkan aku. Banyak sekali yang ingin aku sampaikan padamu. Sayang, seperti apapun perilaku ku. Seperti apapun kamu. Sejauh apapun aku pergi, aku seperti selalu pulang padamu. Ke manapun aku pergi. Saat jauh dekat, semuanya sama.  I’ll always love you. But now tear me down, cause my heart breaks a little when I hear your name.

Sejujurnya aku sangat membutuhkan kalian wahai para lelaki kesayangan. Tapi aku hanya bisa diam. Ya, aku hanya takut. Dan kadan aku memilih diam dari pada harus berbicara tapi tidak pernah di dengar. Atau didengar, tapi tidak dimengerti.
Kadang disini saya harus bisa kuat dan tegar. Seperti batu karang.
Bukan begitu?

Nisa
(Anisah Darumeutia)

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Berpikirlah yang besar dan bijak, maka kamu akan berjiwa besar...
orang yang berjiwa besar akan membawa kesuksesan...
Jadilah dirimu sendiri

Posting Komentar